Bahasaku, Bahasamu Jugakah?

Setiap ke daerah-daerah di Indonesia, gue selalu menyempatkan diri ngobrol sama penduduk lokal. Bisa sama panitia, staf hotel, pelayan resto, supir angkot, etc. Mau itu ke Merauke, Morotai atau ujung utara Sumatera, tetep nyambung karena meski beda suku, mereka semua bisa bahasa Indonesia.

Nah semalem pas ngobrol-ngobrol sama warga lokal di Ende, plus seorang temen wartawan yang juga berasal dari sini, gue baru tau kalo di Pulau Flores, tiap kabupaten punya bahasa dan dialek lokal masing-masing. Uniknya, dialek itu beda jauh satu sama lain. Nggak kayak bahasa Jawa di Cirebon yang tetap bisa dipahami orang Jawa di Solo atau Madiun, misalnya.

Di sini, dialek Kabupaten Ende sulit dipahami oleh masyarakat kabupaten Maumere begitu juga sebaliknya. Bahkan di beberapa kabupaten, nggak cuma ada 1 dialek tapi beberapa sekaligus.

Dengan naif gue bertanya, “Kalo mau berkomunikasi, caranya gimana Bung?” Temen gue menjawab, “Ya kita pake Bahasa Indonesia, karena nggak ngerti bahasa kabupaten lain.”

Wow, gue pun termenung sendiri. Slogan bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan itu emang bukan cuma omong kosong ya. Buktinya yang diucapkan temen gue di atas.

Trus gue jadi berpikir. Flores itu hanya sebagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara NTT hanyalah 1 dari 33 provinsi di Indonesia. Kebayang kan betapa kayanya budaya dan bahasa Indonesia?

Data dari wikipedia menyebutkan, Indonesia memiliki lebih dari 238 juta penduduk dengan 300 suku serta 742 bahasa dan dialek lokal. Wong di Papua doang aja ada lebih dari 270 bahasa lokal. Dan semua penduduk itu rata-rata mengerti bahasa Indonesia.

Gue pun tiba-tiba langsung kepikiran nasib bahasa Indonesia di masa depan. Seperti yang diketahui, saat ini rata-rata warga di kota-kota besar ambisius untuk mendidik anak-anak mereka dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Bahkan belakangan ini, mencari sekolah berkualitas yang mengedepankan bahasa Indonesia di Jakarta itu rasanya kayak mencari jarum di dalam jerami.

Dimana-mana yang ditonjolkan adalah pendidikan bilingual atau malah full English sekalian. Alhasil, sekarang udah banyak banget ditemui anak-anak yang nggak bisa bahasa Indonesia sama sekali, meski orang tua mereka warga Indonesia asli dan paspor mereka masih berwarna hijau dengan stempel Garuda.

Gue berandai-andai, kalo kondisi ini terus menerus begini, generation gap dan language gap bakal lebih parah. Apalagi seperti kita ketahui, pembangunan dan kemakmuran di negara kita ini kan nggak rata. Semua masih terfokus di Jawa dan beberapa kota besar di Sumatera. Sementara di pelosok, kondisinya masih jauh dari ideal.

Kalo begini terus, kelak anak-anak di Jakarta dan kota-kota besar yang nggak bisa berbahasa Indonesia akan tumbuh jadi manusia-manusia yang tetap nggak bisa berbahasa Indonesia. Masalah pun muncul saat mereka mau berkomunikasi dengan penduduk di daerah. Pake bahasa apa? Meski sama-sama WNI, tapi anak-anak Jakarta ini nggak bisa berbahasa Indonesia. Masa mau pake penerjemah untuk berkomunikasi dengan saudara sebangsa dan se-Tanah Air?

Aduh aseli lho, gue ngeri banget kalo kondisi itu benar-benar kejadian. Makanya sampai saat ini, gue tetap mengutamakan bahasa Indonesia untuk bahasa pertama yang dikenal Nadira. I want Bahasa Indonesia to be her mother’s tongue. Untuk sekolah juga begitu. Seperti yang pernah gue tulis di postingan-postingan sebelumnya, gue selalu mencari sekolah berbahasa Indonesia untuk pendidikan dini Nadira. Kenapa? Karena gue mau dia fasih berbahasa Indonesia sebelum belajar bahasa asing.

