Blackmores, Pelukan dan Membantu Sesama

Semua orang yang kenal gue in real life mungkin pada tau ya kalo gue itu orangnya super santai, gak perfeksionis, dan jauh dari sifat OCD. Pokoknya, nothing to lose lah. Enjoy life while you can ceunah. Always do your best, tapi kalo gak bisa, yawdah gak masyalah gitu.

Sifat itu berubah pas gue tau kalo gue hamil. Tiba-tiba aja gue jadi super perhatian sama segala yang berbau kesehatan. Maklum, di dalam perut gue ada anak yang 100% tergantung sama gue. Jadi bener-bener harus dijaga dan dirawat sebaik mungkin.

Gue pun berusaha pilih makanan dan minuman yang bergizi. Disuruh dokter minum vitamin hayuk, disuruh mertua minum minyak kelapa supaya lahiran lancar nurut, minum suplemen juga OK. Semua dilakoni demi anak lah. Tentunya juga gue melakukan itu setelah konsul sama dokter ya.

Makanya, pas kemarin diundang ke acara Blackmores Pregnancy & Breast-feeding Gold, gue pun excited banget. Sebab, gue selalu penasaran sama update terbaru di dunia kesehatan. Apalagi, gue tau reputasi Blackmores sebagai penyedia suplemen kesehatan itu OKs bangs lah.

*pic from @nenglita’s blog*

Continue reading

Advertisements

Weaning with Love (and Persistence)

Yak, setelah 30 hari, baru deh gue berani posting tulisan ini. Jadi, ceritanya nih, Nadira udah (lumayan) sakses disapih lho. Horeee!! *tepok tangan sambil koprol*

Proses menyapih ini sebenarnya gue mulai sejak dia umur 18 bulan. Bukan dengan memaksanya untuk nggak ninen ya. Tapi sejak umur 18 bulan, Nadira pelan-pelan gue kasih pengertian bahwa sebentar lagi, pas umur 2 tahun, dia harus lepas ninen. Kata-katanya kira-kira begini:

“Tuh, Dede ninen karena masih kecil. Mbak Dira kan sudah besar ya? Anak besar sudah ndak ninen lagi.”

Kalimat itu biasanya gue ucapin sambil liat-liat fotonya Nadira waktu masih bayi dan lagi ninen. Atau pas ketemu keponakan gue, anaknya sepupu gue, yang lagi ninen. Sambil Nadira ninen pun, biasanya gue usap-usap sambil ngomong “Mbak Dira sebentar lagi sudah nggak ninen ya. Kan sudah besar.”

Continue reading

1 Bulan Lagi

Hari ini, tanggal 20 Desember, Nadira tepat ulbul yang ke-23. Artinya, bulan depan, dia akan berulangtahun yang ke-2. Maigat, time goes by so fast, ain’t it? Perasaan baru kemarin dia nemplok di dada gue pas baru lahir dan belajar IMD. Eh sekarang udah mau 2 tahun aja gitu. Wow!

Di usia 2 tahun, anak-anak pada umumnya mulai disapih. Gue juga berencana untuk menyapih dia perlahan sih, macam weaning with love gitu deh. Makanya dari dia umur 18 bulan kemarin gue mulai tega ninggalin dia liputan ke luar kota dan luar negeri.  Tujuannya sih membiasakan Nadira tidur tanpa harus ninen dulu ke emaknya.

Continue reading

Banyak Anak, Banyak Rejeki? Errr…

*picture’s taken from here *

Berapa banyak yang merasa terganggu dengan pertanyaan “Kapan mau tambah anak lagi?” atau “Kasian tuh anaknya udah gede, minta buru-buru dikasih Dede. Mumpung umur belum tua.”? Well, I do. And I know, some of my friends feel the same way too 🙂

Sebenarnya, urusan tambah anak is a private matter, ya nggak sih? Kasarnya, ngapain sih ngurusin masalah orang? Kalo gue tambah anak 10, atau nggak punya anak sama sekali, ya suka-suka gue dong.

Lagi pula, tambah anak itu nggak gampang lho. Ada yang masih trauma dengan pengalaman hamil/melahirkan. Kalo gue, hamil hepi-hepi aja. Melahirkan lumayan trauma, tapi nggak gimana-gimana banget. Nah yang melelahkan adalah, breastfeeding! Not exactly breastfeedingnya sih, tapi pengalaman memerah+nyimpen ASI buat Nadira itu lho (complete story-nya ada di sini ). 

Continue reading

Breast Size = Volume ASI?

Beberapa waktu lalu, seorang teman di twitter curhat tentang perilaku suster tempatnya melahirkan. Si suster bertanya “ASI-nya sudah keluar, Bu?” Temen gue ini dengan bahagia bilang iya. Eh sejurus kemudian, susternya komentar “Koq p*yud*ra (PD)-nya kecil banget ya?”. Seolah-olah dia heran bahwa PD kecil bisa memproduksi ASI dengan lancar.

Hal itu juga sering gue alami. Gue Alhamdulillah bisa nyusuin Nadira secara exclusive on her first six months of life dan lanjut sampe sekarang. Tau dong komentar orang apa?

“Ya wajar lah, wong PD-nya gede, pasti produksi ASI-nya juga banyak. Sampe bisa meres ASI kalo kerja. Nggak kayak orang2 yang PD-nya kecil, ASI-nya pasti seret.”

Continue reading