Childfree VS Anak Banyak Tanpa Mikir

Di media sosial, lagi rame nih dua konsep seputar anak. Yang pertama adalah konsep childfree yang heboh gara-gara Youtuber Gitasav. Dia blak-blakan bilang bahwa dia dan suaminya gak mau punya anak karena beberapa alasan.

Sedangkan konsep kedua adalah konsep banyak anak tanpa mikir, terutama di usia muda belia. Konsep ini setau gue heboh di Tiktok. So far gue udah liat 2 orang ibu hamil yang posting video mereka joget-joget saat hamil tua. Di video itu, ada tulisan umur dan hamil anak ke berapa. Ibu A kelahiran 1997 dan hamil anak ke-5. Sementara ibu B kelahiran 2003 dan hamil anak ke-4.

Barusan gue posting video Tiktok dua ibu-ibu muda beranak banyak itu di Instastory gue dan yang respons buanyaaakk banget. Makanya kepikiran deh bikin comparison kedua konsep itu.

Kalo menurut gue, yang lebih berbahaya justru konsep anak banyak di usia belia tanpa mikir. Kenapa?

1.Konsep childfree asing untuk masyarakat Indonesia

Di masyarakat Indonesia, tujuan menikah = punya anak. Dan ini emang konsep umum di seluruh dunia sih. Makanya pengantin baru pasti langsung dihujani pertanyaan “udah isi/hamil belum?”. Kalo udah punya anak, pasti akan ditanya kapan nambah. Ini pengalaman gue banget yak wkwkwk.

Bahkan boro-boro bilang mau childfree. Abis nikah gak hamil-hamil dengan alasan sengaja nunda aja pasti langsung diceramahin kanan-kiri-depan-belakang.

Selain itu, warga negara Indonesia itu kan agamis banget nih. Alhasil, segala aspek sosial selalu dikaitkan dengan masalah agama. Nah, dalam agama disebutkan bahwa menikah adalah untuk berprokreasi atau punya keturunan. Nggak heran kan begitu Gitasav bilang bahwa dia mau childfree aja, yang nyerang dia banyaaak banget dengan bawa-bawa agama. Penolakan akan konsep ini kenceng banget lah.

Sementara, konsep anak banyak di usia belia tanpa mikir lebih mudah diikuti karena, di masa lalu, banyak contohnya. “Ah nenek gue anaknya 9, sukses semua tuh!”. Jadi terkesan lumrah, lah.

Kalo dikaitkan dengan agama pun, sangat nyambung dan dapet dukungan.

2. Konsep childree muncul karena pemikiran kompleks

Menikah untuk punya anak adalah konsep yang kita ketahui sejak kecil. Makanya kalo sampe ada yang milih childfree, pasti itu disebabkan oleh pemikiran yang kompleks.

Salah satunya, trauma masa kecil. Banyak yang masa kecilnya kena abuse, tumbuh dalam keluarga tidak harmonis, atau trauma lainnya, yang di kemudian hari bikin mereka memutuskan untuk gak mau punya anak. Salah seorang kerabat dekat gue juga ada yang begini nih. Seumur hidup, dia jadi saksi pertengkaran dan aksi KDRT kedua ortunya. Alhasil setelah menikah, dia pun ogah punya anak.

Trus tadi juga ada yang DM ke gue, alasannya mau childfree adalah karena lelah seumur hidup jadi tulang punggung keluarga.

“Aku ini generasi sandwich. Udah 4 tahun menikah, tapi belum punya anak. Soale aku mikir, kalo aku gak mapan secara finansial dan masih harus bantu ortu dan adik-adik, siklusnya bakal lanjut terus hingga ke anak cucu. Kasian anak-anakku nanti kalo harus ngerasain apa yang aku rasakan,” tulisnya.

Selain trauma, rasa takut dengan perkembangan dunia saat ini juga turut melatarbelakangi keputusan sebagian orang untuk childfree. Misalnya, ngeliat perubahan iklim yang terus memburuk, kondisi ekonomi yang turun naik, virus yang macem-macem, atau melihat kondisi dunia yang udah overpopulasi. Jadi mereka milih childfree, nggak mau nambah-nambahin populasi dan masalah dunia gitu.

Ada juga yang mau childfree karena ingin lebih menikmati hidup tanpa beban. Atau, ada juga yang mau memutus mata rantai penyakit turunan keluarga seperti diabetes dan kanker.

Macem-macem alasannya bisa dibaca di konten wikipedia ini.

Sebaliknya, konsep anak banyak tanpa mikir di usia belia justru ya bener-bener gak pake mikir. Mungkin awalnya karena “eh seks kok enak ya” trus males repot having sex pake kontrasepsi. Jadi ya terus-terusan hamil dan punya anak deh. Jadi mana kepikiran soal iklim, populasi, resesi, etc.

