Penuh Cinta dari Indonesia

Salah satu foto favorit saya bersama Nadira adalah foto satu ini:

Saya suka foto itu bukan karena lemak-lemak saya nggak terlalu jelas terlihat ya😛 Tapi karena saya dan Nadira mengenakan baju kembaran, yang dibuat dari kain batik Jambi pemberian ipar saya.

Jadi, pekerjaan ipar saya waktu itu kebetulan membuatnya harus sering berpergian keliling Indonesia. Karena Nadira merupakan keponakan satu-satunya, tentu saja yang selalu ia ingat untuk dibelikan oleh-oleh adalah Nadira. Dan, di beberapa wilayah Indonesia, terutama wilayah yang tidak terlalu populer di antara turis, mencari oleh-oleh untuk anak-anak bukanlah hal mudah.

Alhasil ipar saya pun mengaku bingung. Saat berada di wilayah seperti Jambi dan Bengkulu, ia kesulitan mencari suvenir yang bisa dikenakan keponakannya tersayang. Waktu itu Nadira baru berusia 1 tahun, sementara kaus anak yang ada rata-rata untuk anak usia 3 tahun ke atas.

Untunglah saat berkunjung ke sentra kerajinan tradisional, ia melihat batik lokal. Lantas ipar saya membeli beberapa meter dan membungkusnya.

Kebetulan, saat ia memberikan batik kepada saya, seorang sepupu tengah menyiapkan pernikahan. Langsung deh saya menjahit busana kembaran bertiga untuk acara tersebut. Saya dan Nadira membuat gaun, sementara suami membuat kemeja.

Yang bikin sebal, saat waktu sudah mepet, ternyata hasil jahitan gaun saya malah amburadul. Akhirnya karena waktu tinggal sepekan lagi, saya pun memutuskan memperbaiki gaun yang hancur total itu di penjahit langganan. Cost-nya? Lumayan untuk membeli beberapa meter batik Jambi lagi *mewek*

Alhasil, di kemudian hari, saat saya ingin menjahit batik-batik lain yang saya beli sendiri maupun pemberian orang, saya pun berupaya sehati-hati mungkin memilih penjahit yang cocok dan paham apa keinginan saya. Bukan apa-apa. Kalau hasilnya jelek, kapan lagi saya bisa mendapatkan batik dengan motif yang sama?

Selain itu, saya menyadari betul, batik dari daerah-daerah di luar Pulau Jawa agak sulit ditemui di Jakarta. Rata-rata penjual batik di Jakarta hanya menjual batik yang umumnya ada di Pulau Jawa, seperti batik Pekalongan, batik Solo, batik Yogya dan batik Garut. Bahkan batik Madura yang cantik-cantik dengan motif bold dan warna yang vibrant pun, belum tentu bisa ditemukan di sentra-sentra penjual batik besar di Jakarta.

*on Nadira: dress batik beli di Pasar Beringhardjo*

Karena itu, setiap tugas ke luar kota, saya berupaya menyisihkan waktu untuk mencari batik setempat. Dan ini nggak mudah lho. Kalau ke Yogya atau Solo mungkin tinggal cus pergi ke Pasar Beringhardjo dan Pasar Klewer. Tapi kalau di Riau, Palangkaraya dan Jayapura, belum tentu semua penduduknya tahu tentang batik lokal, kan? 

Apalagi ternyata, setelah saya membaca dan mengobrol dengan beberapa desainer, batik dari luar Jawa itu rata-rata tetap diproduksi di sentra batik Pekalongan untuk menjaga kualitasnya. Maklum, urusan produksi batik, pengrajin batik di Jawa masih “megang” lah. Belum banyak pengrajin batik di luar Jawa yang sudah semahir pengrajin batik di Jawa. Namun agar berbeda, motif batik dibuat oleh pengrajin dari daerah asalnya.

