Me and You VS Mother in Law

Beberapa waktu lalu, gue baca notes yang di-sharing seorang teman di Facebook. Isinya tentang keluhan tiga orang Ibu akan menantu perempuan mereka. Supaya lebih simple, mertua perempuan gue sebut MIL (mother in law) dan menantu perempuan disebut DIL (daughter in law) ya.

Ibu A mengeluhkan DIL-nya yang selalu iri hati dengan apa yang dibelikan Ibu A ke cucu dari anak perempuannya, dan cucu dari anak laki-lakinya. Anak perempuan Ibu A kurang beruntung dari sisi finansial. Suaminya cuma tukang ojek. Sementara anaknya yang laki-laki punya jabatan bagus di kantor. Jadi Ibu A merasa wajar jika memberi sesuatu lebih banyak ke anak perempuannya karena dia hidup berkekurangan.

Eh tindakan itu dianggap pilih kasih oleh DIL-nya. Menurut dia, Ibu A bertindak seperti itu semata-mata karena lebih sayang pada cucu dari anak perempuannya, bukan dari anak laki-laki. Hal itupun merembet hingga ke berbagai hal lain yang bikin DIL tambah benci sama Ibu A. “Saya jadi bingung deh,” curhat Ibu A.

Ibu B lain lagi. Dia merasa sang anak laki-laki sekarang jauh berubah. Dulu hubungan mereka sangat dekat. Sekarang, anaknya itu lebih mengutamakan istrinya. Sehingga berkunjung ke rumah ibu pun jarang. Kalopun berkunjung, hanya sebentar karena sang istri tidak betah.

Suatu hari, Ibu B telpon putranya. Sambil berbisik dia memohon sang anak untuk mengunjunginya, dengan syarat “Kalo bisa kamu sendiri aja ya Bang. Mama kangen ingin peluk Abang yang lama.” Aduh gue bacanya aja sampe mberebes mili๐Ÿ˜ฅ

Ibu C juga setali tiga uang. Setelah menikah, putranya juga jarang menengok dia. Begitu juga dengan memberi Ibu C nafkah atau hadiah. Kalopun memberi, biasanya adalah barang-barang sale atau obral yang murmer hasil pilihan istrinya. Padahal putra Ibu C ini manajer di sebuah perusahaan terkenal, lho.

Ngenes ih๐Ÿ˜ฆ

Selain baca notes tadi, gue juga sering dengerin curhat sesama ibu-ibu di tukang sayur langganan. Ada sesama MIL yang curhat soal DIL masing-masing. Hati gue pun trenyuh. Apakah MIL gue juga pernah merasakan hal yang sama ke gue?

Hubungan MIL dan DIL sepanjang sejarah manusia emang jaraanggg banget yang akur. Bahkan, kalo ada MIL dan DIL yang super akrab, biasanya bakal dijadikan contoh karena, ya emang perbandingannya 1 di antara 1000 kali ya.

Gue dan MIL gue pun juga sama. Akur, enggak. Tapi berantem sampe frontal banget juga enggak. Jadi biasa-biasa aja *kalo diinget sekarang ya emang biasa. Tapi, kalo dijalanin dulu mah, wuidih pahit banget hahahaha.. *

Anyway, dari cerita tiga ibu tadi, gue jadi kepikiran untuk nulis hal-hal yang sebaiknya dilakukan sebagai DIL kepada MILย  yang notabene adalah ibu dari suami kita. Sebab, suatu hari toh kita bakal ada di posisi mereka juga. Jadi berusaha memahami mereka sejak sekarang mungkin bakal menebar good karma untuk kita di kemudian hari, ya nggak?๐Ÿ™‚

Here they are:

1. Sadarilah, we’re the new girl!

Selama puluhan tahun, suami kita adalah curahan kasih sayang orang tua, terutama ibunya. Makanya wajar sih kalo pas kita datang, ada beberapa MIL yang langsung ambil posisi memusuhi DIL-nya.

Menurut gue, di sinilah dibutuhkan kebesaran hati kita sebagai DIL. Pandai-pandailah menempatkan diri karena, just face it, we’re the new girl. Sebagai orang baru dimana pun, pasti kita dituntut untuk menyesuaikan diri dengan peraturan dan tata krama yang berlaku di sebuah tempat kan? Begitu pula di sebuah keluarga.

