Generation Gap di Kampus

Kemarin, gue liat twit ini muncul di feed gue.

Gue paham banget sih apa yang dimaksud dalam twit itu karena pernah ngerasain dua-duanya hahaha. Gue suka gak pede mau nge-gym atau ikut sport club di tempat-tempat yang heits karena ngerasa kurang keren, kurang muda, dan kurang trendi. Sementara untuk kuliah, nah itu lagi gue rasakan saat ini. Di blogpost ini, gue mau bahas tentang generation gap yang gue rasakan di kampus, ya.

Jujur, waktu mau kuliah lagi, salah satu yang bikin gue deg-degan adalah soal umur. Sebab, generation gap gue dengan anak-anak mahasiswa S2 sekarang itu jauh banget. FYI, saat ini, lumrah untuk anak-anak mahasiswa yang baru lulus S1 langsung lanjut S2. Makanya beberapa temen sekelas gue S2 saat ini baru lahir saat gue masuk kuliah S1 dulu. Kesimpulannya, umur kita beda 18 tahun! *ketawa sambil mewek*

Untunglah, sebagai seorang extrovert, gue punya kemampuan beradaptasi dan berakrab ria yang cukup tinggi. Plus gue terbiasa bergaul sama fruitchild gue di kantor maupun temen-temen di Instagram yang umurnya juga muda-muda. Jadi yaa sama temen-temen kuliah gue berusaha begitu juga.

Di angkatan gue, gue bukanlah yang paling tua sebenernya. Yah nomor 2 tertua lah hahahaha *sama aje dong* Pas awal-awal kuliah, mereka pada sungkan kayaknya karena generation gap yang lumayan jauh itu. Tapi gue selalu berusaha untuk terbuka dan gak segan-segan sok ikrib duluan supaya meminimalisasi gap itu. Gue percaya, gap atau jurang itu bisa diminimalisir atau bahkan dihilangkan kalo pihak-pihak yang bersebarangan mau saling membuka diri.

Gue juga gak mau live up to the expectation bahwa yang tua itu pasti bossy, sok tau, keras kepala, dst. Apalagi emang sifat diri gue gak begitu. Jadi ya alhamdulillah so far aman-aman aja sih ya. Yah at least menurut gue gitu, gak tau deh kata Mas Anang gimana wkwkwk *garing bgt joke-nya*

Gue percaya dengan jargon survival of the fittest yang disebut oleh Charles Darwin. Yang bisa bertahan itu bukanlah yang paling kuat, paling pintar, paling cantik, paling jago, dst. Yang bisa bertahan adalah mereka yang mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi di sekelilingnya. Itu yang berusaha gue terapkan di kehidupan gue. Ya gak harus jadi FOMO banget sih tapi seenggaknya responsif terhadap perubahan alias mampu beradaptasi gitu lah.

Menurut gue, mau di mana pun, asalkan kita berurusan dengan manusia, ya kita harus inget fitrahnya manusia sebagai makhluk sosial. Manusia selalu ingin diterima lingkungannya dan diperlakukan dengan baik, hormat, dan adil. Makanya urusan usia harusnya gak perlu jadi penghalang asalkan kita masing-masing memahami itu.

Jangan mentang-mentang lebih tua terus jadi bossy atau sok tau ke yang lebih muda. Sebaliknya, mentang-mentang masih muda jadi hobi ngeremehin yang tua. Yang tua seharusnya bisa berbagi pengalaman hidup yang tentunya lebih banyak dari yang muda. Sebaliknya, yang muda seharusnya bisa berbagi pengetahuan terkini yang tentunya mereka lebih kuasai daripada yang tua. Jadi intinya, saling berbagi dan mengisi gitu kan.

Gue tau banget koq betapa gak enaknya jadi karyawan paling muda di kantor yang terpaksa menghadapi rekan-rekan lebih tua, bossy, sotoy, dengan kadar senioritas tinggi. Makanya pas jadi senior, entah di kantor maupun di kampus dan pergaulan, gue gak mau mengulangi hal itu. Buat gue mah gak ada untungnya ya. Ngapain coba belagu karena merasa lebih tua. Lah gue aja maunya dipanggil Kak terus sama semua orang, supaya forever young ceunah 😀

Anyway, inti postingan sore ini adalah, generation gap is real, peeps. Mau di manapun dan kapan pun, pasti generation gap selalu ada. Usia kita terus bertambah, populasi manusia juga terus bertambah. Namun gak usah khawatir berlebihan. Jurang atau gap itu sebenernya bisa diminimalisir asalkan kita mampu dan mau. Jangan ragu untuk mulai duluan supaya bisa mengurangi gap itu. Gak perlu gengsi atau sotoy. Toh itu untuk kepentingan kita juga, yekan?

Ini gue nih di salah satu kelas, di mana dosennya seumuran sama gue. Alhasil kami suka bahas beberapa hal yang ada di generasi kami, yang ofkors bikin bingung temen-temen lain yang masuk Gen Z 😀

4 thoughts on “Generation Gap di Kampus

  1. Salut sama yang mau belajar lagi seperti mbak Ira. Wah saya malah suka gaul sama yang usianya lebih muda jadi tahu trend terbaru dan gimana sudut pandang mereka. Ketularan juga semangatnya. . Sebetulnya saat dewasa semua orang equal, yang beda hanya pengalamannya, jadi kita sama-sama bisa belajar dari satu sama lain. S

    • Iya Mbak, aku juga suka bergaul sama yang lebih muda, sekalian refresh pengetahuan dan update ilmu. Setuju ttg semua orang saat dewasa itu equal, cuma beda pengalamannya aja. Sayangnya, gak semua mikir gitu ya. Jadi suka bikin pusing hehehe..

  2. di kelasku jg ada yg lulusan 2019 lah aku lulusan 2005 hihi.. untung aja online klo ngga aku udah pasti dipanggil ibuk (gpp sih emang udah sepantesnya). Lihat muka2 yang masih kencang itu jadi semangat mau perawatan muka lagi (padahal aku paling males pake krim2an haha)

    • Hahahaha I feel you! Di kelasku malah ada beberapa yg baru lulus Februari 2021, langsung lanjut S2 Agustus 2021 hahaha. Aku mah yg susah dikamuflase uban nih. Dicat, nanti dia nongol lagi dan lagi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s