Here’s to The Survivors!

Happy International Women’s Day!

Jadi, Rabu kemarin itu kan Hari Perempuan Internasional. Di seluruh dunia, perayaannya digelar pas wiken lalu dengan bikin Women’s March. Gue gak ikutan turun ke jalan sih, tapi baca-baca di media dan medsos aja.

Nah pas tanggal 8 Maret-nya, di medsos dan media rame dengan hestek #InternationalWomensDay. Gue pun kepikiran untuk bikin sesuatu yang kira-kira cocok dengan hestek itu. Kebetulan, di Instastory, gue pernah bikin proyek iseng2 bernama Aku Curhat Kamu Curhat (ACKC). Tema minggu lalu udah gue bahas di postingan ini.

Gue pikir, kenapa gak bikin ACKC berbau perempuan (lagi)? Sambil merenung tetiba keinget tema yang selama ini banyak dihindari untuk dibahas, yakni pengalaman seputar pelecehan dan kekerasan seksual.

Kebetulan, gue sendiri punya cukup banyak pengalaman. Dari “sekadar” catcalling sampe nyaris diperkosa kenalan sendiri, gue pernah semuanya. Yawdah gue share aja tuh ya.

Di luar dugaan, respons yang gue dapet amat membeludak. Sampe gue tulis blogpost ini, curhat via DM masih terus mengalir. Gak cuma dari follower gue aja, tapi ada juga dari anak-anak SMA dan mahasiswa yang gak follow gue. Maklum follower gue kan rata-rata umur 25 tahun ke atas.

Sebagian message belum sempat gue baca. Yang gue repost di Instastory pun belum semuanya. Instagram gue sampe lemot dan lagging gara-gara message yang masuk ratusan. Bahkan beberapa repost di Instastory, termasuk curhat gue sendiri, hilang karena mungkin gue nge-repost-nya dalam jumlah masif ya.

I was overwhelmed, aselik beneran. Soale, selain jumlah message yang masuk banyak banget, semuanya sangat menguras emosi. Jadi harus tarik nafas, rehat, baru baca lagi. Begitu terus. Sampe sekarang.

Gue sempet bikin polling perlu gak dilanjutkan repost-nya, 83% voted yes. “Their voices, like me, need to be heard,” tulis salah seorang korban. Sisanya yang voted no beralasan “gak sanggup bacanya Mbak, too painful for me padahal gak ngerasain langsung.”

Isi curhatnya? Wah macem-macem banget deh. Dari tingkat “ringan” sampe kelas berat. Semuanya bikin hati gue patah pas baca. Duh gak cocok nih gue jadi psikolog, terlalu attached sama curhat orang 😢

Gue sampe ngomong ke temen yang penulis skenario. Kayaknya cerita-cerita yang masuk itu bisa untuk inspirasi bikin skenario Criminal Minds saking gory-nya. Lieur aing.

Anyway, dari curhat-curhat itu, ada beberapa hal yang coba gue rangkum dan bahas di sini tentang pelecehan. Oke mari kita jabarin satu-satu ya. Btw gue berusaha tampilin beberapa curhat yang related dengan masing-masing poin di sini. Tapi ini cuma secuil dari semua curhat yang masuk 😦

Lokasi

Seterotipe: pelecehan seksual dilakukan di public space yang penuh, atau di daerah-daerah kumuh.

Fakta: Sebagian besar message yang masuk memang cerita bahwa mereka pernah digrepe di tempat publik seperti bis, angkot, kereta, maupun jalan raya. Beberapa di antaranya pernah dilecehkan di gang sempit yang menurut gue, mirip dengan peristiwa ini nih.

Tapi, gak sedikit juga yang dilecehkan di ruang tertutup kayak sekolah, kantor, pabrik, rumah sendiri, bahkan di tempat ibadah.

Untuk wilayah pun macem-macem. Ada yang di kota besar kayak Jabodetabek, kota kecil, pedesaan, sampe luar negeri. Dan luar negerinya gak cuma negara-negara “liberal” tapi juga Arab Saudi. Bahkan ada beberapa orang yang dilecehkan saat beribadah.

