Mari Bicara tentang Dana Pendidikan

Pandemi Covid-19 atau Corona banyak menyebabkan kondisi dan situasi yang tadinya aman tentram gemah ripah lohjinawi berubah jadi amburadul kayak kapal pecah. Gak hanya kesehatan dan kejiwaan aja yang kena. Yang gak kalah kena dampak langsung adalah sektor ekonomi.

Untuk yang masih jadi buruh atau karyawan kayak gue, banyak yang kena PHK, pemotongan gaji, atau dipaksa cuti tanpa tanggungan karena perusahaannya kena guncangan ekonomi yang hebat. Kalo yang pengusaha, dampaknya mirip-mirip dan sama beratnya. Ada yang bangkrut, terpaksa mem-PHK karyawan, menjual harta benda untuk menggaji karyawan, dll dst.

Yang gajinya penuh pun tetep gak kalah pusing. Sebab, kondisi gak aman kayak sekarang bikin was-was setiap saat. Apalagi yang belum punya atau masih ngumpulin dana darurat. Biasanya langsung mendadak melek dan tergugah untuk nabung dana darurat karena baru sadar, dana darurat itu bener-bener penting.

Gue sendiri alhamdulillah masih tetep dapet gaji full. Tapi ya kayak yang gue tulis di atas, gue pun ikut pusing juga dengan kondisi ini. Trus gue pun mencoba membuka mata dan mengubah beberapa rencana supaya bisa sesuai dengan kondisi yang sulit ditebak seperti sekarang ini.

Salah satunya adalah sekolah anak.

Kemarin sempet ngobrolin tentang ini di Whatsapp Group geng gue dan kemudian gue bikin instastory. Eh ternyata responsnya rameee banget. Sebab, banyak yang ternyata belum ngeh mengenai dana pendidikan, hitungan kira-kiranya, dll dst.

 

Oke gue coba tulis per point yang gue bisa share ya.

1.Besaran yang disarankan

Para financial planner menyarankan untuk alokasi SPP sekolah anak itu maksimal adalah 10% dari total income kedua orang tua. Jadi misalnya gaji bapak 7 juta/bulan, trus ibu IRT yang punya online shop dengan penghasilan 3 juta/bulan. Artinya, total income ortu 10 juta. Nah SPP maksimal yang disarankan adalah 1 juta. Kalo SPP-nya di bawah itu, ya boleh banget, malah lebih bagus sih.

Kenapa disarankannya segitu? Sebab, kebutuhan sekolah kan gak cuma SPP. Masih ada antar jemput, katering, uang jajan, peralatan sekolah, sepatu, tas, field trip, ekskul, les piano, les bahasa Inggris, dll dsb. Belum lagi social cost alias biaya sosial kayak kado untuk teman ultah, arisan ibu-ibu sekolah, beli sepatu kembaran sama temen sekelas, etc etc. Semakin mahal sekolah, biaya social cost biasanya lebih tinggi.

Bahkan menurut gue, social cost ini yang paling bahaya sih. Sebab, biaya sekolah bisa dihitung di awal, tapi social cost sulit diprediksi.

Kemudian, hidup kan gak cuma untuk bayar SPP anak ya. Masih ada biaya rumah tangga (listrik, air, uang kebersihan, iuran RT), transport, cicilan utang KPR/kredit mobil/kartu kredit/etc, jatah ortu, biaya pergaulan, dan tentu aja, tabungan dan investasi.

Makanya, SPP maksimal 10% itu paling masuk akal, sehingga ortu masih leluasa untuk mengatur dana buat kebutuhan yang lain.

Oh ya, persentasi SPP maksimal 10% ini berlaku untuk total seluruh anak ya. Mau anak 1 atau 10, ya tetep SPP-nya maksimal 10% dari total income ortu.

Ya kalo masing- masing anak alokasi SPP 10%, trus anaknya ada 10, jadi total 100% dong. Lah, ntar makannya gimana kak? Minta sama tetangga?

Gue sendiri untuk SPP Nadira saat ini jauh di bawah angka 10% income. Dan ini jujur ngebantu banget untuk bisa memenuhi kebutuhan yang lain, terutama untuk nabung dan berivestasi.

Bahkan, beberapa tahun lalu, suami gue sempat gak punya income sama sekali selama sekitar setahun. Gue masih bisa bayar SPP Nadira dengan lancar tanpa harus ngebobol tabungan karena besarannya gak bikin kantong jebol.