Tentu, kita juga harus meminta suami untuk bisa seimbang memperlakukan ibunya dan istrinya. Jangan berat sebelah, gitu. Awalnya mungkin butuh latihan. Bisa jadi ada suami yang lebih berat ke ibu atau justru lebih berat ke istri. Tapi semakin banyak berlatih, harusnya sih bisa seimbang ya.

Kita sebagai istri juga harus selalu mengingatkan supaya kondisi balanced terus. Caranya sebisa mungkin jangan bikin stres ya. Karena kayak suami gue bilang, jadi di tengah-tengah antara ibu dan istri itu bikin capek banget๐Ÿ˜€

2. You don’t just marry a person. You marry his whole family, including his mom๐Ÿ™‚

Ini nih yang dari dulu gue inget-ingeett banget tiap gue lagi ada problem sama MIL. Suami itu kan sepaket sama keluarganya, or the in laws. Jadi baik buruk mereka, ya terpaksa ditelen deh cyin.

Dan satu hal yang perlu diinget. Hal-hal baik yang kit sukai dari suami tak lain dan tak bukan adalah hasil pola didik ibu bapaknya. Jadi, kalo dia nggak punya ibu yang rese kayak gitu, belum tentu suami kita bakal sebaik gini, yekaann.. *curcol*

3. Treat your MIL the way you wanna be treated by your DIL, someday.

Tadinya gue mau nulis, treat your MIL the you treat your own mom. Tapi agak susah ya karena kan gak semua orang memperlakukan ibunya sebaik mungkin *cek aja postingan lawas eikeh di sini*

Alhasil gue rombak lah jadi kayak di atas. Istilah kata sih, kalo lo gak mau dicubit, jangan nyubit. Kalo mau dapet good karma, mulailah dari diri sendiri. Gimana caralo memperlakukan orang, itulah yang akan lo dapet kelak. Kalo mau diperlakukan baik sama orang lain, start doing it yourself to others.

4. Jangan batasi waktu dan uang yang diberikan suami ke ibunya.

Gue paling anti ngebawelin suami untuk urusan duit dan waktu yang dia berikan ke ibunya. Buat apa? Itu kan ibunya sendiri. Ibu yang membesarkan suami sampe kayak sekarang. Di dunia pun gak ada bekas Ibu. Bekas istri mah banyak.

Kebetulan, MIL gue udah jadi janda. Jadi suami harus anter beliau ke acara kawinan dll, biasanya seminggu sekali, and I don’t have any objection at all. I would do the same thing if I were him, though.

Gue bahkan gak pernah melarang jika suami mau berkunjung ke rumah MIL sering-sering. Maklum, Karena MIL udah sendirian, beliau sering kesepian dan ini yang sering bikin orang tua cepat pikun. Gue justru mendorong suami untuk berkunjung, apalagi karena rumah kami gak jauh. Plus, kalo suami dan MIL pergi berdua, gue senang karena artinya, mereka bisa ngobrol banyak tanpa harus terganggu dengan kehadiran gue or teriakan caper Nadira๐Ÿ™‚

Tentu, suami punya pertimbangan dan batasan sendiri untuk urusan ini. Dan karena gue gak pernah rempong, dia pun jadi respek. Kalo ada acara yang tabrakan skedulnya, tinggal cari jalan keluarnya deh. Yang penting semua diobrolin kan?

5. Gak bisa akrab sama MIL? Jaga jarak aja deh.

Ini yang jadi pilihan gue. Seperti yang pernah gue tulis, hubungan gue dan MIL itu gak bisa akrab. Susah banget deh. Tapi, gue tetep berusaha menghormati beliau karena, tanpa dia, gue gak akan punya suami kayak sekarang, kan?

Prinsip gue sih, jaga jarak aja lah. Gak usah terlalu dekat karena selain susah, kedekatan itu melibatkan banyak sekali emosi yang kalo gak dijaga baik-baik, bisa bikin “tabrakan”. Jangan terlalu jauh juga karena gue gak mau suami gue lepas dari ibunya atau anak gue lepas dari neneknya, kan?

Kadang, gue suka iri sama temen-temen atau saudara-saudara gue yang punya hubungan MIL-DIL asik banget sampe kayak BFF gitu. Tapi ya tiap orang punya kebahagiaan dan masalah masing-masing kan. Siapa yang tau kalo di balik keakraban itu sebenernya menyimpan masalah?

Lagi pula, gue juga sadar, hubungan sama ibu atau keluarga sendiri yang dikenal sejak kecil aja kadang bermasalah. Gimana dengan MIL dan the in laws yang baru recently kita kenal?

