I Think I’m Selfish

Tadi pagi, karena berangkat cuma berdua doang sama hubby, jadilah kita sempet ngobrol ngalor ngidul, which we rarely do when we’re at home. You know lah, dengan toddler super aktif nan caper macam Nadira, mana bisa kita sempet ngobrol berduaan aja. Trus kalo lagi bareng driver, pasti gue bawaannya molor. Kan kalo hubby yang nyupir dan gue molor, bisa-bisa gue diturunin di tengah jalan gitu. Jadi terpaksa deh ngobrol supaya mata melek, hehehe..

Anyway, tadi dari beberapa topik yang dibahas, salah satu yang paling serius diomongin adalah soal keinginan gue untuk kuliah lagi. Iya, dari zaman jebot, gue emang terobsesi buat kuliah S-2. Makanya dulu pas masih jomblo, gue giaaaat banget mengejar beasiswa ke luar negeri, secara bayar sendiri kagak kuat ya cyin. Sayangnya, gagal mulu dapetnya tuh. Otak gue terlalu cemen kayaknya buat dapetin beasiswa di luar negeri, hiks.

Mungkin juga ini sesuai keinginan nyokap yang lebih ngebet anaknya punya suami ketimbang anaknya kuliah ke luar. “Ntar di luar negeri kamu kecantol bule lagi. Atau kalo udah kuliah tinggi-tinggi, kamu tambah seret jodoh lagi. Udah ah, Mama doainnya kamu cepet dapet jodoh aja, bukan dapet beasiswa,” begitu kata emak.

Namapun doa orangtua, langsung deh diijabah. Jadilah eikeh kewong dulu, dan ditolak beasiswa (padahal sih emang aplikasi+resumenya cupu aja jadi gak keterima :D).

Kemarin, gara-gara sharing sama seorang teman yang lagi kuliah S-2, obsesi lama itu kembali menyeruak (ceileh bahasanya). Apalagi, gue liat temen-temen ikrib zaman kuliah dulu juga banyak yang canggih pisan. Gak cuma S-2, tapi beberapa malah lagi S-3 di Amrik, Inggris, dll. Huweee.. Tambah mau masupin kepala ke dalam bumi nggak sih gue?

Oh ya, untuk jurusan S-2 nanti, gue dari duluu banget kepingin ambil Ilmu Kajian Wanita atau Gender Studies. Sebenarnya sih tertarik juga sama Komunikasi, tapi koq pasaran ya *eh maap lho Mak Ava yang dosen Komunikasi :P* Gue emang sangat sangat sangat tertarik dengan teori feminisme dari zaman SMA, meski itu nggak bikin gue jadi feminis radikal yang sampe nggak mau merit, benci laki-laki, etc. Makanya begitu di Sastra dulu bahas berbagai teori-teori mulai dari feminisme, eksistensialisme, etc etc, gue yang semangat banget dan bercita-cita untuk melanjutkan kuliah gue someday ke Gender Studies.

The problem is, I’m a mother of a 2-year-old girl, now. Mengingat kapasitas otak gue yang minim banget, kayaknya agak susah gue bisa menyandang profesi jurnalis + ibu + istri + mahasiswi pascasarjana sekaligus saat ini. Kalo menurut saran Mak Ava sih, mending kuliah nanti aja kalo anak udah mulai sekolah. Hubby juga bilang hal yang sama.

*picture’s taken from here *

“Itu juga dengan catatan, kita nggak nambah anak lho. Kalo katakan, 2 tahun lagi kamu kuliah, berarti nggak mungkin sambil hamil kan? Kalo hamilnya nunggu kamu kelar kuliah, nanti ketuaan lagi. Kalo dalam 2 tahun ke depan kamu tetep nggak mau punya anak, mending nggak usah sekalian,” kata hubby.

(Eh makasih lho suami, istrinya dibilang tua *grrrrmbll grrmbll*)

Nah, soal nambah anak itu emang sebuah topik yang belum bisa menghasilkan keputusan bulat. Gue rada males nambah sementara hubby sebenarnya mau. Tapi dia sadar banget, keputusan itu balik lagi ke gue sebagai yang hamil, menyusui dan mengurus anak. Apalagi, lebih dari 50 persen kebutuhan psikologis anak, biasanya dipenuhi oleh sang ibu. Dan gue bukan tipe yang bisa kasih anak ke babysitter/ART selama 24 jam. Anak harus gue urus sendiri lah pokoke. BS/ART sifatnya cuma ngebantu aja kalo gue kerja/gak di rumah.

