Dunia Ini (Ternyata) Penuh Warna

Di sini gue jadi emak super lebay. Udah milih-milih sekolah dari zaman Nadira masih di dalem perut, hehehe.. Alasan gue, I want the best for my daughter. Dan gue yakin semua ortu juga berpendapat yang sama. Nah, gara-gara urusan skul-skul ini, gue jadi pengen nulis tentang sekolah gue dari kecil.

Kalo gue nulis CV, dijamin educational background gue gak mentereng samsek. Gimana nggak? Wong gue dari SD sampe kuliah semuanya di negeri, bukan swasta. Eh sempet ding sekolah swasta, pas zaman SD kelas 1-4, di sebuah SD swasta Islam yang (pada masanya) cukup oke. Meski lumayan jauh dari rumah dan bikin gue terpaksa bangun pagiiii banget, nyokap milih ini dengan alasan, sekolah itu adalah sekolah yang bagus. Murid-muridnya kebanyakan berasal dari kelas menengah atas, meski ada juga beberapa yang berasal dari kelas menengah bawah.

Berhubung kondisi ekonomi keluarga gue dari kecil biasa-biasa aja dan gue rada-rada terintimidasi sama sodara-sodara gue yang tajir-tajir, akhirnya di sekolah swasta itu gue memilih untuk main sama temen-temen yang menengah bawah. Sadar diri bok, apalagi anak-anak yang menengah atas udah nge-gank sendiri gitu. Trus gue kan juga ikut mobil jemputan yang isinya anak-anak tajir. Tambah gak pede dong akika. Jadilah di mobil jemputan itu, gue cuma bisa diem, nunduk terus, introvert abis deh.

*picture’s taken from here *

Nah, begitu kelas 4 SD, rumah gue pindah. Sekolah juga harus pindah karena terlalu jauh dari rumah baru ini. Nyokap memasukkan gue ke SD Negeri di depan komplek karena trauma ngeliat gue kecapekan dengan jarak sekolah lama gue yang terlalu jauh dari rumah. Di SD Negeri ini, kondisi yang ada berbanding terbalik dengan kondisi SD swasta gue yang dulu. Rata-rata muridnya berasal dari kampung di sekitar sekolah. Jadi bisa ditebak lah kondisi ekonomi dan background keluarga mereka gimana. Cuma ada segelintir anak yang tinggalnya di kompleks perumahan, termasuk gue.

Awalnya, I must admit, gue jadi snob abweeess… Gue yang biasa sekolah di SD swasta dengan lingkungan menengah atas, jadi look down ke temen-temen gue di SD ‘kampungan’ ini. Apalagi gue jadi juara umum, dikagumi sama teman-teman karena “Wah Ira rumahnya di kompleks lhoo..”. Jadi akika macem OKB gitu lah. Padahal dulu di SD swasta gue yang nggak dianggep sama temen-temen gue. Hahaha.. Dodol amat yak. Untung, kondisi begini nggak lama.

Nah, perpindahan gue ke SD negeri ini ternyata memberi dampak positif buat perkembangan psikologis gue. Gue yang tadinya introvert, pendiam, jago kandang (berani bawel cuma di lingkungan yang nyaman buat gue), jadi belajar untuk menjadi orang yang pede. Mungkin karena gue liat, temen-temen sekolah gue nggak mengintimidasi gue dengan ketajiran dan kelebihan mereka ya. Mereka ‘selevel’ sama gue dan nggak mencemooh strata sosial gue. Thank God, gue seneng banget nyokap memindahkan gue ke SD Negeri. Kalo nggak, mungkin sampe sekarang, gue akan tetap jadi anak yang pemalu dan introvert dengan self esteem yang rendah.

Kondisi sekolah yang heterogen gue alami terus sampe kuliah. Teman-teman gue ada yang tajir, biasa-biasa aja, sampe nyaris minus dan sering nunggak bayaran sekolah. Lokasi rumahnya juga macem-macem. Mulai dari Pondok Indah, Menteng sampe di gang-gang kumuh di Cipinang.

