Raising Confident Child. How?

Kemarin ada acara keluarga besar suami. Alhasil, kami ketemu lah dengan sodara-sodara yang jarang bersua.

Pas turun mobil, kami ketemu dengan seorang Omnya suami. Basbisbus dikit, trus Nadira salim cium tangan sam adese. Dan sambil kasih tangan, dia ngomong gini ke Nadira:

“Wah koq gendut banget nih sekarang? Itu perutnya sampe buncit.”

Hati gue mendelep dengernya. Istri si om mungkin sadar, dia berusaha menetralisir dengan bilang “Gak koq, langsing koq ya, Mbak.”

And yeah, ever since that moment, that old guy is officially on my black list of “orang-orang nyebelin yang harus dihindari sebisa mungkin”.

Btw, kejadian kayak gitu bukanlah yang pertama kali dialami Nadira. Dari kecil kayaknya dia udah sering deh di-judge karena penampilannya. Sebelum umur 4 tahun, Nadira itu kurus banget. Alhasil, dia selalu dibilang “kurus banget”, “ceking banget”, dll dst. Perbandingannya ya ponakan gue, Langit, yang di umur-umur segitu lagi chubby dan montok-montoknya.

Rambutnya juga gitu. Sebelum umur 2 tahun, rambut Nadira itu masih minim. Sementara rambut Langit udah banyak. Jadi ya gitu deh, dibanding-bandingin.

Warna kulit juga sama. Nadira itu ikut Papanya yang kecoklatan. Sementara gue lumayan terang. Jadi sering deh tuh dibilang “ibunya putih koq anaknya ireng” bla3x sampe emosioniiilll gue.

Begitu juga dengan hidungnya yang pesek, giginya yang gak rata, and so on, and so on.

Jujur, gue diam-diam berharap anak gue gak denger, gak paham atau gak baper dengan omongan orang-orang tadi. Walaupun gue tau, kayaknya rada susah karena Nadira itu tipe anak observer dengan perasaan halus seperti sutra. Tapi gue terus berharap semoga dia gak baper.

Sampe suatu hari, pas kita lagi ngobrol sambil tidur-tiduran, dia bilang gini ke gue:

“Bu, kalo ibu cantik ya kulitnya putih. Mbak Dira gak cantik deh karena gak putih.”

Trus di hari lain dia bilang gini:

“Bu, kalo Deba (Langit) itu langsing ya jadi cantik. Kalo Mbak Dira enggak soalnya montok, gendut.”

Dan dia selalu hapyy kalo pas nimbang, beratnya turun.

πŸ˜₯ πŸ˜₯ πŸ˜₯

Waktu kecil gue pernah di posisinya Nadira. Bayangin aja, sodara nyokap pernah bilang gini “Ira mukanya jelek ya, untung badannya langsing.” Belum lagi segala omongan orang yang ngebandingin gue dengan adik gue yang lebih cantik, lincah dan langsing. Sampe setua ini, kalo inget-inget itu semua, rasanya masih sedih lho.

Apalagi, nyokap gue bukanlah tipe yang mau repot-repot nge-boost pede anak-anaknya. Alhasil gue pun harus berjuang sendirian mengatasi hal itu.

Did it work? Gak sepenuhnya. Makanya sampe sekarang sejujurnya, gue masih gak pedean dan selalu ngerasa ugly.

And I don’t want my daughter to feel the same way as I did back then.

Biasanya, kalo Nadira ngomong tentang warna kulit, gue me-respons begini:

“Semua orang itu cantik tau Mbak, mau kulitnya putih kek, hitam kek, bahkan biru kayak Smurfs. Yang penting Mbak Dira bersih, rajin mandi. Jadi gak bau ketek *sambil kitik-kitik keteknya*. Trus, kalo Mbak Dira baik ke semua orang, murah senyum, pasti lebih cantik deh. Makanya jangan cemberut dan ngumpet melulu kalo ketemu orang ya.”

*sekaligus encouraging dia supaya gak pemalu-pemalu banget gitu*

Untuk berat badan, gue lebih berusaha memberi contoh ke dia soal makan makanan sehat dan gaya hidup aktif sih. Makanya kalo gue olahraga, sering gue ajak. Kalo makan sayur dan buah, suka gue pamerin di depannya supaya dia mau ikutan.

