Mul4n, Motherhood and Cyberbullying

Beberapa hari lalu, gue sempet gosipan ngobrol sama seorang temen (yang ternyata suka baca blog ini, hahaha *keringetan*). Topiknya, tentang kenapa Mul4n bikin video minta maaf ke M414. Menurut info yang didapat temen gue, ada alasan spesifik kenapa Mul4n nekat bikin video itu meski tanpa izin dari suaminya yang nyebelin itu *maap gak tahan sama tingkah si laki soale*

Gue penasaran kan. Apalagi sebelumnya emang pernah denger kabar-kabur tentang ini. Trus temen gue cerita, rupanya kenekatan Mul4n itu karena T dan D (dua anak dari pernikahan pertamanya), gak tahan dengan tingkah para haters yang ngebully ibunya. Saking stresnya, T dan D udah berkali-kali berusaha bunuh diri dengan cara menyayat tangannya. Sampe saat ini usaha itu gagal, tapi belum tentu ke depannya akan terhenti.

Sekali lagi, ini cuma denger-denger ya. Gak tau apakah benar begitu atau nggak. Karena baik gue maupun temen gue gak ada yang kenal dekat dengan si Mul4n maupun T dan D.

Meski begitu, gue jadi kepikiran. Kalo bener kisah temen gue tadi, luar biasa banget ya pengaruh haters di socmed ke dunia nyata. Cyberbullying yang pernah sekilas gue singgung kemarin bener-bener memberi dampak signifikan pada seseorang, terutama anak-anak di bawah umur, atau orang yang kurang tough kepribadiannya.

Gue jadi kepikiran dua aspek di sini, berikut gue jabarin di bawah ya.

Continue reading

Nama-nama Panggilan Ibu

Beberapa waktu lalu, di timeline facebook gue agak dihebohkan dengan postingan tentang nama-nama panggilan untuk ibu. Jadi, tiap nama panggilan disertai dengan “analisa” makna dari panggilan itu. Ini nih gambarnya:

Screenshot_2015-10-17-16-53-00_1447907525927

Ofkors, postingan tadi menuai pro kontra. Di TL gue sih lebih banyak yang kontra karena, siapa coba yang gak sebel dikasih label begini-begitu cuma berdasarkan nama panggilan aja. Dibilang manjain anak lah, norak lah, dst dsb.

Nah di postingan ini, gue justru pengen nulis tentang panggilan ibu versi beda dari yang di atas. Intinya, postingan ini adalah analisa abal-abal gue terhadap nama-nama panggilan kepada sosok ibu, berdasarkan pengalaman dan observasi pribadi. Here they are:

Continue reading

Anak Sentimental (2)

Setahun lalu, gue pernah nulis postingan berjudul sama. Isinya tentang Nadira yang sentimental banget karena gue lagi sering ke luar kota. Nah di postingan ini, gue mau cerita hal yang sama sih basically.

Jadi, minggu kemarin gue seminggu penuh ke Polandia. Ini pertama kalinya gue pergi jauuh banget dari rumah. Dari jauh-jauh hari, gue udah kasitau Nadira, sesuai SOP yang selalu gue lakukan sebelum pergi dines ke luar kota/negeri.  Gue jelasin, Polandia adanya di Eropa sebelah mana. Trus beda waktunya berapa lama. And so on and so on.

Begitu sadar kalo Polandia itu jauh beeng dari Jakarta, langsung cedih deh dia. Tiap malem terjadi perbincangan ini:

N: Ibu kerja aja, nggak usah ke Polandia.

I: Lho, Ibu ke Polandia kan kerja. Bukan jalan-jalan.

N: Iya, maksud Mbak Dira, Ibu kerja di kantor aja. Nggak usah ke Polandia. Jauh soalnya.

Hihihi..

Next time, dia bilang gini “Semoga pesawat Ibu rusak. Jadi ibu gak bisa berangkat ke Polandia.”

