Inner Circle

Baca judulnya ada yang pengen nyanyi “Alalalalalong, alalalalalong, longlilonglonglong” gak?

Hihihi.. Anak 90-an banget gak siihhh 😀

Jadi, beberapa hari lalu, gue liat quote ini di Instagram. Trus gue terhenyak sendiri, karena, eh koq bener banget ya.’

Semakin tua, gue ngerasa tingkat toleransi gue terhadap hal-hal yang nyebelin semakin rendah. Terutama untuk yang berhubungan dengan sosialisasi dan pertemanan.

Continue reading

AADC (Ada Apa di Cirebon) part 2

Setelah dari Keraton Kasepuhan, kita lanjut hunting oleh-oleh. Tanya Pak Supir, dia rekomen ke dua toko yang lokasinya berdekatan. Kita sih terserah aja yang penting gampang parkir dan convenient juga buat kita. Akhirnya Pak Supir parkir di depan Toko Pangestu.

Tokonya luas, bersih, nyaman dan isinya lengkap. Begitu masuk, langsung tercium wangi kue enaaakkk banget. Ternyata, Mbaknya lagi manggang sopia isi keju. Ditawarin nyoba, dan rasanya emang endeeuus!!! 👍

Kita pun langsung menyusuri tiap-tiap rak toko, sebelum memutuskan beli apa. Yang gue suka dari toko ini adalah, tester produknya lengkap banget bok! Nyaris semua produk pasti ada testernya deh. Dari mulai keripik, sampe sambel, bisa dicobain. Yang ada, semua tester gue coba sampe kenyang hahahaha.. *nyoba tester apa rakus sih Mbak?*

Continue reading

AADC (Ada Apa di Cirebon)

Beberapa waktu lalu, seorang temen gue, alumni Komunikasi UI ’96, posting foto-foto reuni 20 tahun KomUI di Instagram. Gara-gara itu, gue dan temen-temen kuliah pun gak mau kalah.  Emang sih, tahun ini kita belum genap 20 tahun. Tapi, seru banget pastinya bikin kumpul-kumpul bareng temen-temen seangkatan kayak dulu lagi.

Ribet deh di WhatsApp Group bikin wacana A-Z untuk kumpul-kumpul. Padahal, kita semua sadar kalo angkatan kita itu dari dulu paling susaaahh kumpul dengan formasi lengkap. Padahal, anggotanya cuma 30 orang saja. Waktu awal masuk FSUI dulu, kita ada 35 orang sih. Tapi di tahun ke-2 tersisa 30 orang karena ada yang DO, keluar, dll dsb.

Cuma seiprit gitu aja susaaaah banget ngumpulinnya. Zaman kuliah dulu, angkatan kita kayak terbagi 2. Ada yang hobi nongkrong di Kantin Sastra (Kansas) setelah kuliah, ada yang  lebih suka langsung pulang ke rumah. Jadi pas kuliah aja suka mencar-mencar. Lah, gimana pas abis lulus?

Apalagi, temen-temen kuliah gue ini canggih-canggih amat. Pada go international semua macam Agnez Monica. Ada yang jadi dosen di Amrik dan Oz, ada yang kuliah S2-S3 di berbagai negara, ada yang jadi Kepala Jurusan di universitas ternama di Indonesia, ada yang jadi diplomat, pokoke macem-macem lah. Bener-bener sakseis bikin gue ngerasa kayak remah rengginang banget 😥

jakul

*foto-foto di kampus jelang lulus. Gak semua ikutan nih. Oh ya, meski Fakultas Sastra didominasi cewek, angkatan kita tetep ada cowoknya kooqqq..*

Continue reading

Melihat dari Kacamata Berbeda

*postingan ini mengandung isu seputar SARA. Tolong dibaca dengan kepala dingin dan hati seluas samudera. Perlu dicatat, penulis tidak bermaksud menyinggung satu pihak manapun. Hanya curhat tentang kondisi yang dialami aja.*

Barusan, seorang sahabat gue di kantor curhat. Dia, sebut aja Nona, sedikit mengeluh tentang beberapa orang di kantor sebelah. Nona ini berasal dari sebuah provinsi di Indonesia Timur dan tinggal di lingkungan non muslim. Keluarganya Kristen taat. Dari lahir sampai lulus SMA, dia tinggal di sana.

