Remaja Oh Remaja

Barusan ngobrol sama temen. Dia cerita soal temennya, sebut aja Lili, yang curhat soal anaknya kemarin. Lili ini punya anak 2. Yang gede udah SMP, yang kecil masih SD.

Minggu lalu, Lili stres karena ulah anaknya yang gede, sebut aja namanya Lulu. Si Lulu ceritanya udah punya temen deket cowok. Trus, dia sekarang suka berahasia-rahasia. Pas Lili mau ngintip hapenya, nggak bisa. Soale, hape Lulu dikunci pake password.

Akhirnya Lili berhasil intip hape Lulu dengan bantuan anak bungsunya yang bisa nebak password hape Lulu. Begitu hape berhasil dibuka, Lili langsung shock. Dia menemukan foto pacarnya Lulu dalam pose abnormal. Jadi pacarnya Lulu ini foto selfie pas lagi mandi. Arah foto dari sebelah atas. Otomatis, “itu”-nya pun keliatan di foto tsb.

Lili langsung manggil Lulu dan marah-marah. Bukannya takut atau feel guilty, Lulu malah marah balik karena anggap ibunya melanggar batas privasi. Sekarang Lili pusing menghadapi tingkah anak sulungnya itu.

Continue reading

Bahasa Asing VS Bahasa Indonesia

Waktu kuliah dulu, gue dan temen-temen wajib ambil minimal 4 SKS bahasa asing di luar jurusan kita. Karena kuliah Sastra Inggris, gue nggak boleh ambil bahasa Belanda. Sebab, bahasa Belanda dan bahasa Inggris itu satu rumpun. Jadi gue cuma boleh ambil bahasa rumpun Roman (Prancis, Italia, Spanyol, Portugis, Romania), bahasa Asia Timur (Korea dan Jepang), Arab, dll.

Waktu itu, gue ambil Bahasa Latin 2 SKS dan bahasa Italia 2 SKS. Alasannya? Bahasa Latin karena dosennya murah hati kalo kasih nilai :P Sementara bahasa Italia karena kayaknya keren banget deh bisa parlo Italiano, ceunah.

*Plus iming-iming imajinasi ke cafe, kenalan sama cowok Italia ganteng dan bisa ngobrol-ngobrol. Yang mana nggak pernah terjadi sih sampe sekarang. Palingan cuma pernah ngobrol sama Neri Per Caso doang di jumpa pers, dan mentok sampe kalimat ketiga. Trus lanjut pake bahasa Indonesia dan pasrah pada translator karena mereka gak bisa bahasa Inggris, hahahaha…*

Gue males ambil bahasa Korea, Jepang, Arab dan Rusia karena nggak mau belajar aksara baru. Yah namanya waktu itu udah kuliah sambil kerja ya. Jadi rasanya otak rada nggak mampu kalo kudu belajar ekstra *alasan padahal males :P * Sekarang mah nyeselnya luar biasa. Mana les bahasa asing mihil bingit, hiks :(

Continue reading

Life Partner

Kemarin nyokap ke rumah gue. Nah kebetulan nih, gue jadi bisa wawancara dikit tentang rumah tangga dan relationship. Secara ya, tanggal 27 November lalu, bokap nyokap gue ultah pernikahan yang ke-37.

Meski nggak mulus-mulus amat, tapi sampe sekarang hubungan antara mereka masih baik-baik aja. Mereka mempertahankan pernikahan bukan cuma “for the sake of the kids” tapi karena mereka emang mau berada di dalam pernikahan itu. Padahal bonyok nggak pake pacaran bertahun-tahun. Cukup kenalan 3 bulan, langsung cuuss merit deh.

Oke berikut ini poin perbincangan gue dan nyokap ya. Nggak plekplek begini sih, loosely written based on what I remember ya:

Continue reading

Women at Point Zero

Judulnya diambil (dan dimodif dikit) dari novel populer karya Nawal el Saadawi yang dapat pujian dari kritikus sastra dunia. Temanya emang menarik sih, tentang represi yang dialami kaum wanita terutama di kawasan Timur Tengah, dan betapa tidak adilnya hidup mereka di tengah negara yang patriarki abis.

