Pretend Play

Beberapa hari lalu, gue baca timeline-nya dr.Tiwi tentang Pretend Play buat anak-anak. Intinya, main pura-pura ini bagus banget untuk mendorong anak menjadi kreatif, imajinatif dan berwawasan luas. Gue pun nge-google dan dapet ulasannya di sini dan di sini.

Kebetulan, sebelum berulangtahun yang kedua, Nadira emang udah gemar main pura-pura. Dulu sih hobinya gendong boneka pake syal yang dibikin seolah-olah dia gendong bayi pake jarik. Trus bibirnya yang bikin suara “Syuh syuh” gitu, ceritanya kan lagi meninabobokan bonekanya🙂

 

Tapi belakangan, pretend play-nya lebih deep alias lebih menjiwai gitu ganti. Setelah jadi Kakak Diva beberapa minggu sekarang dia ganti peran. Gara-garanya, dia gemar banget nonton VCD Barney ya. Nah, dalam satu episode, si Baby Bop kemana-mana bawa boneka Teddy Bear dan pretending itu adalah anaknya. Jadilah Nadira minta dibeliin boneka Teddy Bear kayak Baby Bop. Nggak tanggung-tanggung, dia minta boneka segede boneka milik adik ipar gue, yang mana ukurannya kurleb sebesar bocah umur 2 tahun.

Sama bapake dibeliin lah ya. Abis itu, itu boneka digeret kesana kemari. Udah seminggu ini, dia malah pretending si Teddy Bear sebagai anaknya. Kemana-mana digendong, disuapin pake tempat makan+sendok punya dia, dan mau tidur ditaro di sampingnya.

Gue (G): Ini siapa namanya?
Nadira (N): Dede Beluang.
G: Kalo yang ini? *tunjuk Nadira*
N: Ini Ibu Beluang.
G: Lho, bukannya Kakak Beruang?
N: Butan Ibu. Ibu calah ya. Ini Ibu Beluang tauk. *tunjuk diri sendiri*

*bocah ini emang lagi hobi menyalahkan orang-orang, sotoy abis dah*

Oke deh Ibu Beruang. Abis itu ya udah, namanya ganti dari Kakak Diva ke Ibu Beruang. Kalo mau gosok gigi, gue selalu membujuk dia dengan kalimat “Ibu Beruang ayo gosok gigi dulu. Itu nanti Dede Beruangnya diajak ngeliatin yaa..”

Dan ternyata pretend play ini juga lagi dialami keponakan gue, si Langit. Kalo dia mah lebih rempong lagi karena dia bener-bener menghayati perannya sebagai temannya Barney. Jadi di VCD Barney kan banyak tuh tokoh teman-temannya Barney kayak Whitney, Mario, Tracy, Laura, Ryan, David, etc. Nah kalo Langit, di sekolah pun pas berkenalan dengan teman-temannya, dia bilang “Ini bukan Langit. Ini Kakak Mario nggak pake kacamata.” Lah dikata temen-temen sekolahnya pada nonton Barney semua dan kenal Mario itu siapa yak? Hihihi.. Kocak banget dah bocah-bocah sotoy itu!🙂

Gue dan emaknya Langit mah gak masalah ya dengan pretend play ini. Soalnya emang pas dengan milestone dan perkembangan anak-anak seumur Nadira dan Langit. Yang jadi masalah mungkin kalo pretend play ini jadi sebuah habit atau malah karakter diri.

Kayak yang terjadi pada seorang teman lama gue. Sebelum dia merit, dimana gue jadi maid of honornya, dia baru cerita kalo ternyata bonyoknya udah cerai sejak dia masih TK. Padahal dulu, kalo kita lagi cerita wiken abis ngapain sama keluarga, dia juga nggak mau kalah cerita abis dari sini-situ-sono sama bonyoknya. Tiap gue main ke rumahnya, dia selalu bilang bokapnya lagi kerja. Gue waktu itu sih santai aja, nggak mikir macem-macem. Makanya gue kaget pas dia making confession gitu.

Saat gue tanya kenapa, dia cuma jawab, “Nggak tahu ya Ra. Mungkin karena gue nggak pede dengan kenyataan kalo ortu gue udah pisah. Gue mau punya kehidupan normal kayak kalian yang tinggal di satu atap sama ibu-bapaknya. Jadi deh gue ngarang-ngarang soal bokap gue itu. Gue baru berani bilang ke lo sekarang mungkin karena gue udah dewasa dan karena lo bakal ketemu bokap gue di pemberkatan nanti.”