Gue yakin, salah satu elemen yang membentuk diri gue seperti sekarang adalah teman-teman dan sekolah yang pernah gue datangi. Mungkin kalo gue (ngakunya) peka terhadap kondisi sosial, salah satunya pasti gara-gara kondisi teman-teman sekolah gue zaman dulu. Beraneka ragamnya social and economical background teman-teman sekolah gue memberi gue pandangan, kalo di dunia ini nggak cuma ada satu kelas sosial ekonomi. Seperti taman bunga, dunia ini berwarna-warni. And I consider myself lucky to be able to ‘see’ them all.

Seorang teman sempat cerita soal sahabatnya yang dari TK sampe SMA bersekolah di sebuah sekolah swasta bergengsi di Jakarta Selatan. Selama lebih dari 13 tahun duduk di bangku sekolah yang dikelola yayasan itu, dia nggak pernah ngeliat ada orang kismin di sekelilingnya.

Intinya, sahabat teman gue itu ‘steril’ banget lah. Kehidupannya diisi oleh orang-orang yang berasal dari strata sosial serupa. Jadi teman-temannya pun homogen, sama semua background-nya.

Begitu kuliah di UI, dia kaget. Meski sekarang matre, UI memiliki banyak mahasiswa yang datang dari kondisi ekonomi minimal dan kuliah karena beasiswa. Jadilah sahabat temen gue ini merasakan untuk pertama kalinya bersentuhan langsung dengan orang-orang dari lingkup sosial yang jauh berbeda dengannya.

Apalagi begitu dia diajak untuk aktif dengan kegiatan kampus, ngebis kemana-mana, ke panti asuhan, ikut bakti sosial, dll. Dia sampe bilang “Wah ternyata orang-orang yang miskin begini beneran ada ya, nggak cuma ada di TV.” Gue yang denger ceritanya jadi sedih. Apakah anak yang dibesarkan dalam lingkungan steril gedenya jadi kayak gitu semua?😦

Makdarit, dari dulu, gue bertekad banget untuk tidak mensterilkan kehidupan sosial anak gue, baik sekolah maupun lingkungan sehari-hari. Postingan ini (ceritanya) gue bikin as a self reminder, supaya gue inget terus dengan niatan gue zaman dulu.

Gue concern gini karena gue nggak mau dia jadi anak yang snob gara-gara lingkungan sekitarnya homogen. Oke lah, ada yang bilang “Yang penting anak gue tiap ultah gue ajak ke panti asuhan untuk merayakan ultah. Sehari-hari lingkungannya jet set, ya gpp dong.”

AFAIK, yang membentuk anak itu adalah pengalaman dia sehari-hari, bukan yang sekali-sekali. Jadi IMHO mah, menumbuhkan empati cuma dengan sesekali ajak anak ke panti asuhan tapi setiap hari melarang dia berteman dengan anak-anak dari kasta lain, nggak ngaruh kayaknya. Dan kalo dari kecil dia biasa hidup steril, nanti agak susah lho kalo dia terjun ke dunia nyata. Ibarat kata, biasanya liat warna putih doang, jadi kaget begitu dikasih liat warna-warna lain macam fuchsia, hijau stabilo, kuning, hitam, abu-abu, dll.

Oh man, gue jadi meracau gini kan. Aslinya cuma mau mengenang story masa lalu, eh jadi kemana-mana gini. Cukup sekian dan terima kasiihhh…🙂

41 thoughts on “Dunia Ini (Ternyata) Penuh Warna

  1. Iiraaaaaaaa!!!
    Ih kamu mind reader ato apaan ya???
    Jawaban macam inilah yg gw butuhkan setelah era bimbang gundah gulana gw di blog (makanya mampir dong ra.. Kan pengen disambangin seleblog macam dirimu..)
    Gw kan agak khawatir karena di TK negri anaknya banyak dari kampung, ngomongnya pake bahasa jawa kasar ya you know lah.. Dan buuuandel dan gak tau manner (ya gak semua sih) gw kan bimbang abis2an.. Tapi kata ulil thats real life, he must face it.. Alhamdulillah sih 3 hari disana abang ngomongnya masih baik2 aja

    • Tenang aja Dhir. Gue dulu di SD Negeri itu pernah ditabok punggungnya sampe ada ceplak tangan merah gedee.. Trus diajakin berantem, macem-macem lah. Tapi dari situ, gue malah paham cara-cara gimana bisa survive di lingkungan yang beda dengan lingkungan dimana gue tumbuh (Insya Allah).

