Til We Meet Again, My Friend..

Sabtu kemarin, pas gue lagi di tol Jagorawi otw ke acara keluarga di Puncak, temen gue, Nia, tiba-tiba nge-PING! di BBM. Agak kaget sih karena Nia ini bukan tipe yang hobi pang-ping-pung kalo BBM-an, unless it’s urgent.

Nia: PING!
Nia: Ra, Mas Eri meninggal Ra.
Ira: Mas Eri mana nih? *berharap bukan Mas Eri temen akrab kita berdua*
Nia: Mas Eri Raaa…๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ
Ira: Haahh???๐Ÿ˜ฅ
Ira: Kapan Ni? Sakit apa? Dimana?
Nia: Barusan aja, 30 menit yang lalu. Kena stroke pas lagi liputan di pulau.

Gue langsung diem dan speechless. Langsung gue cekย nama Mas Eri di BBM gue. Gue liat, tanggal 25 Nov, seminggu sebelumnya, kita baruu aja BBM-an ngomongin soal artikel. Gue cek twitternya, dia terakhir ngetwit 15 jam yang lalu.

Kemudian gue cari-cari info ke temen-temen lain sambil berharap bahwa Nia salah orang. Bukan Mas Eri yang meninggal, tapi Mas Heri, Mas Ari, atau siapapun itu. Ternyata, emang bener Mas Eri temen karib kita yang meninggal dunia.

Waktu itu gue masih numb dan berusaha mencerna kabar. Masih surreal, berasa mimpi gitu. Selama kenal baik Mas Eri hampir 10 tahun, hubungan kita nggak pernah ada masalah. Sebagai wartawan yang lebih senior dari gue di bidang musik dan hiburan, dia humble, nggak snob dan sama sekali nggak belagu. Trus orangnya juga entengan kalo bantu gue dan teman-teman lain. Termasuk dalam hal kasih nomor kontak narsum, yang merupakan salah satu ‘harta’ berharga wartawan.

Lalu, berhubung kita seriiiiing banget liputan bareng, kita pun semakin akrab. Gue ngerasa cocok sama Mas Eri karena dia gak banyak cingcong dan orangnya lempeng banget. Serasa abang sendiri deh. Sebelnya, gue yang bawel ini kan hobi banget bercerita. Nah, seringkali gue udah ngomong A-Z, eh reaksinya dia cuma nyengir.

Pas ngobrol sama istrinya, Mbak Ina, ternyata dia juga punya masalah yang sama dengan gue. Mbak Ina cerita, dia suka kesel karena udah cerita panjang-panjang, reaksi Mas Eri lempeng doang. Ternyata nggak sama istri nggak sama temen, lo emang lempeng to the bone ya Mas๐Ÿ™‚

Kita juga cukup sering pergi liputan luar kota ke berbagai tempat. Mulai dari yang deket-deket kayak Bandung dan Bogor, sampe ke Bromo, Bali, etc. Bahkan Alhamdulillah banget, tahun 2006, kita sempet berangkat umroh bareng sama rombongan pengajian Mas Adrie Soebono dan beberapa temen.

Nah berhubung eikeh banci tampil, Mas Eri lah yang sering ketiban pulung gue minta fotoin pake kamera gue. Abis dia doang sih yang rela motretin gue tanpa banyak cingcong. Jadi gue sibuk bergaya-gaya, dia yang motret-motret. Hihihi.. Paling-paling sesekali dia ceng-in gue untuk soal poto-poto ini. Maap deh Mas, ini nih risiko punya temen liputan mantan model majalah Trubus๐Ÿ˜›

Kalo liputan keliling kota Jabodetabek, gue biasanya suka nebeng Mas Eri naik motor Mio-nya. Bahkan gue sampe modal helm sendiri yang gue titipin di motornya lho. Lumayan bok, hemat ongkos dan waktu. Apalagi perjalanan kita juga jauh-jauh melulu. Makanya gue salut sama dia yang tiap hari naik motor dari rumahnya di Sawangan, ke kantornya di Kebon Jeruk terus liputan keliling kota Jakarta.

Oh ya, pas gue udah mulai bisa nyupir mobil sendiri, gue pernah beberapa kali bawa mobil dan gantian Mas Eri yang nebeng. Suatu hari, sore-sore, gue, Mas Eri dan Opa John Sinyal lewat Sudirman ke arah Gatsu, lewat Semanggi. Tiba-tiba mobil dihentikan polisi. Waktu itu gue nggak ngerasa kenapa-kenapa karena kita udah pas bertiga sesuai dengan peraturan 3 in 1. Tapi polisinya keukeuh tilang gue karena ternyata Mas Eri yang duduk di depan lupa pake seat belt. Jadilah gue ditilang, tanpa damai.

