Tentang Pendidikan: Ujian Nasional (2)

Sambungan dari postingan sebelumnya ya gaes. Setelah bahas sekolah favorit kita bahas poin selanjutnya yaitu:

2. Ujian Nasional (UN)

Kalo baca di sini, UN dimulai pada taun 2005. Sebelumnya di zaman gue, ujian akhir sekolah itu bernama Ebtanas alias Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional. Kalo Ebtanas, pelajaran yang diujikan ada 5 (SD), 6 (SMP), dan 7 (SMA). Sementara untuk UN, jumlahnya beda lagi, yakni 3 (SD), 4 (SMP), dan 6 (SMA), cmiiw.

Waktu masih bernama Ebtanas dulu, seinget gue masyarakat menghadapinya biasa aja. Bimbel ofkors banyak ya, frekuensi belajar jelang Ebtanas juga ditambah. Belum lagi tambahan pelajaran di sekolah.

Tapi, kepanikan, kehebohan, dan “kerusuhan”-nya gak sebanding lah sama zamannya UN. Waktu zaman Ebtanas dulu, gue ngerasa biasa-biasa aja sih. Lha wong seumur-umur gue gak pernah ikutan bimbel hahaha.. Gue cuma modal pelajaran di sekolah + belajar sendiri aja di rumah. Bokap nyokap pun gak pernah nyuruh belajar sama sekali.

Gue liat temen-temen gue yang lebih well-prepared dengan ikut aneka bimbel juga gak ada apa-apanya dibanding anak-anak zaman sekarang.

Dan kemarin, teman-teman era Ebtanas banyak yang DM dan cerita hal yang sama. Ada yang H-1 Ebtanas disuruh nyalon sama ortunya supaya gak stres. Atau diajak ke Dufan or mal jalan-jalan supaya si anak rileks dan gak tegang. Gitu-gitu deh.

Nah, gimana sih tren UN masa kini. Kira-kira ini rangkuman gue:


a. Istigosah atau doa bersama.

Jujur, gue suka heran dan terkaget-kaget dengan tren istighosah atau doa bersama yang digelar sekolah, murid dan kadang, ortu murid juga sebelum UN. Beberapa sekolah juga serius menggelar malam doa bersama ini dengan datengin motivator. Bahkan di beberapa sekolah banyak murid yang doa sambil nangis, histeris, sampe ujung-ujungnya kesurupan 😦

Kalo dari sisi psikologis, mungkin tujuannya bagus ya doa bersama maupun malam motivasi gini. Supaya memperkuat mental anak juga mendoakan gitu lah.

Sayangnya buat beberapa anak, mereka bisa jadi ngerasa lebih tertekan. Campuran paranoid + takut gagal + takut mengecewakan ortu kerap bikin mental jadi down.


b. Persiapan akademis.

Wuidiiihhh… Liatnya bikin gue ngerasa bersyukur dilahirkan lebih cepat, sungguh deh! Kayaknya gue bakal stres berat kalo jadi anak murid zaman sekarang 😥

Zaman gue nih, pas masih SD gak ada persiapan super heboh. Waktu SMP juga biasa aja. Waktu SMA, ada tambahan di sekolah tapi gak tiap hari, cuma 2 kali seminggu kayaknya.

Nah sekarang, warbiyasak ya gengs. Kemarin ada DM yang cerita, di SD anaknya, materi persiapan UN udah diberikan sejak kelas 4 SD. Trus, begitu si anak naik kelas 6, setiap hari ada tambahan pelajaran khusus UN.

Itu belum termasuk ikutan bimbel atau panggil guru privat ke rumah. Temen gue yang suaminya pimpinan sebuah bimbel kondang di Jakarta cerita, bisnis bimbel sampe saat ini masih cerah banget. Belum lagi bisnis guru privat. Semua karena para ortu khawatir dengan UN.

Apalagi tuntutan sekolah zaman sekarang kan tinggi banget ya. Pelajarannya pun gue perhatiin lebih susaaaahh. Alhasil, para ortu yang uangnya berlebih pun terdorong untuk memberikan pembekalan pelajaran ke anak-anaknya. Jadi, anak masa kini belajarnya bukannya dobel lagi, tapi triple kali ya dibandingkan zaman gue 😦

Itu masih jauh-jauh hari ya. Gimana kalo udah mendekati UN-nya? Wah ya ofkors lebiihhh supeeerrr intensif lagi.

Temen gue yang anaknya bersekolah di SMP negeri favorit di Jakarta cerita, di SMP tersebut, tambahan pelajaran diberikan intensif pas kelas 3. Bahkan sehari sebelum UN, masih ada juga tambahan pelajaran. Ini dikhususkan untuk anak-anak yang dianggap prestasinya biasa-biasa aja.

Tapi itu belum seberapa sih. Kemarin ada juga yang DM, di SD dekat rumahnya, kondisinya lebih parah. Btw, untuk SD sebenarnya UN diganti USBN alias Ujian Sekolah Berstandar Nasional ya.

