Fenomena Selfie

Beberapa hari lalu, di sebuah WhatsApp Group yang gue join karena terpaksa (dan pengen leave tapi gak enak), ada yang share broadcast message dari grup lain. Isinya tentang fenomena selfie.

Aselik, bacanya bikin aku ingin berkata kasar deh. WTF Mbakyu? Serius lo bilang orang-orang yang selfie itu sama dengan pelakor (perebut laki orang)? Trus, serius lo menuding sesama perempuan sebagai penyebab dosa karena hobi selfie?

Menurut gue, tulisan itu off side-nya kejauhan. Dan amat merendahkan perempuan.

Kenapa? Oke kita kupas satu-satu ya.

Continue reading

Advertisements

The Best Job in the World

Topik yang gak pernah abis-abisnya jadi kontroversi (selain bakpao di dahinya SN), adalah tentang working mom (WM) VS stay at home mom (SAHM). Dari berbagai angle udah dibahas. Bahkan sebutan pun sempet dikomplen. SAHM gak terima kalo disebut begitu, karena seolah-olah mereka gak kerja. Pun begitu dengan WM. Sampe ada revisi istilah macem-macem. Ribet deh pokoknya.

Gue sendiri adalah seorang WM. Sempet sih ngejajal jadi SAHM, tapi cuma pas cuti melahirkan doang 😀 Setelah itu, kerja kerja kerja mulu deh. Ya tentunya sambil berusaha balancing sama tugas jadi ibu.

Susah gak? Ya gitu deh kira-kira. Yang bisa dipastikan adalah, support system mumpuni is a must. Makanya, sampe ada pameo yang bilang gini “Di balik seorang pria sukses, ada wanita hebat di belakangnya. Sementara di belakang wanita sukses, ada ART, nanny, supir, dst.”

Anyway, gue gak mau bahas soal itu sih. Di posting-an ini gue mau fokus ke urusan anak. Jadi, gue punya beberapa orang temen yang memutuskan untuk jadi SAHM setelah punya anak. Tujuannya, mereka mau fokus mengurus anak. Padahal, posisi karier yang mereka tinggalkan bukan yang entry level lho. Boleh dibilang, mereka udah cukup mapan di jabatan masing-masing.

Continue reading

Parents Know Best?

Ceritanya, keluarga gue punya sahabat keluarga yang bener-bener klik. Sang ibu akrab dengan gue. Sang bapak akrab dengan suami. Anak bungsunya bersahabat dengan Nadira. Bahkan kakek neneknya akrab dengan mertua dan keluarga besarnya.

Pandangan kami akan berbagai hal matching banget. Mulai dari hal-hal remeh temeh sampai urusan politik. Sifat dan tindak tanduk seluruh keluarganya pun cocok dengan keluarga kami.

Jujur, ini hal yang baru bagi gue dan suami. Sebelum-sebelumnya, biasanya gue yang bersahabat sama sang ibu, atau sebaliknya, suami yang bersahabat sama sang bapak. Jarang yang bisa klik semua-muanya kayak gini.

Gara-gara itu, gue jadi kepikir, bakal lucu banget nih kalo kami besanan. Kebetulan keluarga itu punya anak sulung cowok yang pintar dan sopan. Alhasil, kalo beneran jadi besan, keluarga gue dan keluarga mereka gak bakal ribet beradaptasi karena kenal baik banget. Pas gue cerita ke suami, dia ketawa-ketawa doang sambil bilang “Yaelah kamu, ada-ada aja mikirnya!”.

Continue reading

Trauma di Medsos

Di medsos, gue bukanlah orang yang hobi posting foto-foto anak dan keluarga. Sesekali, iya. Tapi gak sering-sering amat lah. Di blog juga gitu. Kalo ditilik, postingan gue tentang anak dan suami kayaknya lebih dikit daripada yang bercerita tentang diri sendiri atau isu-isu umum. Kalo pun tentang anak, gue memilih gak upload fotonya.

Kenapa begitu?

