Review: Mi Bangka Favorit Akoh

Duh, gue emang orang yg susah berkomitmen ya. Mau bikin posting-an resep seminggu sekali aja gagal mulu. Ujung-ujungnya cuma di-posting di Instagram aja deh. Abisan, lebih capcus posting di Instagram dibanding nulis blog sih *alesan*

Anyway, kali ini gue mau nulis tentang kuliner aja deh yang enak. Apalagi, sebagai orang yang doyan wiskul, gue punya banyaakk banget daftar makanan enak yang jadi favorit. Selain bakso, gue juga suka banget sama mi ayam. Tapi, mi ayam yang gue favoritin adalah jenis mi bangka.

Bedanya apa mi ayam biasa dan mi bangka?

Menurut gue, yang paling mendasar adalah penambahan toge di mi ayamnya. Kalo mi ayam biasa kan rata-rata ditambahin sawi hijau aja. Nah kalo mi bangka, biasanya cuma toge aja, atau bisa juga di-mix, toge dan sawi.

Terus, penyajiannya dipisah antara mi ayam dan kuahnya. Agak mirip sama mi ayam di resto ala Cina, gak kayak mi ayam abang-abang gerobak yang mi dan kuahnya digabung di satu mangkok.

Oh ya, berikut ini ada beberapa penjual mi bangka yang gue pernah coba, beserta review kecil-kecilannya ya:

Continue reading

Rahim Aing, Kumaha Aing?

Belakangan ini, dengan maraknya socmed, masyarakat lebih gampang dan leluasa menyuarakan isi hati. Mulai dari urusan pekerjaan, keluarga sampai hal-hal yang bersifat pribadi. Salah satunya adalah urusan jumlah anak.

Banyak kan tuh di FB yang berkampanye soal “rahim gue, urusan gue.” Atau kalo di-Sunda-Sunda-in, jadi “rahim aing, kumaha aing.”πŸ˜€

Ini awalnya sih dikampanyekan oleh orang-orang yang belum punya anak atau memutuskan untuk tidak punya anak. Maklum, kultur kita kan kultur kepo. Semua yang dianggap kurang “lazim” dengan norma masyarakat, pasti ditanyain.

Gak berapa lama, kampanye itu juga digunakan oleh orang lain, terutama kaum yang ingin punya anak banyak. Lagi-lagi karena mereka lelah dengan kultur kepo masyarakat sekitar. Norma yang lazim di masyarakat adalah, 2 anak, jenis kelaminnya sepasang, atau laki-laki dan perempuan. Jadi kalo jumlahnya kurang atau lebih dari itu, dan gendernya gak sepasang, pasti dikepoin.

Oke lah, untuk urusan itu gue gak bermasalah. Gue cukup setuju koq. Anak gue, urusan gue. Rahim gue, urusan gue. Jadi, buat apa orang lain usil. Gitu ya kira-kira.

Continue reading

Resep Pekan Ini: Bolu Pisang Ketan Hitam

Wiken lalu, gue ke Puncak bareng sodara-sodara dari nyokap. Tujuannya sih cuma kumpul-kumpul nyewa villa gitu. Seru-seruan lah, sambil mengenang momen masa kecil.

Dulu, alm Aki gue punya villa di Cisarua, yang bisa dipake anak cucu dan sodara-sodara sepuasnya. Kami sering menghabiskan akhir pekan atau masa liburan panjang di sana. Gak ngapa-ngapain sih. Cuma nginep di villa, berenang, dan main-main. Sebelum Aki meninggal, villa itu dijual dan sekarang, kami berusaha meneruskan tradisi itu dengan nyewa villa yang banyak bertebaran di Puncak.

Nah, kalo ke Puncak, gue selalu beli pisang Ambon yang dijajakan keliling oleh penjualnya, warga lokal daerah Puncak. Soale pisangnya cakep-cakep dan harganya relatif terjangkau. Jadi maruk deh gue, beli 2 sisir pisang Ambon padahal di rumah cuma ada tiga orang.

Meski Nadira dan bapaknya doyan banget sama pisang, tapi tetep aja jumlah yang gue beli kebanyakan. Alhasil, di hari Rabu, pisang-pisang itu udah mulai berwarna coklat. Di hari Kamis, udah coklat semua kulitnya.

Continue reading

Saat Pria Belanja di Supermarket

Perempuan dan shopping itu biasanya jadi dua hal yang tak terpisahkan. Mau belanja baju, sepatu, atau kebutuhan sehari-hari, rata-rata perempuan jagoan lah. Bahkan, belanja sering jadi aktivitas pelepas stres, makanya ada istilah retail therapy.

Gak cuma belanja kosmetik atau perawatan, belanja bulanan di supermarket pun bisa jadi terapi yang mujarab di saat stress melanda. Pilah-pilih sayur, cari deterjen yang lagi diskon, atau nimbun stok minyak goreng yang lagi promo, bikin hati tenang deh.

