Tentang Pendidikan: Ambisi Ortu (4, selesai)

Ini adalah bagian terakhir dari serial (ceileh) Tentang Pendidikan. Postingan sebelumnya adalah sekolah favorit, ujian nasional, dan sistem zonasi.

Nah sekarang kita masuk ke episode 4 yakni

4. Ambisi Ortu

Urusan ambisi ortu mah dari zaman kuda gigit besi udah banyak bener ya. Pas lagi ngomongin soal zonasi, sekolah, dkk aja, banyak yang kirim DM cerita tentang kisah dirinya, sodaranya, atau temannya yang terjebak ambisi ortu.

Apalagi pas ngomongin penjurusan di SMA. Gue baru tau zaman sekarang, begitu daftar SMA Negeri, calon siswa harus menyertakan jurusan apa yang ia minati nanti. Apakah IPA atau IPS. Jurusan Bahasa gue gak tau deh masih ada atau gak ya.

Nah, dari beberapa teman gue yang anak-anaknya masuk SMA tahun ini, gue dapet info kalo rata-rata sekolah negeri saat ini lebih didominasi kelas jurusan IPA. Alhasil, seorang teman kantor yang anaknya mau daftar jurusan IPS di SMA Negeri jadi terlempar-lempar karena sekolah yang dia minati hanya punya 1-2 kelas IPS aja.

Gue terus terang kaget karena di zaman gue dulu, kelas IPA justru cuma dikiit. Pas gue kelas 3 SMA dulu, angkatan gue cuma ada 2 kelas IPA dan 4 kelas IPS. Sekarang, kondisinya terbalik ya.

Continue reading

Tentang Pendidikan: Sistem Zonasi (3)

Ini sambungan dari postingan perdana dan kedua ya.

Kali ini kita bahas tentang:

3. Sistem Zonasi

Untuk di Indonesia, sistem atau skema ini mungkin baru ya. Tapi sebenarnya di luar negeri, penerimaan siswa baru dengan sistem zonasi itu udah biasa banget.

Jepang, Australia, Amerika Serikat adalah tiga dari puluhan negara yang mengadopsi sistem zonasi dalam sistem pendidikannya. Bahkan menurut Kemdikbud, sistem zonasi di Indonesia itu adalah hasil riset Puslitbang Kemdikbud yang mengacu pada sistem sekolah di negara maju.

Ini juga diamini oleh temen gue, si Bebe, yang tinggal di Swedia. Di negara itu, sistem zonasi udah dilakukan sejak lama. Jadi ya masyarakatnya udah pada terbiasa dan paham dengan konsekuensinya. Misalnya, naksir sekolah B tapi rumahnya gak di zonasi sekolah itu. Mereka bakal mau bela-belain pindah rumah yang sezonasi dengan sekolah incaran.

Nah kenapa di Indonesia jadi heboh gini? Mungkin perlu kali ya kita sama-sama memahami apa sih sistem zonasi, kenapa bisa kisruh, dst.

Continue reading

Tentang Pendidikan: Ujian Nasional (2)

Sambungan dari postingan sebelumnya ya gaes. Setelah bahas sekolah favorit kita bahas poin selanjutnya yaitu:

2. Ujian Nasional (UN)

Kalo baca di sini, UN dimulai pada taun 2005. Sebelumnya di zaman gue, ujian akhir sekolah itu bernama Ebtanas alias Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional. Kalo Ebtanas, pelajaran yang diujikan ada 5 (SD), 6 (SMP), dan 7 (SMA). Sementara untuk UN, jumlahnya beda lagi, yakni 3 (SD), 4 (SMP), dan 6 (SMA), cmiiw.

Waktu masih bernama Ebtanas dulu, seinget gue masyarakat menghadapinya biasa aja. Bimbel ofkors banyak ya, frekuensi belajar jelang Ebtanas juga ditambah. Belum lagi tambahan pelajaran di sekolah.

Tapi, kepanikan, kehebohan, dan “kerusuhan”-nya gak sebanding lah sama zamannya UN. Waktu zaman Ebtanas dulu, gue ngerasa biasa-biasa aja sih. Lha wong seumur-umur gue gak pernah ikutan bimbel hahaha.. Gue cuma modal pelajaran di sekolah + belajar sendiri aja di rumah. Bokap nyokap pun gak pernah nyuruh belajar sama sekali.

Gue liat temen-temen gue yang lebih well-prepared dengan ikut aneka bimbel juga gak ada apa-apanya dibanding anak-anak zaman sekarang.

Dan kemarin, teman-teman era Ebtanas banyak yang DM dan cerita hal yang sama. Ada yang H-1 Ebtanas disuruh nyalon sama ortunya supaya gak stres. Atau diajak ke Dufan or mal jalan-jalan supaya si anak rileks dan gak tegang. Gitu-gitu deh.

Nah, gimana sih tren UN masa kini. Kira-kira ini rangkuman gue:

Continue reading