Emang sih, pada praktiknya nggak segampang itu. Seperti yang gue tulis di atas, nyari sekolah berbahasa Indonesia yang oke dan dekat rumah itu susahnya luar biasa. Akhirnya dapet yang bilingual, yo wis deh nggak apa-apa. Yang penting ibu gurunya mengajar dalam bahasa Indonesia full, dan hanya sesekali mengajar bahasa Inggris.

Tapi gue sempet mikir, kalopun Nadira bersekolah di PG berbahasa full English, mungkin gue akan membiasakannya berbincang-bincang dalam bahasa Indonesia di rumah sehari-hari. Semata-mata cuma untuk menjaga kefasihannya berkomunikasi dalam bahasa ibu sekaligus identitas dirinya.

Apakah gue anti pada bahasa asing? Oh tentu tidak. Sehari-hari Nadira tetap nonton film, acara atau main games di tab yang berbahasa Inggris. Makanya sekarang dia bisa berhitung, hafal alfabet dan paham beberapa kata dalam bahasa Inggris (sungguh ini bukan pamer). Semua bukan gue yang ngajarin, tapi dia belajar sendiri. Gue sama sekali nggak menutup akses bahasa asing dari dia.

Anyway, postingan ini nggak bermaksud apa-apa. Cuma sekadar bentuk keprihatinan gue aja sebagai WNI pada perkembangan bahasa Indonesia. Saat masyarakat asing mulai tertarik belajar bahasa kita, warga kita justru meninggalkannya. Mudah-mudahan bahasa Indonesia nggak akan bernasib seperti gamelan atau wayang ya, yang dinikmati dan diminati masyarakat mancanegara tapi dilupakan masyarakatnya sendiri. Amin.

37 thoughts on “Bahasaku, Bahasamu Jugakah?

  1. Salah satu edisi majalah National Geographic Indonesia pernah membahas tentang beberapa bahasa dan dialek lokal di beberapa negara yang indangered dan bahkan sudah punah, banyak. Semua dilahap bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Kadang aja kalo mau keluar negeri yang bahasanya ‘rodo nganehi’ seperti misalnya Korea lah, atau Spanyol, paling ngomongnya gini dah “Ah, ntar pakek bahasa Inggris aja dah disana”, jadi tantangan untuk mempelajari bahasa lain pun berkurang, padahal cobak ya, belum tentu semua orang di negara-negara itu bisa pulak bahasa Inggris, apa nggak nyaho kita di pinggir jalan hihi, mentok-mentok pakai bahasa isyarat.

    Etapi…anak-anak Indonesia sekarang yang bahasa internasionalnya cespleng gitu, ngarti banget banget banget nggak ya EYD, misalkan penggunaan kata baku yang paling tepat dalam tulisan resmi, atau kalau Terima Kasih itu bukan terimakasih, dll dll (beda kan kayak gue yang suka ngeruksak bahasa hihihi)…

    • Itulah makanya warga dari English speaking country, terutama Amerika, sering banget dianggap snob karena mereka cuma paham bahasa Inggris. Trus kalo wisata kemana-mana, maunya ngajak orang ngobrol/tanya dalam bahasa Inggris. Alhasil, di beberapa negara kayak Prancis gitu, kalo lo bertanya dalam bahasa Inggris, biasanya dicuekin or dijutekin. Tapi begitu lo bisa 1-2 patah kata bahasa mereka, biasanya bakal dapet apresiasi luar biasa.

      Anak-anak zaman sekarang bingung deh. Kalo di sekolah kelas atas, bahasa pergaulannya Inggris. Kalo sekolah di sekolah menengah bawah, bahasa pergaulannya bahasa alay bok. Hahaha..πŸ˜€

  2. selain bahasa asing… bahasa alay juga memberi “sumbangsih” ke GAP an komunikasi antara anak muda jama sekarang dan jaman dulu.. susah sekarang nemu anak SMP,SMA and SD yang kalo bicara (masih) bisa bedain ngomong sama ortu, kakak, temen seangkatan dari segi bahasa nya..