Hubby juga bilang, udah gak zaman kalo hari gini suami jadi sosok dominan yang kerjanya mendikte istri. Kasian si istri kalo ternyata dia keberatan akan hal itu. *for those who ask, yes this is one of the reasons why I marry him :)*

“Kamu juga pikirin perasaan Nadira sebagai anak tunggal. Aku cuma takut dia nanti marah karena kita, orangtuanya, nggak kasih dia adik. Trus kasian dia juga kalo nanti merasa kesepian, dan kalo sedih nggak ada temen sharing. Jadi, kalo kita putusin untuk nggak nambah anak, jangan semua alasannya karena kamu. Tapi pikirkan juga perasaan Nadira,” kata hubby.

*picture’s taken from here *

Ih laki gue tuh kalo ngomong koq ya pinter amat sih! Yes, I know, I’m selfish. I still want me for myself. I still have plenty of wants and dreams that I eagerly try to accomplish. Therefore, I’m still reluctant to say yes everytime this adding-another-member-in-our-family topic comes up.

Makanya, gue kagum banget sama perempuan-perempuan yang mampu dan mau menghapus semua mimpi-mimpinya demi keluarga. Atau perempuan yang bisa menyeimbangkan pekerjaan dengan keluarga dan pendidikan. Kayak alm Ibunya Sri Mulyani, Prof Dr Retno Sriningsih Satmoko, yang punya anak 10 dan jadi Guru Besar, maupun Sri Mulyani-nya sendiri yang punya anak tiga dan sakseis S-3, jadi menteri, Managing Director World Bank, dll.

Trus kemarin gue ngedit tulisan tentang Shelomita yang punya anak empat. Saat ditanya tentang me time, dia jawab “Melihat dan menikmati tawa anak-anak di rumah, sudah menjadi momen istirahat yang paling menyenangkan. Saya merasa, tidak memerlukan me time lagi. Sebab, saat menjadi seorang ibu, setiap perempuan harus rela menyerahkan semua waktu dan cintanya untuk keluarga, khususnya anak-anak.”

Ya Tuhaann… Mulia banget ya dia. Juga nyokap gue dan ibu-ibu lain yang sependapat sama dia di luar sana. Kalo ada kursusnya gimana jadi ibu-ibu yang nggak selfish atau jadi ibu-ibu yang bisa membelah diri (situ amoeba?) supaya semua aspek kehidupan balanced, eikeh mau dong. Sungguh deh.

 I am less selfish. But I am more insistent on being part of the creative experience. I find I am a better mother, lover and wife when I am writing. When my daughter was small I wasn’t writing as much and I didn’t miss it. [Helen Slater]

 To be stupid, selfish, and have good health are three requirements for happiness, though if stupidity is lacking, all is lost. [Gustave Flaubert]

 To be successful you have to be selfish, or else you never achieve. And once you get to your highest level, then you have to be unselfish. Stay reachable. Stay in touch. Don’t isolate. [Michael Jordan]

I’m selfish, impatient and a little insecure. I make mistakes, I am out of control and at times hard to handle. But if you can’t handle me at my worst, then you sure as hell don’t deserve me at my best. [ Marilyn Monroe]
 

54 thoughts on “I Think I’m Selfish

  1. Sama mak, gw jga kepengen banget kuliah lagi. Tapi ngeliat fadly en calon adiknya malah bikin gw mikir 1000x,,,

    Tempat gawe gw skrg di kampus (FKM) yg saban hari ketemu mahasiswa.Ngiri abiss,, apalagi pas boss gw ngasi kebebasan jam kerja klo gw mau kuliah lagi,,godaan bgt kan. Suami jga setengah mengiyakan,,tapi pas liat Fadly en ngelus perut,,tiba2 aja keinginan itu nguap.
    Jdi pilihan gw sekarang adalah konsentrasi ke fadly dan adiknya,itu udh lebih dari impian gw nerusin kuliah *lah jdi curhat*

    • Hahaha.. Etapi sepupu gue ada lho yang hebat banget. Anak 2, kecil-kecil, dia kerja + kuliah, rumah jauh, sering tugas kantor ke luar kota/negeri. Sekarang sih udah lulus kuliahnya ya. Dulu katanya sampe kejar-kejaran perah ASI segala. Oh ya, dia juga masih berniat pengen nambah anak karena sekarang anak cowok semua. Ih mbayanginnya aja pening.

