Review Ala-ala: Ricki and the Flash

Beberapa waktu lalu, gue dapet undangan untuk meliput wisata naik kapal pesiar (will write about it soon). Di kapal pesiar, salah satu yang bisa dinikmati adalah nonton berbagai jenis film di TV di kamar. Film-filmnya pun keren-keren, jadi bikin betah di kamar deh.

Salah satu yang bikin gue tertarik adalah film berjudul Ricki and the Flash. Kenapa tertarik? Pertama, yang main Meryl Streep, the woman who is dubbed by media as the best actress of her generation. Jadi penasaran deh, pengen liat aktingnya Tante Meryl di sini kayak gimana.

Trus pas baca sinopsis dan nonton trailernya, wah koq kayaknya kisah film ini cuco’ banget sama gue sebagai seorang ibu. Bisa related banget lah. Yawdah cus langsung gue tonton.

Ya Allaaahhh… Masa sepanjang nonton film gue meweeekk!!! Padahal, film ini ditaro di genre comedy. Jadi kudunya gue cekikikan dong ya. Tapi ini koq air mata gue malah deras bak banjir bandang. Cemmana ini?

Oke, gue ceritain sedikit aja ya tentang ceritanya. Dikisahkan, Ricki ini adalah seorang ibu tiga anak. 20 tahun lalu, dia memilih meninggalkan anak-anak dan suaminya, Pete, karena ingin mengejar mimpinya jadi seorang bintang rock.

Cerita dimulai saat Ricki lagi tampil bersama band-nya, The Flash, yang jadi home band di sebuah bar kecil. Saat ini, impiannya jadi bintang rock kandas. Supaya bisa makan dan bayar tagihan, dia harus jadi kasir di supermarket. Nge-band cuma bisa malem-malem aja. Hubungannya dengan mantan suami dan anak-anaknya jauh sekali. Bahkan udah bertahun-tahun mereka gak berhubungan.

Suatu hari, Pete telpon, minta Ricki untuk pulang, ngebantu anak mereka, Julie yang depresi berat setelah ditinggal pergi suaminya untuk perempuan lain. Kebetulan, istri Pete, Maureen, lagi di luar kota untuk mengurus ayahnya yang sakit.

Ricki pun terpaksa pulang. Di rumah Pete, dia kayak ditampar dengan realita yang ada. Foto-foto keluarga yang memorable bertebaran di seluruh rumah, tapi gak ada satupun nampilin muka dia. Rumah Pete bersih dan rapi banget karena Maureen tipe Pinterest moms yang handy dan domestic goddess. Tiga orang anak Ricki juga benci dia karena menelantarkan mereka demi mengejar impian.

Alhasil, sepanjang film, Ricki ikut depresi. Bahkan setelah dia balik ke rumahnya, di atas panggung dia sempet menggugat “Mick Jagger punya 7 anak dari beberapa orang istri, gak pernah urus anak-anaknya, tapi gak ada yang bilang dia a bad father. Kenapa? Karena dia itu laki-laki. Sedangkan kalo lo ibu dan lupa ultah anak 1 kali aja, lo bakal langsung dibilang a bad mother. That sucks!”

Tapi yah namanya juga film. At the end, semua bisa berjalan dengan bahagia. Ricki bisa berdamai dengan keluarganya. Pete dan anak-anaknya juga berdamai dengan Ricki. Everybody’s happy.

Trus dimana sedihnya? Gue sedih karena as a mom, I feel so related to Ricki. I still have plenty of dreams that are still not fulfilled, yet. Suami gue pun mengakui, bahwa gue itu lebih punya banyak mimpi ketimbang dia. Dan kadang-kadang, atau bahkan sering kali, gue lupa kalo gue udah jadi ibu dan istri.

Misalnya, impian gue untuk traveling ke berbagai belahan dunia. Kebetulan, pekerjaan gue memungkinkan untuk itu. Jadi sambil kerja, bisa sambil traveling. Untuk yang ini, gak terlalu bikin dilema sih karena emang tuntutan pekerjaan juga kan. Plus, suami gue kasih izin. Jadi aman.

Nah yang jadi dilema besar adalah impian gue untuk kuliah lagi di luar negeri. Udah beberapa kali offer dan opportunity gue pass karena gue gak mau ninggalin keluarga. Suami sih sebenernya gpp gue kuliah ke luar negeri. Tapi syaratnya, gue cuma bisa berangkat sendiri karena dia gak bisa ikut dan Nadira harus stay di Jakarta aja supaya gak ngerepotin gue.

Lah diginiin gue jiper kakaakk.. Gak kebayang 1-2 tahun di luar negeri sendirian dan ngelewatin momen-momen bersama Nadira๐Ÿ˜ฅ

Makanya gue nonton film Ricki and the Flash ini sampe banjir air mata. Di satu sisi, gue setuju sama Ricki bahwa semua orang berhak punya mimpi dan mewujudkannya. Sebagai feminist wannabe, gue juga setuju dengan “gugatannya” ke society dengan kasih ilustrasi tentang Mick Jagger thingies itu.