  3. bahasa daerah ya,,, mmm di NTB juga keknya gitu Ra, orang lombok, sumbawa sama bima tuh bahasanya beda2 gw pernah belajar bahasa mereka dan yg gw bisa cuma bahasa bima, udah gitu bahasa bima juga agak beda antara bima kota n bima pesisir, cmiiw *piss*

    • Iya bener, di kepulauan Nusa Tenggara, baik NTT maupun NTB, bahasanya emang beda-beda dan jauh banget antara pesisir, kota dan pegunungan cmiiw. Masalahnya kita sebagai warga Jakarta terbiasa ngeliat Indonesia pake persepsi Jawa doang yang bahasanya mirip-mirip semua. Padahal di luar itu jauuhhh beragam.

  4. mana yg lebih mengkhawatirkan, banyak orang tua malah bangga anaknya pinter bahasa inggris meski gak bisa bahasa indonesia….kasian anak2 itu jadi gak punya bahasa ibu karena bahasa ibunya dan bahasa si anak gak sama.

    • Ih bener banget Nov. Padahal istilah mother’s tongue kan karena biasanya ibu berbicara dalam bahasanya kepada anak-anaknya. Lah kalo ibu yang berbahasa Indonesia mengajarkan bahasa asing ke anak-anaknya, bener katalo. Nanti mother’s tongue-nya beda.

  5. Baca ini, jadi ingat pas duduk di bangku kuliahan. Pas belajar sociolinguistics. Rasanya memang fenomena sekarang sudah menunjukkan kepada sebagian besar kita, kalau ‘penghargaan’ berbahasanya memang sudah berkurang.

    Kita sendiri terkadang menemui dilema. Akhirnya, setelah penghargaan untuk bahasa sendiri berkurang, penghargaan untuk bahasa2 lainnya ternyata jauh lebih besar. Padahal kalau memang kita bisa “menjaga” bahasa kita baik2, manfaatnya ya kita juga yang rasa.

    • Betuul Mas Teguh. Makanya aku menyesal banget karena papaku nggak ngajarin aku bahasa Jawa dan Mamaku juga nggak ngajarin aku bahasa Sunda. Jadi aku nggak bisa menjaga kelestarian bahasa daerah yang darahnya mengalir di dalam tubuhku. Karena itu, aku berusaha ngejaga dengan ikut berupaya melestarikan bahasa Indonesia aja. Jangan sampai tergerus bahasa asing karena mempengaruhi identitas kita sebagai bangsa kan.

      • Iya Mbak Ira. Kalau akhirnya, semua bahasa utama dalam keluarga, seperti bahasa jawa, sunda atau bahkan Indonesia akhirnya kurang pamornya (karena dirasa tidak perlu kecil) di keluarga kecil kita sendiri, wah, gak bagus juga nantinya.

        Bahasa yang utama, akhirnya hilang sedikit demi sedikit karena tidak dibiasakan dipakai dalam keseharian. Huft.

      • Ah, sampai sekarang aku belum lancar berbahasa jawa Mbak.πŸ˜€

        Senangnya kalau anggota keluarga tertua masih memberikan perhatian cukup besar untuk kebaikan keluarga lainnya. That’s priceless.

  6. Dulu waktu di jogja sekos sama org malaysia, lupa waktu itu nonton acara apa di tv dia komentar “lucu ya disini liat org india ngomongnya bhs indonesia, liat yg chinese jg ngomong bhs indo” mudah2an sampai kapan juga bhs indonesia bs jd bhs penghubung ga sprt spore&malay. Sekarang banyaak bgt ortu yg bangga kalau anaknya ga bisa bhs indonesia. Menurut gw harusnya bangga kalau nilai bahasa indonesia lo lebih tinggi dr nilai bhs. Inggris, krn sesungguhnya grammar Bhs indonesia itu susah sekalii (apa cm gw ya yg ngetasa gt?)

    • Ih terhura gue baca komen temenlo yang orang Malaysia. Bener Nam, di sana kan tiap-tiap etnis bahasanya beda-beda ya. Ada sih Chinese/India yang bisa bahasa Melayu tapi biasanya nggak terlalu fasih atau cuma tau dikit-dikit. Untung banget ya di Indonesia semua warganya, mau berasal dari etnis/suku apapun kudu wajib pake bahasa Indonesia.