      • Aaghhhhh tidakkk,…heibad banget,…sepupu loe makannya apa tuh,…
        Klo gw udah jedotin kepala ke tembok kali :p

        Itu beneran supermom ya,…gw mah palsu *pake topeng*

      • Makanya, gue jg bingung. Rumahnya di Pdk Gede, kampus di Depok/Salemba, kerja di Salemba. Anak 2, cowok semua. Dan skrg lg program anak ketiga. Kalo gak dapet cewek juga, program anak keempat dst. Pusiang awak mbayanginnya!

  2. ngomong2 soal anak tunggal, dr gw sebagai anak tunggal, rasanya asik2 aja tuh…tapi emang, ntar pas nyokap sakit atau apa, itu yg sedih, gak ada sodara yg bisa diajak sharing… tapi ya nggak sedih2 juga, karena urusannya jd lebih simple, gak nungguin sodara…semua diputusin sendiri. capcus dah segala urusan :))

    • Ah Tjepi, testimoni dari dirimu bikin gue lega deh, ada yang support soalnya🙂 Iya nih gue masih maju mundur terus untuk nambah/nggak. Sebenarnya sih pengennya satu aja supaya nggak ribet😀

  3. Baca the artikel “Only child myths” dari Times deh ra…bagus..utk insight🙂

    Gw juga masih merasa selfish kok, gw juga bilang kan, i feel like, i am more than just a wife and a mother. (not that i know what i want to do yet) Padahal dua peranan sebelumnya tanggung jawabnyapun besar kan ya? Cuma at the end of the day, i think, if u really really really want to, then why not? Life is too short to worry to much…might as well take the plunge, and do it, walo harus jungkir balik sekalipun menjalani hidup, i mean, no easy things are worthwhile *tsaaa…* Paling ga kita berusaha, dan leave the rest to God.

    An yeah, i salute women who have the courage to leave their families behind to pursue their dreams/education. I dont think it’s selfish at all malahan, apalagi jika keluarga ditinggal bahagia2 saja. Jadi Go go ira!

    Ps. Gw juga sempet tertarik sama issue gender, jadi inget, dan itu gara2 novel “perempuan di titik nol” hahaha

    • Thank you for the recommendation Nis. I read the article and it’s brilliant! And yes, I surely agree with you. I also feel that I am more than just a wife and a mother. Dan gue takut banget, kalo gue ‘maksa’ mau memenuhi semuanya, gue meledak karena overheating, hehehe..

      Kalo isu gender, ketertarikan awal gue kayaknya dimulai dari ketidakadilan pada perempuan yang terjadi di sekeliling gue deh. Dan uniknya, gue lebih suka kajian feminis Timur ketimbang feminis Barat karena yang Timur lebih mengena di hati dan sesuai dengan sikon Indonesia jg kali ye🙂

  4. Bukannya harus berhenti untuk bermimpi tapi mimpi yang tertunda nanti ada masanya saat kita punya waktu luang disitulah saatnya meraih mimpi yang tertunda itu, mamaku menikah dulu baru sekolah, anak-anaknya gedean dikit mama bekerja, anaknya udah gede mama sekolah lagi, sampe sekarang mama masih suka kursus ini itu, kursus Bahasa Inggrislah, bahasa arablah, terjemah Al qur’an. Belajar tidak mengenal tua atau ketuaan masalahnya bagi wanita monivasi dan waktu tentunya, tambah dua lagi uang dan izin suami, kalo izin suami Alhamdulilah suamiku orang yang paling mendukung sekali aku meningkatkan kemampuan diri. sedangkan uang kalau ada niat Insya Allah ada jalan.

  5. iraaaaa..kok sama siy? gue jg maunya satu aja tapi laki gue maunya nambah..huhuhu..lom ketemu jalan tengahnya niy..

    kalo gue entah kenapa malas sekolah lagi..tapi gue salut sama yang masi semangat..ada lho temen gue skrg udah mau kelar S3..ckckck..

    gue malah pengennya punya kerjaan laen..disamping kerjaan gue sekarang..tapi kayanya lom bisa ninggalin Nara..nunggu dia gede aja deh..hehe..sekarang baru bisa mimpi dulu , Insya Allah nanti terwujud..aminn..