Poin nomor 2 ini pernah diangkat ke layar lebar dalam film Idiocracy. Dulu pernah gue tulis juga review-nya tuh. Silakan baca di sini ya.

Dan mengingat minimnya literasi masyarakat kita, kebaca lah ya kira-kira konsep mana yang akan lebih mudah berkembang.

3. Konsep childfree hanya berdampak pada pasangan yang memilihnya

Banyak orang enggak setuju dan mem-bully konsep childfree karena alasan “nanti pas tua repot lho!”. Padahal, konsep childfree ini hanya akan “berbahaya” bagi pasangan yang memilihnya aja. Mereka mungkin akan kesepian, repot saat tua, dll. Namun, karena orang-orang yang childfree ini mikirnya kompleks, biasanya mereka udah nyiapin langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi.

Misalnya, nyimpen dana pensiun, beli lahan makam, dan daftar ke panti jompo.

Sebaliknya, konsep menikah muda belia dan punya anak banyak akan berdampak luas, mulai dari keluarga besar, lingkungan sosial, sampai ke sistem negara.

Dampak keluarga: kalo pasangan yang punya anak banyak itu kurang mampu, mereka akan nambah beban ke anggota keluarga yang lain. Soale anak itu kan gak cuma butuh makan tapi juga sandang dan pendidikan. Emang sih pendidikan sekarang gratis. Tapi masa gak mikirin tetek bengek yang lain? Apalagi saat sekolah online kayak sekarang gini. Wow warbiyasak lah pressure-nya.

Dampak lingkungan sosial: anak-anak yang tidak terurus ortu itu berpotensi menimbulkan masalah di lingkungan kayak tawuran, kriminalitas, geng motor, dll dsb. Ditambah pengaruh medsos dari influenza-influenza geje, tambah maknyus lah 😦

Dampak ke sistem negara: tau gak, hamil di usia terlalu muda itu berpotensi melahirkan anak stunting? Selain itu, hamil terlalu muda juga berbahaya bagi ibu dan bayi. Terus, kehamilan yang terlalu sering, apalagi di usia muda juga berbahaya. Semuanya tentu akan ngaruh ke kondisi kesehatan negara dong.

Banyaknya anak yang lahir tapi kurang diurus atau kurang dapet makanan bergizi juga akan menambah beban negara dan kita-kita sebagai pembayar pajak. Anak-anak yang lahir ini juga berpotensi menyebabkan langgengnya kemiskinan struktural serta bertambahnya angka kemiskinan dan tenaga kerja gak produktif. Ini bikin masalah negara gak kelar-kelar.

Trus gimana dengan konsep childfree yang disebut-sebut bikin negara bubar?

Nah ini mulai terasa dampaknya di Jepang dan beberapa negara maju ya cmiiw. Tapi itu pun dampaknya baru terasa setelah puluhan tahun dan beberapa generasi, gak instan gitu. Beda dengan konsep anak banyak tanpa mikir yang dampaknya instan, langsung terasa saat itu juga hingga bertahun-tahun kemudian.

Intinya, dua konsep ini sama-sama ekstrem sih. Satu di ujung kiri, satu di ujung kanan. Dua-duanya juga adalah pilihan masing-masing orang yang harus dipahami sebelum diambil.

Untuk itu, sekali lagi, coba pikirin baik-baik lah sebelum membuat keputusan. Keputusan yang kita ambil akan berdampak gimana untuk diri kita dan lingkungan? Bakal ngerepotin orang lain atau gak?

Kalo memutuskan untuk punya anak banyak tapi sumber daya finansial, waktu, dan mental siap, monggo silakan. Perlu diingat, anak gak minta dilahirkan. Jadi tanggung jawab full ada di ortu. Dan kebutuhan anak itu gak cuma makan tapi juga pendidikan dan perhatian.

Begitu juga dengan konsep childfree. Kalo emang mutusin itu, konsekuensinya harus nyiapin mental dan finansial banget. Jadi pas tua nanti bisa nyaman pensiun dengan dana yang ada. Kalo sakit, langkahnya gimana. Jangan sampe malah nyusahin sodara-sodara atau tetangga.

Btw gue gak pro yang mana-mana ya. Saat ini gue punya anak 1, dan itu pun sering ditanya dan dituduh macem-macem sama orang 😀

Demikian sedikit pendapat akoh tentang hal ini. Ada yang berpendapat lain atau malah samaan kita?

10 thoughts on “Childfree VS Anak Banyak Tanpa Mikir

  1. Ibu 1 anak juga dan tidak nambah sepertinya mah hehe, sepemikiran banget mba zaman skrg jauh banget sama zaman dulu, kata nyokap gw zaman dulu mah ibu2 gak banyak godaan ky skrg, lulus sma atau umur 20an nikah setelah itu fokus ngurus anak dan keluarga, belum ada mall, arisan juga masih jarang, gak ada kongkow2 dan lainnya. Ibu2 zaman now anak baru lahir udah dibawa kongkow lalu mohon maaf nih pemikiran banyak anak karena anti kb, kadang suami/ bapaknya gak terlalu mikir gimana capenya jadi mamak2, meski full support secara finansial yang namanya anak mah pasti nempel ibunya apalagi ditambah budaya patriarki yang sangat kental.