*pengalaman pribadi banget, sis? *

Trus gimana untuk para lelaki? Nah, belanja dan lelaki itu bukan sesuatu yang klop. Emang, ada juga cowok yang doyan shopping. Tapi kalo dari pengalaman dan pengamatan gue, rata-rata kalo doyan belanja, kaum lelaki ini spesifik banget. Misalnya, cuma doyan belanja veleg mobil aja (suami gue banget), belanja sneakers aja, belanja kebutuhan olahraga aja, gitu-gitu deh, Beda sama perempuan yang hobi belanja di berbagai lini.

Continue reading

Resep Pekan Ini: Garang Asem Slow Cooker

Ceritanya, tiap wiken atau hari libur, gue kan sering masak tuh, buat stok makanan di rumah. Maklum, kalo hari biasa suka gak sempet hehehe.. Nah, gara-gara itu, gue jadi kepikiran untuk bikin tema blog post mingguan. Jadi mulai Senin ini, gue bikin tema Resep Pekan Ini ya. Insya Allah resep yang gue tulis gampil-gampil dan foolproof lah. Sesuai kadar kemampuan masak gue yang minimalis ini juga sihπŸ˜€

Untuk edisi perdana, gue mau tulis resep Garang Asem Slow Cooker. Kemarin di IG sempet banyak yang nanya soaleπŸ™‚

Masakan Garang Asem adalah salah satu favorit gue karena enak dan sehat, tanpa digoreng-goreng. Favorit gue adalah Garang Asem tanpa santan karena rasanya lebih light dan seger gitu. Nah, kebetulan, di daerah rumah, ada warung yang jual Garang Asem tanpa santan yang endeeuuusss berat. Plus, murah meriah pula harganya.

Tapi, sebelnya, gue sering kehabisan kalo mau beli. Tricky banget deh. Dateng ke warung pagi, belum mateng. Dateng ke warung siang, udah abis. Jadi aku kudu piye?πŸ˜₯

Gara-gara KZL, gue pun terobsesi bikin Garang Asem sendiri, dengan hanya mengandalkan memori lidah gue akan masakan Garang Asem di warung tersebut.

Continue reading

Sudahkah Anda Berbahasa Indonesia Hari Ini?

*buset judulnya serius amat yakπŸ˜€ *

Di sanggar tempat Nadira les nari, banyak peserta yang udah duduk di bangku kelas 6. Nah, waktu menjelang Ujian Nasional kemarin, gue sering tuh dengerin obrolan para ibu seputar pelajaran-pelajaran yang masuk ke UN.

Dulu di zaman gue, yang jadi momok adalah matematika. Nah sekarang, rupanya ganti ke Bahasa Indonesia. Menurut temen gue, Mbak X, Bahasa Indonesia itu memusingkan. Dia pun setres kalo harus ngajarin anaknya belajar.

“Soalnya banyak banget yang mirip-mirip Mbak. Jadi kayak jebakan gitu. Dan kalo latihan di rumah, saya bilang jawabannya A. Ternyata pas di sekolah, jawabannya menurut guru itu B. Pusing saya. Mendingan matematika deh, hasilnya jelas dan terukur,” kata Mbak X.

Dengernya, gue jadi berpikir dan menelaah. Sepintas, bahasa Indonesia emang gampang ya kayak yang pernah gue tulis dulu. Grammar-nya gak seribet Inggris yang ada beberapa level. Bahasa Indonesia juga gak punya pembagian gender kayak bahasa Prancis atau bahasa Italia. Aksara yang digunakan pun aksara Latin, nggak kayak bahasa Jepang, Cina, Arab atau Rusia yang punya aksara sendiri. Begitu juga dengan lafal. Apa yang ditulis, 90% sama dengan yang dibaca, gak kayak bahasa Prancis yang tulisannya “oi”, dibacanya “oa”.

Continue reading

Don’t Judge a Book by Its Cover (2)

Dulu pernah bikin postingan dengan judul yang sama, tapi temanya beda banget. Jadi ini bukan sekuelnya yaπŸ˜€

Untuk urusan masak dan bikin kue/cemilan, gue mulainya emang telat sih. Baru pas Nadira mau MPASI lah gue grabak-grubuk belajar masak. Sebelumnya cuma bisa masak indomi, telor, air dan nasi doangπŸ˜€

Sekarang, masak jadi salah satu me time gue. Seneng aja gitu nyobain resep baru, terutama untuk kue-kue dan cemilan. Kalo untuk masak hidangan utama atau sehari-hari, gue suka rada males. Soale, gue masih agak musuhan sama ulekan. Alhasil sampe saat ini pun belum khatam-khatam nih bikin sambel yang endeusπŸ˜€

Kalo menurut suami, Nadira, keluarga dan teman-teman sih, hasil masakan gue lumayan lah. Mungkin gak selevel chef kenamaan, tapi minimal bisa dimakan gitu hahaha.. Maklum, gue kan sebenernya tipe yang cukup picky untuk urusan makan. Kalo makanan itu gak enak, gak akan gue makan kecuali terpaksa. Jadi, kalo masak sendiri pun, pasti bakal bolak-balik gue cicipi supaya taste-nya oke. Alhasil, the worst critic of my homemade food is myself.

Oke, untuk rasa masakan, hasilnya not bad. Tapi untuk penampilan masakan, gue melambaikan bendera putih deh. I suck at food styling. Masakan gue jaraaang banget yang cakep penampakannya.

Continue reading