Kids Zaman Now

Di posting-an ini, gue pernah nulis tentang generasi masa kini yang mentalnya bikin pengen ngurut dada banget. Ehhhh di twitter dan beberapa medsos lain, gue nemu deh contoh surat-surat lamaran generasi zaman now, yang bikin frustrasi.

Kayak gini nih contohnya:

*isi email macam apa ini? Emangnya semua perusahaan ngerti bahasa ala kaskus?*

*reply-an tuh bocah bikin semua grammar NAZI sakit kepala*

Siapa yang gemes baca dua contoh email di atas? 🙋🙋🙋

Trus, dari kisah-kisah di medsos maupun temen-temen gue yang sehari-hari emang jadi HRD, populasi kids zaman now yang mengirim surat lamaran, permohonan magang, atau membalas email, ya emang banyak. Mereka kayak gak bisa ngebedain, mana surat resmi, dan mana percakapan dengan sesama temen. Semua dipukul rata.

Dari segi bahasa pun, wow acak adul abeezzz… Gue gak tau pelajaran Bahasa Indonesia mereka gimana, tapi kok ya reply email aja begitu amat? Bikin sakit kepala deh dengan tanda baca segabruk yang tidak pada tempatnya, huruf besar kecil dan angka-angka, etc.

FYI, untuk urusan pribadi aja, gue suka turned off sama orang yang kalo kirim Whatsapp, email, message etc, dengan gaya acak adul kayak gitu. Gimana kalo gue jadi HRD yang dikirimin email macem itu? Aduh bisa nenggak obat sakit kepala mulu kali ya hahaha.. 😅

Terus terang, kisah-kisah dan contoh-contoh kids zaman now itu sering bikin gue skeptis dan menggeneralisir bahwa semua anak-anak masa kini pasti bertingkah kayak gitu. Belum lagi sifat manja, mau  segala sesuatu serba instant dsb. Untunglah prasangka gue itu ternyata gak 100% bener. 

Di kantor, gue punya 2 orang fruit child yang masih unyu-unyu. Sebut aja Fitri dan Maria. Umur mereka masih early 20s. Maria sih udah agak lama kerja bareng gue. Nah kalo Fitri, dia baru mau setahun kerja bareng. Tapi gue kenal dari zaman dia masih mahasiswa dan magang di kantor.

Dua anak ini beda sama bocah-bocah yang ngirim surat lamaran di atas. Emang sih, kalo WhatsApp-an, gaya percakapan mereka 11-12 sama gaya anak-anak alay tadi hahaha… Tapi kalo nulis berita dan email, ya mereka bisa menulis seperti seharusnya.

Terus, di postingan dulu, gue mengeluhkan generasi kekinian yang gampang nyerah, gak mau susah dan mudah bosan. Nah, Maria dan Fitri ini hardworking lho. Disuruh liputan apa aja, di mana aja, kapan aja, gak masyalah. Makanya gue sayang banget sama dua bocah ini. 

Itu di lingkungan pribadi gue, di luar sana gimana? Beberapa bulan lalu, gue pernah wawancara Rektor sebuah universitas swasta di dekat rumah. Pas lagi ngobrol ngalor ngidul, dia cerita tentang ojek online.

“Banyak lho Mbak mahasiswa saya yang jadi driver gojek, grab atau Uber. Rata-rata narik sebelum kuliah, dan sesudah kuliah. Kata mereka sih lumayan untuk bensin, jajan dan tambah-tambah uang kuliah,” kisah Pak Rektor.

Dengernya gue terkejut plus senang. Wah alhamdulillah ya, ternyata generasi zaman now gak sejelek yang muncul di medsos (apalagi kelakuan2 azaib yang nongol di akun IG @pengabdimicin. Bikin shock!). Masih ada yang mau kerja keras untuk hidup. Gak cuma mantengin medsos dan cita-cita kaya mendadak.

*Lah itu gue juga sih 😝*

Berarti, masih ada orangtua yang mampu mengarahkan anaknya jadi anak-anak yang kuat dan punya survival instinct tinggi. Gak cuma bisa minta duit aja.

