The Best Job in the World

Topik yang gak pernah abis-abisnya jadi kontroversi (selain bakpao di dahinya SN), adalah tentang working mom (WM) VS stay at home mom (SAHM). Dari berbagai angle udah dibahas. Bahkan sebutan pun sempet dikomplen. SAHM gak terima kalo disebut begitu, karena seolah-olah mereka gak kerja. Pun begitu dengan WM. Sampe ada revisi istilah macem-macem. Ribet deh pokoknya.

Gue sendiri adalah seorang WM. Sempet sih ngejajal jadi SAHM, tapi cuma pas cuti melahirkan doang πŸ˜€ Setelah itu, kerja kerja kerja mulu deh. Ya tentunya sambil berusaha balancing sama tugas jadi ibu.

Susah gak? Ya gitu deh kira-kira. Yang bisa dipastikan adalah, support system mumpuni is a must. Makanya, sampe ada pameo yang bilang gini “Di balik seorang pria sukses, ada wanita hebat di belakangnya. Sementara di belakang wanita sukses, ada ART, nanny, supir, dst.”

Anyway, gue gak mau bahas soal itu sih. Di posting-an ini gue mau fokus ke urusan anak. Jadi, gue punya beberapa orang temen yang memutuskan untuk jadi SAHM setelah punya anak. Tujuannya, mereka mau fokus mengurus anak. Padahal, posisi karier yang mereka tinggalkan bukan yang entry level lho. Boleh dibilang, mereka udah cukup mapan di jabatan masing-masing.

Dan hasilnya, warbiyasak sih. Salah satu yang bisa gue contohkan adalah Mbak Nita. Dia ini kakaknya ex temen kantor gue, Mbak Nuke. Menurut cerita Mbak Nuke, Mbak Nita ini dulunya kerja di sebuah bank swasta dengan jabatan terakhir di posisi manajer cmiiw

Begitu menikah, dia memutuskan resign. Demi dapet anak, dia rela jadi SAHM deh.

Singkat cerita, dia punya 2 orang anak, perempuan bernama Jo dan laki-laki bernama Nicho. Mbak Nita ini telaten dan berdedikasi tinggi dalam mengarahkan bakat dan talenta anak-anaknya. Saat ini, Jo dan Nicho jadi atlet renang andalan di Kabupaten Bogor. Mereka bahkan bisa masuk sekolah negeri tanpa tes karena prestasinya di bidang renang. Dua anak itu juga sering bertanding ke berbagai daerah mewakili Bogor.

Selain itu, Jo dan Nicho juga jagoan musik. Keduanya langganan juara lomba piano tingkat regional, provinsi maupun nasional. Kemarin gue sempet ngobrol sama guru les pianonya Nadira, Kak Robin. Pas gue cerita tentang Jo, dia langsung tahu yang mana anaknya. Sebab, di sebuah lomba piano Jabodetabek, Kak Robin menyaksikan sendiri permainan piano Jo yang menurut dia luar biasa. Dan Kak Robin pun menyemangati Nadira untuk bisa sehebat Jo.

Oke, Jo dan Nicho emang talented. Tapi gue super duper kagum sama ibu mereka. Setelah resign, Mbak Nita mengorbankan ambisi dan kesenangan pribadinya demi anak-anaknya. Dulu biasa punya uang sendiri, sekarang harus bergantung pada suami. Trus harus pandai mengatur keuangan pula supaya bisa bayar uang les macem-macem yang gak murah itu.

Kemana-mana, Mbak Nita anter anak-anaknya les dan latihan dengan naik motor. Pernah gue baca curhatnya di FB tentang panitia yang underestimate dia dan anaknya di sebuah acara karena penampilan mereka gak “wah”. Soale, mereka ke lokasi acara harus naik transportasi umum, yang umpel-umpelan dan panas. Beda dengan peserta lain yang diantar naik mobil pribadi. Di akhir lomba, malah anaknya Mbak Nita yang jadi juara, mengalahkan peserta-peserta lain yang tampilannya “wah”.

Tiap baca status dan curhat Mbak Nita di FB dan IG tentang anak-anaknya, gue selalu ikutan bangga dan kaguumm banget. Trus jadi inget iklan P&G di Olimpiade London tahun 2012 lalu. Intinya ambil angle tentang “behind every great athletes, there’s always a mom” dengan tagline “The hardest job in the world, is the best job in the world. Thank you Mom.”

Tiap nonton itu, bawaannya pengen ambil tisu. Terhura soale :’)

Dengan segala keterbatasan yang gue miliki, gue berusaha melakukan hal yang sama ke Nadira. Saat ini Nadira ikut les piano dan tari daerah. Gue berusaha banget melawan rasa males dan capek untuk anter Nadira les. Apalagi lesnya di wiken pula, saatnya leyeh-leyeh kan tuh. Untunglah, suami gue hands on dad banget. Jadi kami berdua bisa berbagi tugas untuk anterin Nadira ikut aktivitas-aktivitas itu.

Kadang gue mikir, saat ini prestasi Nadira kan masih tergolong biasa-biasa aja. Les aja kadang suka di-skip gara-gara gue kecapekan, bapaknya gak sempet anter, atau lainnya. Apa mungkin prestasi biasa itu karena gue yang masih setengah-setengah bagi waktu ke dia ya? Apakah gue harus resign supaya benar-benar bisa full mendedikasikan waktu, tenaga dan pikiran untuk masa depannya?

Tapi gue sadar diri, kalo gue di rumah, gue bakal jadi stres, marah-marah dan depresi. Yang ada, secara fisik ada di rumah, tapi secara psikis gue gak ada. Trus, secara finansial juga masih BU qaqaa.. Hahahahaa… Jujur banget yes πŸ˜€

Anyway, untuk Mbak Nita, dan buibuk lain yang memilih resign untuk fokus ke anak, gue angkat topi banget deh. Ikut bangga akoh, aselik!

