Dua Sisi Mata Pisau

Tadi pagi, gue ketemu teman lama di bis TJ. Kita sama-sama telat untuk berangkat kerja. Untunglah, di dalam bis, kita dapat duduk. Jadi di tengah kemacetan, kita bisa tukar menukar kabar plus gosip tentang orang-orang yang kita kenal.

Salah satunya tentang seseorang yang pernah bikin gue rempong pas liputan ke Bali dulu. Orang itu kan sekantor sama temen gue ini. And yes, di kantornya pun doi kondang sebagai orang yang matre, mata duitan dan suka abuse of power, alias mempergunakan kekuasaannya untuk dapet duit. Padahal, dengan identitasnya sebagai karyawan sebuah koran terkemuka, segala gerak-geriknya itu membawa nama perusahaan tempat dia bekerja. Apapun yang dia lakukan, perusahaan tersebut dapat imbasnya.

Belum lagi posisi dia sebagai seorang ibu dan istri dari seorang laki-laki. Apa-apa yang dia lakukan, pasti orang bakal komen “Ih dia begitu nggak mikirin anaknya di rumah apa?” atau “Itu suaminya emang nggak tahu ya bininya hobi malakin anak buah di kantor?”.

Kita sebagai manusia tentu nggak akan bisa lepas dari segala sesuatu yang melekat pada kita, bukan? Susah lho melepaskan identitas kita sebagai seorang pribadi dengan identitas kita sebagai seorang pekerja, orangtua, istri/suami, etc. Sulit untuk melepas dan memakai topeng identitas yang berbeda-beda. Pasti ada kalanya kita kelepasan. Apalagi di zaman internet kayak sekarang. 

*picture’s taken from here *

Buat nemuin identitas penuh dari seseorang, tinggal google aja. Lebih gampang kalo dia join di berbagai social media yang saling nge-link satu sama lain. Di social media, biasanya orang sering keceplosan, sengaja atau tidak, untuk bercerita tentang kehidupan pribadinya. That’s why BIN aja sekarang katanya mulai memantau facebook dan twitter (meski gue yakin sih jauh sebelumnya mereka udah). It’s the easiest and simplest way to know someone’s full identity and secrets, right?

Belum lagi blog, kayak punya gue yang gak penting ini. Apalagi rata-rata orang yang gue kenal (baca: emak-emak) ngeblog rata-rata dengan tujuan ingin punya memoar tentang anak dan keluarganya, atau sebagai catatan harian yang bisa preserving memories.

Makanya, gue bilang, dunia maya itu bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, kita bisa dapet pengetahuan yang banyak, cepat dan gratis pula. Trus kita bisa dapet teman baru, rekan bisnis baru atau menemukan keluarga lama via internet. Banyak lagi keuntungan lain yang sulit dijabarkan satu persatu.

Namun di sisi lain, dunia maya memudahkan orang-orang jahat untuk melakukan tindak kriminal. Mereka bisa meminjam identitas kita dan berpura-pura jadi kita untuk melakukan kejahatan. Atau bisa juga menipu, menyontek or melakukan segudang aksi kriminal lain yang waaaay beyond our logics.

*picture’s taken from here *

Selain itu, kalo kita terlalu ‘open’ di facebook dan twitter, misalnya menyerang bos atau kantor atau teman di social media, bisa jadi kita dipecat atau ditinggalkan teman. Pameo lidah tak bertulang emang bener. Tapi kan social media itu bentuknya tulisan. Bisa di-print untuk dijadikan bukti, bukan?

*picture’s taken from here *

Duh jadi bingung. Masa sih untuk mengamankan diri dan keluarga gue kudu hapus blog, hapus twitter dan facebook dan berhibernasi dari hiruk pikuk dunia maya? Padahal gue dapet banyak banget info soal keluarga, masakan, etc and I’d love to share my knowledge with others.

But anyway, setelah gue pikir-pikir, mungkin nggak harus sedrastis itu kali ye. Mungkin seharusnya gue jadi lebih berhati-hati dan pilah-pilih, informasi mana yang bisa di-share dan mana yang harus di-keep. Kan sesuatu yang berlebihan itu tidak bagus, bukan? Nanti malah bisa jadi senjata makan tuan. Ihh amit-amit, naudzubillahimindzaliikkk… Jangan sampe! *ketok-ketok meja*

15 thoughts on “Dua Sisi Mata Pisau

  1. Agree ra….kdg klo bete nyampahnya pst k social media..entah twitter or facebook..memang lbh bagus masala pribadi jgn d umbar d social media yak…cuma kdg sk lupa euy…

  2. pilah-pilih dulu sebelum posting atau update status, ngga semua perkakas dapur kita pamerin, ada beberapa bagian dari diri kita yang harus kita simpan sendiri, seperti bersosialisasi di dunia nyata juga ada wilayah private ada wilayah ruang terbuka.

  3. yep, bener banget! tapi gimana dunk bu, kan sebagai wanita kita butuh temen, temen sharing, temen untuk segala hal, pengen ngungkapin uneg2 lewat blog pribadi, facebook, dll.

    Btw, ngomongin blog, eike numpang masukin blog mbak Ira di blog list saya ya. di http://www.dinamahdinanur.blogspot.com. Gpp ya mbak Ira, biar gampang kalo mo apdet cerita2nya mbak Ira hehehe..

    • Hahaha.. Embeerr! Tapi mungkin bisa dipilih yang private dan yang sekiranya boleh jadi konsumsi publik. Jadi jangan asal main jembreng semua. Ngejemur baju aja kita pilih2 toh? Baju dalem biasanya dijemur di tempat yang gak keliatan orang lewat🙂

      Bolelebooo… Silakaann.. Risiko nyesel gak ditanggung penulis yaa hihihi..😀

  4. Haha,jd ingt kasus tmenku..dia telp bos nya blg lg sakit mau ke dokter jd gk bs ngelembur.. Eh gak lama dia update status di FB “pitbull kereeen abis!!”,lgsg d bsk nya pas dia msk dsambut “surat cinta” dr bos alias SP 1 :p dia lupa kl pnh add bos nya di FB..niat mau pamer malah kena batunya

  5. Pingback: Gara-Gara Internet (2) « Our Diary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s