Pencuri Foto di Medsos

Hidup di era digital itu kadang menyenangkan, kadang menyebalkan. Menyenangkan karena mau cari apapun tinggal klik situs pencari. Dari nyari data penting, teman lama, atau stalking mantan, bisa cuuss langsung lah.

Nah, menyebalkannya adalah, banyak terjadi pencurian karya. Kalo zaman dulu kan, pencurian karya atau hak cipta biasa dilakukan dengan membajak melalui foto kopi, menggandakan tanpa izin, dll. Kalo sekarang mah, gancil bener. Tinggal copy paste tulisan. Atau, save as foto, lalu di-publish di tempat lain.

Untuk artikel, gue pernah mengalaminya beberapa waktu lalu. Kisah selengkapnya bisa disimak di sini ya. Sekarang, artikel contekan itu udah dihapus setelah gue bombardir komplen di comment box-nya. Namun, meski diganti artikel baru, tapi tetep aja sih menurut gue itu mah nyontek. Wong tema artikel dan poin-poinnya ngambil dari tulisan gue koq. Cuma gue males aja sih ngelanjutin lagi. Cukup tau aja lah kalo web itu tukang nyontek.

Usai tulisan, eh sekarang foto gue dicuri juga.

Continue reading

Melihat dari Kacamata Berbeda

*postingan ini mengandung isu seputar SARA. Tolong dibaca dengan kepala dingin dan hati seluas samudera. Perlu dicatat, penulis tidak bermaksud menyinggung satu pihak manapun. Hanya curhat tentang kondisi yang dialami aja.*

Barusan, seorang sahabat gue di kantor curhat. Dia, sebut aja Nona, sedikit mengeluh tentang beberapa orang di kantor sebelah. Nona ini berasal dari sebuah provinsi di Indonesia Timur dan tinggal di lingkungan non muslim. Keluarganya Kristen taat. Dari lahir sampai lulus SMA, dia tinggal di sana.

Saat kuliah, Nona pindah ke Jakarta. Di Jakarta, barulah ia banyak bertemu dan berteman dengan muslimah berjilbab. Di kampungnya dulu, meski ada yang muslim, tapi rata-rata gak berjilbab.

Seiring berjalannya waktu, Nona yang pandai bergaul ini lebur dengan campur-aduknya SARA di Jakarta. Meski dia masih taat dengan ajaran agamanya, dia gak pernah pilih-pilih teman berdasarkan SARA. That’s what makes us get along well.

Nah, beberapa waktu belakangan, kantor kita kedatangan tamu baru. Kapling sebelah diisi oleh para pegawai dari kantor lain. Mereka ini sebagian berjilbab, tapi berisiknya minta ampun. Gak cuma berisik, mereka juga annoying dalam artian, sering melontarkan kata-kata makian, kasar dan vulgar.

Continue reading

Menulis Itu Gampang?

Beberapa waktu lalu, tiba-tiba gue di-mention oleh Bu Dokter Resna di FB. Gini nih bunyinya:

Screenshot_2016-02-03-11-53-28_com.facebook.katana_1454476516306

*sengaja gak share link karena gue ogah naikin hit stat dia, cih!*

Gue langsung klik link yang di-share Resna dan baca. Ebuset, koq artikelnya 100% sama plek-plek-plek dengan artikel lawas yang pernah gue tulis di MommiesDaily ini ya?

Gak ada yang diedit, diubah atau dimodifikasi. Cuma fotonya aja yang diganti. Trus, source-nya pun gak disebut (sekarang sih udah, tapi itupun setelah dikomplain). Dan yang lebih ciamik, artikel gue yang dicomot itu jadi artikel terpopuler di web tersebut bookkk. Yang share udah ratusan (atau ribuan ya?) pula  X_X

Continue reading

Sharing is (Not Always) Caring

Kemarin, Jakarta berduka. Ada bom dan serangan teroris di tengah kota. Kontan, perhatian semua orang terpusat ke sana. Mulai dari socmed, TV, radio, hingga media, laris diserbu masyarakat awam dari seluruh dunia.

Nah, seperti layaknya sebuah kejadian menghebohkan di lokasi publik, tentu aja banyak saksi mata dari masyarakat sekitar. Mereka pun ikut terlibat secara emosional, bahkan nggak sedikit yang turut melaporkan via socmed, atau mengambil foto dan video. Foto-foto, video dan kesaksian via socmed ini lantas go viral. Beredar dari satu akun ke akun lain. Dari satu whatsapp/BB group, ke whatsapp/BB group lain.

Apakah semua bisa dipercaya? Ya tentu tidaakk. Banyak “katanya”, “katanya” yang di-share sana-sini. Banyak kesimpulan blunder yang di-share sana-sini. Banyak analisa sotoy yang di-share sana-sini. Dan banyak juga yang percaya. Atau, malah jadi overwhelmed karena terlalu banyak info yang di-share, sebelum dicerna dan dikroscek.

Continue reading

Penguntit di Toko

Siapa yang pernah ke toko trus dikuntit nonstop sama Mbak/Mas SPG? Trus rasanya gimana? Flattered or annoyed?

Untuk beberapa orang, diikutin SPG saat berbelanja mungkin menyenangkan ya. Serasa ada asisten pribadi yang bisa dimintai tolong atau ditanya-tanya. Macam artis, sosialita or pejabat gak sih?

Nah kalo gue, mungkin karena mental kere, diikutin SPG di toko itu bikin nyebelin banget. Alih-alih berasa kayak punya aspri yang siap siaga, gue malah berasa kayak dicurigai mau nyolong sesuatu di toko itu dengan si SPG yang nempel macam perangko. Risih bok!

apu-thank-you-come-again

Continue reading

Modus Usang Penipu

Hari gini, orang nipu tuh tambah nyebelin ya. Modusnya mungkin usang, tapi koq tetep pengen disilet-silet dan dikucurin air jeruk nipis. Kayak yang gue alami beberapa hari lalu.

Ceritanya, hari Senin kemarin, gue baru sampe kantor. Hari itu panas banget, macet dan meski gue naik motor, tetep aja agak telat sampe kantor. Alhasil gue buru-buru dong ya. Begitu sampe meja, langsung buka laptop pengen cepet kerja.

Eh tiba-tiba ada telepon. Gue liat, dari nomor 085325879415. Gak terdaftar nih di contact list gue. Langsung gue pasang suara galak karena menyangka “ah palingan dari sales KTA or kartu kredit”. Ternyata, lebih parah dari sales, bok.

Gue (G): Halo! *dingin bin galak nadanya*

Mbaknya (M): Ini dengan ibu Ira? *suara ibu-ibu, terdengar panik*

G: Iya, ini siapa ya? *tetep galak*

M: Bu, saya gurunya Nadira. Ini Nadira pingsan Bu di sekolah! *suara panik bingit*

G: *menghela nafas, melanjutkan suara dingin dan galak* Oh gitu? Ibu namanya siapa ya?

M: *diam beberapa saat terus tiba-tiba menutup telpon*

Continue reading