Sementara buat buibuk lain yang senasib sama akoh, yuk berjuang dengan cara masing-masing. Sehingga, anak-anak kita tetep bisa meraih impiannya dan sukses di bidang masing-masing. Cita-cita gue tuh pengen kayak Prof Dr Retno Sriningsih Satmoko, ibunda dari Menkeu idolaque, Sri Mulyani. Beliau mampu mengurus 10 anak-anaknya hingga jadi orang sukses, sekaligus jadi profesor dan guru besar di Universitas Negeri Semarang.

Yah gak harus sehebat itu gpp sih. Bisa setengahnya atau seperempatnya aja udah Alhamdulillah banget *aku anaknya realistis*

Lagi pula, impian semua ibu adalah, melihat anak-anaknya terbang mewujudkan impiannya, meski ia terpaksa harus mengorbankan “sayap”nya sendiri. Yekan?

 

Advertisements

22 thoughts on “The Best Job in the World

  1. Kalimat terakhirnya kok bikin mewek, apalagi liat gambarnya….*sesenggukan di pojok sambil ditempel bayi* :’)

    sukses buat Nadira. Ikut les tujuannya lebih jauh daripada sekedar lomba, tapi spy Nadira punya keahlian. Siapa tahu, nanti2 Nadira bisa ikut misi budaya ke luar negeri, karena menari dan mewakili Indonesia. Semangat Mbak Ira dan Nadira!

  2. Even when the kid is not considered “successful” as a mom we still need to support. Karena buat aku, bikin anak jadi baik aja udah susah payah di tengah hempasan berita setya novanto dan jennifer dunn (lah)…gmn coba ngajarin anak berbuat baik just because it is the right thing to do, bukan supaya berkecukupan/dihormati/naik pangkat, tapi kadang justru di saat berbuat baik bisa bikin terpuruk di mata manusia.

    • Nah iniii… gue dan suami juga berusahanya supaya anak2 menjadi orang yang baik dulu aja deh. Urusan β€œsuccessful”nya ngikut setelahnya.

      Dan foto terakhirnya itu Iraaa… hatikuuuu 😭😭😭

  3. Aku jg blm bs mbak klo hrs resign, alasannya samaan.
    Semoga kita bs melihat kesuksesan anak2 kita ya mbak irra
    Tulisannya bikin terharu

  4. gambar yang terakhir itu maknyes banget ya…. really sum up the whole story! πŸ˜€

    kalo gua justru suka lho nganterin anak2 les. jadi bisa tau perkembangannya. sayangnya karena sekarang anak udah 2 jadi gak bisa ngikutin semua. harus dibagi2. hahaha.

  5. mbaa gambar terakhiiiirrr… Bener banget kata mrscat.. Utk aku pribadi, anak sukses dan berprestasi itu relatif.. (maklum sering mewek liat harga les ina itu).. tp bagaimana membuat anak jd orang baik.. masih merasa nanggung semua

  6. aq mewek dong bacanya pagi2 dikantor … dan iya banget aq jg selalu mikir ko nanggung semua pdhl katanya mau yg terbaik buat anak tapi yaitu tadi aq jg realistis thank you mba ira tulisanya bagooosss ;*

  7. setujuuu pasti akan ada selalu perdebatan, klo kata gue hidup adalah pilihan, yg mana pilihan seorang ibu dan yg menjalaninya adalah pribadi sendiri hehehe, gue sempet full time work wkt anak bayi, skrg partime teacher aja kerjanya cuma 12 jam seminggu pagi salse antar anak skul

    dan ini I feel u bgt mba
    “Tapi gue sadar diri, kalo gue di rumah, gue bakal jadi stres, marah-marah dan depresi. Yang ada, secara fisik ada di rumah, tapi secara psikis gue gak ada. Trus, secara finansial juga masih BU qaqaa.. Hahahahaa… Jujur banget yes πŸ˜€”

    toss

    semangat utk ibu2 yg msh berjuang

  8. Mbak Ira, tulisannya super sekaliii.. Keren banget mbak, terkadang aku sendiri juga ngerasain hal yang sama utk memutuskan resign dari kerjaan sekarang. Dan gambar terakhir itu luar biasaaa… *mewek*

  9. Mbak aku love sama tulisan yng ini… soalnya aku kapan hari jug berpikir resign, gaji gak seberapa ninggalin anak. Tpi mikir ulang saat inget, ya daripada di rumah gak dapat uang, ngurus anak juga yakin bisa 100% hahaha #terealistis

  10. Lagi pula, impian semua ibu adalah, melihat anak-anaknya terbang mewujudkan impiannya, meski ia terpaksa harus mengorbankan β€œsayap”nya sendiri. Yekan?——-> aku mewek bacanya 😦 i feel u mbak, karena aku pun WM, mau resign masih mikir2 karena BU jg hehehe….

  11. Mewekkkk mbak! HUAAAAA knafa sik tulisan2mu mewakili smua prasaan akooohhh *huhuhu*

    keep posting great thoughts dear!

    Love,

    New Blog Post: Program Dr. Widodo Judarwanto (Eliminasi Makanan) untuk Anak Picky Eaters.
    Β http://www.satyasavitri.com/2018/01/program-dr-widodo-judarwanto-eliminasi.html

  12. Huah,, pengen nangis bgt mba,,, anakqu yg besar umur 2 thn 10 bln dah nuntut mamanya di rmh tp mau gmn lg saat ini aq jd tulang punggung keluarga jd mikir beribu kali bwt resign,, hehehe.. Ijin share ya mba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s