Jadi, untuk menggeneralisir pelaku pelecehan biasanya ada di mana, susah banget ya. Soale lokasinya random. Meski lebih banyak terjadi di tempat umum, tapi di tempat privat dan “suci” pun banyak ditemui juga.

Busana Korban

Stereotipe: korban pelecehan itu pasti pake baju minim, ketat, seksi dan mengundang. Makanya, sampe muncul anggapan bahwa cewek-cewek yang berbaju kayak gitu “pantas” dilecehkan, bahkan diperkosa.

Anggapan itu gak hanya ada di pikiran laki-laki aja. Banyak koq perempuan yang berpikiran sama. Kalo ada temen yang dilecehkan, yang disalahkan ya si korban karena pake kaos ketat misalnya. Trus mulai deh kasih nasihat A-Z tentang cara berbusana yang anti-pelecehan.

Fakta: You guys are so very wrong dude! Banyaaaakkkkkkkkk yang sharing ke gue bahwa mereka shock karena dilecehkan padahal pake baju longgar, bahkan pake jilbab syar’i yang menutup dada dan berpotongan longgar. Satu orang sampe trauma dengan jilbab dan masih dirawat oleh psikiater karena dia hampir jadi korban perkosaan saat berjilbab lengkap.

Untuk ilustrasi pembanding, coba lihat video di bawah ini deh. Tentang pameran berjudul “What Were You Wearing” di University of Arkansas, yang menampilkan baju-baju korban saat mereka diperkosa. Isinya, ya baju-baju biasa. Ada baju olahraga, baju kerja, baju mengajar, dll. Pameran ini kemudian digelar di berbagai kota di dunia untuk menyebarkan awareness tentang sexual abuse.

Usia Korban

Stereotipe: remaja dan wanita dewasa. Intinya, perempuan sedang ranum-ranumnya.

Fakta: Tettoottt! Gue pernah nulis tentang sodara gue anak kelas 2 SD yang dilecehkan tetangganya sendiri beberapa tahun lalu. Sampe rame di-repost oleh banyak orang di berbagai medsos lah.

Ternyata, diam-diam, 20-30 tahun lalu, kejadian seperti itu juga banyak terjadi. Tapi karena gak ada medsos plus media cetak dan elektronik cuma dikit, gak ada yang berani speak up. Kisahnya pun dipendam.

Beberapa orang yang curhat ke gue via DM di Instagram mengalaminya. Ada yang diperkosa sejak umur 4 tahun. Ada yang dijadikan objek seks sejak SD secara rutin. Ada yang digrepe-grepe saat duduk di bangku SMP. Ada yang diperkosa saat SMA hingga hamil. Ada yang dijadikan budak seks pacar saat kuliah dan diancam gak boleh putus. Dll, dst.

Intinya, untuk para bajingan itu, usia korban bukanlah masalah. Kalo emang mesum, ya “hajar” aja yang di depan mata. Sedih banget gue 😭😭😭

Bentuk Badan dan Penampilan

Stereotipe: cewek berbodi seksi, bohay dan berlekuk-lekuk kaya gitar spanyol lah yang paling “pas” untuk jadi korban pelecehan.

Fakta: Gak tuh.

Lha itu, kalo anak umur 4 tahun jadi korban, badannya seksi dari mana? Atau anak kelas 3 SD yang dilecehkan omnya sendiri lalu dituding karena dia genit dan menggoda, yang bego siapa?

Ada juga yang cerita “saya berdada tipis tapi masih diremas sama preman Mbak”, atau “waktu saya dilecehkan bos, HRD malah menyalahkan saya karena pantat saya besar”. Bahkan ada yang lagi hamil 8 bulan pun kena pelecehan. Mau marah gak sih bacanya?😤

Pelaku

Stereotipe: pelaku pelecehan itu pasti laki-laki gak dikenal yang seram, bertubuh besar dan kuat. Oh dan pastinya, gak bermoral, alias bejat.

