Q&A Stunting dan MPASI bersama dr Meta (part 2)

Udah baca posting-an pertama? Nah sekarang kita lanjut ya ke bagian berikutnya ya.

Kali ini, gue bertanya tentang MPASI Rumahan VS MPASI pabrikan (instant/kemasan). Plus gue minta saran ke Mbakdok Meta tentang apa sih yang harus dilakukan sebagai seorang ortu? Kudu dengerin yang mana nih, gank DSA, WHO, dan IDAI atau gank buibuk kekinian?

Silakan simak di bawah ini!


7. Di FGD stunting kemarin, pihak BPOM sempat menyatakan bahwa makanan pabrikan sesungguhnya lebih jelas standarnya ketimbang makanan siap saji (makanan yang dimasak di rumah, restoran, kaki lima, dll).
Aku lihat di IG story Dokter juga disebutkan bahwa MPASI pabrikan itu rata-rata lebih memenuhi kebutuhan gizi anak karena komposisinya jelas dan sesuai dengan kriteria dan standardisasi lembaga kesehatan. Bahkan hasil penelitian menyebutkan bahwa anak-anak yang diberi MPASI pabrikan lebih rendah angka stunting-nya dibandingkan dengan anak-anak yang diberikan MPASI rumahan.
Boleh dielaborasi lebih lanjut kah? Soale di kepalaku dulu (and mostly other moms), MPASI pabrikan itu gak bener, gak sehat, pokoke haram lah hahaha..

Pilihan MPASI yang terbaik adalah MPASI rumahan buatan sendiri selama memenuhi kebutuhan nutrisi berupa zat gizi makro (karbohidrat, lemak, protein) dan mikro (vitamin dan mineral). Ingat, tujuan pemberian MPASI bukan hanya sekadar belajar makan, tapi juga memenuhi kebutuhan nutrisi. Pada usia 6-8 bulan, MPASI memenuhi 30% kebutuhan nutrisi bayi (sisanya ASI), 9-11 bulan 50%. Di atas 12 bulan 70%.

Salah satu zat gizi mikro yang penting adalah zat besi. Masalahnya, untuk memenuhi kebutuhan zat besi anak 6 bulan, ia harus makan cukup banyak. Misalnya 85 gram hati ayam atau 385 gram daging sapi, atau sekitar 400 gram daging bebek.

Namanya baru belajar makan ya, kadang bayi masih belum mampu makan sedemikian banyaknya. Belum lagi kapasitas lambung bayi masih kecil. Engga semua tentu, karena ada kok bayi yang baru makan sudah bisa makan 85 gram hati ayam dalam sehari misalnya. Tapi ada juga yang belum bisa. Nah terus bagaimana? Kan engga bisa juga dipaksa jejelin? Ada alternatifnya, pilihan kedua adalah MPASI yang terfortifikasi.

Banyak issue mengenai MPASI terfortifikasi ini, mulai dari pengawet, perasa buatan, bahan berbahaya dsb dsb. Kembali lagi nih, sebagai tenaga profesional yang kompeten kan IDAI wajib memberikan data dan informasi valid yang ilmiah, makanya kesalahkaprahan ini harus diluruskan. Semua produk MPASI yang dijual di pasaran harus memenuhi uji dari BPOM dan harus mengikuti aturan Codex Alimentarius dari WHO. Di dalam aturan tersebut jelas disebut, tidak boleh mengandung pengawet, perasa buatan atau bahan yang berbahaya.

MPASI pabrikan bisa awet karena teknik freeze dry, pengeringan sehingga kadar airnya rendah dan bisa awet. Bukan karena pengawet. Boleh dicek Standar Nasional Indonesia (yang merujuk Codex Alimentarius WHO) di sini.

8. Aku perhatikan, di era digital ini, arus informasi kan deras sekali ya. Banyak positifnya tapi banyak juga yang membingungkan, apalagi jika terkait dengan kesehatan anak. Padahal kalo kita ambil info yang salah, efeknya bisa membahayakan anak.
Contohnya ya soal MPASI ini aja lah. Ada metode MPASI tunggal, baby led weaning (BLW), responsive feeding (RF), etc. Dokter anak dan lembaga kesehatan secara jelas kasih panduan A-Z yang direkomendasikan. Tapi banyak “pakar” medsos yang suggest hal-hal yang kerap bertolak belakang dengan saran dokter.
Menurut Dokter, what should we do as parents? Harus percaya yang mana?
(Aku kan juga jadi salah satu yang lebih percaya dengan milis ketimbang DSA, dan sekarang nyeselnya sampe ubun-ubun ya Allah πŸ˜₯ )
Aku tuh sering bolak-balik share di iGS satu hadits yang menurutku sangat relatable.

Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya.

Bukan cuma soal kesehatan sih ya ini berlaku buat semua. Punya rumah bukan berarti jadi ahli teknik bangunan kan? Punya mobil bukan berarti jadi ahli teknik mesin. Samalah dengan punya anak bukan berarti jadi ahli soal kesehatan anak πŸ˜€
Yang namanya ilmu, bisa dipelajari siapapun οƒ betul. Tapi ingat juga, bahwa ahlinya tentu akan selalu lebih update dan paham karena yaa memang tugasnya sehari-hari di lingkup tersebut.
Akutu suka bingung ya. Kalau mobil mogok, kok ga pernah ada yang nanya di sosmed β€œEh, saran dong mobilku harus diapain?”. Pasti langsung cuuus benerin ke bengkel. Tapi kalau soal kesehatan anak, kenapa ya banyak bgt yang menyerahkan ke sosmed?


9. Apa saran Dokter untuk ibu-ibu yang sedang hamil dan punya bayi untuk menghindari stunting? Prioritas apa sih yang harus dilakukan?

