Sharing is (Not Always) Caring

Kemarin, Jakarta berduka. Ada bom dan serangan teroris di tengah kota. Kontan, perhatian semua orang terpusat ke sana. Mulai dari socmed, TV, radio, hingga media, laris diserbu masyarakat awam dari seluruh dunia.

Nah, seperti layaknya sebuah kejadian menghebohkan di lokasi publik, tentu aja banyak saksi mata dari masyarakat sekitar. Mereka pun ikut terlibat secara emosional, bahkan nggak sedikit yang turut melaporkan via socmed, atau mengambil foto dan video. Foto-foto, video dan kesaksian via socmed ini lantas go viral. Beredar dari satu akun ke akun lain. Dari satu whatsapp/BB group, ke whatsapp/BB group lain.

Apakah semua bisa dipercaya? Ya tentu tidaakk. Banyak “katanya”, “katanya” yang di-share sana-sini. Banyak kesimpulan blunder yang di-share sana-sini. Banyak analisa sotoy yang di-share sana-sini. Dan banyak juga yang percaya. Atau, malah jadi overwhelmed karena terlalu banyak info yang di-share, sebelum dicerna dan dikroscek.

Gue sendiri bergabung dengan beberapa whatsapp group. Sejak era BB Group mati suri, sekarang yang lagi tren adalah whatsapp group. Gengnya macem-macem. Mulai dari temen kantor, temen kuliah, ibu-ibu temen sekelasnya Nadira, sampe sesama blogger.

Gue perhatiin, grup yang paling heboh saat kejadian-kejadian insidentil kayak gini terjadi adalah grup yang populasi perempuannya lebih banyak. Nanya kabar satu-satu, terutama yang lokasi rumah/kantornya deket TKP, dll dsb. Mungkin karena perempuan hobi ngobrol dan kepo kali ya? Plus, pereu biasanya lebih inget detil tentang temen-temennya.

Misalnya, “Waduh, ada bom di Thamrin. Wah si X kan kantornya deket situ. Sementara si Y, suaminya kerja di daerah situ. Tanyain ah di grup!”.

Kalo laki-laki, jarang yang inget detil soal beginian. Gak percaya? Tanya aja suami saya. Dia mah hobinya bacain situs berita mulu untuk cari info.

Terus, gue perhatiin lagi, grup yang anggotanya paling hobi nge-share link berita apapun dan foto apapun seputar hot issue adalah yang isinya perempuan juga. Mau itu berita hoax, kabar kabur, link berita dari situs geje, katanya si A-Z, pasti di-share. Foto juga begitu. Mau itu foto polisi ganteng *kalo yang ini ane juga mau Gan! Jadi inget postingan lawas tentang ini di sini*, atau foto korban dengan kondisi mengenaskan, semua di-share.

Gue sampe urut dada lho saat sebuah grup yang gue ikuti, anggotanya sering share berita/kabar hoax  untuk isu sensitif. Tanpa kroscek pula, apakah kabar itu bener/gak. Di kejadian bom Thamrin kemarin, kembali di grup itu ada yang share foto korban dalam kondisi mengenaskan. Padahal, FYI aja, seisi grup itu perasaan mah punya ilmu agama yang cukup. Beda sama gue yang ilmu agamanya pas-pasan ini.

Lantas kenapa gak keluar dari grup itu Ra? Ya karena gue masih ada kebutuhan interaksi dengan para anggotanya. Jadi, biasanya sih, grup-grup dengan anggota annoying, gue “mute” aja dan klik “mark as read” supaya gak bikin hati GMZ. Mungkin kalo suatu hari nanti gue ngerasa mereka kebablasan, ya gue bakal leave group kali ya.

Di socmed, hal kayak gini lebih sering lagi terjadi. Untunglah, di Facebook, sejak pileg dan pilpres kemarin, gue udah melakukan aksi bersih-bersih timeline. Caranya, gue meng-unfollow beberapa orang yang timeline-nya nyebarin energi negatif melulu.

Kenapa di-unfollow? Supaya kami tetep bisa saling berhubungan kalo ada sesuatu. Hati juga bebas dari energi negatif karena gue gak perlu baca timeline mereka setiap gue buka FB. Win-win solution kan?

Oh ya, perhatiin deh. Orang-orang yang hobi nge-share berita/kabar hoax tanpa kroscek lebih lanjut di socmed, pada umumnya akan melakukan hal yang sama di grup-grup yang berbeda. Jadi, ya sial aja sih kalo lo punya bertemen sama si A yang hobi nyebar hoax, di FB maupun di grup. Dikejar kemana-mana gitu ya cyin kesannya.

Udah dulu ah curcol sore ini. Semoga kita diberi keselamatan dan dijauhi dari segala bentuk teror, mental maupun fisik. Semoga siapapun pelaku teror di dunia segera dimusnahkan dari muka bumi ini. Semoga teman-teman dan saudara yang hobi share berita hoax dan foto geje segera diberi hidayah agar cepat sadar. Tetap semangat semuanya, karena #KamiTidakTakut #JakartaBerani #IndonesiaUnite🙂

*Ha!!! :))) *

 

 

18 thoughts on “Sharing is (Not Always) Caring

  1. hahaa itu gambarnya bener banget mb. orang sekarang ada internet kok bukannya makin cerdas ya, heran. di salah satu grup saya ada tuh yang spesialis tukang pos secara kerjaannya memforward mulu. yang bikin sebel ybs sama sekali gak ada verifikasi sebelum memforward. kalo dibilang salah dia gak terima loh padahal kita udah ampe ngasi link yang bertentangan dengan post dia. “itu bohong tuh”. laaah…

  2. Ha! Itu quote-nya dapet banget, hahahahah… Abaraham Lincoln menasehati perihal internet, yes? Oke deeeh😀

    Untungnya grup WA-ku yang aktif cuma 1, dan isi kepala para anggotanya relatif senada seirama sih. Cuma ada 1 orang member doang yang emang udah dari sononya selalu sinis sama pemerintah. Jadi pas bom meleduk begini, gak pake lama dia langsung loh bilang bhw ketua BIN harus turun, Jokowi harus turun. Uopoooo… Intinya, dalam hal2 seperti ini pasti ada orang2 yg berpikir & bersikap negatif. Terjonru lah pokoknya. Tinggal kita aja sebagai orang2 cukup waras musti pinter saring info. Unfollow orang di fesbuk terbukti salah satu cara yang cespleng deh.

    • Ih kamu beruntung bgt WA groupnya waras. Gue dong, banyak yg ajaib hahahaha… Tp gpp deh, lumayan jadi belajar memperhatikan kepribadian orang dan jadi tau, siapa yang perlu ditemenin, siapa yang gak usah😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s