Fakta: Dari kisah yang masuk, sekitar 70% mengaku dilecehkan oleh orang terdekat atau orang yang dikenal. Ada yang dilecehkan tetangga, guru (banyak banget), instruktur, supir, pembantu, pengasuh, supir jemputan, dokter langganan, om, kakek, ayah tiri, sepupu (banyak banget juga), guru ngaji, ustad, pemuka agama, kakak ipar, pacar, suami sendiri, bahkan kakak kandung. Dan gak semuanya laki-laki. Ada juga pelaku yang perempuan lho.

Untuk umur, gak semua pelaku berusia dewasa. Ada yang diperkosa sepupunya yang sama-sama masih kelas 6 SD, ada yang dilecehkan anak berusia lebih kecil, macem-macem deh.

Yaampun, lemeessssss bacanya guweeee… 😭😭😭

Yang bikin tambah nelangsa adalah, karena para pelaku itu orang dekat, mereka jadi punya akses bebas untuk melecehkan bahkan memperkosa korban. Sebab, pada umumnya, orang tua korban punya kepercayaan tinggi kepada para pelaku. Jadi ortu tenang membiarkan anak berduaan dengan pelaku karena toh udah bisa dipercaya ya kan. Padahal tanpa disadari, ortu meninggalkan anaknya pada predator.

Karena itulah, para korban jarang yang berani cerita apa yang terjadi pada ortu mereka. Kenapa? Takut dibilang bohong. Apalagi kalo usia korban masih kecil kan gampang banget diintimidasi.

Ada satu orang yang dilecehkan sepupunya di rumah nenek. Kalo mau ngadu, dia langsung dibilang “nanti nenek meninggal lho.” Jadi selama bertahun-tahun dia diem aja dilecehkan sepupu sendiri saking sayangnya sama sang nenek.

Ada juga yang dilecehkan om sendiri, tapi begitu mengadu ke ibunya dan sang ibu melabrak si om, korban lah yang dituduh macem-macem. Ada juga yang dilecehkan kakak ipar, tapi begitu terbuka kasusnya, si kakak ipar malah ngeles dengan bilang “saya gak mungkin begitu. Itu pasti setan yang menjelma jadi mirip saya.”

Yang juga miris, ada yang berani ngadu tapi gak dipercaya ortu sendiri. Ada satu orang yang bilang bahwa dia sering dilecehkan saat SD oleh teman kakeknya yang sering datang ke rumah. “Aku pernah protes dengan gak mau salim dan ngomong kasar ke si kakek itu. Eh, sama mamaku dimarahin karena gak sopan sama tamu”.

Intinya, dari semua kisah yang masuk ke gue, stereotipe seputar pelaku dan korban pelecehan itu salah semua. Siapapun bisa jadi korban, dan sebaliknya, siapapun bisa jadi pelaku.

Oleh karena itu, ada beberapa kesimpulan yang bisa gue tarik dari curhat para penyintas ini. Di antaranya ini nih:

1. Ajari Anak Pendidikan Seks Sejak Dini

Di Indonesia, nyebut kata “seks” aja kayaknya tabu banget, vulgar dan jorok. Karena itu, seks jadi barang terlarang tapi sekaligus dianggap candu oleh beberapa orang. Bahkan, saat ada wacana mau memasukkan pendidikan seks ke kurikulum nasional, wah langsung deh pemerintah diserang kritik macem-macem, terutama dari kalangan konservatif.

Padahal, pendidikan seks ini bukannya ngajarin anak tentang hal-hal yang porno seperti yang dituding. Justru, pendidikan seks atawa sex education bisa membantu melindungi anak dari pelecehan seksual. Anak dikasitau bagian intim mana yang tidak boleh dipegang orang lain, siapa yang boleh buka bajunya, apa yang harus dilakukan kalo ada yang aneh-aneh, dll.

Semua yang dilecehkan saat kecil, baru sadar kalo itu adalah tindakan asusila saat mereka udah remaja atau dewasa. Rata-rata mengaku baru ngeh saat SMP dan belajar reproduksi di pelajaran biologi. Jadi, saat dilecehkan, mereka sama sekali gak paham bahwa mereka adalah korban. Yang dirasakan cuma gak nyaman, gak enak, malu, sakit, muak, mual dan semua perasaan negatif lainnya.