      Dan yang paling asik, gue pernah lho pas naik metromini, eh tau-tau supirnya temen SMP gue. Jadi deh gue disuruh duduk di sampingnya supaya bisa ngobrol-ngobrol. Ogut pun aman dari gangguan preman+copet, plus gretong bookkk😀

  2. Aha, secara kita berasal dari orangtua yang sama, jadi kayanya cara pandang juga serupa. Pas SMP apalagi, sekolah nun jauh disana dgn teman2 yg banyak rumahnya di bantaran kali Cipinang mah bikin saya bener2 buka mata.
    Ditambah lagi sempet pegang program sosial yg mengharuskan saya terjun langsung ke anak2 jalanan, jadi nggak kaget aja.
    Kalaupun sekarang ‘memilih’ sekolah untuk anak, bener2 cuma supaya Langit dapat yang lebih baik dibanding ibunya. Kalo pergaulan mah, Langit segang di condet juga udh jadi seleb :))

    • Eymbeerrr… Prinsip saya nih. Kalo early education (TK dan SD) terpaksa masuk ke sekolah yang homogen, ya gak apa-apa deh. Yang penting untuk pergaulan sehari-hari dia main sama anak-anak dari berbagai background.

      Nah untuk SMP dan SMA, saya lebih prefer ke sekolah negeri atau yang heterogen aja. Supaya bocahnya lihat ke bawah gitu, jangan dongak melulu🙂

  3. Betul banget Ira, aku juga dari keluarga strata menengah, tapi aku ngga pernah ngeluh, karena aku punya keluarga yang bahagia, dibanding teman-temanku yang lain aku merasa sangat beruntung walau tidak lebih-lebih amat. Anak-anakku sekolah di SD negeri biasa, si kaka suka cerita ada temannya yang sekolah cuma naik sepeda, ada yang jualan kue disekolah, ada yang Bapaknya meninggal terus dia berhenti sekolah. Memberikan yang terbaik untuk anak itu kewajiban orang tua, tapi bukan berarti memanjakan, kita tidak tahu apa yang terjadi kedepan kita tidak tahu kondisi ekonomi nanti atau mungkin saja kita sebagai orang tua (mudah-mudahan ntar aja setelah anakku mandiri) berpulang, dan anak tidak siap menghadapi kenyataan hidup yang berubah 360 derajat.

    • Iya Mak, gue pernah baca curhatan emak-emak gitu yang baru memindahkan anaknya dari sekolah swasta ke SD negeri. Dia bilang “Dulu setiap hari anak saya pulang sekolah minta dibeliin tas anu, sepatu anu, dll karena kalo nggak sama dengan teman-temannya, mereka nggak mau bertemen dengan dia. Begitu pindah ke SD Negeri, dia berubah 180 derajat. Nggak ada lagi dia minta barang ini-itu. Kemarin dia malah minta izin ke saya untuk memberikan sepatu bekasnya yang masih bagus ke teman sebangkunya. Dia kasihan melihat temannya itu pake sepatu yang udah jebol.”

      Gue brebes mili baca curhatannya itu. Ini membuktikan bahwa lingkungan berperan besar pada kepribadian seorang anak ya🙂

  4. Waktu SMA sebenarnya pengen banget nyoba masuk ke sekolah negeri. Tapi orang tua masih traumatis sama kejadian Mei 98. One thing that still intrigues my mind, can a minority survive in public high school? I’ve only heard the ‘bad sides’ and I always wonder if any of them are true.😀

    • In your case, I think that’s a different situation, Ste. I have some Chinese friends when I was in high school and in college. And as far as I remember, they survived. Oke lah, emang temen-temen gue yang lain sering panggil mereka “Encek” atau “Sipit” as their nicknames. But everything’s fine, I guess. Perhaps because they’re not rich. AFAIK, people tend to make judgmental opinion on rich Chinese, not the middle-poor ones. Cmiiw ya🙂

  5. Mbak, senengnya baca blog ini ya karena banyak post yang bikin kita mikir ulang. Ndak ada hidup yang selalu lempeng dan mulus. Jadi inget cerita Bapakku mbak, jadi guru di SD negeri. Tiap pulang selalu bawa koran dari muridnya yg jualan trus ga laku akhirnya dibeli. *duh mewek deh*

    makasih mbak, masih di-ingetkan buat lebih mem-bumi lagi. *selama ini gentayangan*

