Hidup Jojoba!

Oke, mungkin postingan ini agak aneh buat emak-emak. Tapi gue mau khusus nulis ah buat kaum single (sapa tau ada yang baca gitu, GR inih ceritanya :P)

I got married when I was 29 yo. My husband at that time was 32 yo. Okay, for most people, we’re VERY OLD enough, to get married, right? Hayo tangannya ngacung yang pada merasa itu, hihihi..

Alasan kenapa kita berdua nggak merit-merit adalah karena kita enjoy banget being single. Dan IMHO, ini gak aneh. Lho koq? Ya iya dong. Kalo lo jomblo, trus feeling miserable, itu mah salah sendiri. Enjoying your moments aja kalee..

Trus juga, gue ngerasa waktu itu belum nemu partner yang oke buat digeret ke KUA. Buat gue, nemu partner yang oke itu is a must. Lah mau beli mobil aja kita pikir-pikirnya lama bukan? Dan mobil itu bisa lho diganti kalo tiba-tiba di tengah jalan kita ngerasa nggak cucok, bosen atau sebel.

Nah kalo pasangan hidup pegimane? Ya kudunya mah dipilih dengan very very careful atuh. Kan idealnya nih, yang namanya menikah itu buat sekali seumur hidup. Nggak ada acara ganti kalo bosen, sebel atau nggak cucok.  Dan alasan itulah yang dulu bikin gue gak merit-merit😀

Dan jangan nyangka emak gue nggak rempong ya soal keogahan gue merit. Mulai dari doa sampe mandi kembang semua gue lakonin demi nyenengin hati emak. Mungkin kalo emak gue orang bule, gue pasti udah disuruh ke shrink buat diskusi soal masalah ini kali😀

Padahal sih, selain sok milih pasangan, gue juga berpikir bahwa marriage and commitment, butuh kesiapan dari diri kita sendiri. Dan kita juga bisa memilih, whether we want to be single forever or to get married.

Prinsip gue saat itu adalah “Singles can make the most of their own” dan juga “Marriage is not a must. It’s an option, and you’re the one who has to decide it yourself, not others.”

Kebayang nggak sih kalo lo merit karena terpaksa, dijodohin atau nggak enak sama orang lain? Mungkin orang zaman dulu bisa survived ya dengan pernikahan yang berdasarkan perjodohan karena zaman dulu perempuan diarahkan untuk pasrah, nrimo dan tidak bergaul. Tapi sekarang, dengan twitter yang bak “suara hati yang disuarakan kenceng-kenceng”, facebook, BBM etc, agak susah kayaknya ya. IMHO lho ini.

Intinya, gue tidak mau menjadikan pernikahan sebagai sebuah tujuan hidup satu-satunya. IMHO, it’s just so dull. Okay, I know that there are lots of women who see marriage as the sole achievement they have to accomplish in life. Jadinya, mereka nggak peduli dengan siapa mereka menikah, atau dengan komitmen itu sendiri. Yang penting kawin, eh nikah, titik. For me, the situation is not like that.

Kebetulan, gue nemu orang yang bisa meng-convert gue untuk percaya sama lembaga pernikahan. Ya sudah, menikah lah gue. Tapi gue juga nggak akan menistakan kehidupan sebagai seorang single karena gue pernah menikmati betul masa-masa itu. Jadi buat gue, menikah itu pilihan hidup, bukan sesuatu yang harus dilakukan hanya berdasarkan norma masyarakat.

Makanya gue simpati banget sama beberapa teman dekat dan sodara yang berada dalam posisi gue 3 tahun lalu (yah ketauan tuwirnya dah). Apalagi buat cewek, begitu turning 30 yo, biasanya orang tua langsung bak kebakaran jenggot kalo anaknya belum kewong-kewong juga. Sampe dijodohin lah, dikenal-kenalin lah, macem-macem deh.

Untuk pandangan soal pernikahan ini, gue sepaham sama hubby. Malah dia komennya pedes banget: “Sebenarnya pernikahan itu proyek orang tua kan? Supaya nggak kalah dari teman-temannya yang sudah menikahkan. So basically, this whole thing is a competition also. Just like when we’re babies and our parents competed about whose babies can walk first.”

Dipikir-pikir ada benernya juga sih. Tapi IMHO laki gue itu emang suka terlalu sinis ya. 11-12 sama bininya sih. Makanya kita merit neik😛

Inti dari postingan menunggu jemputan suami ini adalah, pesan saya kepada my single friends out there. Please, don’t be miserable. Just cherish the glorious moment you have now. Pursue everything you’ve dreamt of, and make it happen. Jangan pikirin “usia berapa normalnya gue harus merit ya?” atau desakan dan sindiran orang-orang di kanan-kiri-depan-belakang. Bikin pusing tau!

10 thoughts on “Hidup Jojoba!

  1. Prinsipnya sama bgt ma kk gw ni Ra,, thn dpn ud kepala 3 tp skrg msh asik ngjar titel s3 di US sna,, dl smpet ad yg dket tp dcuekn krn ngelarang dia ambil beasiswanya,, beda bgt ma gw d, aye mah kbelet kawin cyin, baru 24thn (laki baru 23) ;p

    • Gue juga pengennya kayak kakaklo, Di. Kuliah dulu smp S3 baru merit. Apa daya emak gue ngebet pengen punya menantu. Jadi deh akika kewong dulu hehehe..

      Btw lo masih kecil ya ternyata? Jitak dulu sini!😛

  2. Setuju setuju setuju, heheheheh. Sebagai seseorang yang sudah lewat kepala 3, jadi udah lumayan ngejalanin manis asemnya dunia (jyahhh haha) yang penting itu ternyata dengan siapa kita menjalankan marriage partnership (maaf buat yang tidak setuju, tapi buat gue, marriage itu partnership, semua ditanggung sama2, baik financial, emotional dan physical, sesuai kemampuan dan proporsi masing2) bukan karena takut sama stigma sosial. Susah dengerin omongan orang, kayaknya kita nggak ada benernya. Dulu belum merit ditanyain kapan merit, sekarang baru merit, eh, giliran yang lain yang nanya: nggak takut ya, ninggalin singledom demi satu laki2? Jadi gue bagusan merit apa nggak merit sih? Pusing! hahahah. Untungnya, keputusan kita untuk menikah betul2 keputusan kita berdua, against all odds, jadi apapun perkataan orang, Insya Allah kita menikah untuk kebahagiaan kita berdua, bukan untuk membahagiakan orang lain😀
    Dan gue bakalan mendukung siapapun yang mau menikah karena tulus mau menikah, baik dia berumur 23 ataupun 43, bahkan 73🙂
    Suamimu kayaknya bakalan cocok kalo ketemu suami gue Ra, sama2 sarkastis heheheh

    • Setuju banget Vo! Gue juga berprinsip kayaklo, marriage = partnership dan semua ditanggung bersama. Gue gak mau menikah kalo relasinya jadi kayak budak dan tuannya. Itu mah zamannya RA Kartini kali ye. Sekarang mah mending gue kagak kewong drpd jadinya kayak gitu😛

      Nanti kalo dirimu ke Jakarta, kita ketemuan yuukkk. Ajak suami masing-masing ya supaya saling melatih sarkasmenya😀

  3. Oohh kali ini saya tidak setujuh dengan dirimuh! Soalnya saya kan menikah muda eh menikah dini.Usia saya baru 17 tahun tapi udah punya anak 2 tahun lebih. Saya nikah mumpung ada yang khilaf mau saya ajak ke KUA. nyehehe
    *ih ini komen gak penting banget ya*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s