Rahim Aing, Kumaha Aing?

Belakangan ini, dengan maraknya socmed, masyarakat lebih gampang dan leluasa menyuarakan isi hati. Mulai dari urusan pekerjaan, keluarga sampai hal-hal yang bersifat pribadi. Salah satunya adalah urusan jumlah anak.

Banyak kan tuh di FB yang berkampanye soal “rahim gue, urusan gue.” Atau kalo di-Sunda-Sunda-in, jadi “rahim aing, kumaha aing.” 😀

Ini awalnya sih dikampanyekan oleh orang-orang yang belum punya anak atau memutuskan untuk tidak punya anak. Maklum, kultur kita kan kultur kepo. Semua yang dianggap kurang “lazim” dengan norma masyarakat, pasti ditanyain.

Gak berapa lama, kampanye itu juga digunakan oleh orang lain, terutama kaum yang ingin punya anak banyak. Lagi-lagi karena mereka lelah dengan kultur kepo masyarakat sekitar. Norma yang lazim di masyarakat adalah, 2 anak, jenis kelaminnya sepasang, atau laki-laki dan perempuan. Jadi kalo jumlahnya kurang atau lebih dari itu, dan gendernya gak sepasang, pasti dikepoin.

Oke lah, untuk urusan itu gue gak bermasalah. Gue cukup setuju koq. Anak gue, urusan gue. Rahim gue, urusan gue. Jadi, buat apa orang lain usil. Gitu ya kira-kira.

Continue reading

Advertisements

Who Wants to Be a Millionaire?

Sebelumnya kasih disclaimer dulu ya. What’s written here is purely my own personal opinion. If you disagree, that’s okay. Thank you 🙂

Saat ini, Nadira udah berusia 4 tahun lebih dikit. Dan sebagai warga Indonesia, kayaknya gak afdol ya kalo gue gak dihujani pertanyaan “Kapan kasih adik buat Nadira?” Dari bocahnya baru sebulan pun, pertanyaan itu udah nyampe ke gue. Apa kabar sekarang? Bahkan banyak yang menganggap gue udah telat kasih adik untuk Nadira. Jadi kudu buru-buru. Kalo nggak, nanti lebih telat lagi.

Urusan nambah anak buat gue, seperti yang pernah gue tulis di postingan-postingan terdahulu (sampe bikin tag “tambah anak” saking seringnya nulis ini :D), is a tricky issue. Suami gue sih sebenernya pengen nambah 1 anak lagi. Bahkan dia kasih deadline, tahun ini adalah tahun terakhir bagi gue untuk mikir-mikir, apakah kami akan nambah anak lagi atau nggak. Kalo gue belum siap juga by the end of 2013, berarti kata hubby, mending nggak usah nambah anak aja. Dia takut kalo gue bilang “Okay let’s have another baby!” tahun 2017 misalnya, he’ll be too old by then. So, setting up a deadline is good, according to him.
Continue reading

Get Offended? Be It!

Have you read my latest article posted in Mommies Daily here? Do you feel intrigued, or even offended, when reading it? If you do, my mission is accomplished then 🙂

Jadi ya, alasan gue nulis artikel itu macem-macem bin campur aduk. Kebanyakan sih gara-gara gemes suremes sama beberapa orang yang gue kenal yang memperlakukan ortu dan mertua mereka gak lebih kayak pengasuh anak, or worse, pembantu pribadi. Hati gue sediiihh banget. Apalagi pas gue cerita ke hubby yang dididik untuk menghormati dan mencintai ortu, baik kandung maupun mertuanya. Dia pun jadi ikutan marah-marah sendiri.

Plus gue abis nonton Parental Guidance (yang mana sebenernya gak terlalu nyambung sih, hahaha..). Langsung deh terinspirasi nulis begituan.

Mau tau kisah-kisah memilukannya? Cekidot:

Continue reading

Grow in Heart not in Tummy

Tadinya mau nulis posting yang lucu-lucu. Tapi gara-gara baca berita ini hilang deh mood gue 😦

Kali ini gue mau nulis postingan soal anak aja deh. Mungkin kontroversial buat sebagian orang, but this has been inside my mind for I don’t know how long.

Sampe saat ini, gue selalu clueless kasih jawaban kalo ditanya soal nambah anak. Alasannya segabruk lah kenapa gue masih ragu melulu untuk kasih adik buat Nadira. Salah satunya berkaitan dengan berita di link di atas.

Continue reading

Confession of A (Ex) Hippo Look-Alike

Tiap liat orang hamil yang cantiiikk banget, gue pasti selalu jealous berat. Kenapa? Soale pas gue hamil, bodi gue macam kuda nil bok. Gendut, jerawatan, nggak banget deh pokoknya. Sampe berkali-kali disangka hamil anak cowok karena pakem orang jadul itu begini:

Ibu hamil jelek = anaknya cowok. Ibu hamil kece = anaknya cewek.

Dan meski gue kasitau bahwa hasil USG bilang bayi di dalem perut itu cewek, nggak ada yang percaya. Berarti kan gue jelek banget, yes? *mewek kejer*

Continue reading

Dede Bayi Goyang

Dalam rangka ultah Nadira yang ke-3 hari ini, mari kita bikin postingan tentang dia. Maklum ya, sebagai emak-emak egois, jarang banget ini sayah nulis sesuatu soal anak 😀 Terus, jika ibu-ibu lain reminiscing momen saat anak lahir, gue mau beda ah. Alasan sesungguhnya sih karena foto-foto brojolnya keselip entah dimana. Jadi nulis yang lain aja, hihihi..

*duileh ini prolog panjang bener*

Anyway, kali ini gue mau nulis tentang my daughter’s newest obsession. Jadi kan gue beliin dia boneka Cupcake yang resembling bayi beneran di maderkere (pas diskon sih :P). Nah dia demen banget tuh. Kemana-mana itu boneka dede bayi diajak. Ke PAUD, ke rumah mertua, ke tempat nyokap, ke taman depan rumah, ke warung, ke mol, ke kondangan, ke acara Mickey, ke pertunjukan Tarzan, kemana aja lah. Pokoknya gak boleh ketinggalan.

Continue reading

Idiocracy?

Bertahun-tahun yang lalu, gue nonton film berjudul Idiocracy di DVD. Biasa lah, pas beli DVD-nya, gue sangka itu film komedi konyol-konyolan yang enteng buat dicerna otak. Ternyata, meski konyol, kontennya lumayan berat dan kalo dipikirin, bisa bikin kening berkerut lho. Apalagi kalo dikaitkan dengan kehidupan gue sebagai emak-emak sekarang *maklum gue kan emang lebay*

*picture’s taken from here *

Continue reading