Yang gue tekankan adalah sisi kesehatannya, bukan sisi penampilannya. Jadi alih-alih nyuruh dia batasi makan camilan manis supaya kurus, gue biasanya bilang gini:

“Mbak Dira kalo kebanyakan makan sosis, nugget dan manis-manis itu nanti bisa sakit. Inget gak anak SD di TV yang obesitas sampe gak bisa jalan? Atau anak tetangganya Enin yang masih TK udah diabetes karena kebanyakan minum manis? Mau gitu gak? Kalo gak mau, jangan banyak-banyak makan sosis2an dan manis2an ya. Sesekali boleh tapi jangan sering-sering.”

Gue gak tau yang gue lakukan itu benar atau salah. Gue cuma ngikutin insting aja sih, dengan tujuan supaya anak gue gak merasakan hal yang sama kayak gue. Supaya dia bisa lebih kuat dari gue.

*makanya dia gue suruh-suruh ikut bela diri segala dan kasih tau idola baru berupa jagoan-jagoan gitu πŸ˜€ *

Nah, tadi pagi, pas kerja sambil sekilas-sekilas nonton MTV Video Music Awards, gue liat Pink maju sebagai pemenang penghargaan MTV Vanguard Awards. Pink ini idola gue banget sejak lamaaa.. Bahkan dulu gue pernah nulis postingan kheuseus tentang dia di sini.

Semasa lajang, Pink jadi idola gue karena selalu representing tough girls yang gak mau disetir atau bergantung pada laki-laki. Begitu jadi ibu, dia kembali jadi role model karena meskipun dese seleb, parenting style-nya biasa aja, gak yang out of the box, extraordinary, kekinian gitu.Β  Yang terpenting, dia penuh humor plus mau mengakui kesalahannya.

Sebagai ibu, Pink tetap normal dan lovable. Dan dia berusaha menanamkan kenormalan dan rasa pede ke anak-anaknya, terutama Willow, anak sulungnya.

Dalam pidatonya di acara MTV VMA, yang bikin hati terharu biru, Pink gak ngomongin soal dunia musik, kariernya atau dirinya sendiri. Dia justru mempergunakan momen itu untuk meng-encourage sesama perempuan, terutama anak-anak, dengan mengambil contoh kasus dari pengalamannya sendiri.

Ini nih isi pidato lengkapnya yang gue ambil dari sini:

“I know I don’t have a lot of time, but if I may tell you a quick story. Recently, I was driving my daughter to school and she said to me, out of the blue, ‘Mama?’ I said, ‘Yes, baby?’ She said, ‘I’m the ugliest girl I know.’ And I said, ‘Huh?’ And she was like, ‘Yeah, I look like a boy with long hair.’ And my brain went to Oh my god, you’re 6. Why? Where is this coming from? Who said this? Can I kick a 6-year-old’s ass, like what?”

“But I didn’t say anything. Instead I went home and I made a Powerpoint presentation for her. And in that presentation were androgynous rockstars and artists that live their truth, are probably made fun of every day of their life, and carry on, wave their flag, and inspire the rest of us. And these are artists like Michael Jackson and David Bowie and Freddie Mercury and Annie Lennox and Prince and Janis Joplin and George Michael, Elton John, so many artists β€” her eyes glazed over. But then I said, ‘You know, I really wanna know why you feel this way about yourself.’ And she said, ‘Well I look like a boy,’ and I said, ‘Well what do you think I look like?’ And she said, ‘Well you’re beautiful.’ And I was like, ‘Well, thanks. But when people make fun of me, that’s what they use. They say I look like a boy or I’m too masculine or I have too many opinions, my body is too strong.'”

“And I said to her, ‘Do you see me growing my hair?’ She said, ‘No, Mama.’ I said, ‘Do you see me changing my body?’ ‘No, Mama.’ ‘Do you see me changing the way I present myself to the world?’ ‘No, Mama.’ ‘Do you see me selling out arenas all over the world?’ ‘Yes, Mama.’ ‘OK! So, baby girl. We don’t change. We take the gravel and the shell and we make a pearl. And we help other people to change so they can see more kinds of beauty.’ “

Don’t you love her even more now? *lopelopelope*

Mudah-mudahan yang dilakukan Pink bisa menginspirasi perempuan-perempuan lain di dunia untuk bisa terus percaya diri. Sebab, gue tau lah rasanya jadi orang yang gak pede. It sucks, you know.

Mudah-mudahan juga speech tadi bisa jadi inspirasi ibu-ibu or bapak-bapak untuk bisa membesarkan putra putrinya dengan lebih baik. Karena, semua orang tentu akan senang jika diterima lingkungan. Tapi apakah mereka bisa terus pede kalo dianggap weird, atau malah jadi bahan bully?

