Identitas di Medsos VS Dunia Nyata

Pertama gue mainan medsos, yakni friendster, gue ngerasa aman-aman aja berteman dengan orang yang gue kenal in real life. Bahkan, jika ada stranger yang nge-add, langsung gue decline.

Habit ini gue pertahankan sampe era Facebook. Rata-rata kontak gue di FB sampe hari ini adalah saudara, teman lama, kolega, atau orang-orang lain yang gue kenal di kehidupan nyata.

Maka dari itu, untuk facebook, gue suka males approve friend request dari orang-orang yang gak gue kenal di dunia nyata. Kalo pun di-approve, ya gue liat-liat dulu, kira-kira sehati sepemikiran gak ya. Entah kenapa, gue masih ngerasa facebook adalah area private yang gak terlalu nyaman gue bagi dengan orang asing. Bahkan, akun facebook gue setting private, cuma bisa dilihat kontak gue aja. Padahal isi wall gue juga cuma sharing-an video-video masak dan DIY sih, jarang yang heboh juga, hahaha.. 😀

Situasi berubah pas gue mainan Twitter. Gue banyak ketemu twitmoms yang cuma gue kenal di dunia maya aja. Beberapa kemudian jadi teman baru dan sahabat di dunia nyata. Sebab, kami punya minat yang sama di beberapa bidang.

Fenomena twitter berlanjut di dunia blog dan Instagram. Kalo gue liat, pembaca blog dan follower gue di Instagram didominasi orang-orang yang gak gue kenal di dunia nyata. Dan berbeda dengan zaman friendster dulu yang sering gue tolak-tolain, di IG dan blog, I’m okay sharing my thoughts with total strangers.

Continue reading

Advertisements