Do You Care? (Kisah Penulis Amatir)

Satu hal yang gue suka dari pekerjaan gue adalah, I can experience so many different things and get so much knowledge. Dari kehidupan selebriti yang glamour tapi banyak palsunya, aktivitas ekonomi beserta menteri dan pejabat-pejabatnya (plus gosip-gosip insider tentang mereka tentunya) sampai aktivitas kriminal kayak pencurian, pemerkosaan, pembunuhan etc dan derita masyarakat yang tak banyak diketahui golongan atas.

*picture’s taken from here *

Tadi pagi, di timeline gue di twitter, gue baca soal kasus Supriono, pemulung yang nggak bisa memakamkan tubuh anaknya di Jakarta dan membawa tubuh si anak naik kereta ke arah Depok/Bogor. Kasus ini jadi besar karena di-broadcast via BBM dan ditengarai bahwa itu ditunggangi pihak-pihak tertentu.

Gue sih gak peduli ya mau ditunggangi atau apaan kek. Yang gue kaget, kasus itu udah lama banget, tepatnya pada 2005 atau enam tahun lalu. Gue tahu karena gue ngeliput kasusnya. Berhubung gue nggak nemu file berita gue di situs kantor (grrrhhh..), gue akhirnya buka tulisan gue sendiri yang ada di folder pribadi. Di folder itu, bertebaran lah tulisan-tulisan gue yang lain. Rata-rata seputar kondisi sosial ekonomi masyarakat bawah di Jakarta, terutama di Jakarta Selatan.

Percaya nggak, di Jakarta Selatan masih ada kasus gizi buruk? Lokasinya nggak jauh dari kawasan elit Cipete – Pondok Labu, tepatnya di RS Fatmawati. Waktu itu pas dapet info ini pun, gue agak-agak nggak percaya. Berangkatlah gue ke RS Fatmawati dan langsung shock ngeliat anak umur 9 bulan bernama Faisal yang beratnya cuma 3,2 kg. Padahal pas lahir, dia berbobot 3,5 kg😦

Kondisi Faisal pun tampak mengenaskan. Tubuhnya hanya terdiri atas tulang, kulit dan sedikit jaringan otot, sehingga pembuluh darah, terutama di bagian kepala, terlihat jelas. Sementara sebuah infus menancap di hidungnya. Tatapan mata bocah itu tampak layu, tanpa reaksi emosi yang jelas.

Sementara itu, dua bocah lain yang juga divonis gizi buruk yakni Siti Khadijah dan Fahrurrodzi dibawa ke RS Fatmawati karena indikasi penyakit lain, yakni diare dan pneumonia. Belakangan, baru diketahui bahwa kedua bayi itu menderita gizi buruk karena berat badannya tidak mencapai standar normal.

Sad eh?😦

Dan dalam radius beberapa ratus meter dari Kebayoran (belum ada Gandaria City waktu itu), ada kasus anak lumpuh layu, alias kakinya tiba-tiba lumpuh tanpa sebab yang jelas. Rumah anak itu cuma rumah petak 1 kamar+1 toilet yang gue yakin luasnya di bawah ukuran Rumah Sangat Sederhana. Rumah itu berisikan kedua orangtuanya plus empat saudara kandungnya.  Salah satu kakaknya juga menderita lumpuh jadi cuma bisa duduk diam di dalam rumah.

Mau contoh kasus lain yang menyayat hati? Tinggal pilih sih. Ada bidan yang ternyata berprofesi sebagai penjual bayi di daerah Pamulang. Ada balita yang meninggal dunia karena DBD di Pondok Pinang. Ada ibu hamil tertangkap mengutil karena diancam bakal dipukuli suaminya kalo nggak mau. Ada bayi cacat yang dibuang orangtuanya. Belum lagi saat gue harus mendengar curhat PSK yang ternyata lagi hamil saat tertangkap razia, curhat para supir bajaj tentang kondisi ekonomi mereka yang mengenaskan (which led me to no-bargain policy everytime I take a ride on a bajaj), curhat para korban kebakaran, dari yang kehilangan ijazah sampai kehilangan sanak saudara, curhat korban kecelakaan kereta api, dari yang luka ringan sampai kehilangan kakinya. Macem-macem deh.

Terus terang, selama jadi jurnalis, pengalaman paling berkesan buat gue ya saat gue ditempatkan di desk metropolitan. Di situ, I felt very real and down to earth. Rasa empati dan altruistic behaviour gue juga diasah banget karena sehari-hari gue ketemunya orang-orang yang susah melulu. Entah kebanjiran, kebakaran, kelaparan, kesakitan, etc.