PR yang susah ditemukan jawabannya nih buat ortu kayak kita *sigh*

Advertisements

15 thoughts on “Raising Confident Child. How?

  1. Wah mba ira, aku sampe nangis nih baca postingannya. Aku berharap banget sih punya orang tua yang seperti itu (dan lingkungan yang nggak toksik juga) karena rasanya seumur-umur aku nggak pernah ditingkatkan kepercayaan diri oleh orang tua (terutama sama bapakku dewe). Kalau diejekin soal badan yang gembul, wajah yang tidak cantik, mah sudah hampir makanan tiap hari (bahkan di usia middle twenties seperti sekarang ini). Dulu ketika kecil, aku cuma bisa nangis sih dan sedih, kok ya dikasih orang tua macam mereka.
    Rasanya ngiri sih (bahkan sampai sekarang) dengan anak yang selalu didukung orang tuanya dalam segi apapun (selagi itu masih baik). Tetapi nasib ya mau gimana, berharap jangan sampai jadi orang tua seperti itu. Hihi.

  2. Gilssss mau mens apa ya, apa kelilipan ini kok ampe matanya berkaca2 πŸ˜‚πŸ˜‚. Mbak, gw pun anak korban bully dulu.. suka di ceng in karena item, padahal Ibunya putih. Bokapnya gak item2 banget, dan orang2 kaya si Om di tulisan di atas selalu ada… gw bersyukur dibesarin Ibu yg selalu boost confident gw, kaya Nadira 😊. Mungkin membesarkan anak cewek lebih banyak tantangan dalam hal kaya gini ya mbak? Gw gatau nanti kalo anak lanang udah beranjak dewasa gimana.. tfs yaaaa, kiss2 jagoan nadira ❀️

  3. ak selalu panggil anakku ‘cantik’ dr kecil mba ira, krn dulu ak diperlakukan gitu sama nyokapku yang ternyata setelah disadari skr cukup membuat ak selalu percaya bahwa diriku cantik apa adanya. tp ak tambahkan edukasi sih dikit2 ke raya, ky cantik itu kalau badannya sehat, mandinya bersih, banyak senyum sama temen dst….soalnya dia sempet merasa ga suka sama rambutnya yg kruwil, temen2nya pada lurus… untungnya skr juga princess warna kulit, jenis rambut juga beda2 raya akhirnya ga komplain lg soal rambutnya. setuju bgt sama kmu, mesti ajakin anak2 lihat kegiatan seperti olahraga jd dia bs dapet contoh lsg :))

  4. Gw jg ga suka klo anak2 gw di komen2in. Sering banget gw denger klo anak gw dibilang kurus, pdhl emaknya montok, ksh daging lah, makanin ini lah itulah. Setdahhh.. Emosi dah dgrnya gw, tp ya klo sodara yg ngmg, gw pura2 ga dgr aja, drpd ribut kan mls yak *curhat* hahaha

    Btw gw baca ini jd mewek deh, serius.. sabar2 yah mbak.. kiss buat Nadira :*

  5. Efeknya klo anak tumbuh menjadi sosok yg cukup PD, insyaalloh dia gak merasa perlu menjatuhkan orang lain (lewat komentar fisik dll) untuk membuat dirinya nampak lbh keren/cantik.

  6. aku pun sering di ejek fisik dr dulu sampe sekarang (?). Bedanya, dulu aku sedih banget dikata2in, sekarang mah udah bisa terima diri sendiri jadinya woles.. Tapi proses sampe bisa terima diri sendiri itu berdarah2 hatinya. Semoga bisa mengajarkan percaya diri sama si unyil,

  7. “Dan dia selalu hapyy kalo pas nimbang, beratnya turun.”

    Sedih baca yang bagian ini. Masih kecil tapi jadi merasa insecure sama berat badan. 😒

    Aku juga suka sama speech nya. Anak kecil itu hatinya halus. Tanpa sadar omongan orang itu bisa kebawa sampe dewasa. Kita gak bakalan lupa.

