Let’s Talk About Sex!

Judul dan tema ini sesungguhnya udah ada di draft sejak uhmmm… 3 tahun lalu kayaknya. Tapi gak kelar-kelar karena gue selalu buntu di tengah jalan. Apalagi, tema tentang sex life itu kan tabu banget ya. Jadi gue keriting banget mikirin gimana nulis yang enak, gak vulgar, gak kontroversial, dan yang pasti, gak ngundang spam comments.

Nah, kebetulan beberapa waktu lalu gue iseng bikin curhat session ACKC tentang sex life. It was unplanned, actually. Awalnya kan ngebahas tentang kasus perceraian tuh. Trus banyak yang curhat bahwa mereka terjebak di pernikahan yang buruk dengan suami yang baik dan bertanggung jawab. Indikasinya, komunikasi mandeg dan engingeeengg.. zero sex life!

Gara-gara satu orang curhat dan gue repost, memancing curhatan-curhatan lain yang serupa. Ujung-ujungnya pada minta gue untuk buka ACKC tentang sex life. Supaya ada teman senasib dan sukur-sukur ada yang bisa kasih tips and tricks untuk menambah kehangatan ranjang.

*aih mateeekk bahasanya kayak copywriting iklan obat kuat yhaaaa*

Begitu dibuka, waaahhh seru-seru semua curhatnya. By seru-seru I mean adalah kenyataan hidup gitu, yang bisa ditemui di kehidupan nyata, bukan ala film/novel roman picisan. Beberapa bahkan pernah gue alami sendiri lho.

Secara garis besar, gue bagi jadi 2 ya. Gini nih:

Continue reading

Advertisements

Tentang Perceraian

Beberapa minggu lalu gue bikin Aku Curhat Kamu Curhat (ACKC) edisi divorce. Respons-nya sama kayak ACKC versi sex abuse, rameeee euy. Dan sungguh eye opening banget karena gue bisa dapet insight dari berbagai sisi. Gak cuma dari sisi orang yang cerai aja (divorcee) tapi juga dampaknya bagi anak dari pasangan bercerai atau yang ortunya gak bahagia.

Seperti biasa, karena waktu gue nongkrong di depan laptop minim banget, alhasil notulensi ACKC divorce pun tertunda lamaaa banget. Hari ini, gara-gara berita sahnya perceraian Pak Ahok dan Bu Vero, gue jadi teringat utang tulisan. Apalagi, di kantor yang isinya 80% laki-laki, rata-rata menyalahkan si perempuan sebagai pihak yang salah. Ugh, jadi sebel kan koq kesannya perceraian ini 100% salah si pereu sih.

Okay then, shall we continue?

Continue reading