*picture’s taken from here *

Kantong juga jadi tongpes karena gue kudu kasih duit pulsa ke cepu (informan) di kepolisian supaya gue dapet info-info kriminal tercihuy. Plus kalo ketemu kasus-kasus menyedihkan gitu, bawaannya gak tega melulu. Jadi deh nyumbang semampunya (eh ini bukan riya, cuma sharing yak).

Beda banget sama liputan lifestyle dan artis-artis yang mewah nan glamour, atau liputan politik ekonomi yang penuh birokrasi dan kepentingan (apalagi ke Gedung DPR, hiihh bete beneerr). Kelamaan di dunia lifestyle dan entertainment, kaki jadi nggak menjejak bumi. Gimana nggak, wong yang diliat sehari-hari sosok yang glamour melulu. Ibaratnya, karena kepala liat ke atas mulu, padahal kantong cekak, jadinya maksain diri deh.  

Tapi ya namanya juga kerjaan, semua harus dilakukan sebaik-baiknya. Dan gue sebagai jurnalis pemula/amatiran yang belum ada 15 tahun di dunia jurnalisme dan belum pernah diterjunkan ke war zone (padahal pengen banget!), kayaknya belum pantes (dan emang belum punya sih) untuk nulis pengalaman-pengalaman yang wah. Apalagi mengeluh macem-macem. Jadi ya tulisan ini dianggap kisah iseng aja yak. Lagi pula gue kayaknya lebih seneng nulisnya sih dibanding investigasinya. Deg-degan soale, apalagi kasus-kasus narkoba, asusila dan kriminalitas gitu. Senewen bok, hehehe..

Yah segitu aja dongeng pagi-paginya yaw. Back to work dulu😛

*picture’s taken from here *

Notes:

1. Dari arsip tulisan, gue baru diingatkan lagi kalo sebuah RS khusus perempuan dan anak yang cakep+mewah bener di Jaksel, saat dibangun dulu mengalami kecelakaan beberapa kali sampai ada korban meninggal lho.

2. Do you know that penyebab DBD di Kelurahan Pangkal Pinang, mostly adalah nyamuk-nyamuk DBD yang bersarang di kebun, kolam dan rumah-rumah mewah di daerah Pondok Indah? Para pemilik rumah mewah itu rata-rata menolak untuk di-fogging. Sementara rumah-rumah di pemukiman kumuh di Pondok Pinang WAJIB melakukan fogging. Dan jentik-jentik nyamuk aides aigepty adalah jenis nyamuk manja yang suka lingkungan bersih. Jadi ketebak dong mereka berkembang biak dimana?

3. Buat warga Bintaro, dan sekitarnya, kalo belakangan ini sering kebanjiran, salahkan Pemda DKI edisi sebelumnya. Kenapa? Karena daerah resapan air di Jaksel banyak yang dirombak dan dialihfungsikan sebagai mal atau apartemen (e.g: Poins Square). *I wrote this on twitter a couple of months ago*

26 thoughts on “Do You Care? (Kisah Penulis Amatir)

  1. btw silent reader selama ini mo numpang komen…ahh keren bgt tulisan ini..btw boleh share ga yah link mengenai warga pondok indah yg menolak fogging?kalo ada dan boleh di-share..

    tks u/remind kita semua u/ga liat keatas melulu..aduh suer deh baca ini bikin super jleb2.

    • Hai Mira. Sesama member FD kan kita?🙂

      Nah, website kantor gue tuh lagi bleek banget Mak. Jadi link tulisan gue pun gak bisa ketemu. Kalo mau, gue email-in aja tulisannya? Yang pasti sih, itu hasil wawancara gue sama Lurah dan Camat setempat gitu, pas lagi heboh-hebohnya kasus DBD di awal 2005. Sampe ada anak kecil yang meninggal😦

  2. yes they’re rite…u’re really a good writer/journalist laaah Ra🙂
    tulisan2 lu itu selalu penuh inspirasi buat pembacanya termasuk eike..
    mau donk diajarin *wink*

  3. Wow, great story! I really wanted to be a journalist but my parents wasn’t on board with the idea. I actually read Supriono story when I was still studying. That’s why I was quite shocked when the exact same story came to the surface yesterday. Anyway, admirable work, Ira. Thumbs up!

