Q&A Stunting dan MPASI bersama dr Meta (part 1)

Beberapa hari lalu, gue ikut FGD (focus group discussion) tentang stunting. Yang jadi narasumber adalah pihak-pihak dari lintas sektoral mulai dari Kementerian Kesehatan, Bappenas, BKKBN, Kementerian Desa sampai pakar kebijakan publik. Soale, stunting ini emang lagi jadi fokus pemerintah banget.

Kenapa?

Stunting bisa bikin masa depan bangsa suram bener. Sebab, anak stunting gak hanya pendek tubuhnya, tapi rendah IQ-nya dan berpotensi terkena aneka penyakit karena organ tubuh yang kurang berkembang.

Yang bikin lebih sedih, stunting itu ternyata bukan hanya diderita oleh orang dari ekonomi bawah. Sekitar 29% anak dari golongan kaya juga kena stunting lho. Menurut dr Damayanti yang menjadi salah satu pembicara, anak-anak dari keluarga mampu ini biasanya kena stunting karena ASI dan MPASI yang tidak adekuat alias cukup. Sebab, 80% anak itu lahirnya normal koq.

Pas dijabarin MPASI yang kayak gimana yang bagus dan cukup gizinya, gue berasa ditamparin bolak-balik sama Khabib Nurmagomedov deh πŸ˜₯

Ya Allaaahh… I did so many things wrong to Nadira when she’s still a baby. Gue dulu gak mau percaya sama DSA, lebih percaya sama milis, komunitas dan Mbah Gugel. Makanya MPASI yang gue pilih yaaa yang heits pada zamannya saat itu.

Aselik sepanjang FGD gue jadi pingin nangis dan rasanya pingin muter balik waktu deh. Ya emang sih Nadira sekarang Alhamdulillah gak kekurangan suatu apapun. Tapi kan kalo gue gak sotoy, mungkin Nadira akan lebih bagus ya. Yah at least, dia gak bakal se-picky eater sekarang deh.

(Rata-rata buibuk yang kasih anaknya MPASI tunggal kayak gue dulu emang pada bilang anak-anaknya picky eater semua. Hiks.)

Anyway, gara-gara share soal stunting di IG, gue jadi tau dr Meta Hanindita yang ternyata anak didiknya dr Damayanti. Di Instagram dan blognya, Mbakdok Meta ini sering share tentang kesehatan anak, termasuk stunting dan MPASI. Dia juga punya beberapa buku tentang ibu dan anak. Pokoknya, heits banget lah!

Oh ya, dia juga sering di-bully sama buibuk netyjen aliran naturalis (kayak gue dulu gitu deh). Sebab, mereka ngerasa Mbakdok ini sok paling bener dan sering memojokkan mereka. Padahal sepanjang yang gue baca, Mbakdok hanya memaparkan jurnal-jurnal ilmiah sih ya.

Nah, gara-gara itu, gue pun ingin bikin sesi Q&A sama dr Meta. Tema kali ini tentang stunting dan MPASI ya. Mudah-mudahan bisa sedikit membantu mencerahkan gue dan kita semua.

Yuk kita mulai!


1. Mbak Dok, sekarang kan pemerintah lagi gencar banget kampanye menurunkan angka stunting yang tergolong tinggi. Boleh dijelaskan gak sih, stunting itu apa?

Stunting adalah perawakan pendek (tinggi badan di bawah minus 2 standar deviasi pada kurva pertumbuhan WHO) yang disebabkan karena malnutrisi kronis atau berkepanjangan, juga infeksi berulang. Secara kasat mata, anak stunting ini lebih pendek dibandingkan anak seumuran dengan jenis kelamin yang sama.

Tapi, stunting ini tak hanya sekadar pendek. Stunting memiliki beberapa dampak jangka panjang (setelah anak remaja bahkan dewasa), termasuk menurunnya kemampuan kognitif, IQ dan perkembangan fisik, berkurangnya kapasitas kerja, serta menurunnya kekebalan tubuh seseorang. Risiko penyakit degeneratif seperti diabetes ataupun stroke juga meningkat pada mereka yang stunting.

