Pengalaman Mengurus Asuransi Jasa Raharja + BPJS pada Kecelakaan

Ceritanya, sekitar dua minggu lalu, bokap dan nyokap mengalami kecelakaan di daerah Pondok Kopi Jakarta Timur. Bokap hilang kendali saat naik motor bareng nyokap, dan ended up nabrak motor orang yang diparkir di pinggir jalan.

Hasilnya, tulang di bahu depan bokap patah, sementara nyokap mengalami pendarahan otak karena gak pake helm saat kejadian (makanya helm itu penting ya gaes!). Untunglah, warga sekitar baik-baik bangeet dan langsung nolongin mereka bawa ke klinik terdekat.

Setelah gue dan adik gue diberitahu, kami datang dan memutuskan membawa bonyok ke RS Islam Pondok Kopi, karena ini adalah satu-satunya RS terdekat yang punya fasilitas CT Scan dan fasilitas lain dengan lengkap.

Waktu itu sih, prioritas utama kami adalah nyawa bonyok. Gak kepikiran tuh biayanya gimana, bayarnya kudu nebok celengan dulu atau nggak, dll. Pokoke prinsip gue, selama kartu kredit aman, kondisi darurat Insya Allah aman lah.

(Nah, ini dia nih fungsi kartu kredit yang sebenarnya ya gaes. Untuk dipake di kasus-kasus emergensi, bukan untuk “waw toko sepatu favorit gue lagi diskon, belanja aaahhh meski dompet kosong” 😀 )

Alhamdulillah, saat lagi ribet-ribet ngurus administrasi, tiba-tiba ada seorang suster yang deketin kami. Trus suster itu kasih saran tentang pembiayaan bonyok. Kata suster X (maap gak tau namanya), kasus kecelakaan kayak gini bisa dapat pembiayaan dobel, dari asuransi Jasa Raharja dan BPJS Kesehatan. Cuma, kita kudu mau ngurusin administrasinya yang lumayan panjang dan berliku-liku.

Bahkan, suster X ini sampe kasih catatan dan penjelasan tentang alur proses mengurusnya lho.

Ya Allah, terharu akutu ketemu suster yang baiknya kayak malaikat gini. Padahal bantuannya gak diminta samsek :’)

Oh ya, karena waktu itu kejadiannya malem banget, jadi bonyok masuk UGD sambil kami keluarganya urus ina-itu. Akhirnya setelah CT scan, rontgent dll, dokter mutusin bokap masuk ruang perawatan biasa, nyokap masuk HCU.

Trus kami dikasih waktu untuk ngurus-ngurus kelengkapan berkas untuk ke Jasa Raharja dan BPJS Kesehatan. Sambil kami urus surat-suratnya, bokap nyokap dirawat dan dioperasi dengan bermodalkan Surat Eligibilitas Pasien yang diterbitkan RS.

Perlu diketahui, kasus kecelakaan lalu lintas ditanggung oleh Jasa Raharja sebanyak maksimal 20 juta, dan sisanya di-cover BPJS. Tapi ini hanya terbatas untuk KECELAKAAN GANDA aja ya. Artinya, kecelakaan antara dua kendaraan bermotor.

Dalam kasus bonyok, meski yang ditabrak adalah kendaraan bermotor yang berada dalam posisi diam, itu tetap dihitung sebagai kecelakaan ganda.

Sementara, untuk kecelakaan tunggal, Jasa Raharja gak ikutan karena itu adalah ranah BPJS. Yang dimaksud dengan kecelakaan tunggal adalah kecelakaan sendiri atau nabrak benda mati. Misalnya, nabrak separator busway, tiang listrik, atau tembok. Bisa juga kendaraan selip atau jatuh karena jalanan licin, gak balanced, dll.

Kata petugas, kalo kecelakaannya terjadi pas pulang/berangkat kantor, itu bisa juga diklaim ke BPJS Ketenagakerjaan. Untuk pensiunan TNI/Polri, bisa juga diklaim ke Asabri. Jadi sebenernya pemerintah lumayan juga nih cover-nya ya gaes. Cuma kurang sosialisasinya aja ya, Lha gue pun baru tau hehehe.

