Carpe Diem, Seize the Day

Satu hal yang paling ditakuti manusia, yakni kematian. Namun menurut gue, ada yang lebih mengerikan dari itu, yakni meninggal dunia di saat anak-anak kita masih kecil.

Kenapa gue nulis ini? Jadi ceritanya gue baru pulang jenguk istri seorang teman yang terbaring di rumah sakit dalam kondisi koma. Anaknya baru 1, perempuan, berumur 3,5 tahun. Pas gue ke RS, temen gue (si suami/bapak) sedang pulang ke rumah karena anaknya demam. “Mungkin anak gue kangen Maminya, Ra,” begitu kata temen gue pas gue telpon.

Untuk mengalihkan rasa kangen si anak pada ibunya, temen gue berinisiatif membelikan mainan. Update kabar dari temen gue sih, katanya si anak kembali ceria. Demamnya segera turun liat bapaknya pulang bawa mainan. Dan dia pun sibuk dengan mainan barunya.

Meski begitu, kesedihan gue nggak serta merta hilang. Gue yakin, meski si anak belum paham betul, dia udah bisa merasakan dengan instingnya bahwa ada yang tidak beres dengan sang ibu. Ibu yang biasa bermain, mengasuh, memandikan dan memeluknya, koq tiba-tiba menghilang. Sekalinya ada, si ibu hanya terbaring di tempat tidur dan tidak menengok kala dipanggil.

*bentar gue ngelap air mata dulu yak*

Gue berharap banget istrinya teman gue ini bakal bisa bangun dari tidur panjangnya (ini udah seminggu koma, btw) dan bisa sembuh total. Kenapa? Karena gue bisa relate banget dengan dia. Meski belum kenal akrab, tapi gue bisa berempati sebagai sesama ibu.  

Gue juga jadi berefleksi pada diri sendiri. Kalo gue yang terbaring di ranjang itu dalam kondisi sama, or even worse, what will happen? Will Nadira miss me? Will she cry and call my name, ask me to sing all of her favorit songs from Barney? Will she be able to sleep without kissing my forearm and hugging me tightly?

And how about my husband? Will he be tough to face the truth? Will he be able to take care of both me and Nadira, while he’s still busy with his new company? Will he be able to take care of himself?

Ya Allah, sumpah deh, gue nggak kuat bayangin itu semua. Meski udah nyiapin segala dana pendidikan, asuransi jiwa, dana pensiun, dana darurat, etc, ada satu yang belum gue siapin. Yakni kondisi psikologis keluarga, terutama untuk gue. Intinya, gue belum bisa ikhlas kalo tiba-tiba gue berada dalam kondisi “tidak mengenakkan” kayak istrinya teman gue or even worse.

Ada gak financial planner, psikolog atau apa lah yang bisa memberikan kiat gimana menyiapkan kondisi psikologis saat musibah datang? Apakah bisa dicicil layaknya dana darurat? Apakah bisa autoinvest kayak reksa dana di bank? Apakah dijual dalam bentuk beberapa gram kayak LM? 

Duh tambah ngaco jadinya. Yang pasti, gue akhirnya ngerti kenapa saat alm Bu Lik gue dirawat di RS, dia justru lebih repot nanyain kondisi rumah, cucian piring, baju kotor etc ke anak-anak dan suaminya. Karena dia, just like most mothers in the world, berusaha menjaga keluarganya agar tak kekurangan sesuatu. Sampai sebelum meninggal pun, she always ensured that her family would be okay if there’s anything happened to her.

Gue yakin, istrinya temen gue pasti merasakan hal yang sama dengan alm Bu Lik gue. Karena gue yang dalam kondisi baik-baik saja pun, bisa merasakan hal yang serupa. It’s harder to imagine Nadira’s life without me, than the other way around. I’m so afraid if I’m not with her, she won’t be a happy person, just like I hope she will be.

Makanya mumpung sekarang masih ada umur, I’m trying to be the best mom I could be for Nadira. Carpe diem, seize the day. Thus, if my time came, she’ll have at least some good memories of me.