Ya emang gak adil sih sistem sosial kita yang masih patriarki banget ini. Tuntutan jadi ibu itu 1000x lebih berat dibanding jadi ayah karena 24/7 harus sempurna, dll dsb. Apalagi di agama gue, Ibu itu madrasah pertama bagi anak-anaknya pula. Berat bener kakaaakk..

*curhat ibu-ibu yang harus ngajarin anaknya Bahasa Arab, Agama Islam dan Qiroati karena suami gue nyerah T_T *

Tapi di sisi lain, gue gak bisa memungkiri kenyataan bahwa, since I become a mom, life is not always about me anymore. Sometimes you just have to give up some of your dreams to be able to make your kids happy. Gue aja nangis pas nonton adegan Ricki memperhatikan foto anak-anaknya dalam berbagai pose tanpa dia ada di situ (lulus sekolah, wisuda, ulang tahun, sleep over, first date, dll). Karena berarti Ricki melewatkan momen-momen berharga itu semua. Gimana kalo ngalaminnya sendiri?

Belum lagi dengan perasaan bersalah bahwa anak-anaklo semua membencilo dan menyalahkan dirilo atas semua tragedi yang mereka alami dalam kehidupan. Duh, hati rasanya dihujam ribuan sembilu deh.

Trus gue mewek berat juga nih pas dialog antara Pete dan Ricki yang ini:

Pete: I thought we were your dream.

Ricki: I can’t have two dreams.

*brb ambil tisu*

Screenshot_2016-02-19-17-49-46_com.instagram.android_1466842827772

Anyway, buat gue, film Ricki and the Flash ini BAGUUSSS BANGET. Selain aktingnya Meryl Streep yang ciamik, film ini juga berisi pesan yang kuat tentang motherhood dan keluarga. Intinya, once you make a decision, you have to take the consequences. Di kasus Ricki, dia begitu berani ambil keputusan yang gak populer, yakni menelantarkan keluarga untuk mengejar karier, and she has to live with all of the consequences.

Di sini digambarin, konsekuensi-konsekuensi apa yang harus dihadapi seorang ibu jika ia mau mengejar mimpi kayak Ricki. Di sini dikasih gambaran jelasnya, nih kalo lo lo mau kejar mimpi dan ninggalin keluarga, konsekuensinya kira-kira gini. Jadi dipikir-pikir dulu yang matang.

As for me, gue berusaha tone down my dreams a little. Gue gak melupakan semua mimpi-mimpi gue. Gue cuma berusaha menyesuaikannya dengan kenyataan yang ada. Sekarang gue mencoba berdamai dengan diri sendiri. Nambah ilmu gak berarti harus kuliah ke luar negeri lah. Gue mau kursus-kursus dan kuliah di sini aja deh, yang penting kapasitas ilmu nambah.

Dan gue sih berharap, semua orang begitu ya. Jangan serta merta begitu lo jadi ibu/ayah, lo langsung lupa dengan identitas dirilo yang sebenarnya. Lalu, 100% langsung berubah jadi Mommy-nya si X, Ayahnya si A atau Istrinya si Y.

Pertahankan sebagian dari dirilo yang lama karena itulah sumber kekuatan kita sebagai seorang individu. Kalo suatu hari ada something bad happened, dirilo gak akan hancur 100% karena masih ada bagian yang survived.

Oh ya ini untuk yang pengen nonton filmnya, mungkin bisa dicari di Ambas ya. Soale setau gue film ini gak pernah diputar di bioskop sini deh. Gak rugi koq nontonnya, aseli. Selamat menonton!

 

14 thoughts on “Review Ala-ala: Ricki and the Flash

  1. Mbak Ira, this could be my favorite post from you. Saya belum menikah dan punya anak, tapi menurut observasi, saya ngeliat kok kayaknya ibu2 di Indonesia setelah punya anak identitasnya jadi ‘Ibu’ doang, dan hal-hal lain jadi ga relevan. Sedihnya, banyak yang begini karena di Indonesia pressure buat seorang ibu besar banget. Padahal menurut saya penting banget seorang wanita punya identitas lain, be it a career woman, an activist, a writer, or anything she enjoys doing. Because you need to keep learning and developing as a human, and being a mother doesn’t mean you drop everything else. Walaupun anak dan keluarga akan selalu jadi prioritas #1, tapi boleh dong tetep ngejer mimpi sendiri, walaupun seperti kata Mbak Ira mungkin setelah berkeluarga memang harus disesuaikan. Anyway, setuju banget sama yang Mbak bilang, dan saya jadi penasaran nonton filmnya. Thanks for sharing๐Ÿ™‚

    • menurut saya penting banget seorang wanita punya identitas lain, be it a career woman, an activist, a writer, or anything she enjoys doing.

