Tentang Pendidikan: Sistem Zonasi (3)

Ini sambungan dari postingan perdana dan kedua ya.

Kali ini kita bahas tentang:

3. Sistem Zonasi

Untuk di Indonesia, sistem atau skema ini mungkin baru ya. Tapi sebenarnya di luar negeri, penerimaan siswa baru dengan sistem zonasi itu udah biasa banget.

Jepang, Australia, Amerika Serikat adalah tiga dari puluhan negara yang mengadopsi sistem zonasi dalam sistem pendidikannya. Bahkan menurut Kemdikbud, sistem zonasi di Indonesia itu adalah hasil riset Puslitbang Kemdikbud yang mengacu pada sistem sekolah di negara maju.

Ini juga diamini oleh temen gue, si Bebe, yang tinggal di Swedia. Di negara itu, sistem zonasi udah dilakukan sejak lama. Jadi ya masyarakatnya udah pada terbiasa dan paham dengan konsekuensinya. Misalnya, naksir sekolah B tapi rumahnya gak di zonasi sekolah itu. Mereka bakal mau bela-belain pindah rumah yang sezonasi dengan sekolah incaran.

Nah kenapa di Indonesia jadi heboh gini? Mungkin perlu kali ya kita sama-sama memahami apa sih sistem zonasi, kenapa bisa kisruh, dst.

Continue reading

Tentang Pendidikan: Ujian Nasional (2)

Sambungan dari postingan sebelumnya ya gaes. Setelah bahas sekolah favorit kita bahas poin selanjutnya yaitu:

2. Ujian Nasional (UN)

Kalo baca di sini, UN dimulai pada taun 2005. Sebelumnya di zaman gue, ujian akhir sekolah itu bernama Ebtanas alias Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional. Kalo Ebtanas, pelajaran yang diujikan ada 5 (SD), 6 (SMP), dan 7 (SMA). Sementara untuk UN, jumlahnya beda lagi, yakni 3 (SD), 4 (SMP), dan 6 (SMA), cmiiw.

Waktu masih bernama Ebtanas dulu, seinget gue masyarakat menghadapinya biasa aja. Bimbel ofkors banyak ya, frekuensi belajar jelang Ebtanas juga ditambah. Belum lagi tambahan pelajaran di sekolah.

Tapi, kepanikan, kehebohan, dan “kerusuhan”-nya gak sebanding lah sama zamannya UN. Waktu zaman Ebtanas dulu, gue ngerasa biasa-biasa aja sih. Lha wong seumur-umur gue gak pernah ikutan bimbel hahaha.. Gue cuma modal pelajaran di sekolah + belajar sendiri aja di rumah. Bokap nyokap pun gak pernah nyuruh belajar sama sekali.

Gue liat temen-temen gue yang lebih well-prepared dengan ikut aneka bimbel juga gak ada apa-apanya dibanding anak-anak zaman sekarang.

Dan kemarin, teman-teman era Ebtanas banyak yang DM dan cerita hal yang sama. Ada yang H-1 Ebtanas disuruh nyalon sama ortunya supaya gak stres. Atau diajak ke Dufan or mal jalan-jalan supaya si anak rileks dan gak tegang. Gitu-gitu deh.

Nah, gimana sih tren UN masa kini. Kira-kira ini rangkuman gue:

Continue reading

Sekolah Negeri atau Swasta?

Pas kemarin potong rambut di salon langganan, gue ngobrol sama hairstylist idola, Ronny. Karena kenal udah lebih dari 10 tahun, kami bisa ngobrol akrab. Yang diobrolin pun ngalor ngidul, dari urusan rambut sampe keluarga.

Ronny cerita, dua orang anaknya sekarang udah sekolah. Yang gede duduk di bangku SMP, yang kecil duduk di bangku SD. Dua-duanya sekolah di sekolah negeri karena alasannya simple. Sekolah negeri di Jakarta itu gratis, tanpa ada biaya apapun. Kebetulan, Ronny sekeluarga memang ber-KTP Jakarta. Jadi mereka bisa menikmati fasilitas itu.

Karena tinggal di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Ronny pun cari sekolah yang berada di kawasan itu. Dia agak mengeluh karena, Tebet selama ini banyak dihuni warga menengah atas. Jadi meski gratis, sekolah negerinya banyak diminati pula oleh warga-warga mampu itu. Alhasil, persaingan masuk sekolah negeri di Tebet pun tinggi, terutama untuk jenjang SMP dan SMA.

Untunglah, anak-anak Ronny cukup pintar. Jadi mereka bisa melenggang masuk ke sekolah negeri tanpa banyak masalah.

“Aku tuh seneng Mbak sekolah negeri sekarang, aku gak harus bayar apapun. Gak ada pungutan sama sekali. Jadi bener-bener gratis. Kalo harus masuk sekolah swasta, agak susah karena sekarang kan mahal-mahal banget,” katanya.

Continue reading