Review Ala-ala: Ricki and the Flash

Beberapa waktu lalu, gue dapet undangan untuk meliput wisata naik kapal pesiar (will write about it soon). Di kapal pesiar, salah satu yang bisa dinikmati adalah nonton berbagai jenis film di TV di kamar. Film-filmnya pun keren-keren, jadi bikin betah di kamar deh.

Salah satu yang bikin gue tertarik adalah film berjudul Ricki and the Flash. Kenapa tertarik? Pertama, yang main Meryl Streep, the woman who is dubbed by media as the best actress of her generation. Jadi penasaran deh, pengen liat aktingnya Tante Meryl di sini kayak gimana.

Trus pas baca sinopsis dan nonton trailernya, wah koq kayaknya kisah film ini cuco’ banget sama gue sebagai seorang ibu. Bisa related banget lah. Yawdah cus langsung gue tonton.

Continue reading

Past VS Present di AADC2

Udah hampir 3 minggu film AADC2 tayang di bioskop. Dan udah hampir 3 minggu pula socmed dipenuhi meme, lelucon, foto-foto nobar, yang semuanya bahas tentang film itu. Banyak yang baper, banyak juga yang mengkritik.

Gue sendiri baru sempet nonton minggu lalu, sebelum long weekend dimulai. Nontonnya sama temen-temen kantor karena suami gue gak tertarik. Bahkan, AADC pertama aja dia gak nonton. “Gak pengen aja,” katanya. Ya sutra deh.

IMG_20160504_194514

Continue reading

Nostalgia Bridesmaid

Beberapa hari lalu gue nonton film 27 Dresses di TV. Filmnya mah udah lama ya, tahun 2008 dirilisnya. Sebelumnya sih udah pernah nonton tapi cuma sekilas-sekilas. Kemarin baru tuh beneran nonton full.

Sambil nonton, gue jadi inget beberapa akun Instagram yang sering gue stalking. Ceritanya, gue kan hobi tuh cari-cari inspirasi kebaya dan model baju. Makanya gue suka stalking dan follow akun penjahit kebaya, akun butik, akun WO, dkk.

Belakangan ini, gue perhatiin, akun-akun itu banyak nampilin gaun bridesmaids. Dari situ gue sadar bahwa keberadaan bridesmaid di tiap perkawinan di Indonesia koq heits banget ya. Padahal dulu-dulu kayaknya jarang deh. Bridesmaids lebih banyak nongol di kawinan bule atau di gereja.

*gaun bridesmaid-nya simple tapi kece ya*

 

Continue reading

Age Ain’t Nothing but a Number

Nulis postingan ini gara-gara seorang teman yang cerita tentang kakaknya. Jadi, si kakak ini, sebut aja namanya Mbak Rosa, masih single meski udah berusia late 40s. Dulu dia pernah punya pacar serius, tapi si pacar meninggal karena kecelakaan. Jadi deh Mbak Rosa males menjalin hubungan lagi sampe sekarang.

Nah, baru-baru ini, tiba-tiba Mbak Rosa di-pedekate-in sama teman keluarganya. Sebut aja namanya uhhmm Mas Dono ya. Mas Dono ini berumur 60-an, dan istrinya meninggal 3 tahun lalu. Dia ngerasa kesepian karena anak-anaknya udah berkeluarga. Dia sendiri udah pensiun, meski masih kerja juga jadi konsultan. Jadi ceritanya butuh teman untuk tua bersama gitu.

Pihak keluarga Mbak Rosa, termasuk temen gue, mendukung banget usaha pedekate ini. Apalagi Mas Dono meski udah pensiun, tapi masih berpengaruh dan bisnisnya lumayan sukses. Jadi secara finansial, oke lah ya. Mbak Rosa juga tampak tertarik. Sekarang tinggal nunggu perkembangannya aja nih, bakal jadi atau nggak 🙂

Denger cerita temen gue, gue jadi liat aspek lain. Dari pengalaman sodara-sodara, teman atau orang-orang yang gue kenal, gue lihat wanita lajang (either single/divorced) yang berusia matang  hampir selalu dijodoh-jodohkan dengan pria berusia matang juga, yang rata-rata udah pernah nikah. Kalo wanita-wanita tersebut hook up sama cowok-cowok lajang yang berusia di bawah mereka, pasti dituduh macem-macem. Contoh: R4ff1 dan Yun1, yang jadi celaan dimana-mana.

On the other hand, banyak banget pria-pria lajang (either single/divorced) yang bisa dengan mudah mendapatkan cewek-cewek ABG tingting (tanpa Ayu) dan berusia separuh mereka, dan masyarakat gak akan menganggap itu sebuah skandal. This, for me, is so unfair. Gak suka aja gue kalo perempuan dilarang ini itu cuma atas nama kepatutan, sementara laki-laki gak masalah.

Continue reading

First Love (2)

Gara-gara komennya Mbak Della di postingan gue yang ini, gue pun jadi iseng gugling tentang film yang direkomen, yaitu Crazy Little Thing Called Love.

Ternyata, film ini produksi Thailand dan diedarin dengan judul First Love. Ceritanya bisa dibaca di sini dan amat sangat mengingatkan gue pada masa-masa SMP dulu. Baca ceritanya aja udah senyam-senyum sendiri, gimana nonton filmnya?

Saking penasarannya, gue nyari filmnya di yutup, eh dapet. Barusan baru kelar nonton di PC, tentu aja sambil cekikikan, cengar-cengir plus mewek sendirian.

Continue reading

Bridget Jones Wannabe

Around 2003-2007, my life was torn into two kinds of emotion. Pertama, ofkors happy lah ya. Secara masih single, ada kerjaan, punya duit buat jajan, punya banyaak teman, social circle oke, social life cihuy, manstap lah.

But on the other hand, I was also devastated. Ibarat kata kayak lagunya Dewa nih “Di dalam keramaian aku terus merasa sepi” *halah referensinya koq lagu indang -__-*. Tapi emang bener tuh. Gue ngerasa meski happy go lucky all the time, hati terasa kosong gitu. Teman cowok banyak, tapi nggak ada yang bener-bener stay dan bisa jadi partner sharing. Biasanya cuma bertahan beberapa bulan, trus udahan. Sampe gue mencurigai diri sendiri kena sindrom gamophobia, alias the fear of getting in a commitment, relationship or marriage.

Makanya, pas baca buku Bridget Jones’ Diary, gue langsung jatuh cintaaaaa banget. Sambil baca, gue pun bolak-balik ngebatin “Shit, this is sooo me!”

Continue reading

Scary Movies

Saat ini, salah satu tugas yang wajib gue tunaikan (ceileh bahasanya) adalah menonton dan menulis review film baru setiap minggunya. Job desc kayak gini udah lama sih gue jalanin, sejak baru jadi jurnalis dulu lah. Tapi karena di-rolling ke berbagai desk, baru sekitar setahunan ini lah balik lagi nonton+nulis review film.

Segala jenis film harusnya sih gue tonton, nggak hanya genre-genre tertentu. Tapi buat gue, ada satu pengecualian. Gue paling ogah dan males nonton film horor. Mau itu horor lokal yang ada pocong/kuntilanak/dedemit, horor asia, atau horor bule yang ada slasher-slasher-nya, intinya OGEENNGGG!!!

Dulu beberapa kali nekat sok berani nonton film-film horor, alhasil cuma nonton 1/3 film aja. Sisanya, akuh bersembunyi di balik jaket/tas/tangan. Makanya, pas pacaran dulu, paling enak emang nonton film horor. Bisa jadi modus buat peluk-pelukan, hahahaha… 😀

Continue reading