Ada penelitian jangka panjang di Guatemala yang mengikuti anak-anak stunting saat dewasa. Ternyata, mereka yang stunting waktu berusia 2 tahun memiliki pendapatan per kapita lebih rendah, dan lebih tinggi probabilitas kemiskinannya dibanding dengan mereka yang waktu 2 tahun tidak stunting. Mereka yang stunting saat 2 tahun juga ternyata lebih cepat putus sekolah, dan lebih rendah nilai performanya dibandingkan yang tidak stunting.

(penelitiannya kalau mau baca ada di sini)

Makanya nih dibilang stunting ini adalah β€œbeban” negara di masa depan. Kalau 1 dari 3 anak di Indonesia saat ini stunting, bisa dibayangkan engga saat kelak mereka dewasa? Padahal mereka-mereka inilah generasi penerus bangsa kita 😦

(Karena pernah denger nih, ada orangtua yang bilang β€œAaahh gpp stunting juga. Anak saya ga pengin jadi model kok, atau pilot. Yang penting pinter kayak pak Habibie.”. Eittts, pertanyaannya, kata siapa pak Habibie stunting? πŸ™‚ Lagipula, sekali lagi, stunting lebih dari hanya sekadar pendek.)

2. Selama ini, program-program pemerintah untuk menurunkan angka stunting fokusnya kan pada masyarakat miskin yang populasinya banyak di pedesaan. Alhasil, stunting itu identik dengan “penyakit orang miskin di daerah terpencil.”
Nah dari FGD kemarin, aku dapet data bahwa sekitar 29% anak stunting justru berasal dari golongan kaya/mampu. Waw sungguh agak bikin shock sih Dok. Apa sih yang bikin anak2 dari keluarga kaya/mampu ini sampe kena stunting? Apalagi menurut dr Damayanti, 80% anak sebenarnya lahir dalam kondisi normal. Berarti ada yang salah dengan proses tata laksana makanan mereka dong (ASI/sufor dan MPASI)?

Betul mbak. Biasanya stunting pada kalangan mampu ini terjadi karena penyakit atau karena pola asuh. Misalnya tidak ASI eksklusif, atau tidak tepatnya praktek pemberian MPASI.

3. Menurut dr Damayanti, stunting itu bisa diatasi dengan memberi makanan berupa protein, terutama prohe, sebagai MPASI sejak usia 6 bulan. Kira-kira menu seperti apa sih Dok yang disarankan?

Betul. WHO merekomendasikan 7 kelompok makanan yang penting untuk tumbuh kembang anak. Sumber karbo (akar/umbi/batang), protein hewani (daging/ayam/ikan), protein nabati (kacang-kacangan), telur, produk susu dan turunannya (keju, yoghurt), sayur dan buah yang mengandung vit A, sayur dan buah lainnya. Harus ada minimal 4 kelompok dari 7 kelompok ini. 4 kelompok yang dimaksud οƒ  1 kelompok karbohidrat, 1 kelompok protein hewani, 1 kelompok buah dan sayur.

Jadi, setiap hari harus ada memang protein hewaninya. Tapi bukan hanya protein hewani ya, karena kalau asupan energi kurang, protein yang ada akan dipakai untuk sumber energi bukan untuk tumbuh. Makanya penting banget nih makanan mengandung nutrisi yang seimbang. Harus ada karbohidrat, lemak (contohnya santan atau minyak), protein juga mikronutrien (vitamin dan mineral).

4.Nah saran di no 3 tadi “bertentangan” banget dengan saran-saran dan rekomendasi aneka milis dan “pakar” di medsos. Rata-rata kan menyarankan MPASI berupa menu tunggal yang berasal dari sayuran dan buah-buahan. Itu gimana menurut Dokter?

Penelitian menunjukkan bahwa anak stunting ternyata level asam amino esensialnya rendah.

(Link penelitian di sini ya)

Asam amino esensial ini adalah asam amino yang engga bisa diciptakan sendiri oleh tubuh, sehingga sumbernya harus dari makanan. Banyak makanan yang mengandung AAE, tapi makanan yang mengandung AAE paling lengkap hanyalah protein hewani.