Trus tadi pagi dapet gambar ini di Twitter. Tanpa sadar, air mata langsung netes sendiri. My faith in kids zaman now is finally restored! ❤

Mudah-mudahan gue (dan kita semua) diberi kemampuan untuk membentuk anak yang kuat, pemberani, gak manja dan punya etos kerja tinggi seperti mereka ya. Amin.

Advertisements

The Best Job in the World

Topik yang gak pernah abis-abisnya jadi kontroversi (selain bakpao di dahinya SN), adalah tentang working mom (WM) VS stay at home mom (SAHM). Dari berbagai angle udah dibahas. Bahkan sebutan pun sempet dikomplen. SAHM gak terima kalo disebut begitu, karena seolah-olah mereka gak kerja. Pun begitu dengan WM. Sampe ada revisi istilah macem-macem. Ribet deh pokoknya.

Gue sendiri adalah seorang WM. Sempet sih ngejajal jadi SAHM, tapi cuma pas cuti melahirkan doang 😀 Setelah itu, kerja kerja kerja mulu deh. Ya tentunya sambil berusaha balancing sama tugas jadi ibu.

Susah gak? Ya gitu deh kira-kira. Yang bisa dipastikan adalah, support system mumpuni is a must. Makanya, sampe ada pameo yang bilang gini “Di balik seorang pria sukses, ada wanita hebat di belakangnya. Sementara di belakang wanita sukses, ada ART, nanny, supir, dst.”

Anyway, gue gak mau bahas soal itu sih. Di posting-an ini gue mau fokus ke urusan anak. Jadi, gue punya beberapa orang temen yang memutuskan untuk jadi SAHM setelah punya anak. Tujuannya, mereka mau fokus mengurus anak. Padahal, posisi karier yang mereka tinggalkan bukan yang entry level lho. Boleh dibilang, mereka udah cukup mapan di jabatan masing-masing.

Continue reading

Parents Know Best?

Ceritanya, keluarga gue punya sahabat keluarga yang bener-bener klik. Sang ibu akrab dengan gue. Sang bapak akrab dengan suami. Anak bungsunya bersahabat dengan Nadira. Bahkan kakek neneknya akrab dengan mertua dan keluarga besarnya.

Pandangan kami akan berbagai hal matching banget. Mulai dari hal-hal remeh temeh sampai urusan politik. Sifat dan tindak tanduk seluruh keluarganya pun cocok dengan keluarga kami.

Jujur, ini hal yang baru bagi gue dan suami. Sebelum-sebelumnya, biasanya gue yang bersahabat sama sang ibu, atau sebaliknya, suami yang bersahabat sama sang bapak. Jarang yang bisa klik semua-muanya kayak gini.

Gara-gara itu, gue jadi kepikir, bakal lucu banget nih kalo kami besanan. Kebetulan keluarga itu punya anak sulung cowok yang pintar dan sopan. Alhasil, kalo beneran jadi besan, keluarga gue dan keluarga mereka gak bakal ribet beradaptasi karena kenal baik banget. Pas gue cerita ke suami, dia ketawa-ketawa doang sambil bilang “Yaelah kamu, ada-ada aja mikirnya!”.

Continue reading

Trauma di Medsos

Di medsos, gue bukanlah orang yang hobi posting foto-foto anak dan keluarga. Sesekali, iya. Tapi gak sering-sering amat lah. Di blog juga gitu. Kalo ditilik, postingan gue tentang anak dan suami kayaknya lebih dikit daripada yang bercerita tentang diri sendiri atau isu-isu umum. Kalo pun tentang anak, gue memilih gak upload fotonya.

Kenapa begitu?

Ada satu momen yang rada bikin gue trauma sih, sebenernya. Udah lama mau ditulis di sini tapi maju mundur karena bikin KZLsendiri. Gak heran sejak kejadian itu, gue memilih gak upload fotonya Nadira di blog. Di medsos masih sih, tapi jarang-jarang.

Ceritanya gini nih.

Continue reading

Raising Confident Child. How?

Kemarin ada acara keluarga besar suami. Alhasil, kami ketemu lah dengan sodara-sodara yang jarang bersua.

Pas turun mobil, kami ketemu dengan seorang Omnya suami. Basbisbus dikit, trus Nadira salim cium tangan sam adese. Dan sambil kasih tangan, dia ngomong gini ke Nadira:

“Wah koq gendut banget nih sekarang? Itu perutnya sampe buncit.”

