Fenomena Selfie

Beberapa hari lalu, di sebuah WhatsApp Group yang gue join karena terpaksa (dan pengen leave tapi gak enak), ada yang share broadcast message dari grup lain. Isinya tentang fenomena selfie.

Aselik, bacanya bikin aku ingin berkata kasar deh. WTF Mbakyu? Serius lo bilang orang-orang yang selfie itu sama dengan pelakor (perebut laki orang)? Trus, serius lo menuding sesama perempuan sebagai penyebab dosa karena hobi selfie?

Menurut gue, tulisan itu off side-nya kejauhan. Dan amat merendahkan perempuan.

Kenapa? Oke kita kupas satu-satu ya.

Continue reading

Advertisements

Berat Sebelah

Wiken lalu gue dicurhatin seorang temen. Intinya sih dia lagi berpikir untuk divorce karena suaminya nikah lagi. Padahal temen gue ini dulu pas menikah, dengan suka rela nurut sama suaminya yang nyuruh dia jadi IRT. Lalu beberapa tahun plus beberapa anak plus beberapa kilogram kemudian, si suami bilang dia mau menikah lagi. Alasannya, karena sunnah agama.

Meradang nggak sih? Gue aja yang cuma kebagian dicurhatin doang emosi naik sampe ke ubun-ubun. Gimana temen gue yang jadi korban benerannya? Mana si suami nggak mau ceraiin temen gue pula dengan alasan, ini perintah Tuhan jadi dia mau membina dua keluarga secara bersamaan. 

Temen gue pun bingung, mau gugat cerai kudu pake pengacara etc yang harus dibayar pake duit, bukan daun. Terus nanti kalo udah cerai, biaya cerainya juga kudu dia yang bayar karena si suami nggak mau cerai. Dan kalo udah final semuanya, nasib anak-anaknya gimana?

Continue reading

Harta, Tahta, Wanita

*Ini ceritanya sambungan tulisan poligami yang gue tulis sebelumnya*

Saya kenal Aa mulai dari dia jualan koran, kalender, bakso sampai punya banyak usaha seperti sekarang ini. Oleh karena itu, jangan melihat orang dari harta, tapi lihat dari semangat kerja dan belajarnya.

Itulah ucapan Teh Ninih yang diucapkannya beberapa waktu lalu, seperti yang ditulis dalam tabloid Nova edisi terbaru. Nggak ada yang salah kan dengan ucapan itu? Tapi coba telaah lebih dalam lagi. Ada hidden agenda di situ, sindiran secara halus kepada perempuan-perempuan yang tertarik pada laki-laki sukses dan kaya raya, meski si laki-laki itu sudah punya istri dan anak.

Continue reading

Poliklinik, Eh, Poligami

Barusan dapet info ttg ‘perseteruan’ istri pertama dan kedua di sebuah milis emak-emak. My reaction was, wow, catfight, catfight, catfight! Dan tentu saja bilang “amit-amit jabang bayi” sambil knocking on woods. Sayang cuma sebentar karena si istri kedua gak reply dan langsung unsubscribe. Kalo gak, bisa panjang tuh kayak Mischa dan Fitri *penikmat sinetron :D*

Polygamy is a very, VERY, big issue for us, women. Right ladies? Jangankan kita yang hanya wanita biasa, wong istri-istrinya Nabi aja mungkin kalo dikasih opsi, nggak mau koq dimadu. Trus Teh Ninih pun mengaku kalo dia sebenarnya gak rela pas Aa Gym menikah lagi dengan Teh Rini. Tapi demi menjadi istri yang sakinah, akhirnya dia rela.

Continue reading