Jadi ya begitulah yang bisa gue tulis soal MIL-DIL’s relationship based on my personal experience. Inget, semenyebalkannya MIL lo, dia tetep ibu dari suamilo dan nenek dari anak lo. Dan, suatu hari, kita akan jadi MIL juga lho. Jadi jangan terlalu benci lah karena tanpa MIL, we won’t have great husbands and family like we have now, right?๐Ÿ™‚

*not the kinda words I will tell my MIL, but this quote kinda illustrates what I’m trying to say in this blogpost, in the best possible way๐Ÿ˜€ *

44 thoughts on “Me and You VS Mother in Law

  1. Ah… Suka banget ama postingan ini., emang bener DIL Dan MIL tidak bisa mulus seperti lewat jalan tol palimanan,, hub ku dengan MIL kayak jakata bandung lewat puncak.. Kadang lempeng., kadang tensi tinggi krn aku merasa dicuekin .. Mentang mentang aku ndak punya duit .. Tapi disaat aku terpuruk MIL yg membela aku… Aih sorry .. Kok malah curhat..ijin share ya

    • Aahh cemunguduh qaqaaq! Aku juga samaan koq. Malah lebih mirip Jakarta Bandung lewat Purwakarta di zaman tol Cipularang belum ada. Jadi berkelok2, lewatin jalan rusak dan macet karena ada truk mogok, hihihi๐Ÿ˜€

  2. i’m marrying her golden son, mbak. anak emas, tulang punggung keluarga, karena suami dari keluarga yatim. dan nikah pun setelah kenal cuman itungan bulan. udah gitu, awalnya suami mau dijodohin sama anak temennya mil. kebayang dong acceptance mil sama akuu.. tapi ya udahlah ya, namanya nikah mah paket komplit ya. telen aja dah๐Ÿ˜›

  3. Suka deh sama postingan ini. Somehow bikin aku ga denial lg thd hubungan mil-dil krn yaaa ga pernah juga lihat Bapak-Ibu ‘kisruh’ dg para Eyang. Pelajaran baru sebelum milestone pernikahan. Makasih banyak, tantee :3

  4. setuju banget ama postingan ini
    hubungan gw sama MIL yah lumayanlah. malah sekarang lebih sering ketemu sama MIL daripada nyokap sendiri
    Kalau dalam agama Islam, selamanya anak lelaki itu milik ibunya. Tapi ibu yang baik pasti akan membuat laki2 bertanggung jawab sama istrinya dan istri yang baik juga akan membuat laki-laki bertanggung jawab sama ibunya.
    Dan berasa kok berkahnya kita memperlakukan ibu mertua dengan baik pasti suami sayang mertua juga sayang.

    • Nah itu dia Res. Gue sadar bahwa di agama kita, laki-laki itu milik ibunya. Jadi kalo kita sbg istri trus posesif sama suami, sampe ngebatasin duit dan waktu suami untuk ibunya, itu mah kebangetan ya. Yang proporsional aja lah. Kita juga gak mau kan kalo kelak diperlakukan jelek sama mantu kita nanti?

  5. Aduh, jadi pilu sendiri baca postingan ini. Gue sempat deg-degan waktu harus pindah kota menjauh dari mertua, karena merasa mertua bakalan ga mau jauh dari anaknya (suami gue). Ternyata, justru ayah mertua dan ibu mertua gue yang paling support sama keputusan gue dan suami buat pindah ke tempat baru, walaupun harus jauh dari mereka. *mewek sampe aer matanya menuhin GBK*

  6. Ah setuju setuju setuju…hubungan sama MIL emang rumit ya. Yah sama nyokap sendiri aja suka ribet apalagi sama emaknya orang lain. Tapi mesti di inget2 someday kita juga bakal jadi MIL jadi pinter2 aja lah kita bersikap dan menghadapi beliau. Kalo emang ga bs deket, ya better emang jaga jarak. Ga usah maksain deket lah, ntar jadinya rempong. Kesian juga sih kalo antar MIL dengan kita ga akur, anaknya juga yg jadi korban.
    Soal duit aku juga ga pernah kepo mba, terserah aja suami mau kasih apa, mau beliin apa. Lah wong dia yg kerja, itu emaknya juga๐Ÿ˜€

    • Beneerr.. Gue juga kurang akrab sama MIL gue. Tapi gue gak suka orang yang menindas MIL sendiri atau menjauhkan suaminya dari ibunya sendiri. Lah, itu kan ibunya cyin. Ntar kalo lo yang digituin sama mantulo gimanaa rasanya coba๐Ÿ˜ฆ