Dari respons DM yang gue terima, banyak yang cerita tentang temen atau saudaranya yang alokasi SPP anak-anaknya di atas 10%, bahkan hingga 50% income. Di masa pandemi ini, tentu aja urusan SPP yang kegedean ini bikin masalah.

Ya iyalah ya, di masa normal aja, SPP sampe 50% income itu udah masalah banget karena berarti harus bebas utang supaya bisa makan dan berangkat ke kantor+sekolah. Gimana kalo kena PHK, pemotongan gaji, dan bisnis bangkrut?

Rata-rata yang mengalami hal itu mengaku terpaksa nunggak SPP anak karena gak mampu bayar. Beberapa bahkan berencana untuk memindahkan anaknya ke sekolah yang lebih murah atau gratis kayak sekolah negeri karena kepepet.

Untuk uang masuk sekolah yang jumlahnya lumayan gede, gue dulu mulai dengan nabung dan investasi sejak Nadira masih di perut. Nabungnya bisa lewat nabung biasa atau deposito supaya gak gampang diambilin. Investasi lewat reksadana. Jadi, pas dia mau masuk sekolah, dananya tinggal diambil/dicairkan.

2. Anggarkan biaya dengan hitungan yang sesuai kebutuhan seluruh anak

Banyak ortu yang jor-joran di anak pertama, trus lupa kalo masih ada anak-anak selanjutnya. Jadi, anak pertama disekolahin di tempat yang bagus dan mahal banget. Abis itu karena keabisan duit, anak kedua dan selanjutnya disekolahin di sekolah yang biasa-biasa aja, bahkan kalo bisa gratis aja deh.

Di masa lalu, ini umum terjadi ya. Temen gue pun ada yang gini nih. Kakak-kakaknya kuliah di luar negeri, sementara dia kuliah di kampus negeri lokal yang biayanya murmer. Kata dia, untung dia bisa lulus UMPTN karena kalo gak, mungkin gak kuliah akibat bonyoknya udah keabisan duit buat kuliahin kakak-kakaknya.

Kadang hal ini bisa ngefek ke psikologis lho karena anak-anak akan merasa ortu pilih kasih terhadap kakak pertama yang sekolah di tempat yang jauh lebih wah dibanding mereka. Bahkan bisa menciptakan sibling rivalry sampe dewasa.

Atau, kalopun mengalokasikan dana pendidikan, tapi semua dianggap sama rata. Misal, Bapak A punya 3 anak, yaitu X, Y, dan Z. Untuk masing-masing anak, Bapak  A simpen duit masing-masing Rp 100 juta untuk tiap-tiap anak buat biaya kuliah mereka di kampus C.

Padahal, biaya pendidikan itu tiap tahun naik 10% sampai 20% lho. Jadi perhitungannya gak bisa kayak gitu, harus disesuaikan dengan kenaikan biaya. Zaman X masuk kuliah, mungkin biaya Rp 100 juta bisa untuk dia belajar sampe lulus. Nah di zaman adik-adiknya, bisa jadi biaya itu hanya cukup untuk sampe pertengahan kuliah, atau bahkan cuma tahun pertama doang.

Kalo ke financial planner, biasanya bakal disaranin dana pendidikan Rp 100 juta untuk tiap anak itu dimasukkan ke investasi kayak reksadana supaya bisa ngejar kenaikan biaya pendidikan. Kalo ditaro di tabungan atau deposito soale gak bisa ngejar.

3. Pilih sekolah dengan kurikulum yang linear dengan tujuan kuliah

Gue pernah baca di mana gitu ya, kurikulum linear itu sangat penting untuk pendidikan dan masa depan anak. Artinya, jika ingin anak kuliah di kampus lokal atau ikut SNMPTN/SBMPTN, sebaiknya masukkan anak ke sekolah dengan kurikulum nasional, bukan sekolah dengan kurikulum internasional kayak IB atau Cambridge.

Kenapa? Soale bakal ada gap kurikulum gitu. Kemarin aja ada yang sempet curhat di DM bahwa dia dulu sekolah di sekolah internasional. Trus masih diwajibkan untuk ikut UN sebagai syarat ikut ujian masuk kampus lokal. Karena emang gak pingin, ya dia skip aja, lanjut sekolah di luar negeri.

