Tentang Perceraian

Beberapa minggu lalu gue bikin Aku Curhat Kamu Curhat (ACKC) edisi divorce. Respons-nya sama kayak ACKC versi sex abuse, rameeee euy. Dan sungguh eye opening banget karena gue bisa dapet insight dari berbagai sisi. Gak cuma dari sisi orang yang cerai aja (divorcee) tapi juga dampaknya bagi anak dari pasangan bercerai atau yang ortunya gak bahagia.

Seperti biasa, karena waktu gue nongkrong di depan laptop minim banget, alhasil notulensi ACKC divorce pun tertunda lamaaa banget. Hari ini, gara-gara berita sahnya perceraian Pak Ahok dan Bu Vero, gue jadi teringat utang tulisan. Apalagi, di kantor yang isinya 80% laki-laki, rata-rata menyalahkan si perempuan sebagai pihak yang salah. Ugh, jadi sebel kan koq kesannya perceraian ini 100% salah si pereu sih.

Okay then, shall we continue?

Terus terang, tiap kali bikin ACKC, gue gak pernah punya ekspektasi respons yang masuk akan ratusan jumlahnya. Dan gak hanya kuantitas aja yang buanyak. Keragaman cerita, dimensi yang dikisahkan plus sudut pandang yang diberikan pun bikin gue wooowwww sendiri. Bener-bener beyond my expectation dan di luar jangkauan gue banget.

Awalnya gue ekspektasi kisah-kisah yang masuk akan datang dari mereka yang rumah tangganya bermasalah, dikhianati dll. Ternyata, yang lebih banyak masuk justru kisah-kisah dari anak korban perceraian atau ketidakharmonisan rumah tangga ortunya.

Gak semua ortunya pisah. Banyak yang tetap bersatu meski hampir tiap hari ada KDRT di rumah tangga yang disaksikan sendiri oleh anak-anaknya.

“Aku udah minta ibu untuk cerai aja sama bapak karena aku kasian liat ibuku dipukuli dan diselingkuhi bapak bertahun-tahun. Tapi ibu nggak mau,” tutur A.

“Aku berharap ibu dan bapakku cerai aja daripada mereka hidup gak bahagia sebagai pasangan. Aku yang lihat mereka setiap hari jadi ikut gak bahagia,” tutur B.

Dan masih banyak kisah-kisah serupa itu. Rata-rata sih ibunya yang memilih bertahan karena berbagai alasan. Mulai dari faktor ekonomi, nama baik keluarga sampai demi anak. Sebab, di Indonesia, stereotipe anak broken home korban perceraian ortu itu masih jelek banget. Banyak yang ikutan ACKC kemarin cerita, mereka terpaksa putus cinta atau di-bully gara-gara ortu mereka cerai.

“Padahal kan aku gak pernah minta dilahirkan dengan ortu yang cerai Mbak,” kata C.

Urusan perceraian ini juga menimbulkan luka yang amat mendalam bagi para anak-anak itu, hingga mereka kini dewasa. Ya gimana nggak ya. Ada yang dari kecil terbiasa liat ibunya digebukin, bahkan dia juga ikut digebukin sama bapaknya. Ada yang dari kecil pernah memergoki bapaknya di ranjang dengan perempuan lain. Ada yang ikut menemani ibunya yang diusir dari rumah karena bapaknya mau nikah lagi. Ada yang terpaksa banting tulang sejak kecil untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena bapaknya gak mau cari duit. Macem-macem deh.

Dampaknya, ya macem-macem juga. Ada yang males nikah. Ada yang cari suami dengan kriteria bertolak belakang dengan bapaknya (saking benci sama si bapak). Ada yang jadi benci laki-laki dan jadi playgirl. Ada yang nikah normal biasa aja, tapi begitu suaminya bermasalah, dia berusaha keras mempertahankan pernikahan supaya ilusi “happy marriage” yang diidam-idamkan sejak kecil bisa terjaga.

Oh ya, gak semua kisah yang masuk tragis sih. Ada juga yang ortunya bercerai baik-baik dan hubungannya sampe sekarang juga baik-baik aja. Tapi dari ratusan yang masuk, perasaan yang kisah ortunya cerai dengan happy ending mah cuma ada 2.