Halaahh…

Continue reading

Review: Kursus Tari Daerah untuk Anak

Dari dulu, gue cita-cita banget kalo punya anak, dia harus ikut les seni tradisional. Mau cewek atau cowok, bakal gue masupin ke les tari tradisional/pencak silat/karawitan/gamelan/nyinden/dalang. Kenapa? Soale, IMHO sih, ini bentuk kontribusi gue dan generasi penerus *tsah bahasanya serius amir* untuk melestarikan budaya tradisional. Kayak yang pernah gue tulis dulu nih.

Apalagi sekarang kayaknya banyak anak yang lebih bangga dan tertarik dengan tarian modern dan seni modern ketimbang nari Jaipong dan main gamelan. Imej kampungan, nggak keren, kurang modern dll masih melekat banget sama seni tradisional kita. Padahal di luar negeri, justru kesenian dan kebudayaan kita yang mendapat apresiasi tinggi. Bahkan banyak bule yang napsu belajar dan tersepona sama budaya tradisional kita lho. Kalo gue ke luar negeri bareng rombongan seni Indonesia, pasti heboh deh sambutannya. Sampe bikin goosebumps dan terhura!

Karena itulah gue akhirnya memasukkan Nadira les tari tradisional. Kebetulan, anaknya emang doyan nari, jadi gue rasa pas lah ya. Selain itu, beberapa alasan lainnya kayak melatih rasa percaya diri dll, pernah gue tulis di artikel MommiesDaily di sini.

Perjuangan nyari tempat lesnya pun lumayan bikin pusing. Soale gue pengen yang deket-deket rumah aja. Yang paling lengkap ofkors di Taman Mini Indonesia Indah ya. Segala jenis les tari daerah manapun ada di sini. Tapi koq ya jauh amiirr dari rumah gue. Mana macet pula kan ke situ 😦

Continue reading

Oversensitive

Masih inget nggak sama postingan gue yang ini ? Ceritanya, atas rikues temen-temen di MommiesDaily, postingan itu di-publish ulang di situs MommiesDaily di sini. Katanya supaya jangkauan pembacanya bisa lebih luas.

Awalnya, terus terang, gue ragu untuk memenuhi permintaan itu. Kenapa? Karena gue sadar, isu agama adalah isu yang sensitif. Apalagi pake dikritik pula, kayak yang gue tulis di situ. Kalo nulis di blog kan beda. Jangkauannya lebih sempit, dan kalo ada yang nuduh macem-macem, yang kena imbasnya cuma gue doang.

Sementara kalo nulis di situs kayak MommiesDaily, jangkauan pembaca lebih luas, dan di sana penanggung jawabnya bukan gue, melainkan Lita, Managing Editornya. Gue khawatir kalo postingan gue itu bikin huru-hara, Lita maupun temen-temen MD dan FD lainnya bakal kena.

Tapi Lita, Hani dan lainnya tetep rikues. Akhirnya gue benerin dikit tata bahasanya, dan voila, jadi deh.

Continue reading

Tukang Sayur, Aylafyu

Udah setahun lebih gue nggak punya ART nginep. Artinya, udah setahun lebih pula gue turun langsung belanja sayuran di tukang sayur deket rumah.

Dulu-dulu, gue beli ikan, ayam dan daging di supermarket. Untuk sayuran, tinggal nyuruh ART beli di tukang sayur. Alasannya, selain lebih fresh karena dibeli setiap hari, juga sekaligus memberdayakan ekonomi mikro *tsah bahasa gue, sisa-sisa liputan di desk ekonomi dulu 😛 *

Kenapa dulu bukan gue sendiri yang belanja ke tukang sayur? Pertama, gue males bangun pagi-pagi hahahhaa.. Kedua, gue takut ketauan begonya, cyin. Maklum, gue kan gak paham-paham amat mana sayuran yang bagus, mana yang nggak. Gue juga gak paham mana buah yang manis, mana yang nggak. Paling cuma tau bayam/kangkung layu aja. Lainnya, ora mudeng.

Selain itu, gue gak ngerti harga, plus gak terlalu jago nawar. Jadi, gue takut dikadalin sama tukang sayur. Apalagi, gue yakin banget, tampang gue kan clueless gitu, ketauan minim pengalaman belanja sayur. Alhasil, ketakutan sendiri deh gue.

Continue reading