Nama-nama Panggilan untuk Pasangan

Duluuu banget gue pernah bikin blogpost tentang nama-nama panggilan ibu yang entah kenapa, sampe sekarang masih banyak aja yang baca. Padahal itu tulisan iseng-iseng yang ringan banget. Wong gue dulu ngetiknya sambil ketawa-ketawa 😀

Nah barusan gue tetiba dapet ide untuk nulis tentang tema serupa, tapi khusus untuk pasangan. Soale, semakin berubahnya dunia, nama-nama panggilan untuk pasangan pun ikut berubah. Dulu yang sering gue denger waktu kecil saat memperhatikan ortu, tante, or pasangan lain, adalah panggilan Mah, Pah, Buk, Pak, dst. Sekarang, nama-nama panggilan untuk pasangan pun ikut berubah. Mungkin karena ada dampak dari tontonan film, media sosial, dan budaya pop juga kali ya.

Anyway, berikut ini analisis ala-ala gue mengenai beberapa nama panggilan untuk pasangan yang sering gue temui di sekitar.

1.Mama/Papa, Ibu/Bapak, Umi/Abi, Papi/Mami, Bunda/Yanda or Ayah

Nama panggilan ini kayaknya paliinggg sering gue denger nih sejak gue kecil. Kalo gue perhatikan sih, nama ini kayaknya berawal dari pasangan yang mulai jadi ortu. Supaya anak bisa manggil kedua ortunya dengan panggilan yang sesuai, mereka pun kasih contoh dengan memanggil satu sama lain “Mama/Papa, Ibu/Bapak”, dst. Dari situ, jadi habit dan meluas penggunaannya hingga jadi terminologi yang umum di masyarakat. Panggilan pasangan = panggilan anak ke ortunya.

Namun di luar itu, banyak juga yang manggil “Mama/Papa or Ayah/Bunda” sejak sebelum jadi ortu. Bahkan gak sedikit lho yang manggil kayak gitu sejak pacaran. Aselik cringey abis sih ya gue denger orang pacaran panggil “Mama Papa”. Apalagi kalo masih bocil kayak gambar di bawah ini, wkwkwkwk.

Oh ya kalo nama panggilan ini diterapkan di budaya Barat, jadi aneh-aneh gimana gitu ya. Selain untuk nyontohin ke anak, panggilan “Mommy/Mom, Daddy/Dad” jarang ditujukan dari istri ke suami dan sebaliknya. Apa main gue kurang jauh ya?

Dulu gue bahkan pernah baca artikel tentang mantan Presiden AS, Ronald Reagan, yang manggil istrinya “mom”. Trus dia abis-abisan di-bully dan dikatain weirdo sama rakyat sana. Well, beda budaya kultur, beda kebiasaan ya.

2.Istri: Dek/Dik, Non, Adinda/Dinda, Neng/Ning. Suami: Kak, Bang, Mas/Kangmas, Kang/Aa, Kakanda

Ini adalah nama panggilan kedua terpopuler untuk pasangan di Indonesia. Laki-laki selalu dipanggil dengan nama panggilan yang dituakan/dihormati seperti “Bang, Mas, Kak, Aa”. Sementara perempuan selalu dipanggil dengan nama panggilan lebih muda seperti “Dek, Non, Dinda”.

Meski informal, aturan ini lumayan baku lho formatnya. Jadi meski usia si cowok lebih muda, tetap bakal dipanggil “Mas, Bang, Kak” dan dia bakal manggil istrinya “Dek”. Kayaknya gue gak pernah nemu perempuan yang manggil suaminya “Dek” sementara suaminya manggil dia “Mbak”.

Kalo gue analisis nih, ini kayaknya sesuai dengan konsep pernikahan bagi masyarakat Indonesia. Begitu menikah, suami istri hubungannya sering platonis kayak adik kakak. Fokus pernikahan lebih ke keluarga, terutama anak. Ini berdasarkan perbincangan gue dengan nyokap dulu. Nyokap bilang, semakin tua, beliau merasa hubungan dengan bokap lebih kayak kakak adik yang saling menjaga dan menyayangi tanpa pamrih gitu deh. Dan ini umumnya juga terjadi pada pasangan-pasangan lain di Indonesia.

Plus posisi suami dalam budaya Indonesia yang patriarki adalah sebagai pemimpin. Jadi harus dipanggil dengan nama panggilan yang lebih dituakan/dihormati gitu. Sementara perempuan dalam budaya patriarki adalah makhluk yang lemah. Makanya, panggilan “Dek/Dik” itu umum karena adik/adek itu posisinya dianggap lebih kecil, tak berdaya, dan harus dilindungi.

3.Panggil nama

Misalnya pasangan Ari dan Nana, masing-masing ya manggilnya Ari dan Nana tanpa imbuhan atau kata ganti lain. Gak terkesan romantis, straight to the point, dan apa adanya.

Biasanya, pasangan yang panggil nama kayak gini memulai hubungannya dari sekadar teman dengan rentang usia yang gak beda-beda amat, atau bahkan seumuran. Karena udah biasa saling panggil nama, pas jenis hubungan mereka berbeda, jadi mager untuk gonta-ganti nama panggilan. Bahkan umumnya tetep membahasakan diri dengan kata ganti “lo-gue” bukan “aku-kamu” kayak pasangan lainnya.

Sepintas, nama panggilan kayak gini terkesan cuek dan gak ada manis-manisnya samsek. Tapi justru karena mereka memulai dari pertemanan, hubungannya lebih setrong gitu. Yah mungkin mereka gak romantis kayak pasangan-pasangan pada umumnya, tapi mereka biasanya punya romantisme yang beda.