    • Hihihi.. Pasti lakilo sama deh sama laki gue, masih rada penasaran karena belum dapet anak cowok. Alasannya “Kamu enak ada temennya, Nadira. Lah aku gimana?” Halaahh..😀

      Wah bagus tuh Both kalo ada kerjaan lain. Lumayan kan buat nambah-nambah beli RD PDM *big grin*

  6. Gw sebagai anak tunggal juga asik2 aja. Dulu pernah pengen punya adek pas kelas 3 SD tapi abis itu udh enggak sih. Beratnya emang krn bapak ibu gw selalu menekankan bhw gw akan selalu sendirian Dan gak akan punya teman bersandar di hidup gw, not even suami. Tapi ini bikin gw lebih tough sih. Kekurangannya mungkin krn gak biasa konsultasi sama siapa2 kl mo ngambil keputusan, gw rada ribet adaptasi sama suami gw yg anak sulung Dan pengennya apa2 dirembukin hihihihi🙂

    Ada plus minusnya punya anak tunggal kayanya, kl ditanya scr pribadi sih gw pengen punya 2 anak. Tapi kan ini blom ngerasain kaya apa repotnya punya satu hahahahah jadi ya we’ll see deh. At least kl dikasihnya cuma 1, gw udah tau cara ngehandlenya hihihi. Maap kepanjangan ya komennya. Intinya don’t worry, anak tunggal juga keren kok🙂 #eaaa

  7. Ra, gue juga anak tunggal.. dan menurut gue asik bgt!!! Sampai detik ini sih gue ga pernah ngerasa kesepian dan dari kecil ga pernah pengen punya ade.. malah pengen punya kakak *which is ga mungkin* jadi akyu nyari kakak ketemu gede ajuaa HAHAHA.

  8. mak bayangkanlah saya bolak balik jakarta-bogor punya toddler dan sedang hamil..huehehehhe…berat yah..kadang pengennya ngendon aja di rumah ngeliatin qila tumbuh besar tapi kalo ngeliat temen2 bisa kuliah lagi saya iri..
    gw salah satu yang harus menghapus mimipi gw buat jadi dokter anak karena ga mau sibuk ngurus anak orang tapi anak sendiri gak keurus😦 dan sangat salut ama ibu2 lain yang bisa ninggalin anak toddlernya ma ART/orangtuanya sepenuhnya buat ngejar cita2..saya tak mampu😦
    kalo masalh jumlah anak c gw penganut pegen punya anak 3 biar banyak yang melukin, banyak yang bikin ribut rumah. tapi keputusan jumlah anak emang hak wanita kok. menyusuinya aja udh perjuangan belum mendidikanya🙂
    psstt..kasilah nadira adek satu😉 …. heheheheh

  9. iraa kangen deh gue sama cuap2 lo di twitter hahahaha,,, sabar ya raa,,semua itu ada waktu nya,,,, DIA udah mengatur semua nya dan itu pasti yang terindah buat lo dan keluarga lo,,, jadi lo harus bel;ajar ikhlas,,, (gue juga) walaupun susah nya setengah mateee,,,, ciuuummm mauuutttttt

  10. hay mbak ira, salam kenal..🙂
    aku silent reader uda lama, uda tamat baca blog2 mba ira yg laen jg, hihi..

    mo sharing aja,
    mamaku jg nikah dulu ko, trus punya anak 2, baru kerja..
    trus anak2 sd, baru dia ambil s2..
    anak2 sma, dia ambil s3..
    skr uda tinggal tawatiwi nya ajah.. :p
    sou, go ira go ira gooooo!!😀

    ttg anak tunggal..
    si mamah jg anak tunggal, baik2 aja tampaknya..😀
    *apa siy ni nyokap smua yg dicritain*

    • Eyaampun, dirimu baca semua blog gue? *ngumpet di balik bantal*

      Btw, nyokaplo hebat beneeerrr… Skrg udah S3 ya berarti? Waaaawww… Mau dong kiat-kiatnya, Tante. Gue soalnya ngerasa otak gue kan aslinya emang rada-rada lemot ya. Nah ntar kalo kelamaan gak dipake, tambah lemot lagi. Jadi kudu buru-buru di-recharge di kampus nih🙂

  11. wew baca Shelomita blg begitu bener2 bikin kita teriris2 ya, secara gw kyknya sering deh minta “me time” ke laki ato pgn bgt selalu rutin punya “me time”…kyknya selfish jg ya😦

    kl gw malah yg sbnrnya msh pgn ngasi Laras adek Ra hehehe, pgn punya jg anak sepasang hehehe. Kl laki gw malah sbnrnya yg sante, 1 aja jg gpp. Kebalikan ya ama elu😀

    Gw punya tante, dia ngelanjutin skolah lagi pas anak2nya dah gede. Kl ga salah pas dah lebih dr usia SD. Dan emang berat bgt kl sekolah pas udah berkeluarga apalagi ada anak, kata tante gw ya..krn mesti bagi waktu. Mana pas nyusun kyk Tugas Akhirnya itu, Om gw lg kena stroke jd tante gw mesti bolak balik RS, kampus, kerja, ngurus anak2nya. Alhamdulillah hasil sidangnya malah bagus bgt.

