Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita 2

Sejujurnya, gue nulis ini udah dari beberapa hari lalu. Tapi gue ngerasa kudu tanya ke suami dulu, apakah dia keberatan cerita ini gue post? Sebab, untuk beberapa orang, kisah kegagalan dan kebodohan finansial itu adalah aib.

Respons suami:

“Oh gpp di-post. Siapa tau ada pelajaran dari kebodohan aku.”

Oke deh. Mari kita lanjutkan kisah tentang BPJS kemarin.

Di instagram kan gue sempet bahas tentang lifestyle ala budget pas-pasan jiwa sosialita (BPJS) ya. Di antara DM yang masuk, banyak yang mengeluhkan cara pasangannya dalam mencoba menyenangkan mereka. Soale, seringkali maksain gitu.

Ada yang sampe dikejar-kejar debt collector karena diam-diam ternyata suaminya ngutang kanan kiri untuk ngajak anak istri traveling, jajan dll. Bahkan ada yang dipecat segala karena korupsi uang kantor demi menyenangkan keluarganya.

Sedih bacanya 😦

Eeeh engingeenngg.. Tetiba ada satu orang yang DM gue begini. Intinya dia marah lah karena kisah-kisah BPJS yang gue tampilkan menurut dia gak balanced. Hanya menyerang tapi gak ngerti bahwa suami itu melakukannya demi menyenangkan keluarga. Baca di bawah ini ya:

Continue reading

Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita

Rehat dulu ya dari kisah road trip kemarin (alasan banget, padahal mager untuk lanjutinnya 😛 ). Sekarang gue mau nulis tentang BPJS aja. Tapi bukan BPJS yang ini lho, melainkan akronim dari Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita.

Topik ini gue tulis tanpa sengaja di Instagram sebagai self reminder. Eh tau-tau respons-nya luar biasa banyaak banget. Gue bikin 3 post, dan yang nge-share itu sampe ratusan bahkan ribuan ya. Pas gue bikin sharing session di Instastory, yg DM cerita juga membeludak.

Selengkapnya bisa dicek di instagram gue ya. Untuk story-nya ada di highlight.

Kenapa gue bisa menjiwai banget nulis caption di Instagram, baik feed maupun story? Because I was one of them. Ya gak parah sih kayak yang ortu ngemplang SPP anak, atau bos yang sibuk liburan ke luar negeri dengan nipu orang.

Sejujurnya, gue dulu sempet bermasalah dengan kartu kredit.

Klise ya? Masalah sejuta umat nih, hahaha 😀

Continue reading

Nadira dan Uang Jajan

Meski suka masak dan hasil masakannya enak, nyokap gue bukanlah tipe ibu yang pay attention to details atau mau berrepot ria kayak ibu-ibu masa kini. Jadi, waktu gue kecil dulu, begitu masuk SD, gue gak dibawain bekal lagi. Alih-alih, gue dikasih uang jajan.

Dari kelas 1 SD, gue udah biasa tuh makan lontong sayur di warung kaki lima yang mangkal di pagar sekolah. Karena pintu pagarnya ditutup, gue dan si penjaja lonsay, bertransaksi lewat celah jeruji pagar sekolah. Atau, gue antre di kantin sekolah untuk jajan wafer dan jajanan lainnya.

Mana waktu itu rumah gue dan sekolah jauuhh banget. Trus gue naik mobil jemputan karena nyokap masih harus ngurus adik gue yang masih TK. Jadi ya gitu. Karena rumah jauh, gue dijemput paling duluan, diantar paling belakangan. Dan gue jarang sempat sarapan lengkap, paling cuma minum susu aja. Alhasil, jajanan di sekolah harus cukup untuk mengganjal perut gue, dari istirahat sampe pulang ke rumah.

*ini bayanginnya aja sedih sendiri gue. But what doesn’t kill you make you stronger kan? Risiko anak pertama lah, harus dewasa lebih cepat dari yang seharusnya, hehehe..*

No wonder, dari kecil, gue udah terbiasa jajan. Dan itu kebawa sampe sekarang. Makanya gak kurus-kurus nih akoh, KZL! *lah curcol*

Continue reading

A Lil’ Money Talk

Ada pepatah yang menyebutkan “Kasih ibu (orang tua) sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah.” Artinya, pada tau sendiri lah ya. Buat orang tua, anak adalah segalanya (atau istilah kerennya, The Center of His/Her Universe). Tapi buat sebaliknya, belum cencu lah ya.

Termasuk soal duit. Gue yakin, banyak koq yang meski sudah bekerja atau bahkan berkeluarga, tapi masih menerima uang/subsidi dari ortu masing-masing. Soale beberapa temen gue begitu. Menurut gue sih, nggak masalah ya. Sah-sah aja koq.

Apalagi yang namanya ortu, pasti tujuan utama di dunia adalah bikin hepi dan berbagi dengan anak cucunya. Jadi biasanya kalo ortu punya harta/penghasilan lebih, pasti di-share ke anak cucu deh. Atau kalopun duitnya nggak berlebih-lebih banget, pasti hepi banget kalo mereka bisa share sesuatu ke anak cucunya. Simple thing pun kayak coklat, kue, buah etc, nggak masalah. Yang penting judulnya sharing.

Continue reading