Ada satu momen yang rada bikin gue trauma sih, sebenernya. Udah lama mau ditulis di sini tapi maju mundur karena bikin KZLsendiri. Gak heran sejak kejadian itu, gue memilih gak upload fotonya Nadira di blog. Di medsos masih sih, tapi jarang-jarang.

Ceritanya gini nih.

Continue reading

Raising Confident Child. How?

Kemarin ada acara keluarga besar suami. Alhasil, kami ketemu lah dengan sodara-sodara yang jarang bersua.

Pas turun mobil, kami ketemu dengan seorang Omnya suami. Basbisbus dikit, trus Nadira salim cium tangan sam adese. Dan sambil kasih tangan, dia ngomong gini ke Nadira:

“Wah koq gendut banget nih sekarang? Itu perutnya sampe buncit.”

Hati gue mendelep dengernya. Istri si om mungkin sadar, dia berusaha menetralisir dengan bilang “Gak koq, langsing koq ya, Mbak.”

And yeah, ever since that moment, that old guy is officially on my black list of “orang-orang nyebelin yang harus dihindari sebisa mungkin”.

Continue reading

Identitas di Medsos VS Dunia Nyata

Pertama gue mainan medsos, yakni friendster, gue ngerasa aman-aman aja berteman dengan orang yang gue kenal in real life. Bahkan, jika ada stranger yang nge-add, langsung gue decline.

Habit ini gue pertahankan sampe era Facebook. Rata-rata kontak gue di FB sampe hari ini adalah saudara, teman lama, kolega, atau orang-orang lain yang gue kenal di kehidupan nyata.

Maka dari itu, untuk facebook, gue suka males approve friend request dari orang-orang yang gak gue kenal di dunia nyata. Kalo pun di-approve, ya gue liat-liat dulu, kira-kira sehati sepemikiran gak ya. Entah kenapa, gue masih ngerasa facebook adalah area private yang gak terlalu nyaman gue bagi dengan orang asing. Bahkan, akun facebook gue setting private, cuma bisa dilihat kontak gue aja. Padahal isi wall gue juga cuma sharing-an video-video masak dan DIY sih, jarang yang heboh juga, hahaha.. 😀

Situasi berubah pas gue mainan Twitter. Gue banyak ketemu twitmoms yang cuma gue kenal di dunia maya aja. Beberapa kemudian jadi teman baru dan sahabat di dunia nyata. Sebab, kami punya minat yang sama di beberapa bidang.

Fenomena twitter berlanjut di dunia blog dan Instagram. Kalo gue liat, pembaca blog dan follower gue di Instagram didominasi orang-orang yang gak gue kenal di dunia nyata. Dan berbeda dengan zaman friendster dulu yang sering gue tolak-tolain, di IG dan blog, I’m okay sharing my thoughts with total strangers.

Continue reading

Blackmores, Pelukan dan Membantu Sesama

Semua orang yang kenal gue in real life mungkin pada tau ya kalo gue itu orangnya super santai, gak perfeksionis, dan jauh dari sifat OCD. Pokoknya, nothing to lose lah. Enjoy life while you can ceunah. Always do your best, tapi kalo gak bisa, yawdah gak masyalah gitu.

Sifat itu berubah pas gue tau kalo gue hamil. Tiba-tiba aja gue jadi super perhatian sama segala yang berbau kesehatan. Maklum, di dalam perut gue ada anak yang 100% tergantung sama gue. Jadi bener-bener harus dijaga dan dirawat sebaik mungkin.

Gue pun berusaha pilih makanan dan minuman yang bergizi. Disuruh dokter minum vitamin hayuk, disuruh mertua minum minyak kelapa supaya lahiran lancar nurut, minum suplemen juga OK. Semua dilakoni demi anak lah. Tentunya juga gue melakukan itu setelah konsul sama dokter ya.

Makanya, pas kemarin diundang ke acara Blackmores Pregnancy & Breast-feeding Gold, gue pun excited banget. Sebab, gue selalu penasaran sama update terbaru di dunia kesehatan. Apalagi, gue tau reputasi Blackmores sebagai penyedia suplemen kesehatan itu OKs bangs lah.

*pic from @nenglita’s blog*

Continue reading