Sedih ya 😥

Nah untuk kisa para divorcee juga tak kalah mengenaskannya. Kalo bisa gue simpulkan, penyebab utamanya ada 4 yaitu:

  1. KDRT
  2. Perselingkuhan
  3. Ekonomi
  4. Komunikasi (including sex life)

Baca yang KDRT itu bikin merinding, sedih, geram, campur aduk lah. Mana ada yang kasih fotonya pas abis digebukin suaminya pula. Gimana gue gak tambah kraaayyy 😥

Yang mengenaskan, banyak yang keukeuh bertahan dengan kondisi ini. Paling banyak sih bilangnya gini:

“Dia itu cuma masalah dengan temperamennya aja koq Mbak. Tapi sebenernya orangnya baik, bertanggung jawab dan sayang banget sama aku dan anak-anak. Kalo abis berantem dan pukulin, dia sadar dan langsung minta maaf sambil cium kaki aku.”

Tapi ada juga yang tersadar dan kemudian pilih cerai. Bahkan ada satu cerita yang bikin ngeneees banget tentang kakaknya. Si kakak ini sampe harus kabur dan kucing-kucingan sama suaminya yang abusive dan gak mau dicerai. Begitu ketemu, si kakak itu dipukulin di jalanan pake martil sampe luka parah luar dalam, dan ditinggalkan begitu aja. Untung ada orang yang menemukan tubuh si kakak dan bawa ke rumah sakit. Setelah koma beberapa minggu, akhirnya si kakak bisa siuman dan harus menjalani berbagai terapi untuk bisa hidup normal.

Psycho banget tuh lakiiiii 😥

Urusan perselingkuhan juga gitu. Ada yang nge-gap suaminya selingkuh sekali, trus insyaf. Tapi banyak banget yang suaminya gak insyaf-insyaf. Bahkan ada yang suaminya sampe punya anak dengan teman kantor, atau wanita lain.

Trus kenapa gak pisah aja Bu? Ya alasannya macem-macem juga. Rata-rata karena masih sayang, percaya bahwa dia bisa “menyembuhkan” atau “mengembalikan” suami ke jalan yang lurus, dan yang paling banyak, karena faktor ekonomi. Alias, istri masih sangat tergantung pada suami untuk urusan ekonomi.

Urusan ekonomi, nah ini cukup menarik karena di sekeliling gue juga banyak yang begini. Belakangan ini, perempuan kan kian banyak yang berkarier. Bahkan gak sedikit yang punya jabatan tinggi dengan gaji bernominal lumayan. Kesempatan karier untuk perempuan pun belakangan ini lebih besar dibanding untuk laki-laki.

Di satu sisi, ini positif banget ya karena berarti kesempatan bagi perempuan untuk memberdayakan diri sangat besar. Tapi di sisi lain, budaya kita masih patriarki banget. Artinya, laki-laki masih dianggap lebih tinggi dari perempuan. Alhasil, begitu menikah, jadi ada gap deh.

Banyak lho laki-laki di luar sana yang seneng istrinya bergaji tinggi dan bahkan sampe keenakan gak perlu kerja capek-capek. Namun, mereka juga menuntut istrinya untuk taat, urus rumtang dan melayani mereka 100%. Nah ini kan gak balanced dan bikin capek. Istri udah pegel kerja untuk jadi breadwinner, tapi suami gak pengertian.

“Aku sih gak masalah Mbak kalo gaji suami lebih kecil, aku ikhlas. Tapi kalo dia males kerja, bisanya cuma minta uang, bahkan menjual mas kawin dan semua hartaku pribadi, dan di rumah gak mau urus anak, lalu maunya gimana lagi? Kan capek kalo begini terus,” kata X.

Yang terakhir, komunikasi ternyata gak kalah pentingnya lho. Bahkan, menurut gue, ini bahaya laten banget sih. Kayak penyakit yang dianggap enteng tapi diam-diam membunuh. Dan surprisingly, banyaaakk banget yang curhat kalo rumtang mereka dari luar terlihat baik-baik aja. Tapi di dalam, yang mereka rasakan adalah kehampaan. Gak ada lagi rasa bahagia, kehangatan maupun keceriaan.

“Orang-orang banyak yang bilang aku beruntung punya suami yang sukses, ganteng, bertanggung jawab, tinggal di rumah yang bagus dengan anak-anak yang pintar. Padahal gak tau aja, aku sebenernya gak bahagia. I’m trapped in a bad marriage with a good husband. Bahkan kami udah gak berhubungan seks selama 4 tahun,” kisah Y.