Ada juga yang mulai merasa enak dan terangsang. Saat paham artinya apa, langsung deh merasa malu, dosa besar, gak berharga, bahkan ada yang mencoba bunuh diri saking muaknya.

Jadi para ortu, tolong ya ajarin anak tentang bagian tubuh intim mereka dan siapa aja yang boleh menyentuhnya (gue: cuma ortu, nenek dan tante!).

Ibaratnya, kalo kata suami gue “kita gak bisa menghindari hujan. Tapi supaya gak basah kuyup, kita bisa bawa payung kan?.”

At least, dengan mengajari anak soal bagian tubuh private-nya dan mana yang boleh disentuh dan tidak oleh siapa aja, jadi dia paham kalo ada orang-orang mesum yang coba melakukan hal-hal aneh.

2. Dengarkan dan Beri Perhatian Penuh pada Anak

Salah satu yang curhat ke gue cerita, suatu hari dia pernah dilecehkan tukang es puter di kompleknya waktu masih TK. Saat itu dia gak paham sih apa yang dilakukan oleh si tukang es. Yang dia rasakan cuma organ intimnya perih.

Trus dia cerita ke ibunya, sambil mendeskripsikan apa yang dilakukan si tukang es. Gak berapa lama, si tukang es ditangkap polisi dan ketauan bahwa sebelumnya dia juga melakukan hal serupa ke gadis-gadis kecil lain.

Menurut korban, si tukang es bisa ditangkep karena sang ibu menganggap serius cerita anaknya. “Ortu temen-temenku yang lain gak ada yang anggap serius saat anak-anaknya cerita, Mbak. Bahkan ada yang bilang anaknya ngawur atau berkhayal. Aku beruntung ibuku serius menanggapi ceritaku,” katanya.

Coba kalo si ibu gak serius dengerin anaknya, tukang es puter itu masih akan berkeliaran dan memangsa korban lain deh.

Oh ya, hampir semua korban pelecehan mengaku menyimpan rapat-rapat kisah mereka dan gak berani cerita ke siapapun, termasuk orang tua. Alasannya? Takut.

“Aku takut dibilang pembohong sama mamaku kalo aku cerita pernah diperkosa sama sepupuku.”

“Aku takut Ibu ngerasa bersalah kalo tau waktu kecil aku pernah dilecehkan om tetangga.”

Atau ada yang udah ngomong ke ortunya, tapi malah diabaikan, bahkan disuruh diam jangan ngelanjutin. Sedih baget kan 😦

Bacanya gue koq jleb banget. Kalo anak takut cerita hal kayak gitu, berarti dia gak cukup percaya sama ortunya sendiri. Dan kepercayaan ini emang susah didapatkan secara instan ya oleh ortu. Harus dipupuk pelan-pelan hingga anak nyaman untuk cerita apa aja ke ortunya.

Pelajaran banget nih buat gue sebagai ortu. Mudah-mudahan kita semua bisa ya! *group hugs*

3. Jangan Gampang Percaya

Di atas udah disebutkan bahwa rata-rata pelaku pelecehan seksual adalah orang terdekat korban. Ortu bisa merasa percaya dan tenang meninggalkan anak karena percaya sama orang tersebut. Padahal, ternyata mereka juga predator.

Jadi kalo yang gue baca dan simpulkan, mungkin kita sebagai ortu jangan gampang percaya ya. “Alarm” harus tetep on supaya gak ada kenapa-kenapa sama anak kita. Karena kalo udah kejadian (naudzubillahimindzalik), nyeselnya gak tau kayak gimana lagi.

4. Stop Victim Blaming

Nah ini nih, rata-rata (bahkan semua) korban pelecehan, baik tingkat “ringan” maupun berat, merasa takut dan malu untuk speak up. Gak usah kasus diperkosa kerabat, wong “cuma” disuitin abang-abang pengkolan aja bakal sukses bikin malu dan minder koq.

