Tentang Pendidikan: Ambisi Ortu (4, selesai)

Ini adalah bagian terakhir dari serial (ceileh) Tentang Pendidikan. Postingan sebelumnya adalah sekolah favorit, ujian nasional, dan sistem zonasi.

Nah sekarang kita masuk ke episode 4 yakni

4. Ambisi Ortu

Urusan ambisi ortu mah dari zaman kuda gigit besi udah banyak bener ya. Pas lagi ngomongin soal zonasi, sekolah, dkk aja, banyak yang kirim DM cerita tentang kisah dirinya, sodaranya, atau temannya yang terjebak ambisi ortu.

Apalagi pas ngomongin penjurusan di SMA. Gue baru tau zaman sekarang, begitu daftar SMA Negeri, calon siswa harus menyertakan jurusan apa yang ia minati nanti. Apakah IPA atau IPS. Jurusan Bahasa gue gak tau deh masih ada atau gak ya.

Nah, dari beberapa teman gue yang anak-anaknya masuk SMA tahun ini, gue dapet info kalo rata-rata sekolah negeri saat ini lebih didominasi kelas jurusan IPA. Alhasil, seorang teman kantor yang anaknya mau daftar jurusan IPS di SMA Negeri jadi terlempar-lempar karena sekolah yang dia minati hanya punya 1-2 kelas IPS aja.

Gue terus terang kaget karena di zaman gue dulu, kelas IPA justru cuma dikiit. Pas gue kelas 3 SMA dulu, angkatan gue cuma ada 2 kelas IPA dan 4 kelas IPS. Sekarang, kondisinya terbalik ya.

Pas gue tanya-tanya, kenapa bisa gitu? Jawabannya rata-rata kayak gini nih:

Soale kelas IPA itu lebih luas pilihannya. Waktu mau ikut ujian masuk kampus negeri, bisa ikut IPC, yang artinya bisa daftar jurusan IPA dan IPS di kampus. Kalo IPS kan cuma bisa daftar jurusan IPS doang.

Walaahh gue kaget juga jadinya. Emang sih kebijakan IPA bisa daftar jurusan IPA dan IPS pas ujian masuk PTN udah ada sejak lama. Lah gue sendiri juga anak IPA yang ikut tes IPC dan masuk keterima di Sastra hehehe..

Tapi gue gak nyangka aja. Zaman (harusnya) udah semakin maju dengan pengetahuan tentang multiple intelligence dll. Lha ini koq masih banyak ortu yang maksa anaknya masuk jurusan yang bisa jadi, kurang cocok dengan minat dan kemampuannya?

Baca ini gue jadi inget dengan beberapa kasus.

1. Kisah si Ali

Dia ini anak temennya nyokap. Ali ini sebenernya cukup pinter, tapi ortunya kayak gak (mau) paham minat dan kemampuan dia. Jadi Ali terus-terusan disetir oleh bapak ibunya, termasuk untuk nentuin jurusan di SMA.

Bapaknya Ali masih pake tolok ukur bahwa anak IPA itu paling pinter lah. Jadi dia maksa Ali untuk masuk jurusan IPA. Begitu Ali gagal masuk IPA dan “hanya” bisa masuk IPS, bapaknya ngamuk. Dia maksa Ali untuk ikut bimbel jurusan IPC supaya Ali tetep bisa masuk Fakultas Teknik yang diidam-idamkan si bapak.

Pas UMPTN, Ali dipaksa ikut jalur IPC dan gak lolos. Dia kemudian disuruh masuk sebuah kampus ternama untuk ambil Fakultas Ekonomi. Karena dasarnya Ali cukup pintar, dia lolos masuk kampus itu. Tapi karena dia gak minat, ya dia kerjanya bolos mulu. Alhasil IPK-nya nasakom (nasib satu koma), dan di-DO kampus.

Sama ortunya disuruh pindah ke Fakultas Hukum di kampus yang sama. Ali pun harus daftar dari ulang lagi dan sukses lolos. Tapi karena bukan minatnya, ya kembali nasakom dan DO.

Apa sebenernya minat Ali? Dia itu suka dunia kreatif, kayak kamera, broadcasting, jurnalistik, gitu-gitu deh. Dia sendiri udah berusaha ngomong ke ortunya dan minta kuliah di sebuah kampus spesialis bidang ini, yang biayanya juga gak tinggi-tinggi banget. Tapi ortunya gak mau dengerin karena menurut mereka kampus itu kurang keren. Plus, bidang dunia kreatif dinilai kurang menjanjikan ketimbang profesi pengacara, akuntan, dst.

2. Kisah Suami Akoh

Hal serupa sebenernya juga terjadi sama suami gue sih. Dia itu terpaksa kuliah di jurusan Teknik Mesin karena nyokapnya bilang “Mama pengen punya anak insinyur.” Sementara suami gue gak minat sama sekali bidang teknik. Dia lebih suka sama bidang ekonomi dan manajemen. Tapi karena dia takut melawan ortu, ya terpaksa kuliah Teknik Mesin.

Pas mau S-2, mertua gue ngasih kode untuk lanjutin studinya. Di sini baru berani ngajuin syarat. “Kalo Mama Papa mau aku S-2 Teknik, aku nyerah karena gak minat samsek. Kalo boleh, sekarang aku mau kuliah ekonomi sesuai minat.”

