Pegadaian Digital, Solusi Terpercaya untuk Biaya Pendidikan

Siapa buibuk yang lagi pusing mikirin sekolah anak? Selain ribet urusan pilihan sekolah terbaik, ofkors yang gak kalah penting adalah urusan biaya masuknya, yekan.

Sebagai ibu dari bocah kelas 6 SD yang bakal masuk SMP tahun ini, wow aku tau banget perasaan itu, hahaha. Survei-survei sekolah mah udah gue lakukan sejak beberapa tahun lalu. Demi yang terbaik buat anak gitu lho, plus gak bikin ortunya ribet juga di kemudian hari.

Khusus untuk biaya sekolah, gue sih Alhamdulillah udah nyiapin sejak lama. Jadi Insya Allah gak terlalu ribet.

Tapi kan gak semua orang bisa begitu ya. Apalagi karena sekarang ini masih pandemi Covid-19, banyak ortu yang terkena imbas ekonominya. Ada yang mungkin kehilangan mata pencarian atau pengurangan penghasilan. Alhasil, dana yang tadinya disiapkan untuk biaya sekolah anak, jadi kepake deh.

Trus, begitu anaknya mau sekolah, jadi bingung karena dananya udah kepake. Solusinya gimana dong?

Continue reading

Mari Bicara tentang Dana Pendidikan

Pandemi Covid-19 atau Corona banyak menyebabkan kondisi dan situasi yang tadinya aman tentram gemah ripah lohjinawi berubah jadi amburadul kayak kapal pecah. Gak hanya kesehatan dan kejiwaan aja yang kena. Yang gak kalah kena dampak langsung adalah sektor ekonomi.

Untuk yang masih jadi buruh atau karyawan kayak gue, banyak yang kena PHK, pemotongan gaji, atau dipaksa cuti tanpa tanggungan karena perusahaannya kena guncangan ekonomi yang hebat. Kalo yang pengusaha, dampaknya mirip-mirip dan sama beratnya. Ada yang bangkrut, terpaksa mem-PHK karyawan, menjual harta benda untuk menggaji karyawan, dll dst.

Yang gajinya penuh pun tetep gak kalah pusing. Sebab, kondisi gak aman kayak sekarang bikin was-was setiap saat. Apalagi yang belum punya atau masih ngumpulin dana darurat. Biasanya langsung mendadak melek dan tergugah untuk nabung dana darurat karena baru sadar, dana darurat itu bener-bener penting.

Gue sendiri alhamdulillah masih tetep dapet gaji full. Tapi ya kayak yang gue tulis di atas, gue pun ikut pusing juga dengan kondisi ini. Trus gue pun mencoba membuka mata dan mengubah beberapa rencana supaya bisa sesuai dengan kondisi yang sulit ditebak seperti sekarang ini.

Salah satunya adalah sekolah anak.

Kemarin sempet ngobrolin tentang ini di Whatsapp Group geng gue dan kemudian gue bikin instastory. Eh ternyata responsnya rameee banget. Sebab, banyak yang ternyata belum ngeh mengenai dana pendidikan, hitungan kira-kiranya, dll dst.

 

Oke gue coba tulis per point yang gue bisa share ya.

Continue reading

Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita 2

Sejujurnya, gue nulis ini udah dari beberapa hari lalu. Tapi gue ngerasa kudu tanya ke suami dulu, apakah dia keberatan cerita ini gue post? Sebab, untuk beberapa orang, kisah kegagalan dan kebodohan finansial itu adalah aib.

Respons suami:

“Oh gpp di-post. Siapa tau ada pelajaran dari kebodohan aku.”

Oke deh. Mari kita lanjutkan kisah tentang BPJS kemarin.

Di instagram kan gue sempet bahas tentang lifestyle ala budget pas-pasan jiwa sosialita (BPJS) ya. Di antara DM yang masuk, banyak yang mengeluhkan cara pasangannya dalam mencoba menyenangkan mereka. Soale, seringkali maksain gitu.

Ada yang sampe dikejar-kejar debt collector karena diam-diam ternyata suaminya ngutang kanan kiri untuk ngajak anak istri traveling, jajan dll. Bahkan ada yang dipecat segala karena korupsi uang kantor demi menyenangkan keluarganya.

Sedih bacanya 😦

Eeeh engingeenngg.. Tetiba ada satu orang yang DM gue begini. Intinya dia marah lah karena kisah-kisah BPJS yang gue tampilkan menurut dia gak balanced. Hanya menyerang tapi gak ngerti bahwa suami itu melakukannya demi menyenangkan keluarga. Baca di bawah ini ya:

Continue reading

Review: Belanja Reksadana dengan Bibit.id

Belakangan ini, masalah financial planning lagi jadi tren banget di medsos. Banyak akun di Twitter maupun Instagram yang membahas soal ini. Buat gue sih bagus banget ya, bikin millenials dan Gen Z jadi melek finansial.

Syukur-syukur bisa ngurangin hasrat konsumtif demi eksis di medsos. Lebih baik lagi kalo bisa memutus mata rantai sandwich generation. Jadi ke depannya, anak cucu kita gak bakal terbebani kayak gitu lagi karena kita sebagai ortunya udah ngerti cara ngatur duit.

Salah satu yang menurut gue menarik, cukup gampang, dan profitable untuk dijadiin investasi adalah reksadana. Gue sendiri udah cukup lama berinvestasi di reksadana ya. Kalo gak salah udah 8 tahunan lah. Tujuannya, untuk bikin dana pendidikan dan dana pensiun.

*reksadana dalam bahasa Inggris = mutual funds*

Gue dulu memulai investasi reksadana dengan cara konvensional yakni pergi ke bank, buka akun, trus urus autoinvest di bank tersebut. Bisa diatur berapa tahun autoinvest-nya. Jadi tiap bulan rekening gue akan di-autodebet sekian untuk beli reksadana A, B, C, gitu. Trus kalo periodenya udah kelar, kita kudu balik lagi ke bank untuk daftar ulang autoinvest reksadananya.

Sekarang, ternyata investasi reksadana gak usah seribet itu. Bahkan bisa dilakukan di mana aja karena cuma modal hape dan kuota doang karena bisa dimulai via aplikasi.

Aplikasi yang udah gue coba adalah Bibit.id  yang bisa di-download di sini nih. Dengan aplikasi itu, beli reksadana bisa segampang belanja online lho. Bahkan transaksinya bisa pake Gopay segala!

Continue reading