My Highlights of 2016

Jelang akhir tahun, mau bikin tulisan yang cucok ah sama hawa-hawanya. Tentu aja gue gak bakal nulis resolusi tahun depan karena, gue bukanlah orang yang menepati resolusi meski itu bikinan sendiri. Nulis doang mah gampil tapi begitu melakukannya, tetoott!! 😛

Kisah gue dan resolusi tahunan itu mirip sama lagu duetnya Meghan Trainer dan James Corden ini nih:

Makanya, setelah gue pikir-pikir, gue nulis tentang highlights di 2016 versi gue aja deh. Inspirasinya dari situs-situs berita/gosip gitu, yang biasanya nulis “celebrity highlighst in 2016” atau “2016 year in a review”.

So here is my highlights of 2016:

Continue reading

Major Minor

Judul postingan-nya macam label baju kekinian ya? 😀

Sebenernya ide postingan ini udah ada dari berbulan-bulan lalu. Mulai ditulis dari beberapa minggu lalu, tapi gak kelar-kelar. Hari ini, bertekad ngelarin posting-an gara-gara di IG ada yg komplen “koq blog-nya berdebu sih?” 😀

Anyway, belakangan ini, kisruh mayoritas VS minoritas jadi spotlight dimana-mana. Di Amerika, misalnya, isu ini udah kayak api dalam sekam. Terus panas, meledak, nanti reda, trus panas lagi, meledak lagi. Begitu terus.

Sekarang, karena lagi hot pemilihan presiden AS, isu itu pun mengemuka lagi. Terutama gara-gara Trump terpilih jadi presiden padahal seperti diketahui, dia hobi banget ngunyek-ngunyek soal SARA, kaum minoritas, plus perempuan. Jadi rame deh.

Continue reading

Sudahkah Anda Berbahasa Indonesia Hari Ini?

*buset judulnya serius amat yak 😀 *

Di sanggar tempat Nadira les nari, banyak peserta yang udah duduk di bangku kelas 6. Nah, waktu menjelang Ujian Nasional kemarin, gue sering tuh dengerin obrolan para ibu seputar pelajaran-pelajaran yang masuk ke UN.

Dulu di zaman gue, yang jadi momok adalah matematika. Nah sekarang, rupanya ganti ke Bahasa Indonesia. Menurut temen gue, Mbak X, Bahasa Indonesia itu memusingkan. Dia pun setres kalo harus ngajarin anaknya belajar.

“Soalnya banyak banget yang mirip-mirip Mbak. Jadi kayak jebakan gitu. Dan kalo latihan di rumah, saya bilang jawabannya A. Ternyata pas di sekolah, jawabannya menurut guru itu B. Pusing saya. Mendingan matematika deh, hasilnya jelas dan terukur,” kata Mbak X.

Dengernya, gue jadi berpikir dan menelaah. Sepintas, bahasa Indonesia emang gampang ya kayak yang pernah gue tulis dulu. Grammar-nya gak seribet Inggris yang ada beberapa level. Bahasa Indonesia juga gak punya pembagian gender kayak bahasa Prancis atau bahasa Italia. Aksara yang digunakan pun aksara Latin, nggak kayak bahasa Jepang, Cina, Arab atau Rusia yang punya aksara sendiri. Begitu juga dengan lafal. Apa yang ditulis, 90% sama dengan yang dibaca, gak kayak bahasa Prancis yang tulisannya “oi”, dibacanya “oa”.

Continue reading

Blogger Kagetan

Halooo semuanya. Apa kabar? Masih dalam suasana Lebaran, gue mohon maaf lahir batin yaaa.. Udah naik berapa kilo nih abis Idul Fitri?

*eh apa cuma gue doang yak? 😀 *

Anyway, tadinya gue mau nulis tentang pengalaman hosting 2 open house Lebaran di rumah selama 2 hari berturut-turut. Eeehh udah keduluan adik gue di sini. Yawdah, nulis postingan lain deh, yang gak berbau Lebaran.

Temanya tentang dunia blogger VS jurnalis sih. Ada 2 cerita terpisah yang kalo dipikir-pikir, ada benang merahnya dikit. Gue bagi dalam 2 point aja ya.