*pengalaman pribadi yang bikin gue sampe sekarang kalo jalan di public space itu either nunduk atau malah menatap lurus ke depan gak nengok2. Jadi sering dibilang sombong 😦 *

Soale, begitu kita berusaha speak up, ntar ujung-ujungnya malah disalahin. “Ah gitu doang marah, lebay lo!”, atau “ya wajar lah dia digrepe-grepe di bis, lipstiknya menor banget sih bikin cowok napsu.” Dan segudang victim blaming lainnya.

Apalagi kalo kasusnya date rape, atau di-abuse pacar/suami. Wah victim blaming-nya bakal jauuuhhhh lebih parah lagi.

Yang menyedihkan, di antara ratusan message yang masuk ke gue, ada beberapa yang tetep menyalahkan korban. Yang lebih menyedihkan lagi, pengirimnya adalah perempuan.

Mereka berpegangan pada agama sih. Bahwa semua itu gak akan terjadi kalo wanita kemana-mana ditemani muhrimnya karena laki-laki memang begitu bla2x. Ada juga yang menanggapi kasus perkosaan oleh pacar, dia malah bertanya “Salah laki-lakinya dimana Mbak? Kan kasus itu perempuannya juga yang mau diajak pacaran.”

Gue aseli bingung, antara sedih, melongo, murka, dan WTF gitu. Untuk yang harus kemana-mana ditemani muhrim, dia emang gak baca ya cerita korban-korban yang dilecehkan oleh paman dan kakaknya sendiri?

Untuk yang menyalahkan korban perkosaan oleh pacar, semoga dapet suami yang baik budi ya Mbak. I’m beyond speechless reading your heartless comment 😢

Tau gak sih, dengan jadi korban aja, tanpa perlu disalahin, mereka udah ngerasa salah, dosa, kotor, hina, dll. Kalo lo tambah lagi dengan victim blaming, gimana bisa sembuh luka batinnya?

Inilah yang bikin korban-korban pelecehan dan kekerasan seksual memilih menutup rapat-rapat kisah mereka. Bahkan, gue sendiri tadinya pernah mau nulis tentang insiden nyaris diperkosa di blog. Tapi gue batalkan karena takut dikomenin macem-macem.

Bagus deh kemarin gue nekad cerita di Instastory karena ternyata malah bikin orang lain berani curhat.

5. They Only Want to Be Heard

Lebih dari separo yang curhat bilang “Mbak Ira adalah orang pertama yang aku ceritain soal ini.” Sisanya, ada yang sebelumnya cuma berani ngomong ke saudara dekat, ibu atau sahabat. Beberapa bahkan gak berani cerita ke suami dengan alasan takut suamiku jijik atau malah nanya macem-macem.

“Aku pernah cerita ke pacar bahwa aku pernah dilecehkan di bis. Eh dia malah nyalahin aku kenapa diam aja,” begitu kisah seorang yang curhat.

“Mbak Ira tolong jangan balas DM ku. Abis curhat ini juga langsung aku delete DM-ku ke Mbak. Aku takut kalo Mbak reply, nanti suamiku baca dan tau kalo aku pernah alami ini. Aku takut dia jijik,” tulis seseorang lainnya.

Namun, semua mengaku lega setelah mengirim pesan ke gue. Mereka merasa relieved, seolah-olah ada beban berat yang terangkat. Soale, selama puluhan tahun nyimpen rahasia dan trauma kayak gitu kan gak enteng ya.

Trus, banyak yang setelah kisah-kisahnya gue repost, nge-reply lagi, cuma untuk say thank you karena gue udah dengerin. Dan menambahkan bahwa, “ternyata aku gak sendiri ya Mbak. Banyak korban lain di luar sana.”

Aduh mau mewek mulu deh baca reply-reply kayak gini. Sebab, gue kan gak melakukan apa-apa. Gue cuma buka topik dan baca curhat mereka. Gue gak kasih duit, goodie bag, bikin yayasan atau bahkan peluk satu-satu secara langsung.

Namun, ini justru mungkin yang dibutuhkan. Curhat sama orang yang relatively stranger, mengetahui ada banyak perempuan senasib di luar sana, dan lega beban terangkat, itu udah cukup.