    Tetep nulis ya mbak, Nadira pasti bangga punya mama seperti mbak Ira..
    *two thumbs up*

    • Bapakmu guru yang baik pastinya deh. Soalnya belakangan ini kan citra guru lagi agak tercoreng (matre, suka palak, ngajarin anak nyontek, etc). Tapi bapakmu membuktikan sebaliknya. Pasti kamu bangga punya bapak kayak gitu ya Jeng🙂

      Btw, situ gentayangan? Coba pakunya dicopot dulu hihihii.. *kuntilanaaakk kaleee..*

  6. Ra, jdi inget jaman SD..ga boleh jajan karena asma gw sering kambuh ditambah emang ga disangu-in. Alhasil gw jualin aja jambu air en jambu biji di sekolah buat jajan,..mayan jadi punya uang jajan.

    Sama kaya loe, gw SD-SMA Negeri, kuliah biarpun Univ Negeri tapi gw kul di D3 yg bayarannya wktu itu jga bikin empot2an. Tapi bener Ra, klo anak dididik dgn kesederhanaan besarnya bakalan berusaha keras untuk dapetin sesuatu, atau minimal kreatif lah (Smga bukan kreatif yg minus ya)…

    • Iya Sal, seenggaknya kasih tau anak bahwa dunia ini nggak cuma ada yang bagus-bagus aja. Masih banyak yang unfortunate di luaran sana. Dia lebih beruntung dari teman-temannya.

      Kalo dari kecil dididik di lingkungan steril ya IMHO mah jadi agak susah numbuhin empati. Atau justru sebaliknya. Ada teman gue yang empatinya berlebihan karena dia merasa ‘bersalah’ selama ini hidup enak tanpa tau di luar sana kondisi dunia yang sebenernya kayak gimana. Jadi kasian sih dia sering dipergunakan sama orang2 yang punya niat jahat gitu😦

  7. bener bgt mbaa..

    gw sd di sekolah swasta yg mana isinya dari kalangan menengah. dan waktu smp masuk ke smp negeri yg muridnya berasal dari berbagai kalangan.. kaget juga.. nemu bahasa-bahasa baru yg ga ada semasa sd, nemu “preman-preman” cilik dari berbagai tempat di jaktim.

    untungnya ada juga, jadi ada temen smp gw yg preman berdomisili di bonsi. nah pas dah sma, suatu hari gw pulang sekolah ketemu dia lg nongkrong bersama temen2 preman bonsi, dia nunjuk2 gw dan bilang ke temen2 nya “itu temen gw, jangan digangguin ye..”

    hihihi…mayan lah ga ada yg berani goda-godain gw selama bolak-balik bonsi… ;p

  8. Alapyuhhhh sistaaaahhh! Hahahahahaa besok dipta ama nadira ngangkot brg ya ke sekola’an..
    Abis itu maen galasin bareng di lapangan badminton depan rumahnya pa erte nyak
    eh ada yg ketinggalan dr postingan lo.. Rambut musti hasil salon loh kalo enggak nanti mama marah
    Hahaahaaha ainoyusowel darling wakakkakaka

    • Hahaha.. Lo komen kayak gini jadi ketauan kan Dep si anak UI jet set yang gue kamsud di atas adalah dirimyuuuu… Udah ngeblow rambut kah hari ini? Atau malah blow j*b lagi? HUAHAHAHA!😀

  9. Pas lah saat2 si Abil (anak sulung gw) dah harus masuk sekolah. Abis-abisan nih gw mengikis harga diri dengan masukin dia ke sekolah Indonesia disini, secara semua temen2 gw masukin anaknya ke sekolah internasional (FYI, sementara ini gw lagi di Jeddah :D). Agak kaget dengan suasana sekolah yang agak2 gimanaa gitu, yah maklum banyak banget anak2 supir dan para TKW yang disekolahin disini. Thanks yah Ira, tadinya sempet ragu takut disangkain pelit (padahal emang hahahaha)…

    • Hahahaha… Kayaknya lo lagi cari apologi buat masukin Abil ke sekolah Indonesia, eh pas bener yak baca postingan gue yang ini. Jadi deh berasa nggak pelit, hihihi..😀