Begitu gue tanya-tanya, rata-rata mengaku bahwa komunikasi ke pasangan dilakukan seadanya aja. Untuk mengatasi urusan ranjang, mereka enggan ke psikolog/seksolog/marriage consultant karena pasangannya menolak. Jadi, ya begitu terus. Kebanyakan mengaku bertahan dengan unhappy marriage itu untuk anak-anak.

Padahal, kalo berdasarkan curhatan anak-anak korban perceraian atau ortu yang menikah tapi gak bahagia, mereka ngerasa lho kalo ortunya itu sama-sama gak bahagia. Dan, ketidakbahagiaan itu menular banget.

Kan sedih ya, jadi macam lingkaran setan gitu 😦

Menurut gue, keputusan untuk bercerai itu sebenernya lumrah aja diambil asalkan dianggap sebagai pintu darurat. Jangan hanya karena masalah kecil, lalu gampang cerai. Kalo emang masih bisa diperbaiki dengan datang ke marriage consultant/psikolog atau dapet masukan dari orang terpercaya, mungkin ya lanjutkan aja. Toh kayak pepatah bilang “marriage is a hardwork” karena ya emang menikah (dan bertahan dalam pernikahan) itu gak gampang. Butuh kerja keras supaya gak flop.

Tapi kalo emang pernikahannya udah gak sehat, dan pasangan juga udah ogah lanjut sama kita, ya trus mau lanjut gimana? It takes two to tango kan. Gimana mau melangkah maju kalo cuma dengan satu kaki?

Makanya gue heran sama anak-anak muda yang kebelet merit hanya karena membayangkan yang indah-indah tentang pernikahan. Kayak di hestek #relationshipgoals di medsos itu lho. Nanti begitu kecebur dan ternyata gak seindah yang dibayangkan, kecewa trus minta cerai. Padahal cerai itu mahal daaann dampaknya ribeet bok!

Dari masukan-masukan yang gue dapet ini, gak cuma sukses bikin hati gremet-gremet sedih, tapi juga kasih pelajaran banyaaakk soal relationship. Bahwa selama gue menikah selama 10 tahun (besok pas 10 tahun nih!), pengalaman gue mah gak ada seujung kuku kisah-kisah yang gue baca.

Yang gue jadiin fokus utama adalah komunikasi ya karena buat gue, masalah yang gampang banget dihadapi pasangan suami istri masa kini adalah itu. Apalagi, dengan gadget dan medsos yang mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Kita bisa gampang dapet info tentang temen TK dari Facebook misalnya, padahal kabar suami sendiri gak tau. Apalagi kalo suaminya anti medsos kayak suami saya 😦

Jadi inget juga sebuah tulisan dimanaaa gitu. Di situ dibilang bahwa, ikatan antara suami dan istri sesungguhnya sangat rapuh karena cuma berdasarkan selembar akta nikah aja. Beda dengan ikatan antara ibu/bapak dan anak yang ada pengikat seumur hidup, yaitu darah. Tanpa dirawat pun, akan selalu ada bonding antara ortu dan anaknya.

Sementara kalo antara suami dan istri itu, ibarat tanaman, harus rajin-rajin dirawat dengan cara dipupuk, disirami, dll. Sehingga, bibit-bibit yang ditanam di awal pernikahan dulu gak gampang layu, lalu kemudian mati. Caranya, nomor satu ya jalin komunikasi yang baik. Gitu kira-kira.

Waktu baca itu, gue mikir lamaaa banget sampe akhirnya tersadar bahwa artikel itu ada benarnya. Dan setelah baca curhatan ACKC kemarin, terutama yang bad marriage good husband, bikin gue yakin bahwa artikel tersebut 100% bener deh.

Anyway, sekian dulu ya notulensi ACKC versi divorce kali ini. Untuk repost curhat lengkapnya udah gue kompilasi di Instagram gue @irrasistible. Cari aja Highlight dengan judul Divorce & Kids dan Divorcee. Selamat membaca!

 

Advertisements

6 thoughts on “Tentang Perceraian

  1. Kok sedih ya bacanya.. apalagi soal hubungan suami-istri itu rapuh karena hny terikat dlm lembaran kertas. Kenapa sih diluar sana banyak banget yg ngebet nikah? Gmz!

  2. Mbaa… Kok aq d block sih d ig… 😰😰 apa krn aq komen ya ntr d baca sm ertong2 itu.. Bukan aq lo yg sc nyaa.. Kan aq sedih g bs ikut liat2 lg ig mu..

  3. Pingback: Let’s Talk About Sex! | The Sun is Getting High, We're Moving on

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s