Antara Sirik dan Bingung

Tiap ketemu Jeng Indah, salah satu topik obrolan kami adalah soal finansial. Bukannya yang berat-berat kayak reksadana, investasi saham, dst ya. Tapi yang kami obrolin biasanya gini:

“Bok koq si X bisa jalan-jalan mulu ke luar negeri dan beli barang-barang branded, padahal kalo diliat-liat, secara finansial dia kurleb samaan deh sama kita. Ini mereka yang jago ngatur keuangan, atau kita yang salah sih? Koq kita gini-gini doang ya.”

*curcol sepasang buibuk, antara sirik dan bingung 😀 *

Topik ini juga sering jadi diskusi antara gue dan suami di rumah. Bahkan kadang saking seriusnya, kita sampe hitung-hitungan pake kalkulator segala. Dan hasilnya, ya emang secara finansial, keuangan keluarga belum membolehkan kita untuk beli tas/sepatu branded sering-sering. Atau jalan-jalan ke luar negeri sebulan sekali. Bahkan boro-boro ke luar negeri, ke luar kota aja rada nyesek kalo keseringan. Damn you KPR!

*yasalam kepancing curhat lagi deh akoh*

Nah terus, kenapa si X, Y, Z, A, B, C, D dst bisa begitu? Padahal, kalo ditelisik secara umum, harusnya sih kemampuan mereka beda-beda tipis lah sama gue dan Indah.

Hmmm… Ternyata banyak faktor sih ya. Di antaranya mungkin bisa gue jabarkan di bawah ini.

Continue reading

Harta Gono Gini Pacaran

Berhubung gak lahir dari keluarga konglomerat, gue suka heran kalo baca berita tentang artis-artis yang kasih/dapet kado mahal ke pacarnya. Misalnya, Kylie Jenner yang dapet kado mobil seharga US$200,000 dari pacarnya, Tyga. Padahal Tyga sendiri lagi bokek berat dan nebeng tinggal di rumahnya Kylie. Pas mereka putus, gak ngerti deh tuh nasib mobilnya gimana 😀

Atau Jessica Simpson yang kasih kado kapal speedboat seharga US$100,000 ke pacarnya, Tony Romo. Pas mereka putus,  Jessica bilang kapalnya boleh disimpan, gak usah dibalikin lagi.

Kalo versi lokal, ada kisah selebgram Rachel Vennya. Sebelum akhirnya nikah kan, dia sempet putus tuh sama lakinya. Padahal dapet kado mahal-mahal dan macem-macem pula. Gue langsung mikir, itu kado-kadonya diminta balik gak ya? Tapi kayaknya sih nggak ya, wong pas mereka balikan lagi, Rachel langsung dikasih mobil bok.

Seumur hidup, gak pernah ada cowok yang kasih mobil ke gue 😦

*maap curcol sejenak*

Maksud gue, kalo barang-barang mahal itu diberikan dalam ikatan pernikahan kan jatuhnya jadi harta gono-gini ya. Jadi bisa dimasukkan ke tuntutan pas cerai. Nah kalo masih pacaran kan gak ada klausul hukumnya. Jadi tinggal kerelaan dan kepasrahan hati deh.

Continue reading

Skripsi VS Mantan

Kemarin di twitter ada yg nulis gini. Akun @habibthink kalo gak salah:

Nama pasangan di lembar ucapan terima kasih skripsi sering kali berbeda dengan nama yang tercantum di buku nikah.

Bacanya gue langsung ngakak-ngakak gila. Soale, itu bener bangeett!!! 😆 😆

Tapi, sejujurnya, gue gak ngalamin sih soal beda nama di skripsi gue. Soale, gue kan dulu gak bikin skripsi. Di kampus gue dulu, diperbolehkan untuk ambil jurusan non skripsi. Jadi, di tahun terakhir kuliah, mahasiswa dipersilakan memilih, apakah mau bikin skripsi, atau gak.

Yang gak mau bikin skripsi kayak gue, harus ambil mata kuliah pengganti. Yang mana kalo diinget-inget, bebannya koq sama beratnya ya. Skripsi kan menyusun satu tugas makalah dan penelitian selama minimal satu semester. Sementara di mata kuliah pengganti, tiap minggu kudu presentasi dan bikin makalah penelitian juga. Lieur deh.

Continue reading

Zodiak dan Putus Cinta

Beberapa waktu lalu, adik gue share gambar ini di whatsapp. Liat dan bacanya gue ngikik-ngikik sendiri. Kenapa? Coba liat sendiri deh.

IMG-20160225-WA0000

Bintang gue kan Aquarius ya. Di gambar di atas, digambarkan kalo Aquarius patah hati atau diputusin, dia akan terlihat baik-baik aja, senyum bahkan mengucapkan “semoga kamu diberikan yang terbaik.” Padahal pas sampe rumah langsung mewek sampe banjir, mabuk-mabukan dan ngerokok tanpa henti. Semua adalah tanda-tanda major heartbreak.

Apakah itu benar? Yaaakkk… Nilainya 100 sodara-sodara!

Continue reading

Melihat dari Kacamata Berbeda

*postingan ini mengandung isu seputar SARA. Tolong dibaca dengan kepala dingin dan hati seluas samudera. Perlu dicatat, penulis tidak bermaksud menyinggung satu pihak manapun. Hanya curhat tentang kondisi yang dialami aja.*

Barusan, seorang sahabat gue di kantor curhat. Dia, sebut aja Nona, sedikit mengeluh tentang beberapa orang di kantor sebelah. Nona ini berasal dari sebuah provinsi di Indonesia Timur dan tinggal di lingkungan non muslim. Keluarganya Kristen taat. Dari lahir sampai lulus SMA, dia tinggal di sana.

Saat kuliah, Nona pindah ke Jakarta. Di Jakarta, barulah ia banyak bertemu dan berteman dengan muslimah berjilbab. Di kampungnya dulu, meski ada yang muslim, tapi rata-rata gak berjilbab.

Seiring berjalannya waktu, Nona yang pandai bergaul ini lebur dengan campur-aduknya SARA di Jakarta. Meski dia masih taat dengan ajaran agamanya, dia gak pernah pilih-pilih teman berdasarkan SARA. That’s what makes us get along well.

Nah, beberapa waktu belakangan, kantor kita kedatangan tamu baru. Kapling sebelah diisi oleh para pegawai dari kantor lain. Mereka ini sebagian berjilbab, tapi berisiknya minta ampun. Gak cuma berisik, mereka juga annoying dalam artian, sering melontarkan kata-kata makian, kasar dan vulgar.

Continue reading