  10. Bner nih mbak ira,dulu waktu sd aku jg skolah di sd swasta islam di cijantung (org condet pasti tau dong skolahnya hihi) pada jamannya skolah itu swasta islam plg top d dari ujung cibubur ampe cawang,walopun g smua menengah atas tp juga g bs dibilang menengah bawah,alhasil ank2nya pd konsumtif juga trus cpet puber,bayangin aja waktu aku kls 5,80% murid cw uda haid (tmasuk eik),pas smp sbagian bsar lulusan sd situ masuk di smpn di hek situ (tau dong yg dulu gdungnya bobrok skrg udah tingkat 3) konon itu smp unggulan sejaktim, pas masuk situ bisa ditebak,aku&tmen2 se SD pd siyog sama lingkungan baru yg byk jg dari sd2 negri..inget bgt kagetnya dnger mreka pd ngmg kasar,jorok bahkan bbrp ada yg *maap panuan..tapi jgn salah culture shock ini bikin alumni sd qt pd mendelep&juara2 kelas umumnya dr ank2 Sdn itu (pdhl pas tes masuk lulusan tbaiknya sbagian bsar dr sd qt) sampe akirnya pas ebtanas bkn dr sd qt lulusan tbaiknya, tp 1 nilai plus nya,ank2 swasta ini Lbh PD jd nguasain eskul2&osis (pramuka di smp itu uda masuk tingkat intl), pas sma aku daftar di sma swasta daerah rawamangun,tp pas tes&dpt bangku cadangan aku mundur tratur dan milih smun aja,alesannya..g siap ama pergaulannya yg serba hi class hihi…cupu yah,pas kul di 3sakti pun saya males bgaul ama ageje2 hihi..alhasil biarpun saya skolah campur2 tipe2 tmen saya pun yg menengah2 aja..Lbh enak,, kpanjangan ya komennya hehe..skrg sih ank saya br 5bln tp udah niat g mo nyekolahin di skolah2 gaul itu,yg penting mutunya bner g…skiaaan

    • SD Islam PB Sudirman yaaaa??? Trus SMA yg dimaksud Labs School yaa??? Hahaha… *sok main tebak-tebakan :P*

      Iya Jeng. Mudah-mudahan kalo ngebiasain anak liat ke bawah sesekali, dia nggak dongak terus yaaa🙂

      • Btuull hihi kl smp nya ktebak g?? Liat komen saya ngapa ky curcol yak hehe tp intinya tuh Lbh baik skolah di skolah yg middle class aja,byk d crita sodara/tmen yg scr ekonomi biasa Aja tp maksa skolah di skolah negri/swasta yg menang gaul hi class aja.. Hasilnya ya gaul itu Aja yg didapet,yg laen none..

  11. Ah…lagi-lagi nice posting mam. Anak2 kita nantinya banyak menghabiskan waktu di sekolah, dan pastinya lingkungan sekolah sangat berperanan penting dlm pembentukan pribadi anak. Sya sih penginnya Dita sekolah SD nya di SD Negeri. Udh ngincer SD negri deket rumah yg ditestimoni temen, bagus. Cuma lagi katanya umur anak harus 7 th, lha Dita nanti lulus TKB pas 6 tahun. Ah…dilihat nanti aja lah, siapa tahu berubah kebijakan hehehe. Skr dinikmati dulu anak yg lagi PG😀

    • Nah itu dia Bundit. Yang bikin aku kurang sreg sama SD adalah denger-denger masuknya harus bisa calistung, trus ada tesnya segala. Padahal aku pengennya di kelas 1 SD itulah Nadira belajar calistung dengan intensif. Di TK lebih banyak porsi main, dengan calistung sebagai ‘side dish’-nya. Kalo masuk ke SD Negeri, berarti aku harus cari TK yang bertentangan dengan prinsipku itu kan😦

  12. Gw dulu SD kelas 1-5 di skolah negeri di daerah kelapa gading, walopun sekolah negri tp skolah gw itu termasuk yg murid2nya anak kompleks semua. Yah ekonomi ortunya msh di atas dibanding sd negri di luar komplek lah. Ada sih yg murid yg ortunya dr ekonomi pas2an kyk gw atau ekonomi sulit. Itupun gw kyk elu suka minderan.