“Soalnya PR banget Mbak ikut UN. Aku sekolah di sekolah yang berbahasa Inggris sementara UN kan pake bahasa Indonesia yang logikanya beda banget. Jadi bikin pusing,” katanya.

Selain itu, sayang banget dananya kak. Sekolah internasional dengan kurikulum IB atau Cambridge itu kan biayanya kan mahal banget ya. Kalo gak percaya, coba aja gugel biaya sekolah termahal, pasti daftarnya akan didominasi sekolah-sekolah internasional.

Kalo menurut financial planner, daripada ngabisin biaya untuk TK-SMA, lebih baik fokus ke kuliah. Soale biaya kuliah itu emang mahal banget sih, apalagi kalo di kampus swasta ternama dengan program studi yang favorit.

Dan, dari pengalaman banyak orang, akan lebih mudah beradaptasi dari sekolah dengan kurikulum nasional dan lanjut ke kampus di luar negeri, dibandingkan sekolah kurikulum internasional dan lanjut ke kampus lokal.

4. Biaya pendidikan anak itu kewajiban, bukan “dana pensiun” ortu

Gue liat di masa lalu, banyak fenomena ortu yang menjadikan anak sebagai dana pensiunnya di masa tua nanti. Jadi, mereka jor-joran ngabisin harta benda untuk biaya sekolah anak. Nah begitu si anak sukses, dia wajib membiayai semua keinginan ortunya.

Terciptalah yang kita sebut dengan generasi sandwich. Anak dapet beban ganda karena di satu sisi harus membiayai keluarga barunya, tapi di sisi lain harus membiayai semua keinginan ortu. Kalo mampu sih gak masalah ya. Tapi kalo ngepas, ini jadi beban yang berat banget. Kasian.

Gue sebagai ortu berusaha untuk mengubah mindset itu sehingga gak menjadikan Nadira generasi sandwich di kemudian hari nanti. Makanya, penting banget untuk disiplin ngikutin persentase SPP sekolah anak per bulan di point nomor 1 di atas. Sehingga kita bisa nabung dan berinvestasi, terutama nyimpen dana pensiun untuk tua nanti.

Jadi di saat tua nanti, kita tetap bisa hidup nyaman tanpa membebani anak. Anak pun bisa fokus membesarkan keluarganya. Jangan melulu membebani anak dengan utang budi ke ortu ya. Kurang sehat, ceunah.

Apalagi ya? Kira-kira segitu dulu deh yang bisa gue tulis sekarang karena terburu-buru mau pergi hehehe. Kalo ada tambahan lain, nanti gue tulis lagi deh ya.

Semangaat dan sehat selalu ya gaes!

4 thoughts on “Mari Bicara tentang Dana Pendidikan

  1. Mbak Ira…tulisannya bagus banget. Jadi membuka mata buat aku yang belum menikah apalagi punya anak. Selama ini sempet mikirnya bakal nabung baut dana pendidikan anak ketika hamil. Tapi ga sampai mikir sedetail ini.

    • Yay bacanya jadi GR hahaha.. Iya dana pendidikan itu ajegile mahal bgt dan ribet deh. Makanya banyak yang bilang dana pendidikan itu adalah kontrasepsi alami karena bikin gak napsu punya anak banyak 😀

  2. Gw dari jaman single selalu buat tab rencana yang cair tiap tahun, 100 rb aja per bulannya, begitu cair setengahnya masuk tabungan lagi. Pas punya anak:

    1. asuransi investasi di prudent
    2. asuransi di bnilife
    3. tab rencana 100rb per bulan
    4. tiap dapet tunjangan atau bonus minimal 20% masuk tab
    5. nabung suka-suka, 50 atau 100 rb

    hasil dari jaman pg sampe kemaren masuk sd uang pangkal tinggal debet rekening, gak musti besar nabung yg penting konsisten 🙂 *bukan sekolah mahal pilihannya kalau saya

    • Wuidih mantaapp *thumbs up*

      Jadi inget, temen kantor gue dulu punya asuransi pendidikan dari zaman jomblo. Jadi dia cerita kalo punya pacar dan ditanya sama calon mertua punya modal apa untuk nikahin anaknya, dia bakal dengan pede nunjukkin kartu anggota asuransi penddikannya hahaha 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s