Yang pertama, tentu cari informasi valid sebanyak-banyaknya. Perbaiki nutrisi ibu hamil, jangan lupa suplementasi selama kehamilan yang penting (boleh tanyakan ke dokter kandungan atau bidan yaa). Yang punya bayi, usahakan untuk melakukan IMD, ASI eksklusif, MPASI yang berkualitas dan seimbang, imunisasi, vitamin A, juga perilaku hidup bersih dan sehat. Satu lagi, jangan lupa rajin-rajin menimbang dan mengukur berat, tinggi, lingkar kepala bayi secara rutin supaya jika ada gangguan, bisa segera terdeteksi.

10. Lalu, apa saran Dokter untuk ibu-ibu yang keukeuh menentang rekomendasi WHO dan IDAI? Apa cukup didoakan aja? πŸ˜€

Pada dasarnya, baik WHO ataupun IDAI hanya bisa merekomendasikan atau menganjurkan. Semua pilihan akan kembali 100% ke orang tua. Ini berlaku buat apapun sih yaa,mulai imunisasi, metode MPASI, jenis MPASI dll. Tapiiii, menurutku nih, semua orang tua berhak mendapatkan fakta dan informasi yang benar secara ilmiah sebelum memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan anak.

Di dunia medis, bukti ilmiah atau EBM itu penting banget. Karena kalau hanya berdasar opini, testimoni, pengalaman pribadi, pengalaman tetangga, apalagi berdasar β€œkatanya”, tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Mirip dukun gitu ye πŸ˜› Rekomendasi dikeluarkan pun tentu tidak asal-asalan, harus berdasarkan riset, dan tentu EBM yang valid.

Nah terus bagaimana buat orangtua yang engga tahu bagaimana mencari EBM ini? Mungkin karena keterbatasan bahasa, biaya (karena akses jurnal ilmiah itu seringkali berbayar, mahal pula pakai dolar), atau emang engga ngeh sama sekali dengan istilah medis.

WHO atau IDAI sebagai profesional yang kompeten bertugas memaparkan kesemua fakta dan info ini yang berdasarkan EBM. Misalnya nih soal metode pemberian MPASI. IDAI dan WHO merekomendasikan RF dan bukannya BLW (dengan segala EBM yang mendukung). Selama orangtua sudah membaca dengan berimbang disertai EBM, kemudian memutuskan untuk tidak mengikuti rekomendasi tsb dengan segala konsekuensinya, yaa silakan saja.

11. Terakhir ya Dok. Gimana sih caranya supaya bisa tetap sabar menghadapi bully-an netyjen? Aku bacainnya sampe terharu sambil GMZ hahaha.

Hahahaha. Namanya manusia ya, pastilah ada KZL-nya. Sering banget tuh di awal-awal bikin instastory kepikiran, gile yee, ngapain gue susah2 sharing bikin beginian. #LELAHHAYATI.

FYI, setiap bikin instastory atau sharing IG live, aku tuh nyiapinnya lamaaa, karena harus ngereview jurnal ilmiah sedemikian banyaknya (dan dianalisis satu-satu), terus menyimpulkan bagaimana EBM-nya, sampai milih-milih meme atau animasi yang pas supaya lebih ringan dan menarik untuk awam (karena aku tau bahasan beginian yang penuh istilah medis kadang bikin males bacanya. Jadilah aku cari cara supaya orang awam ga bosen bacanya dan menarik).

Dan ini semua kulakukan di sela-sela padatnya aktivitasku sendiri, TANPA keuntungan apa-apa sebenarnya. Ga ada sponsor, ga ada endorse (emang ga nerima juga sih buat menghindari segala bentuk conflict of interest). Kalau mau itung-itungan, malah rugi waktu, tenaga, finansial juga πŸ˜€ Ehhh, masih aja dibully #YaAllahAmpuniHamba πŸ˜†

Tapi kembali lagi, meluruskan niatnya. Aku emang berniat sharing ini untuk mengedukasi masyarakat. Ingin sekali meluruskan apa-apa yang sudah populer tapi tidak sesuai dengan ilmu yang kupelajari berdasarkan EBM dan ilmiah. Harapannya cuma supaya Indonesia kelak bisa #BHAYSTUNTING, dan semoga apa yang aku share ini berguna buat orang banyak, kelak bisa jadi amal jariyah yang tak terputus.

Jadiii, kalau ada yang bully, terus akunyah terpancing emozi jiwa, yaaah ilang deh pahalanya. Jadi rugi buat aku. Udah capek, maunya beramal, malah bikin dosa baru. Lagian, akhirnya jadi win-win solution buat aku juga kok. Buat netizen yang merasa sharinganku bermanfaat, alhamdulillah bisa jadi amal jariyah buatku, Buat netijen yang ngebully, insyaAllah kalau aku sabar, bisa jadi penggugur dosa-dosaku. AAMMIIIINNNNNNN!!!!

Yak, sekian ya Q&A dengan Mbakdok Meta Hanindita kali ini. Gimana, masih ada yang terlewat gak?

Kalo mau lebih lengkap seputar gizi anak, MPASI, dst, silakan follow Instagramnya Mbakdok Meta ya. Dia sering lho share tema-tema seputar gizi anak, sebagian bahkan udah ditaro di Highlight di profilnya.

Inget ya bukibuk, cari ilmu sendiri itu bagus. Aseli bagus banget koq karena emang gue hobinya gitu. Tapi, yang dijadiin patron ya tetap yang ahlinya dong. Apalagi untuk urusan anak. Salah langkah sekarang, nyeselnya bakal bertahun-tahun ke depan 😦

*curhat sis*

Semoga anak-anak kita semua selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan dan perlindungan dari Tuhan ya. Amin!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s