Yang bikin ribet ya palingan kalo punya anak trus anaknya ikut-ikutan manggil ortu dengan nama masing-masing ya 😀

4.Sayang, Say, Yang

Ini juga umum nih ditemui di masyarakat Indonesia, apalagi waktu pacaran. Walau panggilannya generik dan ehm, pasaran, tapi menurut gue ini manis. Apalagi kalo diucapkan di depan umum. Kenapa? Soale orang Indonesia itu gak terbiasa mengungkapkan perasaan kepada pasangan di publik. Jadi panggil pasangan “Sayang, Say, atau Yang” itu meski simple tapi jadi rada luar biasa, terutama kalo sampe menikah masih tetep panggil pasangan dengan istilah ini.

Generasi ortu dan kakek gue kayaknya sangat jarang yang konsisten dari pacaran sampe nikah panggil “Sayang” ya. Biasanya setelah punya anak, panggilannya ganti jadi “Mama/Papa” dst itu lah. Kalo generasi gue sampe generasi masa kini, masih ada lah yang konsisten dengan nama panggilan “Sayang”, terutama kalo lagi berduaan 😀

5.Honey, baby, sweetheart, sweetie

Nama panggilan ini sebenernya kan “Sayang” dalam versi bahasa Inggris aja ya. Zaman dulu, era 90-an ke bawah, yang pake nama panggilan ini tuh cuma pasangan dari kalangan tertentu yang berpendidikan atau anak gaul. Soale mereka punya akses ke film-film bahasa Inggris, buku-buku bacaan dan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Gue inget waktu gue kecil, om gue sama pacarnya panggil-panggilan “Honey” gitu. Itu jadi sesuatu yang baru buat gue karena pasangan yang gue amati rata-rata manggilnya ya “Mama/Papa” khas Indonesia lah. Kayaknya om gue panggil “Honey” ke pacarnya karena dia anak gaul Jakarta gitu deh. Jadi terpengaruh temen-temen kuliahnya wkwkwk.

Kalo sekarang, panggilan “Honey, Baby, Sweetie” dll mah udah pasaran banget ya. Orang yang gak jago bahasa Inggris pun harusnya paham ini tuh terminologi untuk afeksi gituu. Walaupun yah banyak juga rangorang yang pake panggilan ini untuk nyebut temen akrab or bahkan orang asing, supaya terkesan gaul.

Menurut gue, panggilan ini tetep manis sih, apalagi generasi orang Indonesia saat ini udah lebih bisa terbuka mengungkapkan perasaan kepada pasangan. Salah satunya ya dengan panggil pasangannya “Baby, Honey” dll itu di depan umum.

6. Nama jelek (Ndut, Pesek, Jelek, Mbem)

Mungkin untuk banyak orang nama panggilan kayak gini tuh ngeselin dan degrading ya, tapi untuk sebagian orang, justru nama panggilan ini adalah bentuk sayang lho. Ada temen gue yang dipanggil pacarnya “Ndut” karena dulu dia emang gendut. Meski sekarang udah langsing, ya tetep panggilan sayangnya “Ndut”.

Banyak lagi contoh-contoh yang bisa ditemui di masyarakat ya. “Mbem” karena pipinya tembem, “Pesek” karena hidungnya pesek, atau “Jelek” karena mukanya gak cakep atau malah cakep tapi dipanggil “Jelek” sebagai candaan.

Kalo gue analisis, panggilan nama jelek ini bisa bermakna hubungan antara dia dan pasangannya hangat, penuh canda, dan cintanya setrong banget. Kenapa? Hey lo dipanggil jelek sebagai panggil sayang and you’re fine with it? Itu berarti selera humorlo bagus dan cintalo kuat banget sehingga rasa sensi-sensian udah hilang.

Namun jujurly, gue gak bisa relate dengan panggilan sayang kayak gini. Soale gue kan aslinya gak pede dengan fisik gue ya. Jadi kalo dipanggil “Ndut, Jelek, Pesek, Mbem” dll sebagai panggilan sayang, kayaknya gue mah mending putus aja dah. Bikin rasa pede yang drop tambah tenggelam itu mah, wkwkwk :’)

7.Panggilan sayang dalam bahasa selain Indonesia dan Inggris

Ini bisa pake bahasa Jerman, Jepang, Spanyol, Italia, Perancis, Korea, dst ya. Kalo menurut gue, nama panggilan ini lumayan cocok untuk orang-orang Indonesia yang pengen sok mesra tapi gak mau too obvious. Nama panggilan dalam bahasa Perancis, misalnya, kan gak semua orang ngeh. Jadi tetep terkesan mesra dan affectionate, tapi gak malu-malu banget di depan umum gitu.

FYI, gue dan suami pake yang ini juga nih, makanya cukup paham kondisi psikologis orang-orang yang melakukannya wkwkwk 😀

8.Panggilan customized

Ini sesuka-suka pasangan tersebut sih. Bisa pake nama panggilan tokoh kartun favorit, nama panggilan kreasi diri sendiri atau berdua, dst dsb. Ini menandakan pasangan itu kreatif dan ingin tampil beda ya. Supaya gak pasaran, nama panggilan pasangan pun harus out of the box.

Tapi untuk nama panggilan customized ini, tolong pastikan bahwa pasanganlo paham gimana ejaan, penulisan, dan penyebutannya supaya gak ada misunderstanding. Jangan kayak gue dan mantan gue dulu nih. Kalo diinget-inget masih bikin ngakak sih 😀

Yah demikian analisis abal-abal gue tentang nama-nama panggilan untuk pasangan. Ada yang relatable atau malah sebaliknya nih? Semoga apapun nama panggilannya, cinta dan komitmennya tetep setrong sampe aki nini yaaa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s