Murka karena Bekal Anak

Di Instagram, nyaris tiap hari gue posting bekal-bekal sekolahnya Nadira dengan hestek #ketringibuira. Bahkan pernah gue tulis kisahnya di sini nih. Tujuannya sih cuma buat catatan pribadi dan share sama sesama ibu-ibu atau gadis-gadis (ceileh) yang minat pada dunia perbekalan. Lumayan buat saling tukar ide yekan.

Meski gue ngerasa bekalnya Nadira garing setiap hari, ternyata feed back yang gue dapet rata-rata lumayan positif. Bilang gue kreatif lah, menunya looks delicious lah, macem-macem deh. Tentu aja gue hepi dan kadang GR sendiri hahaha 😀

Tapi tau gak, dunia nyata itu lebih kejam daripada dunia sosmed, seus. Meski menurut followers gue, bekalnya Nadira itu keliatan enak, belum cencu dia beneran makan seluruh isinya sampe habis lho. Yup, anak gue emang reseeeee dan picky eater banget. Jadi suka bikin gue emosi jiwa deh, terutama untuk urusan bekel-bekelan ini.

*anak gue bangeett… Tiap ke resto, kudu cari yang nyediain menu nasgor, ayam goreng atau telur dadar untuk dia. Kalo gak ada, terpaksa beli di luar dulu T_T*

Continue reading

Review: Nonton Pentas Jendela Raksasa

Bulan Desember lalu, gue dapet info dari Kiki tentang pementasan teater musikal Jendela Raksasa yang dibuat oleh KPK. Pementasan ini ditujukan untuk anak-anak SD dan SMP, dan dikemas dengan semenarik mungkin. Yang terpenting, acaranya gratis.

Wah namanya ibu-ibu, denger acara buat anak, gratis pula, langsung mupeng dong ya Kakaakk…Apalagi, gue liat dan baca-baca informasi di webnya dan socmednya Jendela Raksasa, wah koq konsepnya serius banget? Dijamin keren banget, nih!

Acara digelar Kamis dan Jumat, 22 dan 23 Desember, jam 15.00 dan jam 19.00 perharinya. Gue dan adik gue pilih hari Jumat jam 15.00, karena hari itulah yang pas dengan jadwal kami berdua. Kalo bocah-bocahnya mah udah bebas, wong udah selesai ambil rapor.

Jadi deh kami berangkat berempat bareng ke Taman Ismail Marzuki (TIM) barengan. Dari rumah, gue udah cerita ke Nadira kalo kita bakal nonton pentas teater musikal. “Yang mirip sama konser Naura kemarin gitu lho Mbak,” kata gue. Nadira pun mengangguk tanda paham. Apalagi, lokasi acara pun sama persis, di Teater Jakarta, TIM, tempat Naura konser juga.

Continue reading

Nadira dan Uang Jajan

Meski suka masak dan hasil masakannya enak, nyokap gue bukanlah tipe ibu yang pay attention to details atau mau berrepot ria kayak ibu-ibu masa kini. Jadi, waktu gue kecil dulu, begitu masuk SD, gue gak dibawain bekal lagi. Alih-alih, gue dikasih uang jajan.

Dari kelas 1 SD, gue udah biasa tuh makan lontong sayur di warung kaki lima yang mangkal di pagar sekolah. Karena pintu pagarnya ditutup, gue dan si penjaja lonsay, bertransaksi lewat celah jeruji pagar sekolah. Atau, gue antre di kantin sekolah untuk jajan wafer dan jajanan lainnya.

Mana waktu itu rumah gue dan sekolah jauuhh banget. Trus gue naik mobil jemputan karena nyokap masih harus ngurus adik gue yang masih TK. Jadi ya gitu. Karena rumah jauh, gue dijemput paling duluan, diantar paling belakangan. Dan gue jarang sempat sarapan lengkap, paling cuma minum susu aja. Alhasil, jajanan di sekolah harus cukup untuk mengganjal perut gue, dari istirahat sampe pulang ke rumah.

*ini bayanginnya aja sedih sendiri gue. But what doesn’t kill you make you stronger kan? Risiko anak pertama lah, harus dewasa lebih cepat dari yang seharusnya, hehehe..*

No wonder, dari kecil, gue udah terbiasa jajan. Dan itu kebawa sampe sekarang. Makanya gak kurus-kurus nih akoh, KZL! *lah curcol*

Continue reading

Aksi Bully di Sekolah

Minggu lalu, Nadira kembali masuk sekolah sebagai murid kelas 2 SD. Di hari pertama, semua anak dan ortu datang untuk lihat, sekarang di kelas berapa, siapa aja temennya dan siapa wali kelasnya.