Nah, di SD tersebut, pas hari H ujian, anak-anak diminta untuk datang jam 6 pagi. Jadi mereka masih diberi tambahan pelajaran selama 1 jam, sebelum UN dimulai jam 7.

Bayanginnya aku mumet dan mau nangis kakaaakk… T__T


c. UN = satu-satunya cara sukses di masa depan.

Ini dia nih. Saat ini, UN masih diperlakukan sebagai dewa, dan menentukan masa depan banget. Apalagi pas UN masih dijadikan sebagai syarat kelulusan. Wuih pada seneweeeenn semua.

Kemarin ada yang DM, kebetulan dia adalah angkatan pertama saat UN diujicobakan pada tahun 2004. Dia cerita, sekolah rasanya udah kayak mau perang. Murid-murid dikasih tambahan pelajaran khusus matpel yang di-UN-kan aja.

Alhasil murid-murid pada bingung. Kalo cuma belajar matpel yang masuk UN doang, apa faedahnya belajar matpel yang lain? Jadi seolah-olah belajar pendidikan olahraga, seni dan budaya, sejarah, dan lainnya, gak akan berguna karena masa depanlo cuma bergantung sama matpel yang masuk UN.

Oh ya, poin ini bikin gue jadi inget artikel tulisan reporter gue. Jadi, beberapa bulan lalu Kemdikbud atau LIPI gitu bikin kompetisi ilmiah untuk pelajar. Pesertanya rata-rata datang dari daerah dan kota-kota kecil. Jakarta gak mengirimkan satu peserta pun ke ajang itu.

Setelah diselidiki, ternyata anak-anak kota besar terutama Jakarta terlalu sibuk dengan persiapan UN. Jadi mereka gak punya waktu untuk mengasah kreativitas, atau bikin proyek-proyek ilmiah. Waktu mereka habis untuk ikut bimbel dan tambahan pelajaran di sekolah.

Salah satu DM yang masuk ke gue pun mengaminkan hal itu. Dia anak Jakarta dan waktu sekolah dulu, ya fokusnya ngurusin UN doang. Begitu dia kuliah di UGM, dia langsung amazed saat teman-temannya yang dari daerah ngajuin aneka proposal penelitian ilmiah. Sebab, di SMA-nya dulu gak pernah disuruh gitu.

“Dulu kerjaku cuma fokus akademis dan UN, khas anak Jakarta,” katanya.

Anak-anak dari daerah ini justru memiliki aneka ide penelitian berdasarkan pengalaman, pengamatan, dan lingkungan mereka sehari-hari. “Akhirnya aku cuma bantuin penelitian mereka aja deh,” katanya.

Kalo gak percaya, gugel deh keyword “penelitian pelajar”. Yang keluar pasti link aneka berita tentang prestasi para pelajar di ajang riset atau penelitian dunia. Btw, rata-rata mereka berasal dari luar Jakarta.
d. Kepentingan Sekolah

Nah ini sesuai dengan status Mas Iqbal di postingan kemarin. Sekolah-sekolah favorit umumnya “menekan” para siswanya untuk dapet nilai UN bagus demi kepentingan sekolah itu sendiri. Sebab, dengan nilai UN yang tinggi, nama sekolah tersebut akan harum karena masuk dalam daftar sekolah dengan nilai UN terbaik kayak gini.

Dengan kredibilitas mumpuni, sekolah akan terus berada di strata teratas dalam daftar sekolah terbaik di wilayahnya. Mereka pun berhak menentukan passing grade anak-anak yang masuk ke sekolah itu. Artinya, hanya anak yang pintar dan cakap yang bisa masuk ke situ. Proses belajar pun harusnya lebih mudah karena siswanya lebih pintar, ketimbang anak-anak dengan nilai lebih rendah.

Benefit lain, anak-anak pandai ini sebagian besar datang dari keluarga mampu. Jadi ortu mereka pasti ingin sekolah yang nyaman, lengkap, dan mumpuni. Nah kejawab kan kenapa sekolah favorit punya aneka macam fasilitas padahal statusnya sekolah negeri?

Sayangnya, gak semua sekolah berupaya dengan jujur untuk dapetin nilai rata-rata UN yang bagus. Banyak sekolah yang rela melakukan apapun demi terus berada di daftar sekolah terbaik.

Kemarin ada beberapa DM yang cerita bahwa sekolah mereka dulu mempraktikkan kecurangan. Ada sebuah SMP favorit di Jakarta yang gak pernah menekan murid-muridnya dengan tambahan pelajaran etc. Tapi begitu jelang UN, guru-guru dan kepsek rela beli bocoran soal ke dinas pendidikan, dan membagikan ke anak-anak.

“Dengan cara itu, sekolahku dulu selalu berada di deretan sekolah favorit Mbak. Sebel sih karena koq caranya gitu banget,” kata si pengirim DM. Menurut dia, kualitas siswanya baru ketauan deh pas di SMA.

Di provinsi lain pun sama aja. Ada lho sekolah yang punya trik khusus.