Okeh, sekarang kita bahas ngurus-ngurusnya ya. Awalnya kami cuma dikasitau untuk urus asuransi Jasa Raharja itu pertama-tama kita harus ngurus surat keterangan ke polisi. Dan untuk ngurus ke polisi, berkas-berkas yang dibutuhkan adalah sbb:

  1. Surat keterangan RT dan RW di lokasi kejadian.
  2. Fotokopi KK korban dan aslinya
  3. Fotokopi KTP korban dan aslinya.
  4. Fotokopi STNK dan aslinya.
  5. Fotokopi SIM dan aslinya.
  6. Saksi
  7. Foto korban
  8. Foto kendaraan yang mengalami kecelakaan.

Okeh, gue pikir yang agak ribet cuma urus surat keterangan RT dan RW aja lah ya. Sama minta bantuan saksi pemilik motor yang ditabrak bokap. Cincay lah ini ngurusnya bisa cepet, tinggal ke kantor polisi depan RS.

Ternyata, tidak semudah itu Felguso! Kantor polisi yang dimaksud bukanlah kantor polisi terdekat, melainkan kantor Samsat. Karena gue di Jaktim, kantor yang dimaksud adalah kantor Samsat di Kebon Nanas sana.

Tapi ya no pain no gain ya. Untunglah, suami gue dan sepupu gue oke-oke aja ngurusin, sampe harus izin kantor 2 hari saking belibetnya.

Anyway, gini ya berkas-berkas yang harus disiapkan sebelum ke kantor Samsat:

1.Surat RT dan RW di lokasi kejadian

Ini cukup takes time karena lokasinya bukan di domisili gue dan keluarga. Jadi beneran gak ada yang kenal. Untungnya, suami dibantuin warga di lokasi, jadi dikasitau rumahnya Pak RT dan Pak RW di mana.

Tantangan lain, Pak RW-nya kerja dan cuma ada di rumah malem-malem. Jadi terpaksa rencana di-pending karena harus nungguin Pak RW pulang kantor.

Trus jangan mikir untuk bikin keterangan palsu di lokasi yang berbeda ya. Karena nanti di depannya justru bikin reopoot dan berpotensi menghambat semua prosesnya lho. Sebab, kita berurusan sama polisi nih. Salah-salah dikit malah kita yang kena dihukum kan repoott sis.

2. Fotokopi KK, KTP, STNK, dan SIM, plus aslinya

Untuk yang ini amaan lah. Oh ya buat jaga-jaga, lebih baik pas fotokopi, bikin kopian yang banyak sekaligus deh. Soale, untuk berbagai urusan ke depan, berkas-berkas ini pasti dibutuhkan bener.

3. Saksi

Ini agak repot kalo kejadiannya di lokasi sepi. Atau, kalo gak ada satu pun warga di lokasi kejadian yang mau meluangkan waktunya untuk jadi saksi.

Kenapa?

Soale jadi saksi ini artinya, dia harus mau diajak ke kantor polisi yang lokasinya lumayan jauh. Jadi minimal harus meluangkan 2-3 jam lah. Padahal seperti kita tau, gak semua orang punya waktu dan mau meluangkan waktunya. Broh, ini Jakarta broh. Time is money you know.

Alhamdulillah banget, pemilik motor yang ditabrak bokap gue baiikkknya kebangetan. Setelah kita ganti rugi on the spot di malam kejadian, dia helpful banget dengan bersedia jadi saksi. Namanya Ervan. Jadilah suami dan sepupu gue yang bagian ngurus surat-surat ngajak si Ervan ini ke Samsat untuk jadi saksi.

4. Foto korban

Ini cincay lah. Kebetulan pas di UGD, gue sempet motretin bonyok untuk dikirim ke WAG keluarga. Jadi sama suami langsung dicetak deh foto-fotonya.