Peristiwa tilang itu pun gue jadikan modus untuk ‘blackmail’ Mas Eri. Tiap liputan dan gue nggak bawa mobil, pasti gue bilang “Ayo Mas gue nebeng ya. Kan lo kemarin bikin gue ditilang polisi.” Minta rokok, alasannya “Mas minta rokok dong, kan kemarin lo bikin gue ditilang.” Pokoknya semua hal gue kaitin dengan peristiwa tilang itu. Padahal sih nggak usah pake ‘blackmail’ juga pasti dikasih. Tapi emang guenya aja yang suka lebay, hihihihi..

Trus kita kan sering banget liputan konser bareng. Gue sebagai orang yang hobi jogetan, pasti gak pernah absen untuk joget-joget saat artis yang tampil memainkan musik dan lagu yang enak di telinga gue. Mas Eri? Ya lempeng aja lah. Mau Black Eyed Peas, Beyonce atau siapapun, dia cuma diam nonton sambil ngerokok. Dia cuma sempat mengetuk-ngetukkan kakinya saat Godbless tampil. Ketauan banget ya kalo angkatannya jadul? Gue paling demen nih godain dia soal ini๐Ÿ™‚

Sederet kenangan bersama Mas Eri seperti yang gue tulis di atas terus mengalir ke otak bak air bah saat kabar duka itu gue terima. Semuanya kenangan yang bahagia dan manis karena, sebawel, serese, senyebelin apapun gue, reaksi Mas Eri selalu senyum dan ketawa. Paling-paling bales ceng-an gue dengan ceng balik, tapi itupun sesekali aja. Sisanya lebih banyak senyum simpul.

His passing away left a hole in my soul. Awalnya gue nggak menyadari hal tersebut. Apalagi saat Mas Eri berpulang, gue harus menghadiri acara keluarga yang riuh dan ramai. Tapi begitu malam tiba dan semua tidur, gue liat-liat FB dan nemu foto-foto bareng Mas Eri. Baru deh air mata turun semua sampe dada sesak. He’s not only a good friend, but also a brother to me. Tapi karena acara keluarga berlangsung sampe Minggu, gue pun kehilangan momen mengantar dia ke liang lahat. Sedihnya, duhย nggak usah ditanya๐Ÿ˜ฆ

Senin kemarin, gue baru sempat berkunjung ke rumah almarhum dan ketemu langsung sama Mbak Ina dan ketiga anak mereka. Begitu Mbak Ina peluk gue dan nangis, gue jadi ikutan nangis. Tapi yang gue salut, Mbak Ina dan anak-anaknya keliatan sangat tegar. Setelah itu kita ngobrol panjang lebar, mulai dari ihwal sakitnya Mas Eri sampe cerita kenangan masing-masing akan almarhum.

Terus Mbak Ina cerita, ketiga anaknya yang masing-masing masih duduk di bangku kelas 1 SMP (cewek), 6 SD (cowok) dan 5 SD (cowok) mau memandikan jenazah ayahnya. “Waktu saatnya memandikan, saya tanya pada mereka, kalian mau nggak merawat ayah untuk terakhir kalinya? Mereka bilang mau. Ya udah saya ajak memandikan jenazah ayahnya bersama-sama. Alhamdulillah mereka kuat. Setelah selesai memandikan, baru mereka bertiga berpelukan sambil menangis,” begitu cerita Mbak Ina.

Kemudian, melihat sang Ibu terus-terusan bersedih, anaknya yang ke-2, yang kebetulan mirip dengan Mas Eri, bilang “Bunda, jangan sedih terus dong. Kalo Bunda kangen Ayah, liat aku aja. Aku kan mirip sama Ayah.” :’)

Dari Mbak Ina juga gue tau, Mas Eri ternyata sosok ayah yang sangaaatt baik. Dia sayang banget sama ketiga anaknya. Sosok Mas Eri yang pendiam dan nggak banyak cingcong bisa berubah jadi sosok yang humoris dan bawel saat di depan anak-anaknya.

“Tapi kalo sama aku sih, diem dan lempeng aja, Mbak. Selama 13 tahun menikah, nggak pernah sekalipun dia marah atau cemburu. Kita juga nggak pernah berantem. Sampe saya kadang suka ngajak dia berantem dan dia cuma senyum-senyum aja,” kata Mbak Ina.