  8. Sedih bacanya
    Semoga kita semua lebih berhati2 menjaga komentar soal fisik ini
    Membekas banget soalnya
    Aku ngalamin banget dari kecil dikomenin macam2 dan kenangan itu masih terasa perihnya sampai sekarang

  9. Setuju bgt sm quotes terakhir & Pink, dia di situ ngeboost confidence anaknya bukan dgn muji2 bilang cantik dsb, tp dia pengen bikin kalau gak usah dengerin apa kata orang. Kalau emang anak pesek dan orang ngatain pesek jgn bohong gedein ati anak bilang mancung, seolah orang pesek itu negatif. Kalau emang pesek, item, gendut, terus kenapa? Dulu aku jg korban bully, baik bully secara fisik maupun karakter, dan parahnya boro2 ortu ngebela, malah ikut nambahin. Tapi aku bersyukur setelah gede, mentalku makin kuat dan aku bisa mencintai diri sendiri apa adanya. Cara aku buat pede adalah gak berpikir ttg kekuranganku / merubahnya buat diterima orang. Tapi menerima kekurangan dan fokus sama kelebihan untuk ditonjolkan. Kalau ikut bela diri cuma buat kurus biar bisa diterima org, jangan ikut ya Mba Dira. Malah capek sendiri dan gak bisa maksimal karena bukan dari hati. Mba Dira suka menari kan? Coba itu diseriusin. Kalau nanti sukses, org2 jg bakal bungkam sendiri, malah muji2. Jangan merubah diri hanya demi penerimaan / pujian org, jadilah diri sendiri dengan karakter yang kuat, dan paksa orang lain menerima itu. Semangat Mba Dira, hidup strong woman!

  10. “Dan dia selalu hapyy kalo pas nimbang, beratnya turun.”
    *peluk mbak Dira*
    Aku sedih di usia semuda itu, mbak Dira udah ngerasain tekanan untuk jadi langsing putih supaya dianggap cantik 😦
    Aku lihat memang lingkungan masih loncer banget ya ngomentarin anak-anak kecil. Bagi orang-orang itu, mungkin lucu aja ngegodain anak-anak dengan komen “Ih hitam.” – ” Ih bulet gendut.” – “Ih gak cantik.” Lalu semakin semangat waktu anak-anak itu marah. Kalau sodara malah sering lebih malesin; kayak menganggap hak istimewa boleh ngucap gak pake mikir. Kalau kita serius protes, dibilang sini yang terlalu sensi. Tapi kalau dibales, katanya kurang ajar. Hahahaha.
    Keponakan perempuanku cantik, cerdas dan lincah. Omnya suka godain dengan bilang dia jelek karena hitam. Aku berulang kali mengingatkan adik ipar, tapi gak berubah. Akhirnya kalau dia mulai godain ponakan, aku dengan tenang bilang “Menurut kamu (ngomong ke keponakan saya), kamu cantik nggak?” Dia dengan cepat bilang “Cantik.” Aku lalu bilang “Nah..kalau ada yang kayak om, harus gimana?” Dia tertawa dan menjawab “Tidak masalahh.” Lalu saya ajak ngeloyor ninggalin omnya.
    Tapi mungkin kalau untuk lelaki, isu ini remeh ya..makanya mereka menganggap kalau hal-hal seperti kritik fisik itu gak masalah. Apakah mungkin karena untuk lelaki, isunya lebih ke kemampuan fisik bukannya penampilan? Pastinya sih memang kudu di-edukasi, bahwa terutama untuk bocah, komen fisik gak asik *ala Meira.

  11. Mbaaak, setelah bertahun-tahun akhirnya aku bisa meyakinkan diri kalo mengabaikan orang (toxic) itu nggak jahat. Aku baru ngeblacklist salah satu orang yang menurutku toxic banget; nyinggung fisik, kepo-kepo ranah privasi, dll. Sepertinya ini langkah yang baik untuk memagari kewarasan dan menjaga kepercayaan diri dan self acceptance ya. Thanks for sharing Mbak Ira! 😘😘

  12. Saya punya sepupu seumuran. Bisa dibilang cantik karena mamanya blasteran Jerman. Pintar pula, dulu sekolahnya di SMU Taruna Nusantara dan kuliah di ITB. Nah dulu kalau lagi libur SMU dari Magelang dia suka mampir dulu ke rumah saya sebelum dijemput ortunya. Nah di momen2 itu saya ngerasain ibu saya sering membanding2kan saya yg wajahnya pas2an ini dengan sepupu saya itu yg punya segudang kelebihan. Udah pun pas kuliah saya kuliah di kampus yang nggak bergengsi. Makin makin deh tuh saya minder. Perasaan minder ini terus terbawa sampai sekarang saya udah menikah dan punya anak. Jadi saya bertekad untuk nggak melakukan apa yg dulu dilakukan ibu saya ke saya. Saya ingin anak saya (perempuan sekarang umur 3 thn) tetap percaya diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s