    Pindah ke bekasi, gw masuk SD swasta islam di deket komplek rumah, yaaah tambah minder dah gw krn isinya byk anak2 dr menengah atas, tp ya gw terima dan nurut aja krn nyokap dah masukin gw kesitu krn ktnya mutunya bagus dibanding sdn. Pasti nyokap pgn yg terbaik lah ya buat gw. Lagian yg agak bikin gw pedean dikit, gw msh dpt rangking 10 besar lah di antara anak2 pintar disitu *somse*

    Masuk SMP negri di duren sawit, gw ketemu lagi dgn temen2 yg berbagai macam kalangan, termasuk yg tinggal di rusun klender, ato kampung jembatan. Walopun gw agak snob, krn gw berasal dari sekolah swasta satu2nya yg dapet rayon di SMP itu, tp gw lebih menikmati. Tipe temen mulai dari anak mamih sampe preman tukang tawuran pun bikin gw jd bisa lebih fleksibel dlm bergaul.

    Masuk SMA negri di pdk kelapa jg begitu, kl disini sih paling mulai minder ama anak2 cewe yg keceh yg bikin gebetan2 gw pd naksir mereka hahahaha. Kalo kuliah di bandung, pergaulan temen2 jg ga jauh beda ama kampus negri, yg anak petani ada sampai yg anaknya konglomerat jg ada.

    Ya kepengennya nanti Laras jg gitu, bisa bergaul sama sapa aja dari berbagai kalangan. Cmn kl skolah pastilah kita pgn dia dpt yg terbaik walopun mahal ya. So far, gw ama papahnya Laras pgn Laras SD di swasta biar tau disiplinnya, ntar kl SMP – SMA baru lah di negri. Ya mudah2an tercapai

    Btw, lu dl SMAnya bareng ama Yuyun di 12 yak😀

    • Eh Rin, lo SMA-nya di 91 ya? Beberapa temen gue sekolah di situ lho. Trus dulu pacar gue zaman SMA punya mantan di situ juga. Kenapa gue tau? Karena mantannya pacar gue itu nyelidikin gue ke temen-temen gue yang kenal dia. Zzzz…zzz… (-_-)

      Iya gue di SMA Kebon Singkong situ. Bareng sama si Della juga tuh, hehehe…😀

      • bwahahaha gitu toh..panas ya boook diselidikin gitu macam kriminil.
        Btw sapa aja temen2 lu yg di 91, trs mantannya pacar itu sapa namanya xixixi *kepo*

        adek gw malah alumni bonsi Ra😀

  13. waktu lulus SMP, aku sempet bimbang memilih : mau lanjutin ke SMA Negeri di tengah kota atau yg dipinggir Surabaya aja (deket banget ama rumah). Akhirnya aku milih yang dipinggiran aja, dengan pertimbangan: aku dari keluarga yang strata sosialnya persis ditengah-tengah.

    jadi kupikir aku akan bisa lebih nyaman kalo belajar di SMA pinggiran yang gaya gaul anak-anaknya gak terlalu jetset. Soalnya sependek pengetahuanku waktu itu, anak-anak SMA Negeri di tengah kota gaya gaulnya gak cocok sama kondisi kantong-ku.

    Tas-nya ber-merk (jaman dulu yg top tuh Benetton ya?). Tiap bulan ada aja yang ultah 17an, dan diadainnya di kafe. sbg tamu butuh baju yang cukup proper dan trendy dong ya, menyesuaikan dengan sikon? Nah dari pertimbangan sederhana (dan dangkal) spt itu, aku lbh milih sekolah pinggiran aja😀 Dan ternyata emang teman2ku juga gak jauh beda gaya-nya dengan aku.

    • eh tambahan (curcol) dikit:
      sekarang aku mengajar di sekolah tengah kota yang dulu aku incar lho, hihihi… dan sampe sekarang pun aku masih minder kalo ngeliat jejeran city-car terbaru yang ada di parkiran mobil.

      gile ni anak-anak (minoritas sih yg mampu kyk begini), idupnya enak banget masih SMA udah punya mobil sendiri (Jazz, Yaris, Splash, Mercy). lah gurunya naik angkot , ato paling banter naik roda dua😆😛

      but so far, aku gak liat ada kesenjangan sih diantara murid yang mampu-banget dan yang biasa-biasa aja. alhamdulillah.