Sayur dan buah tidak mengandung AAE selengkap protein hewani. Selain itu, sayur dan buah tidak mengandung zat besi yang cukup untuk mencukupi kebutuhan anak. Sayur dan buah juga kandungan seratnya tinggi. Padahal, serat tinggi = mengenyangkan. Kapasitas lambung bayi masih kecil sehingga bayi tidak bisa makan makanan lain yang justru dibutuhkan. Bayi tidak membutuhkan serat yang tinggi. Akibatnya, stunting deh πŸ˜€

5. Selain menu MPASI tunggal yang hits sejak 9-10 tahun lalu (pas generasi anakku nih), yang sekarang lagi hits banget adalah metode BLW. Sepengetahuanku, metode ini tidak disarankan oleh WHO. Bahkan dalam video IDAI yang Dokter post di Instagram, disebutkan bahwa BLW bisa menyebabkan stunting. Boleh dijelasin lebih lanjut gak Dok tentang ini?

Syarat MPASI yang baik menurut WHO adalah tepat waktu, adekuat, aman dan diberikan dengan cara yang benar. Diberikan dengan cara yang benar ini maksudnya dengan responsive feeding.

Definisi responsive feeding adalah: (Sengaja copas langsung dari guideline WHO)

  • a) feed infants directly (baca:suapi) and assist older children when they feed themselves, being sensitive to their hunger and satiety cues;
  • b) feed slowly and patiently, and encourage children to eat, but do not force them;
  • c) if children refuse many foods,experiment with different food combinations, tastes, textures and methods of encouragement;
  • d) minimize distractions during meals if the child loses interest easily;
  • e) remember that feeding times are periods of learning and love – talk to children during feeding, with eye to eye contact.

Sementara definsi BLW (sengaja screenshot langsung dari buku BLW milik Gill Rapley, biar engga salah interpretasi):

Bisa dilihat ya, perbedaan mendasar kedua metode ini adalah:

  1. Di RF, bayi disuapi saat awal makan dan masih kecil, namun didorong untuk makan sendiri saat berusia lebih besar. Sementara di BLW, bayi dibiarkan makan sendiri sejak awal, dan tidak disuapi.
  2. Di RF, makanan yang diberikan teksturnya naik. Dimulai dari tekstur halus cukup kental, ditingkatkan perlahan hingga makanan dapat dipegang tangan. Sementara di BLW, makanan yang diberikan sejak awal harus merupakan finger foods, dan tidak dalam bentuk bubur, puree atau makanan lumat.

Mengingatkan kembali salah satu syarat MPASI yang baik menurut WHO adalah adekuat alias mencukupi kebutuhan anak, tak hanya makronutrien tapi mikronutrien, termasuk zat besi. Pada BLW makanan yang pertama kali diberikan adalah finger food seperti potongan wortel, potongan kentang, potongan brokoli, dan sejenisnya. Ini saya googling BLW foods, yang keluar sayur kukus seperti ini.

Coba deh sekarang dihitung yaa. Contoh nih, anak laki-laki 6 bulan dengan berat 7 kg memiliki kebutuhan energi sebanyak 770 kkal dan zat besi 11 mg/hari. Seandainya pada saat BLW diberikan makan 3x/hari berupa potongan kentang kukus, potongan brokoli kukus dan potongan wortel kukus.

Kebutuhan energi anak 770 kkal
Tercukupi dari ASI 539 kkal
—————————————————— –
Yang harus tercukupi dari MPASI 231 kkal

30 gram baby carrot mengandung 10,5 kkal energi dan 0.1 mg zat besi, sementara 30 gram kentang kukus mengandung 14.6 kkal energi dan 0.1 mg zat besi, 30 gram brokoli kukus mengandung 10,5 kkal energi dan 0.2 mg zat besi. Seandainya dalam sehari bayi diberikan 3x MPASI dengan baby carrot (ini bahasa Indonesianya apa sih? πŸ˜€ ) kukus, kentang kukus dan brokoli kukus , maka:

Energi yang tercukupi = (3×10,5kkal) + (3×14,6 kkal) + (3×10.5 kkal) = 108.8 kkal

Zat besi yang tercukupi = (3×0.1 mg) + (3×0.1 mg) + (3×0.2 mg) = 1.2 mg

Tidak tercukupi semua ya kebutuhannya? Padahal ini baru ngomongin soal kecukupan energi dan zat besi lho, belum protein, lemak, vitamin dll.

Sekarang seandainya makanan yang diberikan berupa risoles atau makanan yang mengandung karbohidrat, protein hewani, protein nabati, tapi sesuai dengan definisi BLW, berupa finger foods.