Terkait dengan itu, di postingan ini, gue emang sedikit mau ngebahas tentang isu yang mirip. Gara-garanya, gue abis baca berita tentang korban perkosaan di Aceh yang dihukum dicambuk. Emang sih, si korban juga salah karena awal kasus ini muncul adalah gara-gara dese asyik masyuk berduaan sama pacarnya. Trus, mereka digerebek sama polisi syariah eh polisi-polisi ini malah memperkosa si korban. Selengkapnya baca di sini deh.

Gue cuma sedih karena isu yang ditonjolkan adalah “korban pemerkosaan dicambuk” tanpa latar belakang kasus yang mendalam. Dengan highlight berita kayak gitu, perempuan-perempuan korban perkosaan kan jadi terintimidasi. Mereka takut kalo lapor, jangan-jangan bakal kena cambuk juga.

Continue reading

Hak VS Lifestyle

Waktu zaman kuliah dulu, di kampus sering ada beasiswa macem-macem. Mulai dari beasiswa pemerintah sampe swasta. Kebanyakan gampil lah syaratnya. Di beberapa beasiswa, harus menyertakan surat keterangan kurang mampu. Tapi rata-rata sih cuma pake syarat IPK min 2,75 aja.

Di zaman itu, gue nggak kaya-kaya banget. Bahkan kantong gue tergolong ngepas-pas-pas-paasss.. Tiap hari cuma dikasih jatah 10 ribu sama nyokap dan harus cukup untuk naik angkot 3x plus naik kereta dari rumah di Bekasi sampe kampus di Depok. Juga sarapan dan makan siang.

Alhasil tiap hari gue selalu penuh perhitungan. Rumusnya, kalo mau jajan di luar jatah breakfast dan lunch, gue harus ngituuungg banget. Misalnya, gue pengen beli susu Ultra di koperasi jam 10 pagi nih. Supaya duitnya cukup untuk sehari itu, gue makan siangnya harus rela beli yang paling murah kayak gado-gado. Hal serupa juga terjadi kalo gue pengen pulang naik Patas AC. Soalnya, budget gue cuma cukup untuk 2x naik kereta, 4x naik metromini plus 2x angkot, pulang pergi.

Jadi, kebayang ya kondisi kantong gue yang cekak saat itu. Nah, pas liat pengumuman beasiswa di kampus, sempet terbersit keinginan gue untuk apply. Kan lumayan ya bok, duit beasiswanya bisa buat jajan lebih sehari-hari. Jadi bisa lah jajan-jajan cantik dan naik Patas AC tiap hari dengan duit beasiswa.

Continue reading

Oversensitive

Masih inget nggak sama postingan gue yang ini ? Ceritanya, atas rikues temen-temen di MommiesDaily, postingan itu di-publish ulang di situs MommiesDaily di sini. Katanya supaya jangkauan pembacanya bisa lebih luas.

Awalnya, terus terang, gue ragu untuk memenuhi permintaan itu. Kenapa? Karena gue sadar, isu agama adalah isu yang sensitif. Apalagi pake dikritik pula, kayak yang gue tulis di situ. Kalo nulis di blog kan beda. Jangkauannya lebih sempit, dan kalo ada yang nuduh macem-macem, yang kena imbasnya cuma gue doang.

Sementara kalo nulis di situs kayak MommiesDaily, jangkauan pembaca lebih luas, dan di sana penanggung jawabnya bukan gue, melainkan Lita, Managing Editornya. Gue khawatir kalo postingan gue itu bikin huru-hara, Lita maupun temen-temen MD dan FD lainnya bakal kena.

Tapi Lita, Hani dan lainnya tetep rikues. Akhirnya gue benerin dikit tata bahasanya, dan voila, jadi deh.

Continue reading