5. Foto motor

Nah ini nih yang bikin pusing. Ternyata, sekarang ini gak diperbolehkan untuk ngurus surat keterangan polisi jika hanya melampirkan foto kendaraannya aja. Kata Pak Polisi, sebelumnya emang boleh pake foto doang. Tapi banyak orang yang menyalahgunakan itu. Ada yang sempet-sempetnya klaim asuransi fiktif dengan pake foto kendaraan orang lain yang abis kecelakaan. Dasar ih, kreatip-kreatip banget untuk urusan kriminil!😤

Alhasil, motor bokap pun harus dibawa ke Samsat untuk disita jadi barang bukti. Suami dan sepupu gue harus balik dulu ambil motor yang kemarin dititipkan di bengkel punya Ervan. Untunglah motornya meski abis kecelakaan, tapi masih bisa jalan. Jadi bisa dikendarai ke Samsat dengan aman.

Gak kebayang kalo motornya rusak parah. Lah terpaksa order mobil pick up dong untuk ngangkut ke Samsat 😥😫

6. Motor korban

Ini sungguh berada di luar dugaan. Kirain cuma saksi aja yang dibawa. Ternyata, karena kasusnya bokap gue nabrak motor Ervan, alhasil motornya Ervan pun harus dibawa juga ke Samsat.

Ya Allah pas dapet kabar ini dari suami, rasanya gue udah putus asa banget deh. Soale gue pikir, Ervan tuh udah baik banget kan mau meluangkan waktu untuk jadi saksi. Lha ini koq motornya pake mau disita segala?

Ervannya pun keberatan karena motornya dipake kakaknya untuk kerja. Trus suami gue berusaha nego dengan polisi supaya motornya Ervan gak perlu ditahan. Akhirnya polisi setuju, tapi STNK motornya Ervan kudu ditahan, diganti dengan surat keterangan.

Aseli di sini gue cuma bisa pasrah. Kalo emang Ervan gak mau, yawdah lah ya. Toh sebenernya dia juga gak berkewajiban koq untuk ikut repot ngurusin bonyok gue. Jadi kami pun gak mau maksa.

Untunglah, Ervan mau naro STNK motornya di kantor Samsat. Wuih, begitu dapet kabar itu, hati rasanya langsung legaa banget. Alhamdulillah!

Begitu semua syarat-syarat itu terpenuhi, polisi langsung ngeluarin surat keterangan yang diperlukan. Abis itu suami langsung bawa surat tsb beserta berkas-berkas KK, KTP, dll ke Jasa Raharja.

Dan bener tuh, begitu di Jasa Raharja, cuma dibaca bentar sambil diteliti, trus langsung di-approve. Total waktu penyelesaian semuanya 2,5 hari lah. 2 hari ngurus berkas-berkas + kantor polisi, sisanya cuma 1 jam kali di kantor Jasa Raharja.

Emang agak belibet dan untuk kita-kita yang kurang taat administrasi, rasanya maleeess banget ya ikutinnya. Tapi kalo gak diurus gini, bisa boncos keuangan karena bonyok bakal gak di-handle sama asuransi Jasa Raharja maupun BPJS. Artinya, kudu bayar sendiri semua-muanya. Haduuhh 😩

Oh ya, selama suami ngurus Jasa Raharja. gue dan adik gue di RS ngurus bonyok. Ada beberapa biaya yang harus kami keluarin sendiri karena gak dicover BPJS.

Misalnya, saat nyokap mau operasi bedah syaraf, kami harus keluarin duit 2 juta. Pas bokap mau operasi bedah tulang, kami harus keluarin duit 5,5 juta. Selain itu ada beberapa obat yang kudu kami bayar. Sebelumnya, biaya CT scan dan rontgent juga gue bayar sendiri karena waktu itu kondisinya pas baru masuk ICU dan kami belum paham dengan klaim asuransi-asuransi ini.

Namun, menurut petugas RS Islam yang khusus nanganin klaim ini, karena bonyok dicover Jasa Raharja dan BPJS, semua duit yang udah gue keluarin akan dikembalikan. Kalo cuma di-cover BPJS aja sih duit-duit itu gak balik karena emang dipake untuk alat-alat yang gak di-cover BPJS.