Repot ya? Inilah PR, yang menurut saya, menjadi beban bagi generasi muda Indonesia, terutama angkatan Nadira nanti. Bagaimana mereka melestarikan dan mencintai batik, sekaligus memajukannya tak hanya sebagai sebuah industri fashion belaka. Namun juga sebagai identitas bangsa, dengan ciri khas tiap-tiap daerah yang membuatnya.

Perlu juga digarisbawahi upaya diversifikasi sentra batik sehingga batik nggak melulu jadi milik orang Jawa. Dari pengalaman saya, batik-batik non Jawa juga tak kalah menarik lho. Bahkan batik Bali, Papua dan Kalimantan memiliki warna dan motif yang lebih gonjreng, cocok untuk anak muda.

*on Nadira: dress dari batik Bali *

Nah, untuk mewujudkan kecintaan pada batik, bodrexin menggelar event Satu Batik Jutaan Jari. Event ini berlangsung hingga 30 April 2012. Untuk ikutan, caranya gampang sekali. Kita hanya perlu meng-upload cap sidik jari si kecil ke fanpage Kebaikan bodrexin saja. Nanti sidik jari si kecil akan diabadikan menjadi motif batik tertentu. Seru ya?🙂

Info lebih lanjut selain didapat di fanpage Kebaikan bodrexin, juga bisa dilihat di twitter @tentangkebaikan. Uniknya, selain lewat social media, program ini juga digelar secara offline, dalam sebuah roadshow ke 9 kota di Indonesia. Rencananya, seluruh sidik jari anak-anak yang sudah berhasil dikumpulkan akan dirangkai dalam sebuah karya batik yang akan diluncurkan pada peringatan Hari Anak-anak 23 Juli mendatang.

Duh nggak kebayang deh 10-15 tahun lagi, saya memberitahu Nadira bahwa ada motif batik yang dibuat dari cap jempolnya. Bisa nganga terkagum-kagum atau justru dia mikir “Ih ibu lebay amat siihh” hehehe..😀

Nah buat padu padan batik, plus tips-tips tentang mix and match-nya, so pasti panduan saya adalah Mommies Daily (MD). Sejak masih single dan berencana menikah, saya sudah sering mengobrak-abrik forumnya untuk mencari info seputar persiapan pernikahan. Saat saya hamil, tambah sering lagi deh “mantengin” thread-threadnya. Berbagai info saya “lahap” mulai dari yang remeh temeh seperti waxing untuk persiapan melahirkan, sampai big things seperti daftar perlengkapan bayi yang harus dimiliki dan tips menyusui.

*contoh mix and match batik ala-ala fashion spread hihihi.. :D*

Saat ini, setelah Nadira berusia 3 tahun, saya masih terus membaca dan sesekali mengirimkan artikel untuk MD. Prinsip saya, karena saya dulu banyak mendapatkan ilmu dari sesama member MD saat clueless tentang kehamilan dan bayi, saat inilah saya berupaya berbagi sedikit ilmu dan pengalaman yang saya miliki. Mudah-mudahan bisa membantu para clueless moms or moms-to-be, seperti saya 4 tahun lalu🙂

4 thoughts on “Penuh Cinta dari Indonesia

  1. GREAT mba ira…. Good advice to use our local product!!! Batik is my fav mba… Kªl☺ cukup stocknya @hari kerja pake batik Ɨƚε ‎​ټ Ɨƚε ‎​ټ Ɨƚε motif dari ambon ternyata baguss lho mba…. H♏♏♏*☆*☆*°˚˚°♏♏… Nadira cute ♈ªª◦° dgn koleksi batikx…. O ♈ªª◦° alm mas eri jg jd handsome Kªl☺ didandanin pake batik sm mba ina.. Tau khan alm low prifile bgt… Hiks hiks netes dech…

    • Iya bener Mbak Yanti. Motif batik Ambon juga bagus. Yang dari Papua juga lucu-lucu.

      Iya alm Mas Eri dulu kalo acara resmi suka pake batik, tapi bawahnya tetep pake jins atau celana cargo hehehe..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s