    Btw, kl gw kok cuek ya tidur di mobil pas laki lg nyetir. Berarti gw yg kurang ajar kali ya hahaha

    • Eymber, gue juga pas baca tulisan ttg Shelomita langsung yang “OMG, ini perempuan hebat amat!”. Tante-lo juga hebat banget ya Mak. Gue gak yakin bisa sakseis tuh kalo jadi dia, huhuhuhu..

      Hahaha.. Sebenernya sih laki gue gpp kalo gue molor. Tapi gue-nya kasian sama diana. Jadi sok tenggang rasa gitu, sapa tau jatah bulanan ditambah, hihihi..😛

  12. selfish tetep perlu meski dah jadi emak-emak, IMO. kalo diri sendiri ga hepi, gimana bisa membahagiakan orang lain?

    awal merit, pengen kuliah lagi. secara saya baru D3. tapi setelah punya anak, keinginan kuliah udah ta ganti ama minta kursus ini itu. selfish-nya tetep ada, cuma ganti fokus aja he he he. biar tetep nambah ilmu dan rumah tetep keurus.

    ortu dulu ngebut lanjut S1 sebelum anak-anak gede biar dana pendidikan belum gede banget dan peluang karir lebih terjamin. sampe ibuku waktu hamil tua, kudu ngurus anak-anak autis waktu KKN+nyari data skripsi. nggak deeh….

    kalo kata suami, punya keinginan boleh, tapi realistis itu wajib hue he he he..diem deh saya

    • “kalo diri sendiri ga hepi, gimana bisa membahagiakan orang lain? “

      Setuju banget Mak! Gue jadi inget pedoman penyelamatan di pesawat. Pasti selalu diwanti-wanti, para orangtua untuk pertama kali menggunakan masker oksigen untuk dirinya dulu, baru ke anaknya. Logikanya mirip yang lo bilang. Kalo kita nggak selamat, gimana kita bisa menyelamatkan anak kita atau orang lain?

  13. Nah ini kbalikan gw & suami..suami ngotot mnta 1 aja,dan gw pgn 3,wakakakak…smpe skrg blm ktmu titik temu juga sih..pdhl gw pgn lanjut S2 juga, tp gk minat lnjut kja,ud tlanjur “nyaman” ama kondisi rumahan *makanya pgn nambah anak biar rmh rame* lbh selfish lg ya gw? Xixixi *suami srg kluar kota,gk ada art/bs, pgn S2 dan nambah anak pula trs gk mau kja lg*

  14. Nyokap gw dl jg mutusin utk sekolah lg stlh gw n adek gw udh sekolah. Gw waktu itu udh SMP sdngkan adek gw br msk SD. Ntah krn gap umur yg jauh atau krn emng kepribadian yg jauh beda, efek nyokap gw sekolah lg itu beda bgt jatohnya di gw dan si adek.. Intinya smp skrg, nyokap ms suka feel guilty bgt sm adek gw krn keputusannya dl balik sklh. Pdhl ini nyokap gw yg tipe super multitasker, tanpa ART tp smua ke-handle n sekolah mulus bgt. Mngkn emng adek gw lbh sensi aja ketimbang gw jd kynya dia merasa neglected n jd introvert bgt smntara gw merasa nyokap gw makin kewl n nyambung sm gw.

    Eniwei..pursuing personal dreams mah hak tiap orang, a mom or not. Selagi ms ada passion dan kl ada kesempatan ya masa dsia2in kan? Smg smua indah pd waktunya yah! Semangaat!🙂

  15. Ra…gila ini topik slap me right in the face..hehe.. karena gue bisa relate bgt… :’)

    Gue kemarin pas S2 alhamdulillah dapet full scholarship dari institusi sebut saja X hihi untuk ke Beland…enyuknowattttt gue taunya gue lolos in the same month gue tau gue positif hamil rakan. Secara anak gue kan anak honeymoon bo…atau gue yg terlalu subur ditempelin kolor bisa hamil…Jadi emang gagal sbnrnya rencana kita yang mau nunda 6 bulanan dari tanggal nikah buat program hamil supaya bisa tau hasil beasiswa dulu (krn suami dukung bgt gue apply dan rencananya dia mau ikut klo gue lolos..jalan2 dan travelling as married couple..seru yaa). But then..jeng jeng reality check. I was pregnant. But still alhamdulillahh..We were so sooo happy yet soo afraid🙂

