Separuh Jiwa

Dari kemarin, semua medsos, TV, maupun situs berita berisikan berita tentang meninggalnya Bu Ani Yudhoyono. Setelah masuk rumah sakit di NUH Singapore bulan Februari, akhirnya Bu Ani meninggal tepat di Hari Lahirnya Pancasila, 1 Juni 2019 akibat kanker darah.

Gue ofkors juga gak ketinggalan untuk bacain update berita seputar Bu Ani ini. Tapi baca dan nonton beritanya, gue malah gagal fokus ke respons Pak SBY sih yang keliatan patah hati hancur berkeping-keping banget dengan meninggalnya sang istri.

Gue ikutan mbrebes mili pas baca berita yang bilang bahwa “permohonan terakhir Pak SBY adalah mencium kening Bu Ani untuk terakhir kalinya setelah jenazah dimandikan. Dan permohonan itu diucapkannya berulang-ulang.”

πŸ˜₯

Belum lagi ngeliat foto Pak SBY pas Bu Ani baru aja meninggal. Keliatan banget beliau terpukul. Dan, dari update berita-berita terakhir, Pak SBY terus menerus menangis saat menerima para pelayat.

Reaksinya mirip sama waktu Pak Habibie kehilangan alm istrinya, Bu Ainun. Sama-sama terpukul karena kehilangan istri tercintanya. Makanya, sampe ada yang bikin komparasi film Up dan kisah cinta Pak SBY-Bu Ani segala :’)

Nah, pas gue sempet bikin Instastory tentang ini, banyaaakk DM yang masuk, cerita soal kisah ayah mereka saat ditinggal oleh almarhum ibu mereka. Salah satunya dari temen gue, Depoy, yang ibunya baru aja meninggal sekitar 5 bulan lalu.

Depoy cerita, awalnya dia gak nyangka sang ayah bakal bereaksi kayak Pak Habibie atau Pak SBY.

“Gue dulu liat Pak Habibie terpukul pas Bu Ainun meninggal terkagum-kagum, koq ada lelaki yang segitu cintanya sama istrinya. Tadinya gue pikir Pak Habibie itu cuma 1 di antara sejuta laki-laki. Tadinya gue pikir cinta kayak Pak Habibie ke Bu Ainun itu cuma khayalan. Eh ternyata bokap gue sendiri kayak gitu,” kata Depoy.

Sebab, ayah Depoy ini tipe yang gak ekspresif dengan perasaannya ke sang istri. Cenderung kaku malahan, persis kayak tipikal pria Indonesia pada umumnya lah. Gak pernah nangis, mandiri, bukannya yang manja-manja ke istrinya.

Nah pas alm ibunya masuk ICU, sang ayah berubah. Dia nungguin ibunya Depoy di depan ruang ICU dan gak mau pindah sama sekali dari situ. Bener-bener gak peduli sama dirinya sendiri yang penting bisa bareng sama istrinya.

Begitu ibunya Depoy meninggal, sosok ayah yang kaku, kuat, dan gak ekspresif langsung luluh lantak.

“Nyokap gue kan meninggal hari Jumat pagi ya Ra. Sampe sekarang, bokap pasti datengin makam nyokap tiap Jumat, gak pernah kelewat satu minggu pun. Dan bokap kuat tuh duduk di samping nyokap selama berjam-jam,” katanya.

Sampe sekarang, tiap cerita tentang alm sang istri, bokapnya Depoy masih terus mbrebes mili. Awalnya Depoy nyangka paling cuma 1 bulan lah kayak gini. Lah ini udah 5 bulan koq masih terus begitu.

“Gak cuma kondisi psikis aja yang drop, kondisi fisik juga ikut drop. Bahkan kemarin bokap sempet terserang stroke ringan segala. Sama dokter sampe dibecandain ‘Bapak stroke karena urusan pilpres ya?’. Hehehe.. Padahal bokap stroke gara-gara patah hati ditinggal istrinya meninggal,” kisah Depoy.

Makanya, begitu liat Pak SBY di TV yang wajahnya sampe sembab dan bolak-balik ngelap air mata, Depoy bilang, dia kayak ngeliat bapaknya sendiri yang begitu kehilangan sosok istrinya. “Nih bokap sampe sekarang kerjanya nontonin breaking news tentang Pak SBY dan Bu Ani,” katanya.

Jadi inget ada satu DM yang bilang gini:

Istri yang ditinggal suaminya itu ibarat kehilangan sebelah kakinya. Sementara suami yang ditinggal istrinya itu ibarat kehilangan separuh hidupnya.