“Pas zamanku, soal-soal UN-nya dikerjain sama guru lesnya dengan cara soal itu dikirim via SMS ke si guru (waktu itu belum ada ponsel) saat ujian berlangsung. Trus kalo udah dikerjain, jawabannya disebar ke yang kode soalnya sama. Lalu anak-anak yang pinter sebelum UN di-briefing dulu untuk bantuin temannya ngerjain soal UN,” kisah seseorang di provinsi X via DM ke gue.

Trus gimana kalo si anak pinter gak mau kasih contekan? Ya dimusuhin lah.

Ini bikin gue teringat kisah Alif dan ibunya, Siami,. Mereka dimusuhi bahkan diusir dari kampungnya karena mengadukan kasus contek-menyontek massal di sekolahnya 8 tahun lalu. Begitu pula dengan hasil survei Universitas Pendidikan Indonesia 5 tahun lalu yang bilang kecurangan UN banyak libatkan guru dan kepsek.

Saat ini, praktik-praktik kecurangan dalam UN tengah berusaha dikurangi, salah satunya dengan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Karena pake komputer, waktunya lebih terbatas, soalnya beda-beda, jadi Kemdikbud sih optimistis metode ini bakal mampu menurunkan angka kecurangan.

Tapi namanya orang Indonesia kan kreatif-kreatif ya di bidang yang salah. Tetep lho ada yang curang kayak gini. Weleh-weleh.

Jadi ya bener juga kata Mas Iqbal, anak-anak ini hanya diperlakukan sebagai aset yang dieksploitasi oleh industri pendidikan (sekolah, guru, kepsek, dll). Sedih, hiks 😦


e. Perkembangan UN

Saat ini, UN gak lagi jadi penentu kelulusan siswa. Bahkan untuk ikut SNMPTN nilai UN gak lagi jadi pertimbangan.

Sekarang, UN hanya bertujuan untuk melihat aspek kognitif siswa, yang berguna bagi Kemdikbud untuk memetakan sistem pendidikan nasional. Misalnya, kualitas dan kuantitas pendidikan terutama di wilayah luar Jawa.

Jadi, fungsi UN ini ya untuk penentuan kebijakan makro ya, alias menyeluruh di pemerintah pusat.

Nah dengan gitu seharusnya UN gak lagi disambut dengan histeria dan kehebohan luar biasa dong?

Oh tentu tidak Felguso! Karena bertahun-tahun pemikiran bahwa UN = penentu masa depan udah ketancep di ubun-ubun, ya syusyeh mengubah habit. Jadi ya persiapan dan pelaksanaan UN mah tetep heboh, tetep rusuh, tetep usaha 1000%.

Dan itulah penyebab kisruhnya sistem zonasi karena banyak yang gak terima.

“Anak saya udah rajin belajar sampe larut malam tiap hari untuk dapet nilai UN yang bagus, masa gak bisa masuk ke SMA favorit gara-gara sistem zonasi? Pemerintah gak bisa begitu dong, seenak udelnya!” kata beberapa DM yang masuk ke gue.

Oke untuk sistem zonasi, nanti dibahas di postingan berikut ya. Monmaap kalo ada salah-salah kata di postingan ini.

Kalo ada masukan atau koreksi, silakan komen ya. Adios!

10 thoughts on “Tentang Pendidikan: Ujian Nasional (2)

  1. Raaa, tulisan lo bagus pisan. Jelas, kritis dan terstruktur rapi. Gue jadi lebih punya bayangan kenapa si Ratih dan Rachel pusing bener mikirin nasib anak2 mereka. Kasihan banget anak2 jaman sekarang yang tuntutannya jauh lebih berat daripada jaman kita dulu ya? Gue jadi mikirin nasib si Lani dan Kai 😢 Semoga Nadira bisa tetep menikmati belajar dan sekolah tanpa stress yang berlebihan.

  2. iya jaman ebtanas dl mah ga kayak gini mba ira..saya pun kaget skali pas anak masuk sma unggulan kr dl dr smpn 199 dpn rmh,ada ibu yg crita,anaknya itu bljrnya bahkan dari jaman sd tp mgg ke Bogor dan udah sering ikut kompetisi,jd anak2 jkt yg ktm di bandara tahun lalu mau osn itu,dia bilang sebagian besar dia kenal kr teman2 anaknya di KPM Bogor itu..ini udah bs bedain KPm..kmrn ketukar mulu ma PKM..jd matematika itu penting bgt katanya jd nanti bs kemana mana gak mesti mtk… Dari kecil itu udah kayak gt lho…

  3. Dlu jaman saya SMA kunci jawaban UN didiktein sm gurunya loh mba. D suruh dtg jam 6 pagi ke sekolah buat briefing dan didiktein jwbn

  4. Pingback: Tentang Pendidikan: Sistem Zonasi (3) | The Sun is Getting High, We're Moving on

  5. Pingback: Tentang Pendidikan: Ambisi Ortu (4, selesai) | The Sun is Getting High, We're Moving on

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s