    Long story short…I postpone my scholarship for a year… at least bisa ngelahirin di jkt. Dan akhirnya gue tetep berangkat pas rakan 3 bulan. Why? Krn this was actually a longgggggggggtimeeee dreamnya nyokap gue buat bisa liat gue S2 pake beasiswa.. Krn orang tua gue ga ada biaya buat S2 diluar, nyokap pas nikahan gue dan pas suami sungkeman ke nyokap instead of nangis2 malah bisikin pesennya yang cuma satu yaitu “Ando…titip fili supaya bisa S2 ya”…Jadi itu adalah amanah utama nyokap ke suami sebelum anaknya yg caem ini diserahkan kepemilikannya ke suami. That’s a hugee responsibility. Jadi, pas nyokap and suami tau gue lulus beasiswa, suami bilang go for it and nyokap bilang ga usah mikir lagi..rakan mamah yang jagain..it’ll be over soon..dont worry…mamah tau kamu kuat dan bisa jalanin ini… dan dia jg expressing how proud my mom and my dad were at this particular accomplishment. Entah kenapa..my mom and dad emang have the highest expectation sama gue ra sebagai anak cewe satu2nya. I just cant say no ra. Gue pengen ngebahagian nyokap gue yang dulu ga bisa kuliah padahal udah keterima di UI dan ga bisa daftar karena eyang gue ga punya duit… *jiyahh gue nulis ini aja pake nangissss*. Ini untuk memuaskan impian nyokap gue punya anak cewe yang bisa sekolah sampe yang paling tinggi.
    Total gue di Belanda 9 bulan…3 bulan di semester 1..abis itu gue balik liburan summer ke Indonesia for 4 months…trus gue balik lagi ke belanda and spend 5 months disana for the 2nd semester. Program 1 tahun gue selesain dalam waktu kurang dari 10 bulan..Selama itu pula gue ama suami pacaran lewat skypean, ceritain dongeng ke rakan lewat skype, malah kadang mereka tidur gue minta tetep dinyalain skypenya..so i could watch them sleep.. :’) Should i expect everyone to understand my decision? No.. It’s okay if they dont understand. Yang pasti, gue and suami udah menunaikan amanah nyokap gue yg paling utama.
    Was it hard for me? Hell yeah. Tapi yang paling berat pengorbanannya adalah suami gue. Hebat dia masih bisa mendukung gue banget alll the way till the end. So proud of him :’) Penuh dengan cucuran air mata.. thank god dulu ditemenin temen2 tcinta kebetulan byk yg dari lulusan UI jg and sister in law (kakaknya Suami) who happened to stay in Belanda juga at that moment to finish HER sandwich program untuk kuliah S3 dia dan dia jg mesti ninggalin 3 anaknya yg udah besar.
    Well..my point is..it’s not that i encourage everyone to leave their kids and do whatever they dream of…but sometimes..there are bigger “reasoning” that compel us to take that certain decision.

    Hihihi panjangnyaaaaaaaaaa cerpen kuu.😛 *maluuuuuuuuu*

    • Duh Fil, gue brebes mili baca ‘cerpen’-mu. Especially bagian ini:

      “ceritain dongeng ke rakan lewat skype, malah kadang mereka tidur gue minta tetep dinyalain skypenya..so i could watch them sleep.. :’) Should i expect everyone to understand my decision? No.. It’s okay if they dont understand.”

      I wish I had the courage and persistence like you. Tapi yah, berhubung ortu gue tipe yang “kewong first, education later” niat eikeh pun jadi setengah-setengah.

      Btw gue juga punya sahabat yang story-nya mirip sama lo. Dia berangkat ke Amrik atas beasiswa Fullbright pas anaknya 1 tahun. 6 bulan kemudian, anak+suaminya sempet ikut ke sana, tapi trus setelah lulus S2, diungsiin ke Indonesia lagi. Skrg temen gue masih di New York, lagi ngelarin S3. Sayangnya, suami dia meski awalnya mendukung tapi lama-lama kayaknya nggak kuat dengan pola hidup terpisah-kumpul-terpisah lagi kayak gini. Jadi sekarang mereka udah cerme deh😦