Ah udah ah, bisa nightmare nih ntar malem😦

P.S: I wrote something more or less similar to this posting in my multiply site here.

“One day your life will flash before your eyes. Make sure it’s worth watching.” [Unknown]

 “If the people we love are stolen from us, the way to have them live on is to never stop loving them. Buildings burn, people die, but real love is forever.”
The Crow (1994)

 “The world is a fine place and worth the fighting for and I hate very much to leave it.” [Ernest Hemingway]

 “We all die. The goal isn’t to live forever, the goal is to create something that will.” [Chuck Palahniuk]

39 thoughts on “Carpe Diem, Seize the Day

  1. Ini salah satu yg sering gw pikirin saat hamil gini. Secara melahirkan itu perjuangan hidup dan mati. Dan sekarang yg gw pikirin kalo terjadi sesuatu sama gw adalah siapa yg merawat qila?make sure dia mendapatkan yg terbaik, ada yg menyayangi dst..kalo inget itu gw udh nangis2 deh.

  2. *berkaca-kaca*

    “One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.” [Unknown]
    ini yg paling gw inget Ra, makin ke sini2, makin berusaha untuk membahagiakan diri gw lah setidaknya yaaa… *secara emang masih mikirin diri sendiri yaaa :P*

    semoga istri temen lo cepet baik ya Ra, keluarganya juga dikasih kekuatan buat ngerawat… sediiih….

    • Iya Tjep. Apalagi dr berbagai testimoni teman-teman dan kolega yang pernah ngalamin near death experience, rata-rata emang begitu. Semua kehidupannya dijembrengin di depan mata kayak film. Dan rata-rata yang ditampilkan adalah yang buruk dan memalukan. Syukurlah teman-teman dan kolega gue masih dikasih waktu untuk memperbaiki kehidupan mereka setelah peristiwa itu.

      Dan menurut gue, testimoni mereka (Insya Allah) cukup sebagai pengingat supaya gue bisa keep on trying to do my best. Thus, when my life flashes before my eyes, it will be worth watching. Mudah-mudahan kita bisa ya Tjep🙂

  3. berumur 3,5 thn Ra, bukan berumus *editingedition.
    Hal semacam itu, sort of gtu deh, terjadi di kakakku saat melahirkan anak ke-3.
    Operasi sesar dan si bayi perempuan cuma berumur 2,5 jam. Bahkan ga bisa ikut ke funeral. Kakakku tensi tinggi waktu itu, 200/110 gtu klo ga salah. Udah mau “nyerah” karena sedih bayinya meninggal. Tapi akhirnya “fight” ketika di satu malam di RS, mimpi melihat anak pertamanya (Josephine waktu itu 3,5-4 thn berdiri menangis sendirian). Bener! seorang ibu akan keparnoan meninggalkan anaknya. Kekhawatiran terbesar seorang ibu adalah meninggalkan anak2 dan keluarganya. Blessing you all mothers in the world, karena terlahirkan dengan kondisi selalu menginginkan kebahagiaan buat seluruh anggota keluarganya.

  4. Ra…. Mewek bacanya😥
    Gw pikir cm gw yg suka punya pikiran bgini ra. Aplg sejak hamil tua gw suka mikir apa jdnya kl gw ‘kalah’ dlm perjuangan mekahirkan nanti. Akankah hubby dan anak2 gw baik2 aja. Apalagi kl gw jelasin dikit2 le kyara bahwa saat ngelahirin nanti dia hrs bobo sm ayahnya di rmh krn gw hrs nginep di rs, kyara ky ga terima gt. Dia lgsg peluk gw dan bilang kl kyara sayang mama. Mama jgn di rs, kasian nanti mama kesakitan, kyara mau bareng mama terus, ngga mau kl cuma sm ayah aja. Aduuhhh beneran nangis deh gw tiap dia ngomong gitu😦
    kl curhat ke hubby, ktnya ini krn gw lg hamil makanya perasaannya jd mellow terus bawaannya. Ah emang lelaki pd ga sensitif deh..
    Gw ikut doain ra smg istri tmn lo cpt dibangunkan dr tidur panjangnya😥