      That’s exactly what I’m trying to write here! *toss dulu ah*

      Emang sih, waktu baru punya anak, banyak perempuan yang mengalami krisis identitas, termasuk gue sendiri. Maklum, namanya juga baru ya, jadi noraak banget. Apa-apa yang dipikirin anak. Di socmed juga yang ditulis tentang anak, hahaha… Seiring waktu, ada yang terus bertahan dengan identitas Ibu dan menghapus identitas lamanya. Ada juga yang split personality kayak gue. Jadi ibu, sekaligus jadi “somebody”.

  2. Film ini salah satu alasan yang membuat aku masih takut punya hubungan serius sampe sekarang. Aku anak tunggal, egois dan punya banyak mimpi efek dr punya ortu yang mendidik anaknya harus mandiri tapi ga pernah harus berbagi perhatian sama siapapun.

    Ditambah biarpun aku sangat enjoy hangout bareng temen2, plus anak2 mereka, rasanya punya anak itu bikin terrified sendiri. Ga bisa pas bosen beli tiket trus getaway ke LN dadakan. Ga bisa liat tas trus langsung beli dan yang paling penting kalo lagi badmood ga bisa cembetut sendiri. Anak mau dikemanain?

    Itu baru dr sisi seneng2nya. Karir? Bisa ilamg konsen pas lagi meeting smpe malem kalo anak belum makan.

    Mungkin karena standar Ibu buat aku tinggi ya, maunya kalo punya anak akunya bisa jadi ortu kaya ortuku sendiri. Which is, susah..

    Dan ya amit2 ngerasaim kaya Ricki disini. At least diawal film. Karir ga ada, keluarga juga begitu.

    #lahkenapagwreviewsendiriii

    • Ahahaha.. Gpp Ra, gue juga paham banget koq sama reviewlo di atas. Soale gue dulu pun berpikir yg sama hihihi๐Ÿ˜€

      Makanya menurut gue, lebih bagus yg kayaklo gitu. Sadar akan risiko dan tanggung jawab punya anak, jadi pilih menunda. Ketimbang yang asik-asik punya anak tapi gak melaksanakan tanggung jawabnya sbg ortu, dan malah tetep asik sendiri, yekaaannn..

  3. Anyway Mbak, ini bukan offense buat para ibuk2 loh ya, honestly aku malah selama ini ngerasa aku yg ga beres pola pikirnya kali yak? Orang lain seneng punya anak trus aku malah takut :p

  4. Mba Ira, itu aku๐Ÿ˜€
    Mengejar mimpi kuliah ke LN, dikasih ijin setulus hati sama suami, anak-anak dan ortu, eh “dirajam” oleh tetangga kanan kiri serta keluarga besar, dicap sebagai istri dan ibu durhaka binti egois huahahahaha *malah curhat*.
    Tapi memang semua keputusan ada pros dan cons, ada moment di mana kita meragukan keputusan yang sudah diambil, yang penting sih bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat, bukan begitu?๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

    • Ih bener bangeeett… Dan yah, kadang2 yg ngerasanin dan ngerajam itu justru orang luar yang gak terlibat dan gak tau apa2 tentang hidup kita samsek.

      Ih kamu hebat amat Mbak Shinta. Kudos to you and your family!

  5. ah.. bener banget.. mostly di sini gitu ya, setelah menikah dan punya anak rasanya jadi gak jadi diri sendiri karena harus berperan jadi ibu si A, B, C dan istri Bapak X๐Ÿ˜ฆ kalaupun berusaha ngejar mimpi, kadang suka ada rasa bersalah karena seperti mengabaikan kewajiban jadi ibu/istri kalo sibuk sendiri…

  6. Ngebet pgn cari cd nya nih .. punya anak n keluarga adlh anugrah terbesar dlm hidup sy…jadipun sy berubah..well,smua ibu2 bgitu bukan hehe…impian n target jd meleset n bergeser.. bahkan menguap hehe krn ud puyeng ngurusin krjaan n kluarga..curhat dikit ni, suami ngga stuju sy kerja,pngennya jd sahm, smua titel plus minus si..cuman sy bertahan jd wm krn amit2 kl suami knp2 gmn…tp kadang dan seringny iri ngliat sahm yg domestic goddess, bener mba, stiap kputusN ada konsekwensiny, artinya stiap anak sakit sy lgsg stres d kantor ga fokus krja bahkan sering mbolos hehe .. tapi seru,kepala jd kaki,bs d critain ntar kl anak dah gede

    • Ih toosss sama deh kita! Ngerti bgt Mbak perasaan jungkir balik kalo lagi banyak kerjaan, trus anak sakit, trus deadline trus bos marah, hahaha.. Tapi justru yg kayak gini bakal jadi cerita seru di hari tua nanti. Cemungudh Mbak Ella!

      Btw, filmnya mungkin bisa ditonton di http://www.layarkaca21.tv. Coba search deh di situ, sapa tau ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s