Itu juga kayaknya yang terjadi saat gerakan #metoo going viral. Banyak perempuan korban sexual harrasment dan sexual abuse yang rame-rame sharing di medsos tentang pengalaman mereka. Bahkan dampaknya besar banget sih, silakan baca di sini.

Sebenernya banyak sih yang masih bisa dibahas dari hal ini. Cuma saat ini gue masih terlalu overwhelmed. Apalagi pas tau ternyata kisah-kisah di film, cerpen dan fiksi lainnya, bener-bener terjadi di dunia nyata. Sementara masih banyak orang yang anggap pelecehan dan kekerasan seksual terhadap perempuan sebagai hal yang wajar, bahan bercandaan, gosip, mitos, atau sekadar angin lalu.

Mudah-mudahan nggak akan ada lagi perempuan yang mengalami segala pengalaman buruk yang pernah terjadi pada kita di masa lalu. Mudah-mudahan seluruh keluarga, anak, teman, saudara dll diberikan keselamatan dari para predator. Semoga kepedulian akan isu ini bisa lebih tinggi sehingga kasus-kasus kekerasan bisa diminimalkan, bahkan dihilangkan.

Dan yang paling penting, semoga semua korban mampu berdamai dengan masa lalu, mengatasi trauma dan rasa takut, serta move on. Gue tau ini gak segampang membalikkan telapak tangan. Tapi dengan kalian berani cerita kemarin, itu udah bagus lho. Itu merupakan satu langkah menuju rasa damai di hati, dan damai dengan diri sendiri.

Congratulation ladies, you’re all awesome!

*Message dari salah seorang korban kekerasan seksual yang dilakukan sodara dekatnya sejak ia SD*

Advertisements

15 thoughts on “Here’s to The Survivors!

  1. Mbak Ira, aku cuma mau bilang MAKASIH BANYAK udah share ini dan udah ngebuka kesempatan cerita buat wanita2 yang selama ini terpaksa diem. Aku aja baca secuil ini aja nyesek, apalagi Mbak Ira yang baca semuanya. Semoga wanita2 ga ngalamin ini lagi ya. The time is up!

  2. Baju gw basah kebanjiran air mata. Ada kehormatan dan harga diri yang diinjak….karenanya bekasnya selalu tertancap, entah sampai kapan 😭😭😭. Makasih ya, Ira…udah angkat topik ini…. Banyak korban jadi mengerti dan akhirnya saling menguatkan dan percaya, mereka tidak sendiri. Makasih yaaaa *pelukiraaaa

  3. Makasih ya mba uda berbagi cerita, ngikutin diisntastory berasa ikutan sakit, marah, kesel dan simpati yg sedalam2nya buat para korban…asli gw tambah parno mo ngelepas anak ke tempar umum..semoga kita semua terhindar dari hal2 seperti itu dimasa yg akan datang. Amin

  4. Mbak Ira…dari sejak baca ig story mu sampai tulisan blog ini beneran bikin sakit perut, merinding, dan sesek mbak!!! Ga kebayang Mbak Ira kayak gimana bacain semuanya satu persatu T___T

  5. Zaman kuliah aku ada studi kasus subjek korban pelecahan seksual sejak dia kecil. I met her when she was already 23yo di RSJ Marzoeki Mahdi, Bogor. Sefatal itu efeknya dalam case yang aku temui. Ada banyak sisi hidup manusia (korban) yang terluka dan sakit akibat pelecehan seksual. What I hate most after it all adalah yang disalahkan justru korbannya! 😦

  6. Ngeri ya ampun… bersyukur masa kecilku nggak ada yang aneh-aneh. Cuma memang sampe sekarang aku takut sama orang jahat sama orang gila di jalan.
    Dua orang itu punya otak, tapi sama-sama ga beres. Dan aku takut kalau lewat di depan mereka, akj diapa-apain.
    Sampe sekarang, orang gilanya masih jauh sekali, aku uda takut.

  7. Pingback: Tentang Perceraian | The Sun is Getting High, We're Moving on

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s