  5. hiks..hiks..hiks…😥

    ra, mewek gw bacanya dan gw jadi menerawang gimana gituh mikirin anak dan laki gw..
    tadi siang baca blog nya ietoh mirip2 kya gini juga.. hadduuuhhh speechless gw ngebayanginnya….

    semoga istrinya temen lo cepat di bangunkan dari koma nya dan bisa sehat wal afiat seperti sedia kala.. *crossfinger

  6. Bacanya sampe pusing, dada sakit & banjir air mata (literally)..

    Berasa bgt nih ra😦
    Dari anak gue lahir, dokter udah bilang umurnya ngga lebih dari 2bulan. Gimana gue ngga diliputi ketakutan akan kematian sejak saat itu?
    Daaan, anak gue bertahan, dan sekarang malah gue yg takut seandainya gue yg kenapa2.
    Siapa yg kasih makan, siapa yg meluk dia klo bangun tengah malem, siapa yg ajak main tiap hari, dsb.

    *nangis makin menggila*

    Maaf ya curcol, abis mengena bgt, dan bikin gue jd mikir harus “mempersiapkan orang lain” yg bisa melakukan apa yg gue lakukan buat anak gue.. Terutama babenya nih..
    Kalo ngga ada yg bisa, terpaksa deh gue jd arwah gentayangan demi memantau kesejahteraan anak gue.. (Akhirannya ngga enak amat!)

    Dan mudah2an istri temen lo segera diberikan kesembuhan, aamiin ya Allah..

    • Ih, gue jg sempet mikir gitu, Gem. Apa gue bakal jadi arwah gentayangan aja ya, just to make sure Nadira is well taken care of. Gue jadi inget film-film dengan konsep “hantu akan terus gentayangan karena mereka punya unfinished business”. Maybe I will be one of them too.

      *jadi mikir, kalo jadi hantu, penampilan gue pake template yang sekarang atau boleh milih pas zaman kurusan dulu?*

      Thx for the pray ya Gem *hugs*

  7. Meweeeek!!
    Duh ra, ini persis banget dengan apa yg aku pilirin td pagi!!
    Alhamdulillah hari ini aku 27th, zua akan 4 tahun.. Aku jd mellow sampai kapan aki bisa nemenin zua, apakah aku akan bisa melihat anak2nya.. Akankah dia dalam keadaan yg sudah mandiri ketika aku meninggalkan dia..
    Memang umur ditangan Allah, sungguh aku mohon usiaku dipanjangkan untuk menemani zua..

    • Iya Dhir, setelah jadi ibu-ibu kayak sekarang, doa supaya dikasih umur panjang jadi lebih sering gue panjatkan daripada pas masih single dulu. Bukannya apa-apa. Umur panjang itu supaya gue bisa nemenin Nadira sampe dia mandiri, syukur-syukur dikasih bonus sampai dia menikah dan punya anak nanti.

      *ah jadi brebes mili deh :’)*

  8. *speechless* *berebes mili*

    Semua ibu pasti bakal mikir gitu ya, sama seperti gw juga. Selalu kepikiran gimana Laras kalo umur gw ditakdirkan gak panjang ama Allah😦. Dulu waktu crita Prita yg dipenjara aja gw dah nangis bombay bayangin anak2nya.

    Dulu sehari abis melahirkan Laras, gw sempet demam tinggi ga tau sebabnya, bukan karena mastitis soale barengan sama diare hebat sampe badan rasanya lemes banget. Aseli dalam pikiran gw cuman 1..”Ya Allah berilah hamba kesempatan utk bisa bersama Laras”, gw bener2 takut mati waktu itu. Alhamdulillah, gw bisa sehat lagi. tp kan ga tau sbnrnya brp lama lg sisa umur gw :((.

