The So-Called Heaven on Earth, Morotai (2)

Pagi pertama di Morotai diisi dengan.. molor! Hahaha.. *dadah-dadah sama niat mau motret sunrise di pantai* Yaabes, tidur juga baru jam 2 ye. Tapi gara-gara tidur di tenda yang penuh dengan berbagai manusia, entah kenapa gue bisa bangun pagi sendiri, sebelum weker bunyi. Jadi deh jam 7 eikeh udah rapi jali dan makan sarapan yang disediain panitia.

Berhubung ada menteri, sarapannya cihuy cyin. Kokinya pun didatengin dari hotel apa gitu di Menado. Jadi meski tendaan, sarapan mah gak kalah sama hotel berbintang tigaπŸ˜€

Agenda hari ini naik kapal ke pulau-pulau di sekeliling Morotai. Kita naik dari Pelabuhan Daruba, yang udah rame sama yacht-yacht peserta Sail Morotai. Look at the view, lovely isn’t it?

Dari pelabuhan, kita kudu naik kapal motor dulu ke KRT Baruna Jaya III. Berhubung baru 2 kali naik beginian, langsung deh poto-poto di speedboat. Untung gak kecebur!πŸ˜›

*duh gak ada pengarah gaya sampe lupa tahan napas pas dipoto*

Begitu sampe kapal, wah gede beneeerr.. Beda banget sama kapal yang pernah gue naikin dulu. Langsung deh iseng keliling-keliling sambil ngebatin “Oohh.. Titanic mungkin kayak gini yaa..” *maap norse*

Tujuan pertama kita pagi itu adalah ke Pulau Zum-zum. Pulau ini adalah tempat Jendral MacArthur indehoy pas lagi mengokupasi Morotai. Konon kabarnya, mobil dia dibawa ke sini dengan cara yang unik. Jadi semua kapal perang AS yang ada di Morotai disuruh berbaris dari Morotai ke Zum-zum. Nah MacArthur dan mobilnya lewatin kapal-kapal itu untuk sampe ke Zum-zum.

Pulaunya sendiri sih nggak spesial-spesial amat IMHO. Gara-gara Sail Morotai, dibikinlah plang “Pulau Zum-zum McArthur Island” gede-gede *typo pula tuh yang bikin, it’s MacArthur cyin, not McArthur :(* Trus dibikin juga patung MacArthur gede. Di deket situ, ternyata ada patung MacArthur lain, yang lebih tua, yang ternyata didirikan oleh masyarakat Pulau Zum-zum untuk mengenang sang Jenderal.

*Ada Mbak Christine Hakim lagi wawancara veteran dari Australia/Amrik di depan patung MacArthur yang baru. CH lagi bikin film dokumenter tentang Morotai dan pulau-pulau di Kepulauan Halmahera Utara*

*patung MacArthur yang lama*

Karena ngerasa garing, gue dan wartawan-wartawan lain pun penasaran untuk cari tahu tentang sejarah MacArthur di pulau itu. Masa udah jauh-jauh dateng, cuma nemu patungnye doang? Kita pun minta di-guide sama warga lokal ke gua yang katanya sih merupakan pintu masuk ke bunker milik MacArthur. Nama warga ini Pak Senen. Menurut dia, lokasinya deket, palingan cuma 1 km. Okay, we’re in!

Kenyataannya, Masya Allaaahhh… Nggak nyampe-nyampe! Mana kita jalan kaki, masuk hutan keluar hutan, masuk hutan mangrove keluar hutan mangrove, mendaki bukit, turuni lembah *lah jadi Ninja Hatori* Pokoke bener-bener top deh! Serombongan pun bolak-balik misuh-misuh “1 km apaan nih? Ini mah udah 5 km kayaknya.” Mana suasana panas gilak. Mata gue udah berkali-kali terasa pedes karena ketetesan keringat sendiri.

*Gue koq ngerasa spooky banget ya di dalem hutan mangrove. Berasa kayak di Forbidden Forest-nya Harry Potter*

Sampai di lokasi, ternyata nggak seperti yang dibayangkan. Menurut sahibul hikayat, di dalam gua itu masih ada mobilnya MacArthur lho. Tapi berhubung udah ketutupan akar pohon dll, jadi nggak bisa dimasukin. Bahkan pintu masuk guanya aja tersembunyi di dalam hutan.

*gua yang konon merupakan pintu keluar bunkernya MacArthur*

Dari Zum-zum, kita balik ke kapal lagi untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Dodola. Awalnya sih udah pada teler semua tuh, secara abis jalan kaki+sauna kan di Zum-zum. Tapi begitu dikasitau, Dodola itu kece banget, langsung semangka lagi. Dan akika tinta lupa mengoleskan sunblock dong yaa *info penting :P*

As usual, dari KRT Baruna Jaya ke Dodola kudu naik speedboat. Begitu sampe di Dodola, Subhanallah, emang kece berat. Pasirnya krem-krem gitu. Tapi yang kece beng-beng adalah jalan setapak di tengah laut.

Jadi, Dodola ini terbagi jadi Dodola besar dan Dodola kecil. Antara kedua pulau itu, ada jalan setapak di tengah laut. Kalo dateng pagi-pagi, jalannya keliatan. Nah begitu sore dan air laut mulai pasang, siap-siap kelelep yee karena jalannya kerendam. Tapi keren sih, kalo diliat dari jauh, kita jadi kayak Nabi Musa, berjalan membelah lautπŸ˜€

Karena lagi M dan nggak bawa perabotan berenang, gue gak berani berendem-rendem. Nyeselnya tujuh turunan deh cyin, secara nggak yakin bisa balik lagi ke sini dalam waktu dekat. Hikss.. Jadi minta tolong dipotoin sama temen aja lah *tetepp :P*

Selanjutnya, kita balik ke kapal, dan sempet motret sunset dan Maghrib di tengah laut dari atas kapal. Wow, Subhanallaahh..

Trus balik deh ke Morotai dan ke tenda tercinta. Undangan dinner pake lobster ditolak karena telernya gak nahan. Malem itu rasanya kalo Bersih Sehat buka cabang di Morotai, pasti antrinya kayak antri beras, hihihi..

Sekian dulu ah postingan kedua ini. Bersambung di postingan selanjutnya yaaa..πŸ™‚

10 thoughts on “The So-Called Heaven on Earth, Morotai (2)

  1. yang di tengah pulau Dodola keren mba..!!! kayak di salah satu pulaunya Kapten Sparrow…πŸ˜€

    btw, di pulau Zum-Zum dimintain Gum-Gum gaak? (keseringan nonton NiteAtTheMuseum) hueheheh…

  2. Pingback: The So-Called Heaven on Earth, Morotai (3) « The Sun is Getting High, We're Moving on

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s