  7. Mbak ira… aku biasanya jd silent reader ajah… skg pgn komen..
    Dulu mbak ira pernah tinggal sm MIL yah? apa yg bikin mbak ira bertahan, ga ngontrak dulu aja?
    btw salam kenal mbak๐Ÿ˜€

    • Dulu sih kondisinya aku tinggal bareng MIL karena diminta sama MIL, Mbak. Soale, 4 bulan sebelum aku merit, ayah mertua (FIL) ku meninggal. Jadi MIL minta suami dan aku tinggal bareng sama beliau setelah menikah untuk nemenin. Jadi, ya bisa dibilang terpaksa sih. Kalo kondisinya gak gitu, kita udah pasti ngontrak. Capek euy tinggal bareng MIL, sumpah deeehhh.. T_T

      • Skrg udh pisah sama MIL y mb. Bgmn caranya?
        Saya 8th lebih tinggal ama MIL+FIL. Sebenernya ga tahan..tp suami anak emas mrk.Anak laki satu2nya dan pewaris usaha mrk.
        Sudah berusaha akur dgn MIL tp ada saja tembok penghalang. Capeekk iihh…suwer

      • Emang udah komitmen sih Mbak. Kami gak mau tinggal selamanya bareng MIL. Karena aku inget banget, pas merit, penghulu bilang gini “Kalo dalam satu rumah ada lebih dari 1 keluarga, salah satunya akan hancur. Jadi, jangan pernah tinggal nyampur dengan mertua atau mantu agar tidak terjadi kehancuran itu.”

        Alhasil kami bikin target, kudu pindah pas rumah yang kami bangun selesai. Gitu sih Mbak. Kalo bisa, lebih baik memang tinggal terpisah supaya aman tenteram damai. Seenak2nya rumah mertua lebih enak rumah sendiri kan.

        Semoga kuat dan tabah terus ya Mbak *peluk*

  8. pengen like bolak-balik deh postingan ini๐Ÿ˜›
    saya pernah tinggal sama bumer sekitar setengah taun, sekarang rumah pun juga deket banget. jadi kalo ada apa-apa juga kita bakal dicalling duluan ama bumer. bete? enggak lah. etapi kadang kalo lagi capek muka saya jutek banget sih. haha. yep, setuju. we’re the new girl๐Ÿ™‚

  9. Manteb Ra. Jaga jarak itu pentingggg banget. Eh gue benernya ada 1 tips lagi. DON’T TRY TOO HARD TO PLEASE YOUR MIL. Kita usaha jadi menantu yang baik, tapi kalo kita sampe mati-matian cuma untuk please MIL, tetep aja yang namanya MIL ke kita pasti ada boundary tertentu. Hahahaha. Yang penting kita tetep harus hormat dan sabar, despite apapun situasinya.

    • Hahaha.. Itu beneerrr banget! Apalagi di hati MIL pasti apapun tetep yg terbaik adalah anak (perempuan)nya. Sama lah kayak kita yang deep down inside tetep menganggap, ibu kita adalah yang terbaik. Ya gak?๐Ÿ™‚

  10. aaaahhh Ira, sukaaa banget ama postingan ini. Ini self reminder bukan cuma buat para istri diluar sana, tapi buat gw juga LOL. I’m marrying the only son in the family, with 6 sisters…uuuulalaaaa. Thank God, masih bisa akur meski kadang tak sejalan hahaha. Yap, semua bisa dibicarakan dan diusahakan cari jalan yang terbaik daaaaan someday gw juga bakalan jadi MIL๐Ÿ˜€

  11. kalau mamaku bilang, harus deket sama MIL, selalu ngasih contoh dirinya sendiri, yang MILnya (alias ibunya papaku) kalau mau minta apa-apa, mintanya sama mama, bukan sama papa. tapi aku sih gak setuju, menurutku itu lebay. aku prinsipnya sama, jaga jarak aman. kebetulan tinggalnya jauh juga sih memang, beda pulau. aku juga baca itu yang share note di fb yang di share di bagian awal, ngenes banget pas baca yang pengen peluk abang yang lama (kebetulan dua anak laki semua dan dipanggil abang pula). kebayang kalau nanti aku jadi ibu harus sampe minta kaya gitu, sedih amat. kalau ngasih MIL, sebisa mungkin aku usahain yang bagus (kalaupun harganya dianggep murah — ya kan kemampuan terbatas — tapi gak murahan). malah takut kalau ngasih MIL barang seadanya, nanti tau2 diomongin di belakang sama saudara2 suami. prinsip milihin barang aku sih gini aja, apa aku bakal mau ngasih barang yang sama ke mama sendiri ? kalau iya, lanjut. etapi bukan berarti dibeliin kembaran yak, serupa tapi tak sama lah hihihi.