      Grammar Indonesia itu menurut gue gampang-gampang susah. Keliatan gampang karena nggak pake past/present/future tense dan nggak pake gender kayak di bahasa-bahasa Roman (Prancis, Italia). Tapi ribet karena saking fleksibelnya, aturannya suka nggak jelas.

  7. bener banget Ra, malahan gue berniat anak gue mau gue masukin sekolah alam sekalian hahahaha selain bisa bahasa indonesia dengan fasih, dia bisa ngerti budaya indonesia karena gue pengen anak gue bangga sebagai anak indonesiaπŸ˜† wong emak bapake indonesia tulen.

  8. *Jadi meragukan nasionalisme ku eh tapi aku pake pertamax dan ikut pemilu dengan sadar kok hihi langsung cari pembenaran* Errr…..jadi malu, Ra. bahasa inggrismu lebih bagus dari bahasa inggrisku dan suami , tapi kami nekat pake bahasa inggris ke anak. Sering dicibir juga kayaknya *sok peka* Tapi keputusan itu udah melewati berbagai pertimbangan … ciyee *biar kesannya bukan ikut-ikutan haha* Salah satunya kalau bahasa Indonesia mereka lebih mudah didapatkan di sekelilingnya. Nah si Ephraim bahasa indonesia-nya malah bagus, EYD banget tapi lebih suka menggunakan bahasa Inggris, sebaliknya Gaoqi tetap memilih berbahasa Indonesia tapi bahasa Indonesia nya biasa saja dan bahasa inggrisnya acak kadut. Padahal perlakuan dan lingkungan keduanya kan sama banget,Yang bikin sempet goyah sih waktu itu pernah baca kalau bahasa ibu akan lebih mendekatkan ke Yang di Atas dalam berkomunikasi. Asli pas baca itu deg-degan, ngerasa bersalah. Soal yg lain mah cincay tapi kalo gara-gara nggak menomor satukan bahasa ibu anak nggak deket sama Tuhan, rasanya gagal bgt gitu..

    • Ih gue salut deh Ndang samalo. Soale lo nggak defensif sama sekali atau malah marah-marah karena postingan gue bersebrangan dengan pola didiklo. Kalo gue sih bikin postingan ini semata-mata cuma nulis isi pikiran aja, gak berusaha nge-judge whatsoever. Dan setuju samalo, tiap anak akan beda meski dibesarkan dengan cara yang sama.

      Eh serius itu bahasa ibu akan mendekatkan kepada Yang Di Atas? Kalo sepemahaman gue mah, lebih ke bahasa yang lebih dipahami anak ya, bukan bahasa ibu. Mungkin disebut bahasa ibu karena biasanya kan bahasa ibu itu adalah bahasa pertama anak, jadi harusnya lebih piawai di situ, cmiiw.

  9. Nah mba, kalo ak pernah nemu kasus yang aneh…dulu punya art, dia ga ngerti bahasa indonesia sama sekali…dia ngertinya bahasa daerah doang…duh, ak jadi sedih gitu…brarti dia kan ga dapet pendidikan bahasa…emang si katanya dia cuma sekolah sampe sd tapi kan bukannya sd dapet mata pelajaran bahasa indonesia??..jadi ngelus dada, padahal domisili dia itu di jawa barat,ibaratnya deket dari jakarta (menurutku,hehe)…ini sama kasusnya dengan kemiskinan,listrik yang penyebarannya ga merata,ga cuma di luar jawa,ternyata d dalam jawa masih ada ketertinggalan..
    balik lagi ke topik,akhirnya ak n ibuku sedikit2 ajarin bahasa indonesia, supaya bisa berkomunikasi dan tentunya supaya dia makin pinter…takutnya ntar di tengah jalan pas pulang kampung dia di tipu krn cm bisa bahasa daerah doang…

    • ART gue juga yang kemarin tinggalnya di Rangkas, provinsi Banten. Tapi di sana nggak ada listrik, jalanan rusak parah, air juga susah. Makanya gue mikir, ini yang jaraknya cuma beberapa jam dari Jakarta aja kayak gitu. Gimana yang di ujung Timur Papua sana? Bener-bener nggak rata ya😦

      Wah bener tuh Mak. Kudu bisa bahasa Indonesia supaya nggak ditipu. Kan skrg banyak TKI atau ART yang dikerjain di jalan karena naif banget😦