Saat kuliah, Nona pindah ke Jakarta. Di Jakarta, barulah ia banyak bertemu dan berteman dengan muslimah berjilbab. Di kampungnya dulu, meski ada yang muslim, tapi rata-rata gak berjilbab.

Seiring berjalannya waktu, Nona yang pandai bergaul ini lebur dengan campur-aduknya SARA di Jakarta. Meski dia masih taat dengan ajaran agamanya, dia gak pernah pilih-pilih teman berdasarkan SARA. That’s what makes us get along well.

Nah, beberapa waktu belakangan, kantor kita kedatangan tamu baru. Kapling sebelah diisi oleh para pegawai dari kantor lain. Mereka ini sebagian berjilbab, tapi berisiknya minta ampun. Gak cuma berisik, mereka juga annoying dalam artian, sering melontarkan kata-kata makian, kasar dan vulgar.

Continue reading

Sharing is (Not Always) Caring

Kemarin, Jakarta berduka. Ada bom dan serangan teroris di tengah kota. Kontan, perhatian semua orang terpusat ke sana. Mulai dari socmed, TV, radio, hingga media, laris diserbu masyarakat awam dari seluruh dunia.

Nah, seperti layaknya sebuah kejadian menghebohkan di lokasi publik, tentu aja banyak saksi mata dari masyarakat sekitar. Mereka pun ikut terlibat secara emosional, bahkan nggak sedikit yang turut melaporkan via socmed, atau mengambil foto dan video. Foto-foto, video dan kesaksian via socmed ini lantas go viral. Beredar dari satu akun ke akun lain. Dari satu whatsapp/BB group, ke whatsapp/BB group lain.

Apakah semua bisa dipercaya? Ya tentu tidaakk. Banyak “katanya”, “katanya” yang di-share sana-sini. Banyak kesimpulan blunder yang di-share sana-sini. Banyak analisa sotoy yang di-share sana-sini. Dan banyak juga yang percaya. Atau, malah jadi overwhelmed karena terlalu banyak info yang di-share, sebelum dicerna dan dikroscek.

Continue reading

Titip-Menitip

Siapa yang kalo ke luar kota/negeri sering dapet pesan sponsor “eh titip anu/ini/itu dong!”? Atau malah lo yang hobi nitip macem-macem kalo ada teman or kerabat yang ke luar kota/negeri? Saking biasanya, sering kita temui orang nagih oleh-oleh tiap ada kenalannya ke luar daerah. Di postingan ini gue pengen bahas itu ya.

Kalo gue amati, habit titip-menitip ini kayaknya lebih banyak eksis di Indonesia, atau mungkin masyarakat Timur, cmiiw. Kenapa? Soale pas gue lagi mikirin kata titip dalam bahasa Inggris, susah nemu padanan yang pas. Sampe gue gugel pun, sami mawon.

Padahal seperti kita ketahui, bahasa kerapkali menjadi penanda budaya dan identitas sebuah bangsa. Kayak di bahasa Urdu/Tamil (lupa yang mana) misalnya, gak ada kata cinta karena konsep cinta memang tidak dikenal. Di sana pernikahan dilakukan atas perjodohan oleh ortu.

Kembali ke soal titip, kenapa sampe dikait-kaitin ke urusan budaya? Ya karena emang gitu sih kak. Terkait juga dengan sifat orang kita yang kekeluargaan kali ya. Jadi kayaknya gampil dititip or menitipi sesuatu kalo ada yang ke luar daerah.

Continue reading