    • Nah aku juga kalo ke luar kota, biasanya suka kasih oleh2 mirip ke nyokap dan MIL. Kebetulan dua2nya hobi pake daster. Jadi biasanya aku beliin daster, beda warna aja. Udah pasti kepake deh tuh hhahaha๐Ÿ˜€

  12. Suami gw gak dibesarin sama ibunya krn bapak ibunya pisah waktu suami masih kecil&suami serta sodara2 laki ikut bapak, sodara perempuan ikut ibu, setelah FIL meninggal pas mereka kuliah baru mereka mulai akrab lg sama MIL itupun g tinggal bareng krn beda kota, MIL gw sih baik ya tapi gimana ya..secara emosional gw ngerasa kaya sama orang lain, suami gw pun kayanya begitu, malah gw yg suka dorong2 dia u/ lbh sering komunikasi sama ibunya, tapi si ibu tipe yg pasrah aja, kalo anak dateng seneng, kalo gak yawda dipendem aja..gimana ya gw susah juga menggambarkan hubungan kita, jd sebates kewajiban menghormati&menghargai aja gitu..di lain pihak suami gw punya ibu angkat yg baiiik banget, anaknya laki semua dan semua mantunya nempeeeel bgt, bener2 kaya anak sendiri, sampe disuruh pisah rumah g mau, abis lahiran pun pada tinggal ama mertua, sama gw puj yg g ada hubungan darah deket aja baik banget&manggilnya ‘mantu ibu’ beliau ini baik bukan berarti gak pernah marah ya, menantunya juga suka dimarain atau ditegor tapi caranya sama kaya ke anak sendiri, jd g ada main depan belakang gitu, kalo gw tanya jawabannya ‘ya kalo anak ibu yg digituin gmn, jadi ibu sih balikin lg ke diri sendiri, ikhlas aja’ kalo bahasa abg skrg mah MIL goal gitu ya hehehe

  13. Hub gw dg MIL (janda 2 anak co) kyk sinetron. Berkali2 gw diusir bila ada masalah (sempet ikut MIL bbrp bln). Stlh kk ipar (single) meninggal, suami tinggal sm MIL yg diabetes, ambeien, stroke slama hmpr 5 th smpe MIL meninggal. Gw sbg mantu satu2nya tetep berusaha memberi perhatian saat MIL sakit. Sempet mrawat MIL pasca stroke dr masakin smpe cebokin. Sblm meninggal, MIL pesen ke suami utk kasi semua perhiasan ke cucu cewe. Gw ga dpt 1 gram pun. Bukan iri atw gmn ya, cm jd mikir apa yg ada dipikiran MIL trhadap gw prnh ngurus beliau. Pdhl stlh semua perlakuannya k gw dulu, bnyk tmn gw blg, mrk mgkn ga sudi smpe segitunya mrawat mertua. Kyknya apapun yg gw lakukan, dlm hati mertua tetep ga suka sm gw

    • Ya Allah Mbak, aku bacanya aja prihatin banget, gimana dirimu yang mengalami sendiri ya? Tapi inget, Allah gak akan ngasih cobaan kalo kita gak sanggup. Aku yakin Mbak Shinta ini orangnya tough, jadi dikasih cobaan MIL kayak gitu sanggup melaluinya. Semangat Mbak! *peluk*

  14. Halloo salam kenal.. Bener bgt sih kalo nikah sepaket ditelen aja semuanya. Tp kalo saya malah kebalikan, punya mama mertua super baek banget, tp anaknya super NGZLIN banget hahaha. Kalo kita argumen dikit aja pasti saya yg dibelain sama mama mertua. That’s when I realize, nothing in this life is perfect. We always need to learn. Hehehe. Thanks for sharing yaaa.

  15. Hi Mbak salam kenal…saya lagi googling menantu Vs Mertua dan ketemu blognya Mba. Pernikahan saya baru seumur jagung dan lagi susah2nya beradaptasi sama mertua. Saya juga milih ga deket ato jauh banget sama mertua. Sempat berusaha deket tapi susahhhnya..apa sayanya yg belum bisa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s