  10. Betul!
    Lah gue aja yang tinggal di eropah, malah lebih chauvinisme daripada beberapa orang yang tinggal di Indonesia. Hohohoo..
    Gw ngajarin anak gue untuk berbahasa yang benar, karena bahasa kita susah bow secara tata bahasa, coba imbuhan me-kan, di-kan, akhiran -nya, kalo gak teler belajarnya hehehe.. Lah temen gue di kampus aja dulu banyak yang teler buat bikin paper.
    Beruntung anak gue dapetnya mak mak kyk gue yang cinta tata bahasa hahahaha -.-”

    Kalo gue bilang yah, fenomena kebule2an ini terbawa sama pemikiran Asia yang memang mentuhankan budaya barat. Padahal dunia barat sendiri gak segitunya dengan Asia. Orang Jerman aja nih ya, paling males ngomong bahasa Inggris kalo gak kepaksa. Lah cuma orang Asia doang yang bangga anaknya dari kecil ngomong bahasa orang lain drpd bahasa mak bapakenya..

    Ada benar dan ada salahnya.. Dan banyak pathetic-nya.

    • Tapi normal My, soale gue begitu jadi minoritas, bawaannya jadi chauvinist hahaha..

      Iya bahasa Indonesia itu susah-susah gampang sih. Sepintas gampang karena nggak pake past/present/future dan gender (feminin/maskulin/netral), tapi ternyata setelah didalami ribet bener.

      Maklum, Asia kan kena paham anglofili, jadi memuja bener apapun yang datang dari Barat. Indonesia udah mulai kena nih, makanya mudah-mudahan bisa bertahan deh di tengah gencarnya serangan yaa..

  11. Aku pernah ikut seminar pemertahanan bahasa (bahasa ibu) kalo anak yg sedari kecil udh diajari bahasa macem2 tar rentan terkena alzeimer, widih…ngeri juga ya…

    Dan menurut penelitian kalo anak yg bahasa ibunya diperdalam bakalan lebih mudah di penguasaan bahasa2 lain nantinya

    Ada dosen senior di tempatku, dia ngajarin cucunya blajar bhs jawa krama inggil, salut bgt, anak kecil bs bahasa krama gt sama orang2 yg lbh tua, pdhl klo dipikir neneknya aja doktor ilmu bahasa InggrisπŸ™‚

    • Oh ya, sampe begitu Mbak ternyata dampaknya? Gile beneeerr.. Serem juga ya. Itu based on research kan ya? Kalo emang bener, bagus lho untuk dipublikasikan.

      Wah gue pengeenn banget lho Nadira belajar macem-macem bahasa daerah sambil dia belajar bahasa asing nantinya. Soalnya gue nyesel banget nggak bisa bahasa Jawa dan Sunda padahal ortu gue dari sana😦

  12. berarti aku slama ini salah ya. selama ini negur mbah2 yang ngasuh anakku karena ngajarin anakku boso jowo kromo alus, sedangkan aku ngomongnya kan pake bhasa indonesia. lha gimana dong? kan aku ga pahaam. baiklah, demi melestarikan budaya aku akan belajar ngomong kromooo..huwaaa

  13. Gue juga kaya lo ra, ortu Sunda tapi gue samsek gak bisa ngomong sunda (kalo denger orang ngomong sunda sih gue rada ngerti dikit, cuman kalo disuruh ngomong gelegepan deh).. di keluarga gue yang gak bisa bahasa sunda cuma gue sama adek gue doang sih..mungkin karna kecerdasan bahasa gue minus kali yee, jadi suseh bener yaah blajar bahasa..

    pas kuliah di jogja 4 tahun, gue juga gak bisa tuh ngomong jawa.. dan sampe gue punya laki dan mertua orang jawa tulen juga sampe sekarang gak bisa bahasa jawa.