  4. Ih post-nya keren!🙂

    What a great job (and a great perspective on the job) you hv ra! Pekerjaan yg sekaligus jd reminder n rem pribadi yah tiap mau rada melenceng dan lupa daratan. Td siang gw dkirimin text-nya cerita pemulung itu, bikin terhenyak bgt😥 smg kita bs jd orang2 yg constantly empati dan ringan ngulurin tangan bantu orang ya instead of slalu mikirin diri sendiri *ngomong sm cermin*

    • Thank you, Lei. Tapi gue juga kagum koq sama orang-orang yang bisa bekerja kantoran 9-5 karena gue nggak betah banget kerja di belakang meja. Gue kan pembosan abis. So, I consider myself lucky to have a job that suits my interest🙂

      Setuju banget sama kalimatlo yang terakhir *ambil cermin juga*

  5. Laaah…loe OK kok, Ra!! Beneran. Bahsa tulisan loe gak serius berat tapi teuteup aja keren dan enak dibaca. Dan emang bener kayak jurnalist *jarang-jarang lho gw muji loe tapi ini jujur*
    Eh, ngomongin soal jomplang ya, Gw kadang serasa amphibi hidup di dua habitat.
    Angka pun bisa jadi mempunyai dua makna yang jauh banget:
    Di dunia nyata, operator pabrik gw nyambangin temen gw buat minjem duit 300ribu buat memperpanjang hidup dia, anak dan istrinya sampe gajian.
    300ribu buat temen-temen gw di dunia maya cuma buat sekali makan di Sushi Tei.
    But that’s life…sisi positipnya semoga kita selalu menjadi orang yang pandai bersyukur…

    • “Di dunia nyata, operator pabrik gw nyambangin temen gw buat minjem duit 300ribu buat memperpanjang hidup dia, anak dan istrinya sampe gajian.
      300ribu buat temen-temen gw di dunia maya cuma buat sekali makan di Sushi Tei.”

      C’est la vie, that’s life. Bener katalo, Ndah. Ngeliat kayak gitu sering bikin hati nyes gimanaa gitu. Tapi untunglah kita punya dua dunia itu. Jadi kita bisa pandai bersyukur, nggak cuma bisa ngeluh aja kerjanya🙂

  6. Mba Ira, jgn tll merendah ah.. Mba itu sdh tdk terkategori jurnalis pemula loh, sdh masuk ‘senior muda’.. Klo buat tulisan tuh apik, runtun/sistematis, dan to the point.. Gak bikin bosen bacanya dan pgn ngebaca smpi ending. Sukses trs buat Mba Ira.. Keep consume shrimp, it’s good for your brain🙂

    • Amin-amin-amiinn.. Tararengkyu ya Mas Amir. Ini semua berkat sering-sering makan udangnya Mas Amir nih🙂

      *promosi terselubung, harap bayar pajak kepada owner blog ya, hihihi..*

  7. Aih mbak, senengnya aku baca post ini. Kyk ditampar kalo msh aja ngeluh soal hal2 g penting. Terima kasih sdh diingatkan biar kaki ini menginjak tanah lagi. *kyk setan aja*

    Tp sedih jg baca yg gizi buruk itu..😦
    *berkaca-kaca, bercermin-cermin*

    • Hihihi.. Iya ya. Berasa kuntilanak kakinya nggak menjejak tanah. Eh sini coba liat punggungnya, bolong nggak? *lho koq jadi Sundel Bolong :P*

      Waktu liputan gizi buruk itu gue masih jomblo. Itupun rasanya hati kayak diremes2 dan mau nangis. Nggak tahu deh kalo sekarang liputannya gimana. Bisa-bisa mewek heboh di depan ortu si anak kali ya..

  8. bintaro banjir bukan gara-gara DKI aja kok Mbak. ya iya sih, emang lebih parah setelah situ gintung jebol. tapi itu si BinJay juga jor-joran bangun ini itu. lapangan golf udah tinggal tunggu waktu jadi mall. RTH udah lenyap. yang bikin suebel, mereka bikin jalan gede nan mulus tanpa trotoar yang layak. di banyak tempat, malah ga ada sama sekali. tempat penyeberangan orang juga ga ada, jadi serem kalo mau nyeberang sambil bawa anak. mungkin dikiranya semua penghuni BinJay dan sekitarnya pada naik mobil, jadi ga butuh trotoar. trotoarnya kontras banget ama kemewahan rumah harga M M an ituh. trus buat bintaro coret, apesnya karena saluran airnya kalah gede. BinJay bikin got kan guede, eh begitu di luar area BinJay, jadi sempit. banjir deh.

    meski begitu, moga-moga hari ini hujan deres biar air sumur bening tanpa syarat *berdoa*

    • Hahaha.. Tapi kalo lo jadi wartawan kriminal kayak gue dulu, pasti lo gampang dpt info deh Nad. Mereka kan lemah banget sama cewek, apalagi yang dandanannya cihuy kayak ente😉

  9. Pingback: Krisis Identitas « The Sun is Getting High, We're Moving On

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s