Sebagai ibu-ibu yang kurang gaul di antara ortu murid, gue cukup seneng lah sama kelas barunya Nadira. Sebab, ada beberapa anak yang ibunya gue kenal cukup baik. Lumayaaann buat tanya info dan titip anak yekan 😁

Pas lagi ngobrol-ngobrol, gue dikasitau oleh beberapa ibu yang aktif di sekolah, tentang seorang anak yang hobi nge-bully saat duduk di kelas 1 SD. Sebut aja si Mark ya. Mark ini gak hanya nge-bully tapi juga ngegigit dan menonjok teman-temannya. Laki-laki maupun perempuan.

Continue reading

Nadira and Her Pet Obsession

Sejak kecil, Nadira itu sukaaa banget sama binatang. Padahal, baik gue dan bapaknya sama-sama gak suka. Awalnya gue pikir wajar karena semua anak emang suka binatang ya. Apalagi, dua pengasuh Nadira dulu sama-sama suka kucing.

Jadi deh anak gue kerjanya ngejar-ngejar kucing liar yang ada di kompleks rumah, untuk dielus dan disayang. Atau main ke rumah tetangga yang punya banyak kucing. Sempet juga dia minta kucing untuk dipiara tapi gue larang. Karena, siapa yang mau ngurusin coba?

Pas ultah ke -4, dia minta kado anak ayam ke om gue. Rikuesnya rada ajaib sih, dan bikin om gue ketawa geli. Akhirnya beneran dikasih, sekaligus 5 ekor bok. Sempet bikin gue puyeng karena bingung mikirin bakal ditaro dimana ini kalo gede. Eeehh meski disayang-sayang, anak-anak ayam itu mati satu persatu karena anak ayam gitu emang gak bisa tahan lama saat lepas dari induknya. Nadira pun sedih banget.

Pas ultah ke-5, dia minta kura-kura dan ikan ke bokap nyokap gue. Nah, ini gue bolehin karena, kura-kura dan ikan kan hewan yang low maintenance. Gak terlalu ribet untuk dipiara lah. Dua binatang itu bertahan cukup lama. Setelah setahun, ikannya mati tiba-tiba. Sedangkan kura-kura akhirnya gue hibahkan ke anaknya ART pulper karena gak ada yang urus.

Selanjutnya gue melarang dia minta kado binatang saat ultah. Sebab, gue emang gak setuju sama orang yang kasih kado binatang ke orang lain. Pet is not a gift. Sukur kalo yang dikasih emang mau ngurus dan seneng sama binatang. Lah kalo gak? Dia kan makhluk hidup juga lho.

Continue reading

Me and You VS Mother in Law

Beberapa waktu lalu, gue baca notes yang di-sharing seorang teman di Facebook. Isinya tentang keluhan tiga orang Ibu akan menantu perempuan mereka. Supaya lebih simple, mertua perempuan gue sebut MIL (mother in law) dan menantu perempuan disebut DIL (daughter in law) ya.

Ibu A mengeluhkan DIL-nya yang selalu iri hati dengan apa yang dibelikan Ibu A ke cucu dari anak perempuannya, dan cucu dari anak laki-lakinya. Anak perempuan Ibu A kurang beruntung dari sisi finansial. Suaminya cuma tukang ojek. Sementara anaknya yang laki-laki punya jabatan bagus di kantor. Jadi Ibu A merasa wajar jika memberi sesuatu lebih banyak ke anak perempuannya karena dia hidup berkekurangan.

Eh tindakan itu dianggap pilih kasih oleh DIL-nya. Menurut dia, Ibu A bertindak seperti itu semata-mata karena lebih sayang pada cucu dari anak perempuannya, bukan dari anak laki-laki. Hal itupun merembet hingga ke berbagai hal lain yang bikin DIL tambah benci sama Ibu A. “Saya jadi bingung deh,” curhat Ibu A.

Ibu B lain lagi. Dia merasa sang anak laki-laki sekarang jauh berubah. Dulu hubungan mereka sangat dekat. Sekarang, anaknya itu lebih mengutamakan istrinya. Sehingga berkunjung ke rumah ibu pun jarang. Kalopun berkunjung, hanya sebentar karena sang istri tidak betah.

Suatu hari, Ibu B telpon putranya. Sambil berbisik dia memohon sang anak untuk mengunjunginya, dengan syarat “Kalo bisa kamu sendiri aja ya Bang. Mama kangen ingin peluk Abang yang lama.” Aduh gue bacanya aja sampe mberebes mili 😥

Ibu C juga setali tiga uang. Setelah menikah, putranya juga jarang menengok dia. Begitu juga dengan memberi Ibu C nafkah atau hadiah. Kalopun memberi, biasanya adalah barang-barang sale atau obral yang murmer hasil pilihan istrinya. Padahal putra Ibu C ini manajer di sebuah perusahaan terkenal, lho.

Ngenes ih 😦

Continue reading