    Nah makanya gue pengen anak gue bisa bahasa jawa..tapi susah banget yah ngomongin ke si suami buat ngajarin Aghnat bahasa Jawa.. katanya “wagu” ngajak ngomong jawa ke anak sendri, jadi malah kaku..hiyaaah

    • Nah nyokap gue bahasa Sundanya juga parah Mel. Makanya bahasa Sunda gue jauuh lebih parah hahaha.. Kalo bokap gue entah kenapa nggak pernah ngajarin atau bercakap-cakap ke anak-anaknya pake bahasa Jawa. Alhasil bahasa Jawa gue paraahh banget. Tapi karena sotoy, gue suka sok ngerti gitu kalo lagi berkunjung ke Bandung or Solo pas ngomong sama orang lokal. Trus puyeng dah pas dijawab pake bahasa Sunda/Jawa lengkap hihihi..πŸ˜›

  14. Ra anak gue di sekolah alam Ciganjur.. emang bayarannya rada menguras dompet yang dah tipis ini.. hahahhaha. jadi bayaran untuk TK 510 rb, blom ditambah uang tahunan 3,3 juta (hayah jadi inget bulan ini mesti bayar uang tahunan *ngais-ngais tabungan*)

    emang di sekolah alam study tour nya jauh jauh..tapi gak sepenuhnya dibayarin orang tua.. mereka mesti usaha cari duit buat ngebiayaian outingnya itu..yang ke Banda Naira itu mereka cari sponsor loh ke perusahan-perusahaan, sampe dapet uang 90 juta-an kalo gak salah..walau awalnya mereka mesti usaha kecil-kecil dari mulai jualan kue, nyuci mobil sampe jual barang bekas..akhirnya dapet chanel buat presentasi ke perusahaan gede buat minta dana.. hebat deh perjuangannya.

    • Ih gue naksiiirr banget deh sama Sekolah Alam Ciganjur. Kemarin pas gue dateng suatu liputan, ada guru-guru dari sekolah itu dan ngejelasin kalo materi pelajaran di sekolah alam pake lagu ya bok. Duh gue langsung kebayang Nadira pasti demen banget karena dia itu gampang nyerap sesuatu yang dinyanyiin. Sayang kejauhan euy dari rumah gue😦

      Lo bikin review-nya dong Mel. Banyak yang tertarik pasti dehπŸ™‚

  15. duluuu pernah si kecil ngomel-ngomel dan bahasanya EYD sekali. tetangga denger dan komentar: ketauan banget didikan emaknya.

    bangga sekaleee sayah waktu itu. setidaknya anak gw terhindar dari alaysmeπŸ˜€ cuma sekarang binun ngajarin ngomong bahasa Jawa Timurannya. ngerti bahasanya tapi ga bisa ngomongnya ha ha ha

    alhamdulillah dapat sekolah yang guru-gurunya berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. kalo sekarang bisa dikit-dikit bahasa Inggris, itu efek kesenengan nonton Imagination Movers ajahπŸ˜€

    dan lagi, kayanya para reporter berita banyak yang harus belajar bahasa Indonesia lagi deh. perasaan sering salah akhiran -i sama -kan dll dll.

    • Ahahaha.. Gue jadi inget anaknya sepupu gue yang kalo ngomong EYD banget. Kita jadi suka ketawa karena inget soap opera kayak Maria Mercedes, dll gituπŸ˜€

      Ah bener tuh soal reporter TV. Because it’s part of their job, kenapa nggak latihan berbicara bahasa Indonesia dengan baik dan benar ya?

  16. Pingback: Don’t Eat What You Can’t Swallow « The Sun is Getting High, We're Moving on

  17. jadi inget, di Brunei pernah liat plang besar gitu tulisannya: cintai bahasa Melayu.
    ajakan pemerintah buat ngingetin generasi muda Brunei yg sekarang banyakan pake bahasa Inggris.

    temen-temen orang asli Brunei juga beberapa ada yg ga bisa bahasa Melayu sama sekali.

    bukan ngga mungkin itu bakal kejadian di Indonesia ya mba?:-/ *khawatir*

    -anti

    • Eh itu bener, Ti. Waktu ke Korea dulu, gue bareng 3 wartawan Brunei. 2 orang masih muda, 1 orang udah bapak-bapak. Yang bapak-bapak sih ngobrol sama sesama rumpun Melayu pake bahasa Melayu. Sementara yang muda pake bahasa Inggris terus menerus, meski cuma ngobrol antar sesama mereka doang.

      Even, I’m not sure whether those two Bruneis can speak Melayu or not karena Inggrisnya fluent dan berlogat British. Mudah-mudahan di Indonesia jangan gitu2 amat ya. Serem😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s