      • duh aciannya temennmu…Iya sih yah..klo s3 kan gila banget.. 4 years or more lho. Kaga kuwat deh. Kalo gue mah… abis S2 ..kafokkkk! ahahaha.. gue udah berikrar yang terpatri di hati berjanjiii kaga mau lagi sekolah sekolahan ya booo..bahkan kursus masak sekalifunn… eke kapokkkk! hahaha…Anywhooo… eke tetep dukung apapun keputusanmu neik..🙂

      • jiyahh..gue tadi post komen pake wordpress suami gue aja gitow. hakakaka.. pasti dia belum log out abis pake laptop gue. hihihi.😀

  16. Iraaa… seneng deh baca ini.. ternyata bukan cuman gw yang selfish hihiii:p. Kata-kata elo yang ini “Yes, I know, I’m selfish. I still want me for myself. I still have plenty of wants and dreams that I eagerly try to accomplish.” persis seperti yang sering gw rasain… dan bikin feel guilty sometimes😦.

    Sampai sekarang gw masih ga yakin.. apa gw bakal ngejer mimpi gw.. Karena prioritas sekarang emang keluarga, mana gw tinggal di tengah hutan pula.. ga banyak yang bisa dilakukan di sini sekarang..

    Tapi gw setuju dengan komen di atas.. hanya ibu yang bahagia yang akan melahirkan anak-anak yang bahagia.. Berarti seorang ibu dengan segudang kewajiban pun punya hak untuk bermimpi dan berusaha mewujudkan mimpinya.. Cuman, mungkin ada batasan waktu dan kudu toleransi kali ye, karena bukan cuman diri sendiri yang kudu dipikirin *masih mikirin kapan wkt yang tepat

    • Iyak bener banget. Once you get married and have children, you are setting your own boundaries for yourself. But it doesn’t mean you have to sacrifice all dreams you have. Jatuhnya kompromi kali ye. Lagian ini kan proses pendewasaan diri. Ada beberapa hal/keinginan yang bisa terus dilakukan, ada beberapa yang sebaiknya ditinggalkan. Contohnya, ngejar Brad Pitt kalo dia syuting di Indonesia, gitu2 lah😛

  17. Salut dan terharu biru baca ceritanya mbak mbli..
    I really wish I have the courage like you :’)

    @ira: kyknya gw tauw tuh tmn lo yg beasiswa ke Amrik…she was my fav lecturer..too bad mrk pisah ya😥

    • Oh dia ngajar lo ya bok? Iya too bad they are now separated. Pdhl gue tau banget gimana perjuangan mereka sampe akhirnya merit, wong nomor absen gue sama mereka sederetan😦

  18. hi ira, i’m a silent reader.
    gue sama spt lo, pengennya anak satu aja tapi suami gue pengen satu lagi. tapi ya terserah gue sih…

    waktu kecil gue suka pengen jadi anak tunggal. dan gue liat orangtuanya lebih fokus ngurus anak yang cuma satu itu. jadi dia bisa go to better school, have more vacations, etc.

  19. Sebagai anak tunggal gw pingin komen eh protes hehehe…. berilah adik untuk Nadira (maksain banged yak). Ada enak ada enggaknya sih jd anak tunggal. Sepi, ga ada tempat curhat, jd inget dulu jaman dolo ada radio Prambors, tiap malem gue pantengin radio gak berhenti2 saking sepinya ga ada yg ngajak ngomong. Emak bapak gw mengejar karir semua he3x jdlah di rumah sendirian. Tp emang jd mandiri sih, SMP udh setrika cuci baju sendiri. Selepas SD udh ga pake ART lagi.
    Sori jadi curcol…

    Jdlah sekarang gw beranak 3. Krn gw selfish, gak mau anak gw kesepian kyk gw dulu. Ribet emang pastinya. Tapi gw menikmati walo badan encok2 ngurusin 3 anak dgn keriwehannya. Mimpi S2 gw gw tahan dulu deh smpi mrk besar2 yah paling enggak yg kecil kelas 4 SD deh. Saat itu gw akan mengejar mimpi gw insya Allah.