    • Hihihi.. Jadi inget tuh dulu gue punya tas Benetton. Tentu saja dibeli pas lagi diskon, hehehehe *pamer nih yee.. :P*

      Tapi bener Mak, gue juga ngerasa gitu koq. Pas ultah 17-an itu berasa bener. Gue kan pernah diundang ultah ke-17 temen se-gank SMP yang SMIP-nya di Menteng. Pas dia ultah, dirayain di kafe gitu. Gue dateng gak pede bener karena beda lah yaa pergaulan anak SMA Negeri biasa-biasa aja kayak gue sama anak SMIP Menteng yang gaul-gaul itu. Kalo nggak temen akrab, males dah gue dateng, hehehe…

  14. setuju ra,sekolah di lingkungan homogen ga selamanya asik hahaha apalagi buat macam anak introvert dan ga keren kaya gue wkwk. udah gitu keluarga juga membatasi pergi keluar rumah untuk bergaul alhasil makin deh gue anak yg ga gaul,gue ngalamin sendiri soalnya dari TK-SMP sekolah swasta,dan terus terang my best moments malah waktu SMA dan Kuliah di sekolah negeri,dimana gue bener2 bisa jadi diri sendiri,temen lebih banyak,lebih pede,jd tahu berbagai macam kondisi orang dan terutama pas kuliah yah dimana gue jauh dari ortu tapi jadinya bisa ngerasain macem2 pengalaman tanpa khawatir jam malem etc hihi intinya sih mau sekolah dimanapun anak jangan terlalu dikekep kali ya,biarin aja dia ngerasain sendiri bagaimana survive di lingkungan berisi macam2 orang dan menemukan jati diri,oh ya biasanya kan di sekolah negeri lebih banyak orang dan banyak macam ya jd dia ga akan ngerasa terlalu ‘lonely’ kaya kalau di sekolah swasta yg muridnya dikit udah gitu seangkatan ga kompak,menderita dehh🙂

    • Testimoni dari ‘korban’ sekolah homogen ya bookkk🙂

      Iya bener sih kayak lo bilang, Ti. Temen gue yang sekolah dr TK-SMA di sekolah homogen juga bilang gitu. Dia gak ngerasa aneh mungkin karena dia bisa got along well ya. Apalagi kalo ada gencet-gencetan yang biasa terjadi di sekolah homogen. Tambah setres euy🙂

  15. Setujuuu sama pemikirannya Ira (Jeung apa karena kita dah sama2 tuek ya?? Kita?? hehe)… Gw pun hasil didikan negri dari SD sampe kuliah begitupun suami..Jadi nanti pengennya anak kita juga masuk negri aja.. Eh tapi kondisi sekolah negri sekarang gimana sih Ra? Setau gw kan dah ngga kayak dulu.. Jangan2 juga udah satu strata sosial nih..
    Cerita yg lucu : gw ketemu sama temen gw yg kuliah di Trisakti malah ngetawain gw karena kuliah di salah satu institut yg menurut dia kerjaannya cuman nyangkul doang *ini ketawan banget dah tempat kuliah gw*:P

    • Husshh.. Jangan bilang tuek dong. Kan age ain’t nothing but a number😛

      Sekolah Negeri sekarang kayaknya sih sama aja kayak dulu. Yang bagus-bagus dan lokasi strategis didominasi anak-anak yang lumayan mampu, meski ada juga yang biasa aja. Gitu sih yang gue perhatiin🙂

      Berarti lo dulu kuliah di Institut Pesantren Bogor, Dit?😀

  16. Pingback: Contoh Emak Lebay (Edisi SD) « The Sun is Getting High, We're Moving On

  17. Pingback: Don’t Eat What You Can’t Swallow « The Sun is Getting High, We're Moving on

  18. Ra.. Gw di Smp Sulit sekali Mencari Teman yg Setia.. atau sahabat juga sulit… Teman” di smp kebanyakan Bikin Geng.. selalu Main purikan ini sekolah swasta… gw juga ngga tega ngeliat teman gw di bully yaa mau gimana lagi.. gw kN kaga bisa nge bacoot… Gw bisa diam dan nonton… gimana nih solusinya.?? Gw juga pengen akrab sama teman yg lainnya dibilang ” najis so akrab “.. gw juga pengen. Marah.. gw juga tau ini sekolah tempat mencari ilmu.. Gw cuma bisa sabar.. 😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s