    Mudah2an kita semua diksh kesehatan trs & umur panjang ya.. Juga buat istri temen lo, mudah2an cepet pulih & sehat…

    PS : satu lagi ujian yg dialami orang lain yg bikin gw speechless, kmrn gw abis nangis2 bombay baca cerita baby NF :((

    • Amin-amin-amiin ya Rin. Eh iya gue juga nangis bombay baca cerita baby NF. Butuh beberapa hari untuk gue bisa baca beritanya. Sebelumnya, cuma baca di TL aja bikin gue mewek😦

  9. Sedih…ngebayangin kalo gw ntar di posisi si ibu istri temen lo itu, Ra…
    Tapi itu yg dibilang takdir Ra, kita ga bisa menghindar kalau mmg waktu kita cukup sampai di sini saja. Sblm dr kita hadir di bumi ini, kan udh tertulis takdir kita, kapan kita mati. Tinggal menjalani aja, Ra….

    Gw aja mewek, pas liat anak gw yg cewe netesin air mata saat gw sakit demam bbrp hr yg lalu. Ternyata CONNECTED antara ibu dan anak itu super kuat lho…
    Kadang gw bisikkin gini ke anak2 gw, “insya Allah kita akan bertemu lagi di kehidupan akhirat yg indah ya, nak…amin” Habis gitu langsung deh tambah mewek kita…hue..hue..

    Semoga kita selalu diberi kesehatan dan keselamatan. Amiin.

    • Kadang gw bisikkin gini ke anak2 gw, “Insya Allah kita akan bertemu lagi di kehidupan akhirat yg indah ya, nak…amin”

      Huaaaa… Bacanya aja gue mewek Maaakk😦 Tapi bener kaya dirimu. Itulah yang namanya takdir. Makanya kita harus ikhlas ya Mak, ngikutin yang udah ditulis di buku kehidupan kita masing-masing.

  10. Semoga Allah menguatkan ibu yg koma tsb & keluarganya, diberikan kesembuhan & mdh-mdhan it yg terbaik utk mereka.

    Bila ibuku masih ada, hari ini semestinya usianya 63 thn. Baca blogmu jd ingat perjuangan ibuku selama hidupnya. Di tengah sakitnya masih bilang ke kakakku “saya mau lihat kamu nikah”, dan semua sdh dia siapin kalau-kalau hari itu bisa datang segera. Dan masih banyak hal lain yg ingin dia siapkan utk anak-anaknya. Tapi ternyata Allah lbh sayang padanya..

    Menurutku yg mungkin yg paling penting adl kesiapan mental & kekuatan org2 tercinta sepeninggal kita. Bisakah meneruskan hidup, berdiri sendiri dgn kuat? Akankah mereka jadi org2 yg doanya jd amalan yg terus mengalir utk kita? Itu yg sy tanyakan pd diriku setelah ibuku pergi.

    Tfs ra, jadi pengingat utkku ttg bekal spt apa yg harus kuberi bagi keluarga sebelum menghadapi mati. Maaf jadi ikut cerita di blogmu, punten.

    • Menurutku yg mungkin yg paling penting adl kesiapan mental & kekuatan org2 tercinta sepeninggal kita. Bisakah meneruskan hidup, berdiri sendiri dgn kuat? Akankah mereka jadi org2 yg doanya jd amalan yg terus mengalir utk kita?

      Setuju banget Fa! *hugs*

  11. 😥 hiks.. smg yg terbaik bwt keluarga temen lo itu ya ra..dan mudah2an yg terbaik itu si istri sadar n kumpul sm anak n suaminya yah. The thought of leaving a child behind is just unbearable.

    • The thought of leaving a child behind is just unbearable.

      Bener banget Lei. Apalagi ibu kan maunya selalu ada di samping anak dan kalo bisa tidak melewatkan every single moments in her children’s lives. Just to make sure everything’s ok. Kalo kita gak ada, trus anak kita gimana dong?

      *mewek*

  12. Ira, semoga istri temen lo cepet sadar dari komanya. Gak bisa gak nangis baca postingan lo ini (beserta komen2nya)😥 gw pernah kepikiran ginian juga, nanti anak2 gw sama siapa, apakah pandu akan kawin lagi? Klo gak kawin lagi, kasian anak2 gw gak punya figur ibu, tapi klo kawin lagi, akankah ibu tiri itu akan sayang sama anak2 gw atau bak ibu tiri jahat di fairy tale? Trus klo ternyata ibu tirinya baik, trus anak2 gw sayang sama dia, gw bakal jealous ga ya? *eh emang bisa?*

    Panjang kan kepikirannya?