    Maap ye, Ra ane jadi curcol…nasib si anak tunggal

    • Ya ampun Maakk.. Pantes dirimu skrg berbuntut tiga ya. Ternyata akibat trauma masa kecil toh🙂

      Gue blm mastiin bakal tambah anak atau nggak sih. Maklum, namanya juga mabil, emak-emak labil😛

  20. Pingback: Idiocracy? « The Sun is Getting High, We're Moving On

  21. Pingback: Confession of A (Ex) Hippo Look-Alike « The Sun is Getting High, We're Moving on

  22. Pingback: Mimpi Buruk Bernama Wisuda | The Sun is Getting High, We're Moving on

  23. Pingback: #1 Why Working in Newspaper Industry? | The Sun is Getting High, We're Moving on

  24. Nyasar ke postingan ini dan bikin jadi mikir.. Aku juga sadar kalo aku selfish banget mbak orangnya, dan keinginan pengen S2 pengen ini pengen itu yang cuma mikirin diri sendiri itu masih gede banget. Dan itu jadi ganggu banget karena aku jadi kayak ‘iya-ngga-iya-ngga’ tiap pasanganku ngajak ngobrolin soal pernikahan. *doh* Eh maaf ya mbak jadi curcol ginii😀

    • Hehehe… Gpp lagi mikir-mikir. Lebih baik ragu sekarang daripada pas udah nikah kan? Saranku sih, dipikirin aja semuanya matang-matang. Jangan menikah cuma karena orang-orang nyuruh atau ikut-ikutan temen. Begitu pula sebaliknya. Sebab menikah itu berarti menurunkan ego, dan kompromi dengan pasangan.

      Coba omongin sama pacar, kalo kamu masih pengen kuliah lagi setelah merit. Liat reaksi dia gimana. Kalo misalnya dia gak setuju, dengarkan argumentasinya. Lalu tanya sama diri kamu sendiri, bisa nggak kamu menerima kenyataan bahwa mimpi kamu bakal kandas? Intinya, dipikirin semua ya, supaya gak ada penyesalan di kemudian hari. Semangkaa!🙂

  25. Mba Iraaaaa.. baca postinganmu rasanya nano nano! aku sekarang masih berbuntut gadis kecil usia 3,5 tahun. sambil kerja DAN S2. kudu banget di bold nya itu “DAN”nya.

    Awalnya ga kebayang bakal kek gimana hidup gw dengan tiga peran (eh empat ding sama jadi istri hihihi..), tapi krn suami ngizinin dan ridho (all hail pak suami!), sampe sekarang masih aman terkendali. Bahkan pas ART sempet pulang kampung, gw sama suami ngegeret badan buat nyuci n ngejemur baju tengah malem.

    Filosofiku cuma satu :
    If you love (all of) them enough, you will always find a way🙂

    semangat mba ira!

    P.S.: aku selama ini silent reader rutin loh, kakaknyaaa..

    • Filosofiku cuma satu :
      If you love (all of) them enough, you will always find a way

      Ih setuju banget sama filosofinya kakaakkk… Semangat juga ya Mbak Tami! Btw, besok2 jangan silent trus dong, hehehe🙂

      • Mba Ira sekarang bagaimanakah keputusannya? Apa mantap cuma punya 1 anak saja?

        Aku FTM dan punya anak perempuan umur 2.5th dan kepengennya cuma 1 aja. Banyak pertimbangannya terutama dari sisi fisik & psikologis. Karena aku ada skoliosis dan riwayat HNP. Jadi gendongin anak dari sejak di kandungan sampe anak brojol dan beratnya belasan kg itu sesuatu banget. Ga mau juga pakai BS, karena pasti bakalan ngandelin BS buat urus anak (ga mau rugi kalau udah bayar mahal ha…ha…) & bakalan beda bondingnya dengan urus sendiri. Dan ternyata urus sendiri dengan jadi FTM itu menantang & menguras energi + emosi banget. Jadilah rasanya ga sanggup & ga bakal happy kalau harus urus 2 anak atau lebih. Biaya anak juga ga dipungkiri, mahal banget. Kalau diskusi sama suami: ibaratnya punya 1 anak – kita bisa kasih fasilitas terbaik, punya 2 anak – bisanya fasilitas baik, punya 3 anak – bisanya fasilitas cukup. Jadi kita pilih mau kasih yg terbaik, bukan cuma yang baik atau hanya secukupnya karena harus dibagi dengan adik-adiknya. Hi…hi….

        Itu sih dasar pemikiran kami. Kalau ngomong sama orang2 sih banyak kontranya. Jadi lebih enak ngomong sama orang yg sependapat soal anak tunggal. Baru beres baca artikel The Only Child – Debunking The Myths dan rasanya makin mantap.

      • Sama banget Mbak. Kalo aku skrg kayaknya udah di comfort zone banget. Kalo nambah anak, artinya harus mengubah total financial planning, termasuk dana pendidikan, asuransi, dll dsb.

        Jadi kayaknya kita samaan banget nih Mbak Monica🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s