(Oh ya nama petugasnya Pak Irsan. Orangnya baiikkkk banget, bikin hati hangat karena mukanya yang soleh dan simpatik, selaras dengan perilakunya yang baiikk banget. Pantesan dia ngetop bener di seantero RS Islam karena emang orangnya sebaik itu!❤)

Total, biaya yang seharusnya kami bayar untuk kesembuhan bonyok itu sekitar 75 juta lah. Itu udah termasuk operasi bedah syaraf nyokap, operasi tulang bokap, kamar HCU nyokap, kamar perawatan bonyok, dokter, obat, dll.

Pas bonyok keluar dari RS, gue dan adik gue cuma kebagian tanda tangan, denger penjelasan dari suster tentang kapan kontrol, dan jadwal minum obat. Gak ada tagihan apapun yang dibebankan kepada kami. Aseli bikin melongo sih!

Nah, untuk reimburse uang CT scan dan uang muka operasi, Pak Irsan bilang diusahakan secepat mungkin karena mereka nunggu total untuk ditagih ke Jasa Raharja. Gue terus terang gak terlalu berharap banyak karena, bokap nyokap bisa dioperasi dll tanpa bayar pun udah Alhamdulillah banget.

Eh tau-tau, minggu lalu gue di-WhatsApp sama Pak Irsan. Dia ngabarin kalo uangnya udah siap. Jadilah, tadi sore gue ke RS Islam untuk ngurusin uang reimburse, sekalian anter nyokap kontrol ke dokter bedah syarafnya.

Dan, gue cuma diminta tanda tangan sambil periksa berkas-berkas. Abis itu, duit pun dikasih secara cash.

Yes, just like that.

Wow ini beneran mukjizat atau apalah namanya gak ngerti lagi akutu. Sungguh deh dua minggu lalu badan dan psikologis kami kan babak belur tapi harus dikuat-kuatin. Tapi ternyata gak sia-sia karena along the way, kami ketemu banyak orang yang super baiikk dan belajar banyak hal.

Trus, motor bokap maupun STNK motornya Ervan juga bisa diambil minggu lalu, 7 hari setelah dibawa ke Samsat. Jadi meski awalnya ribet, selanjutnya oke aja asal dilakukan dengan ikhlas.

Mudah-mudahan sharing ini berguna ya. Yah emang siapa sih yang mau celaka. Tapi untuk jaga-jaga, tau prosedur pengurusan Jasa Raharja dan BPJS gak ada salahnya kan?

Oh ya, jangan lupa kalo naik motor, wajib pake helm lho supaya gak celaka!

7 thoughts on “Pengalaman Mengurus Asuransi Jasa Raharja + BPJS pada Kecelakaan

  1. Alhamdulillah..tetep hati2 djalan ya kak..sebagai pembelajaran. Helm itu penting..
    .
    Saya sndri paling sebel and benci klo ada orang g pake helm

    Meski itu cuma keluar deket pake motor

  2. Ibu sm bapak aq tahun lalu habis kecelakaan kak. Bapak patah tulang tapi dibawa ke pijit tulang. Ibu daging lututnya rompal karena ketabrak sampe 2x. Pas sama bapak jatuh dr motor,truz pas perjalanan di rujuk ke RS yg lebih besar karena faskes pertamanya ga sanggup ngejait. Tapi begitu masuk ke RS X ndilalah BPJS nya ga bisa dipake karena mereka bilang kecelakaan tunggal ga dicover bpjs. Ga tau ini miskom atau gimana sampe akhirnya kita keluar biaya sendiri. Mau pakai bpjsnya buat kontrol dan buka jahitan juga ga bisa. Ga tau lah knp di kota Malang pengurusan BPJS se susah itu 😔

    • Nah itu dia, kemudahan ngurus BPJS itu gak rata di semua wilayah. Ada yg gampang kayak aku, tapi banyak juga yang ribet kayak dirimu Mbak. Ini nih menurutku yg harus diperbaiki krn kadang koordinasinya minim atau miskom gitu.

      Semoga lekas sembuh ya untuk ibu dan bapak 🙂

  3. mbak ira.. aku bacanya dari sedih hingga lega.. semoga bokap nyokap semakin membaik ya mbak.. daaaan pesan pentingnya adalah pokoknya kalau naik motor, meski jarak deket tetap pakai helm ya..

  4. Pingback: Tentang BPJS Kesehatan | The Sun is Getting High, We're Moving on

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s