Kemudian, secapek apapun Mas Eri, kata Mbak Ina, dia selalu menyempatkan diri mengantar anak-anaknya ke sekolah. Inilah kenangan terakhir mereka bersama. Jumat pagi sebelum berangkat liputan ke Pulau Umang, Mas Eri menyempatkan diri mengantar anak-anaknya ke sekolah. Padahal dia baru pulang ke rumah jam 3.30 pagi.

Anak-anaknya sempat bilang “Nggak usah repot-repot nganterin, Yah. Kan Ayah capek.” Mas Eri menjawab “Nggak apa-apa. Besok-besok kan Ayah nggak bisa anter kalian lagi.” Mbak Ina dan anak-anak cerita, karena memang nggak ada firasat apa-apa, mereka malah menjadikan ucapan Mas Eri sebagai candaan. “Ah Ayah kayak mau pergi kemana aja. Kan cuma ke Serang doang, deket tuh,” kata Mbak Ina dan anak-anak. Reaksi Mas Eri, lagi-lagi,ย hanya senyum simpul tanpa banyak kata. Rupanya, itulah pesan terselubung yang berusaha ia sampaikan :’)

Well, umur manusia memang tidak bisa diprediksi ya. Setelah berangkat ke Serang dalam kondisi nggak enak badan, Mas Eri pun pulang hanya tinggal nama.

Selamat jalan Mas Eri. I’m gonna miss every single laughter that we used to share together. Til we meet again, my friend :’)

No one wants to die. Even people who want to go to heaven don’t want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life’s change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true. ~Steve Jobs~

Gunung Bromo, liputan Destination Nowhere,ย 2003

Various occassions with friends, from Inul’s party 2003, 1st MTV Indonesia award 2003 to Java Jazz 2006.

Liputan Pulau Putri (atas) dan Snorkling di Kepulauan Seribu (bawah)

 

19 thoughts on “Til We Meet Again, My Friend..

  1. Sama mbak.. saya juga satu dari begitu banyak orang yang merasa kehilangan atas berpulangnya Mas Eri.๐Ÿ˜ฅ

    Jika melihat wall fb, twitter, dan online post lainnya, sangat banyak yang sayang beliau… huhuhu…

  2. Semoga keluarga yg ditinggalkan, diberi kesabaran dan ketabahan. Almarhum dilapangkan kuburnya, diampuni dosa2nya. Aku yg ga kenal n cuma baca postingan ini aja, sedih, mak…….

  3. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un..
    turut berduka ya Ra, smoga amal ibadah beliau di terima Allah SWT dan keluarganya diberikan kekuatan dan ketabahan tiada tara.

    berebes mili…

  4. kami belum sempat berkenalan dengan ayah eri…rencananya ayah eri, bunda ina dan anak2 mau ke karimun jawa awal januari besok bersama kami…tapi Allah berkehendak lain…kami menyesal belum sempat berkenalan dengan beliau…semoga beliau diberi tempat yang lapang disisiNya…Amin

  5. Duh ra….Umur manusia siapa yang tau ya? Salam buat keluarga almarhum kalo ktemu ya Ra….turut berduka cita dari jauh ….sedih banget ya ra๐Ÿ˜ฆ

  6. thanx mba ira atas kenang2an yg indah bsama mas eri, kakakqu tercinta…smua comment dr temens alm. isinya sll baik, diam, senyum, ga byk cingcong, sama seperti penilaian aq. dia sll curhat hanya via sms mba. memang tulisan yg mbuat alm crita krn alm sll menghindar dr gosip & omongan ttg orang/kel/sdr. begitulah alm tidak berbeda di kehidupan sehari2 dgn kel, sdr, temens. salam kenal mba ira, smakin aq baca comment dr temens alm, smakin air mata menetes…coz kangen mba…many thanx mba

    • Halo Mbak Yantiii..

      Aku senang banget Mbak meluangkan waktu mampir ke blog ini. Satu-satunya cara yang aku bisa untuk mengenang sosok Mas Eri, yang buat aku kayak kakak sendiri๐Ÿ™‚

      Aku juga kangen banget Mbak sama Mas Eri. Sampe saat ini, setiap liat orang dengan perawakan yang mirip, rasanya mau colek dan ajak ngobrol. Mudah-mudahan dia bisa tenang di atas sana ya :’)

      • Amiiiiin. Masih terlihat @pagi m.eri mengantar anak2 ke sekolah & cuma tersenyum ketika berpapasan dgnku @berangkat kerja…
        Mba ada FB?? terasa sedikit tergantikan ketika aq bs berkenalan dgn temens m.eri…
        salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s