Hati gue mendelep dengernya. Istri si om mungkin sadar, dia berusaha menetralisir dengan bilang “Gak koq, langsing koq ya, Mbak.”

And yeah, ever since that moment, that old guy is officially on my black list of “orang-orang nyebelin yang harus dihindari sebisa mungkin”.

Continue reading

Murka karena Bekal Anak

Di Instagram, nyaris tiap hari gue posting bekal-bekal sekolahnya Nadira dengan hestek #ketringibuira. Bahkan pernah gue tulis kisahnya di sini nih. Tujuannya sih cuma buat catatan pribadi dan share sama sesama ibu-ibu atau gadis-gadis (ceileh) yang minat pada dunia perbekalan. Lumayan buat saling tukar ide yekan.

Meski gue ngerasa bekalnya Nadira garing setiap hari, ternyata feed back yang gue dapet rata-rata lumayan positif. Bilang gue kreatif lah, menunya looks delicious lah, macem-macem deh. Tentu aja gue hepi dan kadang GR sendiri hahaha 😀

Tapi tau gak, dunia nyata itu lebih kejam daripada dunia sosmed, seus. Meski menurut followers gue, bekalnya Nadira itu keliatan enak, belum cencu dia beneran makan seluruh isinya sampe habis lho. Yup, anak gue emang reseeeee dan picky eater banget. Jadi suka bikin gue emosi jiwa deh, terutama untuk urusan bekel-bekelan ini.

*anak gue bangeett… Tiap ke resto, kudu cari yang nyediain menu nasgor, ayam goreng atau telur dadar untuk dia. Kalo gak ada, terpaksa beli di luar dulu T_T*

Continue reading

Halu Berjamaah

Untuk yang follow gue di Instagram, tentu hapal ya habit gue tiap hari. Kerjanya posting foto bekal Nadira dan bekal gue on weekdays melulu, semua pake hestek #ketringibuira. Awalnya sih iseng doang. Cuma supaya IG gue gak kosong atau isinya selfie kayak selebriti ibukota, hahahahaa… Trus juga sekalian mendokumentasikan bekal bareng beberapa teman yang suka ngebekelin anak/suami/diri sendiri gitu. Saling sharing ide lah.

Eh koq ternyata banyak yang suka dengan foto-foto bekal itu. Bahkan banyak yang kasih testimoni di komen, email atau DM. Rata-rata bilang foto bekal gue dan Nadira itu menginspirasi mereka bahwa bikin bekal itu gak susah. Yang gampil-gampil asal dipadukannya sesuai, pasti jadinya oke.

Dan yang gue bilang gampil, emang beneran gampil. Bekal gue dan Nadira sehari-hari gak pernah spektakuler kayak bistik, rendang, etc. Rata-rata isi bekal Nadira ya nasi + lauk + sayur (bisa ditumis, atau dijadiin omelet, atau digabung dgn lauk) + buah + snack. Sementara isi bekal gue karbo (nasi hitam atau sekarang lagi rutin makan oats lagi. More on this later) + sayur + lauk + buah. Itupun semuanya yang diolah capcipcup, gak ribet dan gak pake lama.

Foto-foto gue pun ya gitu-gitu aja. Pokoknya yang penting sesuai pakem gue, yakni foto itu harus terang dan fokus, udah. Hahaha.. Maklum, gak berbakat motret, sayah 😛

Makanya gue heran pas pertama kali foto gue dicolong di IG kayak yang pernah gue tulis di sini. Waktu itu sih gue cuma mikir, karena yang nyolong foto adalah online shop (OLS), yaaa agak “dimaklumi” sih. Bisa jadi dia pengen bisnis ketring, tapi gak punya foto jadi nyolong foto gue. Atau dia pengen nipu, jadi dia nyolong foto gue. Ini kan “wajar” ya jadi modus OLS abal-abal di dunia maya. Meski ngeseliiinn banget.

Eh ternyata, colong-mencolong foto bekal di IG juga dilakukan oleh beberapa akun pribadi, untuk pencitraan. So far, gue “baru” mengalami 4 kali. Ini nih kejadiannya:

Continue reading