    Kalau gw personal ya biaya pendidikan yang gak murah, memang keluarga dan temen2 pada milih sd negeri tapi ya dengan melihat fasilitas dll, masa iya gw udah kerja gak ngusahain masuk sd swasta meski jatohnya jangan maksain juga ya. Belum lagi biaya kuliah ya mak :D. Begitulah gak punya anak ya monggo tapi kalau mau punya banyak anak juga gpp asal siap dan bertanggung jawab aja memfasilitasi kesehatan dan pendidikan si anak dengan layak :)))))

    • Nah itu dia Mbak Puti. Yg bikin pusing itu adalah dana pendidikan sih hahaha. Ini aku anak 1 aja masih pusing ngitungin biaya kuliah. Yah nasib kelas menengah ngehe kali ya wkwkwk 😀

      Selain itu, punya anak juga gak cuma urusan duit doang tapi juga perhatian. Jadi ya itu harus dipikirkan matang-matang ya. Makanya salut sama yg punya anak banyak. Kalian hebaaatt!

  2. anakku baru 1 dan tahun umurnya 11 tahun, pastinya pertanyaan-pertanyaan tentang kapan nambah lagi? etc tuh udah ga asing. sebenernya ada keinginan buat nambah, tapi masih maju mundur mikir ina-ini ita-itu dan tetek bengek lainnya. well.. masih galau pastinya, tahun depan gw udah masuk kepala 4, akankah? hahahhahaha.. numpang curcol yaa mba ira 🙂

  3. Sebenernya aku rada nggak terlalu percaya sih sama tik tok, soalnya banyak tepu-tepunya, wkwk. Tapi kita anggep aja itu bener. Menurutku kemungkinan punya anak banyak dengan jarak dekat pada zaman sekarang itu antara dia emang tajir banget, atau perekonomian rendah minim pengetahuan tentang kontrasepsi dan reproduksi wanita. Kalau yang kedua itu sedih sih lihatnya. Pernah aku lagi nonkrong, kemudian ada bapak2 berkostum badut lewat, dengan istri yang gendong anak usia 1 tahunan dan kondisi hamil lagi. Seketika aku lihat anak aku yang waktu itu umurnya masih 1 tahun lebih. Berharap semoga keluarga kecil kami bisa mengatur jarak untuk adeknya kelak jika Allah ijinkan kami punya anak lagi.

    • Kalo liat video2 yg lain sih, kayaknya itu bener mbak. Tapi ya secara di Tiktok banyak yg tepu2 demi konten, jadi curiga juga ya 😀

      Tapi kalo baca-baca hasil riset WHO dan BKKBN, di daerah emang masih banyak yg begini sih. Jadi miris 😦

  4. sebagai single mother 1 anak , jujur sampe sekarang pun mikirnya (masih ) nanti kalo ada rezeki jodoh dan bisa nikah lagi aku kayaknya gamau nambah anak dulu kalo sekarang-sekarang nikahnya yah atau bahkan mungkin anakku satu aja gitu (tentunya dengan kesepakatan bersama) jadi memang berdoanya dapet jodoh yang bukan lagi tujuan menikah untuk dapetin anak tapi ya bneran bersama menuju bahagia dunia akhirat versi kita gt hohohohoho , setuju sih sama tulisan mba ira ini kayaknya jaman sekarang justru yang berkembang yang ekstrim masih muda nikah muda dan anak banyak atau malah gamau punya anak bahkan gamau nikah klo aku amati yaaa dan sebabnya juga banyak faktor , jd yah balik ke keyakinan n kemampuan masing2 aja

  5. aku setuju banget mbak sama pandangannya Mbak Ira. Mewakili apa yang ada dipikiranku. Apalagi dengan budaya kita di Indonesia, konsep childfree ini muncul dari latar belakang yang lebih kompleks, ga sekedar “udah ah, ga punya anak aja yuk biar ga capek.” Sedangkan konsep punya banyak anak ini pun kadang lahir karena punya banyak anak = banyak rejeki. Padahal kalo inget biaya pendidikan sekarang mah…biaya masuk sd suka sama kayak masuk kuliah x_x . Oia aku ga menentang keduanya, diserahkan kepada yang memilihnya karena punya alasannya masing-masing sebenernya.

    • Iya di sini yg lebih mudah menjamur adalah konsep anak banyak karena sejarahnya, nenek atau buyut kita juga pada begitu. Dan pemikiran “banyak anak banyak rezeki” masih dipercaya. Jadi konsep childfree susah kayaknya ya berkembang hehehe 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s