Ada kentangnya, wortel, daging ayam, kacang hijau begitu yaa. Mungkin saja energinya tercukupi. Tapi, untuk memenuhi zat besi, jangan lupa, jumlahnya pun harus mencukupi. Untuk memenuhi kebutuhan zat besi bayi 6 bulan, dalam sehari, ia perlu mengkonsumsi 385 gram daging sapi atau 85 gram hati ayam. Sering kali hal ini tidak dapat terlaksana karena kapasitas lambung bayi masih kecil dan kemampuan makannya belum sempurna.

Sekarang ngomongin soal kemampuan makan ya. Sebetulnya WHO memiliki alasan ilmiah kenapa sih kok MPASI harus dimulai dari yang halus teksturnya kemudian pelan-pelan dinaikkan? Hal ini disesuaikan dengan kemampuan makan bayi.

Coba dilihat deh, perkembangan bayi sehat yang normal, pada umumnya, mulai usia 4-7 bulan, seorang anak baru bisa memutar lidah atas dan bawah untuk “mengambil”makanan dari sendok saat makan, menggerakkan lidah ke atas dan bawah, serta menelan makanan semi-solid alias lunak tanpa tersedak. Pemberian finger food baru dapat dilakukan setelah anak berusia 8 bulan karena pada saat itu rahang anak mulai dapat bergerak ke atas dan ke bawah secara berulang untuk mengunyah.

Kesimpulannya, pemberian finger food sebaiknya dilakukan di usia 8 bulan ke atas dan bukannya saat masih 6 bulan. Kemampuan oromotorik anak belum siap. Yaa bisa saja sih dipaksakan, tapi ada risikonya. Bayi pastinya akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk memanipulasi makanan tekstur padat untuk dapat mengunyahnya sampai menjadi partikel yang lebih kecil untuk ditelan. Akibatnya bayi lebih cenderung memakan makanan dalam jumlah yang lebih sedikit dari seharusnya, sehingga risiko gagal tumbuh jadi lebih tinggi. Selain itu, ada penelitian ilmiah yang menunjukkan pada BLW meningkatkan risiko tersedak.

6. Apa sih bahaya dan manfaat BLW? Lalu kenapa ya dia bisa populer? Apakah karena banyak selebriti yang mengendorse-nya? Dan aku lihat, sepertinya banyak salah kaprah yang bilang bahwa anak mereka BLW tapi sebenarnya cuma RF ya?

Sebetulnya di buku BLW, penulisnya propose banyak manfaat BLW, seperti kelak anak jadi lebih tidak picky eater, lebih tidak obesitas, lebih enjoy, dll. Sayangnya, ini semua tidak terbukti secara ilmiah (Secara ilmiah yaa sekali lagi, jadi bukan berdasarkan pengalaman atau opini atau testimoni). Yang terbukti secara ilmiah ya, pada orangtua yang anaknya BLW, ternyata lebih rendah tingkat kecemasannya dibanding yang tidak BLW.

Nah, iya betul. Banyak orangtua yang bilang BLW tapi makannya bubur instan. Atau bilangnya BLW tapi ternyata masih dikombinasi dengan disuapi. Coba kita baca definisi BLW menurut Gill Rapley di sini.

Bahkan pencipta konsepnya sendiri yang bilang kalau kombinasi artinya bukan BLW πŸ˜€

Tapi, boleh engga misalnya dari 6 bulan disuapi dengan bubur, kemudian usia 9 bulan baru BLW? Benar-benar makan sendiri finger foods tanpa disuapi?

Boleh menurut Gill Rapley. Tapi konteksnya bukan full BLW. Lagipula, kalau demikian, apa bedanya dengan RF? Kan sama ya, definisinya RF, menyuapi langsung bayi dengan bubur saat awal MPASI, kemudian mendorong bayi untuk makan sendiri di usia yang lebih besar (sekitar 8 bulan ke atas). Sama engga? Hehehe.

Segitu dulu ya yang gue posting karena kalo semuanya, bakal puanjaaangg banget.

Tentang MPASI Rumahan VS MPASI pabrik, saran untuk orang tua dan rahasia dr Meta bisa sabaaarr banget di-bully para “pakar” medsos, gue posting di blogpost selanjutnya ya. Supaya bacanya enak gitu πŸ™‚

Advertisements

4 thoughts on “Q&A Stunting dan MPASI bersama dr Meta (part 1)

  1. Pingback: Q&A Stunting dan MPASI bersama dr Meta (part 2) | The Sun is Getting High, We're Moving on

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s