Continue reading

Tentang Dandan Keluar Rumah

Beberapa waktu lalu, di newsfeed Facebook gue ada yang posting soal kenapa perempuan dilarang berdandan saat keluar rumah. Menurut dia, alasannya adalah supaya perempuan tidak menarik perhatian laki-laki selain suaminya. Si penulis yakin, perempuan-perempuan yang dandan kece dan rapi jali saat mau pergi itu PASTI ingin menarik perhatian kaum Adam di luar sana.

Bacanya gue jadi mengernyitkan dahi sendiri. Bok, si penulis postingan itu pasti gak paham psikologi perempuan deh. Soale, gue dan rata-rata perempuan yang gue kenal, berdandan rapi dan kece saat keluar rumah bukan untuk caper sama cowok-cowok. Kita mah dandan untuk memuaskan diri sendiri aja daaannnnn… Gak mau kalah sama cewek-cewek lain di luar sana!

Hihihihi.. 😀

Etapi ini serius lho. Sebagai perempuan, gue seneng perhatiin cewek-cewek lain yang fashionable, cantik dan mempesona. Nggak di real life, nggak di dunia maya. Kayak yang ada di quote berikut ini nih:

Screenshot_2015-09-05-10-09-46_1447217111015 Continue reading

Ketemu Boyband

Seperti yang gue pernah cerita sebelum-sebelumnya, selera musik gue itu campur-campur banget, atau bahasa kerennya eclectic. Maklum, bonyok gue seleranya beda-beda. Bokap doyannya musik tradisional kayak lagu-lagu Jawa dan degung Sunda Sementara nyokap gue hobinya lagu-lagu Top 40. Bahkan dese demen Black Sabbath bok. Dari situ, selera musik gue pun jadi beragam banget.

Salah satu yang mewarnai hidup gue adalah boyband. Sebagai generasi 90-an, boyband cinta pertama gue adalah NKOTB. Abis itu, sesungguhnya gue masih demen sama boyband sih. Tapi agak gengsi ngakuin karena tren musik mulai beralih ke grunge.

Jadi di luaran sih ngakunya gue die hard fans-nya Nirvana, Pearl Jam, Stone Temple Pilot, Soundgarden, which was half true btw (half true = suka tapi gak die hard fans). Di dalam hati mah, gue masih hafal mati lagu-lagunya Take That, Boyzone, East 17, 98 Degrees, NSYNC, Five, Westlife, dll dsb. Gengsi bingit euy ngaku demen boyband kayaknya koq kurang keren gitu.

Sekarang, seiring bertambahnya usia, gue sadar, ngapain juga pura-pura untuk urusan selera musik ya? Jadi deh gue ngaku, I’m a boyband lover! Nggak groupie-groupie amat sih (kecuali sama NKOTB), tapi gue suka musik dan lagu-lagu mereka.

Anyway, di posting-an ini gue mau cerita tentang beberapa boyband yang pernah gue temui terkait dengan kerjaan gue. Baik itu nonton konsernya ataupun wawancara. Ini yang gue tulis yang gue inget-inget aja. Here they are:

Continue reading

Perawan di Sarang Penyamun

Haloo semua, apa kabar? Udah lama juga ya blog ini terbengkalai.  Alasan utama sih standar, lagi sibuk banget karena partner gue di kantor lagi cuti panjang. Alasan kedua, standar juga sih, yakni karena kemarin hawa-hawa liburan bikin MLZ BGT ngapa-ngapain. Hehehe.. 😀

Anyway, pas lagi open house Natalan di rumah bos, gue sempet berfoto bareng temen-temen kantor. Setelah gue liat hasilnya, laahh koq gue cewek sendokiran? Sebenernya, nggak gitu-gitu amat sih kondisinya. Ada koq cewek-cewek lain di kantor. Kalo diliat secara general, populasi cewek di kantor gue kurleb 20 % aja. Tetep minoritas ya cyin.

Dari situ gue jadi mikir, apa sih yang bikin gue betah kerja di kantor yang didominasi lekong ini? Tahun 2015 ini artinya gue hampir 13 tahun kerja di kantor yang sama lho. Ini betah, gagal move on apa udah tenggelam di comfort zone, Mbak?

Banyak yang bilang, kerja di lingkungan or profesi yang male-dominated itu nggak enak. Tapi sebaliknya, banyak juga yang bilang oke-oke aja kayak gue. Kenapa? Ya semua balik ke preferensi masing-masing ya neik.

Mungkin beberapa hal yang gue rasakan kerja di lingkungan kayak gini bisa dijabarkan sbb ya:

Continue reading