Terus terang, gue jadi trenyuh denger pengakuannya itu. Berarti selama ini, selama puluhan tahun, temen gue itu terus menerus berpura-pura ke semua orang bahwa dia hidup ‘normal’ just like everybody else. Untunglah dia kemudian memutuskan untuk stop playing pretend dan ngebuka rahasia terdalamnya.

Makanya, kasian juga ya kalo ada orang yang seumur hidupnya gemar main pura-pura. Selain childish (apa bedanya sama anak gue yang baru berumur 2,5 tahun?), sifat kayak gitu nandain orang tersebut nggak pede dan insecure. Kalo emang secure dan punya percaya diri, ya dia nggak akan pura-pura toh?

Dan IMHO ya, berpura-pura itu syusyehnya setengah mati. Pura-pura = bokis kan? And one lie will usually continue to another lie, and another, and another. And it will keep on going on and on, jadi lingkaran setan gitu lah. Capek lho bok hidup begitu karena kita dituntut untuk terus-terusan berimajinasi dan adu kreativitas demi menciptakan cerita atau khayalan baru yang nyambung dengan cerita-cerita kita sebelumnya.

Nggak percaya? Liat aja anak-anak yang lagi masanya main pura-pura gitu. Tuntutan menciptakan khayalan sering bikin kisah yang mereka ceritakan nggak sinkron. Tapi itu nggak aneh sih ya, wong namanya juga anak-anak. Yang aneh itu adalah orang dewasa yang hobi berkhayal tapi nggak sinkron antara cerita dan realitanya. But I still adore you guys. Daya kreativitas dan imajinasi kelian tinggi sekali, cucok jadi penulis novel or skenario deh :)

Be careful what you pretend to be because you are what you pretend to be. ~Kurt Vonnegut

Worry about your character and not your reputation, because your character is who you are, and your reputation is only what people think of you. ~Unknown

 

12 thoughts on “Pretend Play

  1. Nadira lucu yaaaa..tau aja kl Ibunya Beruang *kaboooorr*

    Laras pun sama kyk Nadira, bonekanya selalu digendong, disuapin, dimandiin, dikelonin bobok, pokoknya kita jadi ketawa sendiri deh kl liat. Apalagi kalo lagi, nyuapin bonekanya, “dedek mamamnya cucah niiih, ga abis2, lama banget deh, lalas kan jadi sedih”, itu copas omongan emaknya banget hehehehe

    Trs, ttg temen lo itu, gw ngerti bgt dah posisi dia, krn gw jg begitu dulunya🙂. Yap sikap ga pede, dan kepengen punya kehidupan normal yg sama kyk temen2 gw, bikin gw mesti berbohong trs dr awal sampe akhir.

    Sama kyk yg gw tulis di blog jg, gw baru bisa berdamai dan berhenti berbuat itu, saat gw dah bisa menerima dan ya pas gw mo nikah. Ternyata abis itu, gw bener2 lepas dari beban selama bertaun2 dulu, dan akhirnya gw jg brani ngakuin ke temen2 dkt, yg mulai temenan jg dr jaman skolah.

    Ya mereka sih heran jg tdnya, tp ya memang gt keadaannya, this is me😀

    • Hahaha.. *toyor Rince*

      Yak, bener banget. Nadira juga hobi copas omongan gue+Mbaknya kalo lagi nyuapin “Ayo Dede Beluang, matannya yan benel donn..” hihihi..

      Glad to hear your story ended up happily, Mak. Insya Allah itu bisa jadi pelajaran buat Laras dan adiknya kelak yaa *peluk*

  2. tu anakku lagi pretend play. kali ini ceritanya bonekanya sakit dan dibeliin tempra. mustinya aku dibayar ya sama produsen tempra😀

    hobinya yang baru, ambil buku dan pura2 ndongeng. ya emang ga melenceng dari cerita bukunya, cuma lucu aja dengernya. takjub bisa gitu dia ndongeng tiga buku berturut-turut. untuuung sempet direkam.

    pemerintah kita juga demen pretend play dong yah, demi citra diri *nyerempet dikit*

    btw, Mbak Rini…pa kabar? kangen😛 *nowel yang di atas*

  3. Pingback: Nostalgia Masa Kecil « The Sun is Getting High, We're Moving on

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s