Untung dibolehin, jadi deh suami gue dengan suka cita kuliah MBA. Dia bilang, selama kuliah MBA hepi banget karena itu adalah bidang yang amat dia minati. Sekarang kerja pun ya sesuai hobinya di bidang ekonomi. Sementara soal kuliahnya di jurusan Teknik Mesin, dia bener-bener lupa karena gak suka.

3. MUA Alumni Fakultas Kedokteran

Gue pernah kenalan sama seorang makeup artist yang punya gelar Sarjana Kedokteran. Dia masuk Fakultas Kedokteran karena dipaksa ortunya. Padahal minatnya ya dunia makeup.

Begitu lulus kuliah, ijazahnya dia kasih ke ortunya. Trus dia bilang “Ini yang Mama dan Papa inginkan ya, aku udah tunaikan semuanya. Sekarang aku mau berkarier sebagai makeup artist sesuai minatku.”

Kisah-kisah kayak gini tuh banyaaakk banget gue denger lho. Dan ini kayaknya yang jadi salah satu penyebab kenapa 87% mahasiswa ngerasa salah jurusan pas kuliah. Di berita itu dikatakan, salah satu penyebabnya adalah, ortu punya ambisi dan harapan tinggi kepada anaknya. Dipaksa masuk sekolah jurusan ini lah, kuliah fakultas ini lah, sampe akhirnya kerja di bidang itu lah. Padahal itu gak sesuai dengan minat dan passion mereka.

Jadi inget puisinya Kahlil Gibran yang berjudul On Children ini nih. Pas banget dengan tema kali ini.

Intinya, anakmu bukanlah anakmu  karena dia punya keinginan, kemauan, dan jalan pikiran sendiri. Tugas para ortu ya membesarkan, mendidik dan mengarahkan mereka sesuai minat dan kemampuan mereka. Bukan mengatur anak-anak sesuai ambisi, kemauan, dan keinginan ortu belaka.

Kalo denger curhat temen-temen, sodara, atau kenalan yang ngerasa hidupnya harus memenuhi ambisi ortu masing-masing, gue ikutan sedih. Karena mereka sering bilang bahwa, sayang banget hidup selama bertahun-tahun tapi ngejalanin mimpi orang lain, bukan mimpi diri sendiri.

Iya bener koq, ortu selalu ingin yang terbaik untuk anaknya. Tapi apakah yang terbaik menurut ortu itu adalah yang terbaik bagi si anak? Kan gak selalu ya.

Makanya gue salut sama ortu masa kini yang lebih aware dan peduli dengan minat dan bakat anaknya masing-masing. Gak usah bandingin anak si A dan si B, lha wong sodara kandung aja bisa beda minat dan bakatnya koq.

Silakan melihat dan mengamati kecerdasan anak masing-masing sesuai tabel multiple intelligence di atas ya. Jangan minder kalo anaklo gak jago matematika misalnya (kayak anak gue, hihihi). Coba telaah lebih lanjut deh, dia minatnya di mana sih.

Kalo udah ketauan, gali terus dan stimulasi supaya lebih berkembang. Kalo belum ketauan, ya eksplor lebih lanjut dan amati lebih dalam lagi. Kalo perlu, bisa ikutan tes penelusuran minat dan bakat di lembaga psikologi.

Jangan juga terpaku dengan pameo “Ibunya pintar dan bapaknya pintar, anak gue pasti pintar banget.” Ya kagak cyin. Lah gue suka Matematika, suami suka Matematika, eh Nadira gak demen Matematika, hahaha.. Atau temen gue, suami istri insinyur lulusan sebuah institut teknologi ternama. Eh anaknya benci Matematika dan Sains, lebih cinta sama bahasa asing.

Jadi ya inget kata Kahlil Gibran di atas. Anakmu bukan anakmu. Jangan bebani mereka dengan ambisi dan mimpimu karena, mereka juga punya hak untuk mewujudkan ambisi dan mimpi mereka lho 🙂

Kalo gue sendiri sih, masih berusaha untuk nurunin ego dan ambisi, serta berusaha mendengarkan dan mengamati apa sih yang kira-kira disukai dan diminati Nadira. Di umurnya yang 10 tahun, udah ada beberapa hal yang keliatan dia suka banget, dan mana yang kurang (Matematika! hahaha). Gue terus berusaha dorong dia untuk stimulasi hobi dan minatnya, sambil nunggu ada kejutan-kejutan apa lagi nih di depan yang bikin gue harus bersiap-siap 😀

Yang penting buat gue mah, dia jadi sosok yang bahagia, percaya diri, gak mudah menyerah, selalu bersyukur, dan apa adanya. Jadi kalo dia sekolah, kuliah, dan kerja, semua sesuai dengan minat dan keinginannya, kayak gue dulu yang gak pernah dipaksa ortu untuk ambil jurusan A atau B. Gue percaya dengan begitu, hati jadi lebih riang, langkah setiap hari juga terasa lebih enteng.

Duh kurang tiger mom ya harapan gue, hahahaha. Yaabis gimana dong. Aku mah lebih cocok jadi bunny mom kayaknya nih.

Doakan ya gaes 🙂

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s