    • Itu gue banget Met. Sampe kepikiran buat nulis surat wasiat berisikan kriteria calon istri barunya laki gue kalo gue nggak ada lho. Yang pasti, nomor 1 adalah harus sayang sama Nadira, dan ini bisa dipastikan oleh keluarga besar kami. Soalnya kalo menurut laki gue doang kan bisa-bisa subyektif tuh.

  13. iraaaaaaa…knp postingan2 lo ngena bgt di gue siy..gue jg mau nulis ini tapi ga berani takut meweeeekkk..

    “It’s harder to imagine Nadira’s life without me, than the other way around.”
    that is exactly how i feel..

    sampe hari ini gue berniat untuk membuat surat wasiat yang tak kunjung dibuat karena ga kuat..nulis ini aja tenggorokan gue sakit nahan tangis..sebenernya bukan wasiat yg isinya pembagian harta *wong hartanya jg segitu2 doank* tapi lebih ke pesan2 buat Nara n suami gue..huhuhuhu..aaahhh pengen nangis..

    udah ah..hiks..

    • Logika gue Both, kalo misalnya ‘the other way around’ gue percaya, Nadira akan diurus dengan amat sangat baik oleh Dia di atas sana *lap air mata*. Urusan gue menderita, merana, sedih, nangis etc, itu biar jadi urusan gue. Kan gue udah gede, bisa urus diri sendiri.

      Nah kalo gue yang gak ada duluan, nanti yang urus Nadira siapa? Kasian dia kalo tumbuh dewasa tanpa didampingi ibunya..

      Aaah Bheboth, gue jadi pengen mewek lagi kaann..😥

      • iya bener banget..pasti berat banget klo keilangan anak..tapi lebih berat lagi ngebayangin anak qta tanpa emaknya ya..huhu..kerja aja kadang feeling guilty..padahal nanti jg ketemu..gimana kalo ga ketemu lagi??? huhuhu..kebayang nanti dia mewek manggil2 “mama..mama” tapi guenya ga ada..huuuaaaaaaaaaaaaaa…

        kenapa siy postingan ini ngena banget..*eh gue udah ngmg gtu ya?* hiks..

        ternyata ibu2 di sini banyak yg ngerasa bgini juga ya..*berpelukaaaann*

        semoga qta dikasih umur panjang n bisa liat anak qta bahagia ya makkk..

  14. huuuaaa bingung mau nulis komen apa
    tapi ya spt yg mak dian tulis di twitter,
    gw pikir gw aja yg suka lebay gk jelas mikirin ky gini
    ternyata kita ibu2 pasti ada rasa spt itu, apalagi kalo anak masih kecil ya

    ya semoga kita semua diberi kesempatan buat nemenin keluarga kita ya
    dan dikasi kesempatan buat kenangan yg indah2, ngasi pelajaran yg baik2

    grup hugs

  15. Pingback: End of the Journey « The Sun is Getting High, We're Moving On

  16. jadi inget. waktu terakhir sadar sebelum bius total untuk sesar, doa yang gw teriakkan di balik penutup hidung itu (opo sih namanya) adalah minta diberi kesempatan untuk mengurus anak yang sudah dititipkan oleh Allah SWT. alhamdulillah dikabulkan.

  17. Ya Allah,Ra…
    Gw juga ikut sedih negbayanginnya. Mungkin kalo kita single, terus dipanggil Yang Maha Kuasa, yang nangis cuma orang tua kita…pacar mungkin nangis tapi abis tuh dia cari pacar baru.
    Tapi kalo kita yang udah emak-emak gini, pastinya mikirin nasib anak kita yang masih kecil-kecil, masih perlu kasih sayang emaknya, masih tergantung banget sama kita.

    • Iya Ndah. Kalo kita single, yang sedih paling ortu dan pacar. Itupun mereka kan nggak menggantungkan hidupnya ke kita. Beda sama anak yang fully dependent on us. Hiks..😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s