Suami Simatupang

*Simatupang: siang malam tunggu panggilan*

Masih dari sisa perjalanan ke Tomohon dan Manado kemarin nih. Jadi ceritanya, pas lagi di mobil menuju Tomohon, gue dan rombongan ngobrol ngalor ngidul. Maklum, meski jalanan gak macet, tapi jauh juga cyin. 1 jam perjalanan Manado – Tomohon melalui jalur meliuk-liuk kayak ke Puncak bikin pegel. Tapi gak sepegel kemacetan Jakarta sih *halah OOT*

Nah, anggota rombongan kita yakni Ibu A, B dan C pada asik gosipin temen sekantor mereka. Sebut aja si Bapak X yang menurut mereka, anggota ISTI (Ikatan Suami Takut Istri) banget deh.

Continue reading

#12 Sambel adalah Kunci!

Halooo semuanya! Apa kabar? Udah hampir sebulan (eh atau lebih?) gak ngeblog, bahkan belum sempet reply komen samsek nih. Pelan-pelan ah mau berusaha dirajinin lagi :)

Anyway, kali ini mau lanjutin writing challenge yang diprakarsai sejak zaman baheula. Sampe malu bok, saking lamanya diniatin tapi gak lanjut-lanjut hahaha.. :P Tema kali ini adalah tentang makanan terfavorit yang idenya dikasih oleh Kokoh Arman. Warning, postingan ini mungkin bakal membuat air liur terbit. Harap maklum :D

Oke, jadi apa dong makanan terfavorit gue? Sebenernya sih ada banyak, maklum doyan makan :P Tapi kalo dieksplorasi lebih lanjut lagi, kayaknya jawabannya cuma 1, yaitu sambel.

Continue reading

Asli atau Palsu?

Dari dulu, sebenernya gue emang kurang demen sama barang palsu. Apalagi kalo barang KW yang dikasih label merek segede gaban. Yah, gimana yah. Maksa banget, ceunah.

Makanya, karena sadar diri kantong belum setebel konglomerat, gue milih barang-barang yang gak bermerek sekalian. Kalo beli tas di Melawai, cari yang tanpa logo samsek. Kalo sepatu, gue masih pernah beli lah. Di ITC gitu kan suka ada tuh sepatu Zara-zaraan yang modelnya lucu. Gue pernah beli 1-2x yang begini dengan pertimbangan modelnya kece, dan mereknya gak keliatan dari luar hehehe.. :P

Pas punya duit dikit, baru deh beli barang bermerek yang asli. Dan emang bener ya, ketauan bedanya. Meski barang palsu itu dari penampakan kadang 99% mirip sama barang asli, tapi dari kualitas, seringnya gak bisa disamain.

Anyway, these are some reasons on why we’d better say no to fake products, and say yes to original ones, IMHO. Here they are:

Continue reading

Saat Topengnya Terbuka

Buat yang berteman dengan gue di fesbuk, mungkin ngeh ya kalo belakangan ini gue akhirnya menunjukkan pilihan capres gue dengan share berita seputar si capres, foto-foto dan update status. Semua gue lakukan secara sadar, namun tetap berusaha nggak membabibuta.

Kenapa gue akhirnya keseret arus, termasuk nulis di blog segala? Ya alasan gue mirip-mirip lah sama editorial Jakarta Post yang heboh minggu lalu ini. Trus gue juga liat beberapa temen jurnalis dari media ibukota dan nasional yang gue kenal baik, mulai terbuka soal pilihannya. Alhasil, yuk mari kita buka-bukaan hihihi :D

Tapi, gue cukup ngerti dengan pameo “You are what you share.” Makanya gue berusaha menyelaraskan status dan apapun yang gue share, sesuai kepribadian gue. Dan itu gak sulit sih. Gue gak perlu extra effort untuk pura-pura segala. Wong gue memilih capres yang selaras dengan logika dan juga hati nurani pribadi.

Continue reading

Mengenang Masa Lalu

Hampir enam tahun lalu, gue resmi jadi ibu. Sebelum melahirkan, gue banyak baca berbagai sumber seputar bayi, ASI, proses melahirkan, dll dsb. Bahkan BB gue pun penuh dengan catatan-catatan seputar itu. Jadi saat tiba waktunya untuk brojol, gue pun merasa “Okay, this is it”.

Lalu, apakah gue langsung jago ngurus anak? Nggak juga sih. Kebanyakan teori, malah pusing sendiri. Pas praktik, gue tetep harus dibantu sama suster di RS. Setelah pulang dari RS, bantuan datang dari nyokap. Alhamdulillah ya, sesuatu hehehe… :D

Tapi untunglah, ke-clueless-an gue gak berlangsung terlalu lama. Apalagi, sambil dibantu nyokap, gue juga sambil praktik. Jadi bisa sambil jalan gitu. Lumayan, teori-teori yang dulu dibaca dapat dipraktikkan sambil diawasi mentor alias nyokap.

PhotoGrid_1404718229886*kangen ih sama anak bayi yang kalo dimandiin gak bisa diem ini :’) *

Continue reading

This is How We Party

Salah satu penyesalan terbesar gue atas kejadian di masa lalu adalah reformasi ’98. Bukan, gue bukannya pro Orba. Tapi penyesalan gue adalah karena gue gak ikut menduduki Gedung DPR kayak temen-temen mahasiswa lainnya.

Padahal saat itu gue ikut demo. Sebelum hari H, gue dan beberapa temen udah ikutan ke kampus Salemba, naik kereta dari Depok, turun di Cikini trus jalan kaki ke Salemba. Tiap hari kami bawa jaket kuning di dalem tas.

Emang, kami bukanlah aktivis sejati. We’re just a bunch of hipsters or wannabes. Kami cuma mau ikut jadi bagian dan saksi sejarah. Titik.

Continue reading

Pemimpin yang Gue Banget

Halo, postingan ini agak-agak berbau politik ya. Jadi kalo ada yang alergi politik, apalagi pilpres, kali ini gue sarankan gak usah baca postingan ini.  Soale mau nulis dikiiiit tentang itu.

Pemilu pertama gue adalah tahun 1996, waktu gue masih SMA. Saat itu, Orba masih bercokol di Indonesia. Jadi, pilihan partainya cuma ada 3, yakni PPP (1), Golkar (2) dan PDI (3).

*yang bikin gambar dodol nih, dulu mah mana ada PDI Perjuangan*

Keluarga nyokap rata-rata milih PPP dengan alasan “partai Islami”. Bokap gue yang PNS, so pasti Golkar lah ya. Gue sendiri dibebasin mau pilih apa. Tapi yah sebebas-bebasnya di zaman Orba, mana bisa milih yang out of the box? Pilihan cuma 3, gak ada yang cucok pula sama gue.

Apalagi, waktu itu, pemilu dilakukan di sekolah dan kantor. Karena gue di SMA Negeri, nyoblosnya di sekolah. Bokap yang PNS juga nyoblos di kantor. Yang nyoblos di alamat sesuai KTP cuma IRT, pegawai informal, pegawai swasta, gitu2 deh.

Continue reading