No wonder banyak pria yang begitu istrinya meninggal, langsung terpukul, drop dan sakit-sakitan kayak bapaknya Depoy. Dan jadi PR untuk sanak keluarganya supaya sang bapak bisa kembali menjalani hidup dan gak terus-terusan begitu.

Tapi ya kondisi kayak gitu gak selalu sama sih. Banyak juga pria yang begitu istrinya sakit, malah merongrong karena gak dilayani. Trus bikin istrinya terpaksa merelakan sang suami nikah lagi karena merasa gak utuh sebagai perempuan yang tidak bisa melayani suaminya.

Padahal, di dalam hati sang istri tercabik-cabik banget karena sudah lah lagi sakit badan, eh sakit hati juga. Dan kondisi kayak gini biasanya menambah beban penyembuhan karena seperti kita ketahui, kondisi psikis seseorang itu membantu banget saat dia sakit. Kalo kondisi psikisnya ceria, proses penyembuhan akan lebih cepat, dan begitu pula sebaliknya.

Gue jadi inget status FB seorang aktivis kesehatan beberapa waktu lalu. Ini gue posting ya skrinsyutnya.

πŸ˜₯

Anyway, bagaimana pun kondisinya, kematian adalah sebuah hal yang gak bisa dihindari siapapun. Tinggal kitanya aja yang harus mampu mengelola emosi, psikis dan fisik untuk menghadapinya.

Sebab, konsekuensi terberat untuk kematian justru dirasakan oleh yang masih hidup. Gimana untuk move on dengan lubang besar di hati, dengan berjuta memori dan kebiasaan yang sulit tergantikan, dan kesedihan yang sulit dihapuskan. Kayak yang dibilang Albus Dumbledore ini nih.

Sekali lagi, turut berdukacita Pak SBY. Semoga almarhum Bu Ani diterima di sisi Allah SWT. Meski gak pernah kenal dekat, tapi kesedihan yang Bapak alami juga menular kepada saya dan mungkin seluruh rakyat Indonesia.

*hugs*

6 thoughts on “Separuh Jiwa

  1. akupun ikutan mewek waktu denger Bu Ani meninggal dan ngeliat foto-foto pak SBY saat nemenin almarhumah atau waktu ketemu sama yang ngelayat.

  2. Duh mba, saya jadi ikutan mewek lagi baca tulisan tentang bu Ani. Seperti Alm Ibu Ainun dulu, kisahnya serasa menjadi kisah kita semua ya. Dan memang saya udah lihat banyak suami yang ditinggal istrinya berpulang, mendadak limbung. Itulah kekuatan cinta. Saat sang penolong pergi, yang ditolong pasti kehilangan separuh jiwanya. Thanks for writing this mba. Salam kenal πŸ™‚

    • Hai Mbak, salam kenal juga πŸ™‚

      Iya bener, makanya istri yang ditinggal suami biasanya kuat melajang sampe akhir hayat. Tapi kalo suami yang ditinggal istri, jarang yang kuat karena limbung gitu ya 😦

  3. Hi Mba Ira,

    Saya jadi terkenang dengan ayah saya, seorang tentara yang tangguh, galak, dan bisa dikatakan melihatnya sedang serius saja terkesan seram.

    Ketika Ibu berpulang ke Rahmatullah lebih dulu pada tahun 1998 , ayah saya goyah, limbung, selalu menangis, apalagi saat melihat saya dan kakak saya tidur berpelukan, pecah tangis beliau. Betapa kesan galaknya luntur seiring perginya Ibu, dan setelahnya kemana – mana kami harus selalu bersama , hanya toilet yang memisahkan. Sampai akhir hayat ayah ketika wafat di tahun 2017, beliau tak pernah menikah lagi dan dulu saat diledek teman – temannya kenapa tidak menikah lagi ayah saya bilang ” kalau mau menikah dengan saya, maka harus mau berbagi kasih sayang dengan anak – anak saya juga ”

    Ketika memandang Pak SBY rapuh , saya mengerti dengan perasaannya dan hal tersebut tak kan pernah tergantikan dengan apapun.

    Note : haha.. ketika saya menulis ini tak sadar keran air mata bocor :’P

    • Aduh aku bacanya aja juga ikutan mbrebes mili Mbak :’)

      Hebat ih ayahnya, bener-bener gak mau menikah lagi hingga akhir hayat. Gak banyak lho Mbak laki2 yang bisa kayak gitu. Saluuutt!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s