Nadira Pentas di Penang (1)

Sekitar bulan Juni lalu, tiba-tiba gue dikirimi WhatsApp oleh Mbak Riena, pemilik Sanggar Rinari , tempat Nadira les nari tradisional sejak umur 5 tahun. Intinya, Mbak Riena kasitau bahwa ada tawaran untuk Nadira dan empat orang temannya dari sanggar itu untuk tampil di Penang, Malaysia. Tepatnya, di Universiti Sains Malaysia. Mereka akan tampil bareng 21 anak lain dari 2 sanggar berbeda di Jakarta.

Waktu itu gue bacanya dengan mixed feeling. Seneng dan bangga udah pasti. Tapi sebagai orang pesimis, gue juga khawatir ke-GR-an. Jadi gue keep deh kabar itu, cuma cerita ke suami aja.

Setelah dipastikan tanggal berapa berangkat, barulah gue cerita ke nyokap, bokap, mertua, adik dan ipar gue. Apalagi, untuk persiapan pentas itu, Nadira butuh latihan dan stamina yang kuat. Jadi gue kasitau keluarga itu dengan tujuan, kalo ada acara keluarga dan kami gak bisa dateng karena kudu anter Nadira latihan, ya monmaap qaqaaa πŸ˜€

Di pentas itu, Nadira dan empat temennya bawain dua tarian. Pertama, tari Lenso asal Minahasa Sulawesi Utara. Kedua, tari Pukat asal Aceh.

Untuk tari Lenso sih practically gak ada masalah ya. Soale, mereka latihan di sanggar Rinari tiap minggu, setelah latihan tari reguler. Tariannya juga cuma dilakukan berlima dan gerakannya relatif gak ribet. Plus, mereka berlima udah kenal lama banget jadi gabunginnya gancil lah.

*Nadira and her dance squad, hasil doodle tiap hari*

Nah yang rada bikin spaneng plus keringet dingin adalah tari Pukat. Sebab, untuk tarian ini, Nadira harus gabung dengan anak-anak lain dari 2 sanggar yang beda. Jadi, mereka harus kenalan dulu dan gabungin chemistry supaya kompak.

Selain itu, tariannya sendiri hadeehh complicated banget. Seperti tari Aceh lainnya kayak Ratoh Jaroe dan Saman, tari Pukat ini butuh kekompakan optimal karena gerakannya seragam dan berkesinambungan. Kalo ada yang salah satu, bisa salah semuanya.

Trus, tari Pukat ini menurut gue sih lebih ribet daripada tarian Aceh lain karena pake tali. Jadi tiap anak bawa tali trus dililitkan ke temen sebelahnya, begitu terus, bolak-balik. Di akhir tarian, tali itu diangkat dan kalo sakseis, akan membentuk simpul-simpul gitu.

Oh ya, mereka juga harus nari sambil nyanyi.

Lah kebayang kan, kompakin individu-individu aja susah, tari sesuai koreografi juga susah, eh kudu ngelilitin tali sambil nyanyi.

Rasanya gue mau semaput saking nervousnya tiap liat mereka latihan πŸ˜ͺπŸ˜ͺπŸ˜ͺ

Tapi pas komplain ke kakak-kakak pelatih, mereka selalu menenangkan.

“Tenang aja Mom, anak-anak itu hebat lho. Kami yakin mereka pasti bisa. Ini kan baru permulaan latihan,” begitu terus jawaban kakak-kakak pelatih kalo ibu-ibu, termasuk gue, komplain kenapa bocah-bocah disuruh nari yang ribet gitu.

Untuk persiapan pentas ini, anak-anak kudu latihan cukup intensif. Hari Sabtu siang latihan tari Lenso di sanggar Rinari di Cipinang. Sementara hari Minggu pagi latihan gabungan tari Pukat di sanggar Svadara Mampang. Bahkan, begitu udah tinggal 1-2 bulan sebelum hari H, latihannya ditambah jadi hari Rabu malam di Mampang.

Ibu-ibu dan bapak-bapaknya pun akrobat ngatur jadwal kerja, sekolah dan istirahat supaya gak ada yang tumbang karena kecapekan. Plus supaya pelajaran di sekolah juga gak amburadul banget gitu.

Dan jadwal kerja gue pun lagi padet-padetnya. Mana bertubi-tubi tugas ke luar negeri pula. Jadi bodi pun rasanya rontookk banget deh πŸ˜–

Duileh kebayang deh kalo jadi ortunya artis cilik itu gimana coba. Pasti lebih rempong yaaa…

Untunglah, gue liat anak-anak termasuk Nadira, pada hepi-hepi aja. Sempat beberapa kali gue tanya ke Nadira, apakah kecapekan atau gak, jawabnya selalu gak. Soale dia emang seneng nari. Trus, karena persiapan ini, dia jadi bisa lebih sering ketemu temen-temennya, plus dapet temen baru pula. Jadi bener-bener girang dia.

*nasib anak tunggal gak ada temen ya Nak hihihi*

*dasar bocah-bocah, mau gladi resik malah sibuk naik-naik ke atas rumah panggung Saung Kuntilanak*

Oh ya, seminggu sebelum ke Penang, dibikin pentas gelar pamit. Artinya, pentas ini didedikasikan untuk para sponsor dan keluarga serta kerabat yang gak bisa nonton pementasan di Penang nanti.

Meski terkesan sebagai “pentas pemanasan sebelum ke Penang”, pentas gelar pamit ini dikemas secara serius. Acaranya dibikin di Teater Miss Tjitjih Cempaka Putih sana. Trus anak-anak wajib mandiri karena di Penang nanti, gue dan para ortu lain dilarang bantuin.

Jadi di pentas gelar pamit ini anak-anak harus bisa ngurusin baju dan kostumnya sendiri, juga ganti kostum di belakang panggung sendiri. Ada sih yang bantuin tapi cuma beberapa orang aja, sementara pementasan harus tetap running.

Alhasil pas pentas dimulai, gue jadi mules, hahaha. Apalagi pas bagian tari Pukat. Haduuhh qu deg-degan abis! Takut ada yang nyangkut lah, kelilit lah, simpulnya gak jadi lah.

Emang ada sih insiden kecil di tengah tarian. Tapi alhamdulillah gak berpengaruh banyak pada ending-nya. Makanya salut abis sama bocah-bocah kecil itu.

Abis kelas gelar pamit, kita pun siap-siap untuk ke Penang. Ceritanya disambung di post selanjutnya ya supaya gak kepanjangan πŸ™‚

Advertisements

3 thoughts on “Nadira Pentas di Penang (1)

  1. Pingback: Nadira Pentas di Penang (2) | The Sun is Getting High, We're Moving on

  2. Pingback: Review Ristra, Skincare Lokal yang Gak Kalah Ciamik | The Sun is Getting High, We're Moving on

  3. Pingback: Kaleidoskop 2018 | The Sun is Getting High, We're Moving on

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s