Middle Class? I Don’t Think So

Minggu lalu gue beli bukunya Ligwina yang baru, “Untuk Indonesia yang Kuat, 100 Langkah untuk Tidak Miskin”. Belum khatam bacanya sih. Tapi bisa ditebak, buku ini tentang financial planning, bukan buku masak memasak *nenek-nenek juga tau, dodol!*

Di dalamnya, meski gue belum khatam bacanya nih, Wina menegaskan tujuannya menulis buku, yakni agar para pembaca, yang ia asumsikan berasal dari kelas menengah, memperkuat sistem keuangan masing-masing. Sehingga para pembaca, bisa memperkuat kelas menengah, dan kemudian, menjadikan Indonesia sebagai negara yang lebih baik, Karena, kekuatan negara memang berada di tangan kelas menengah.

Nah, ngemeng-ngemeng tentang Middle East, eh Middle Class, gue jadi teringat blog ini. Di situ dijelaskan enam benchmark yang digunakan pemerintah Amerika Serikat untuk mendefinisikan kelas menengah. Benchmark + penjelasannya gue copy paste dari blog-nya Mas KelMud ya *maap Mas, saya ndak tau nama aseli Anda. Padahal kita mengefans dan mau minta tanda tangan lhoo..* Trus di bawahnya yang ada di dalam tanda kurung, gue tambahin juga catatan gue sendiri, sesuai dengan kondisi keluarga gue saat ini, tanpa pencitraan nih yee:

1. Kepemilikan Rumah.

Rumah tinggal yang layak adalah impian bagi semua orang, namun tidak semua orang mampu memilikinya. Fasilitas KPR yang menjadi andalan pun kerap mensyaratkan besaran gaji tertentu untuk memastikan bahwa fasilitas kredit tersebut dapat dibayar tanpa menggangu pengeluaran rutin rumah tangga. Dengan demikian maka kepemilikan rumah ini telah menjadi saringan untuk membedakan tingkat pendapatan setiap orang.

*picture’s taken from here*

(Gue: Alhamdulillah, rumah udah 95% selesai. Insya Allah akhir bulan ini bisa ditempati. Metode pembayarannya, Kredit Bangun Rumah (KBR) dan soft loan sama mertua, hehehe… Soale kalo beli tunai, ku tak sangguuuppp…  Skrg PR-nya adalah beli perabot dan tetek bengeknya *garuk-garuk ketek*)

2. Kepemilikan Kendaraan Bermotor (Mobil).

Mirip dengan kepemilikan rumah, untuk memiliki mobil dibutuhkan dana yang cukup besar dan fasilitas kredit yang tersedia juga mensyaratkan besaran gaji tertentu.

*picture’s taken from here*

(Gue: Duh, belom sanggup beli mobil euy. Rencananya ntar deh kalo udah agak stabil dikit kondisi keuangan keluarga. Sekarang pake mobil mertua dan bonyok ajuah dulu)

3. Jaminan Pendidikan untuk Anak-anak.

Orangtua akan dianggap berhasil apabila berhasil mengantar anak-anaknya ke jenjang perguruan tinggi. Dana yang dibutuhkan tidak lah sedikit, dan harus sudah mulai dipersiapkan sedini mungkin sehingga tidak memberatkan pengeluaran rutin. Konsep persiapan dana pendidikan sangat diutamakan dalam tahap ini.

*picture’s taken from here*

(Gue: Saat ini udah punya Tabungan Pendidikan di Bank Trading (terjemahin ke B. Endonesa) yang rencananya untuk biaya PG/TK-nya Nadira. Gue ambil tabungan pendidikan yang temponya 3 tahun, cair tahun depan. Trus gue juga beli Reksa Dana (RD) Campuran di Bank Independent (terjemahin ke B. Endonesa) untuk dana pendidikan SD-nya Nadira. Untuk biaya SMP, SMA dan kuliahnya Nadira, gue beli RD Saham di Bank BiasaKaya. Masing-masing beda jumlahnya dan beda Manajer Investasi (MI)-nya. Menurut Dina sih, mendingan beli RD dari MI yang beda-beda supaya portofolio investasi kita agak beragam gitu. Untuk semua RD, baik Campuran maupun Saham, gue pake sistem autoinvest/autodebet aja, jadi didebet tiap tanggal 1 dari rekening gue di Bank Independent dan BiasaKaya. Soale gue khawatir nggak bisa mendisiplinkan diri sendiri kalo nggak pake sistem gituan *udah kere boros pula*)

*picture’s taken from here*

4. Jaminan Keamanan Masa Pensiun.

Setiap orang menginginkan masa pensiun yang tenang dan nyaman, tanpa harus bergantung kepada anak-anaknya. Untuk itu maka setiap pribadi atau keluarga sudah selayaknya memiliki perencanaan pensiun yang matang dengan memproyeksikan kebutuhan dana di masa pensiun nanti. Investasi adalah cara terbaik untuk mengumpulkan dana pensiun, namun tidak semua orang mampu dalam berinvestasi secara rutin.

*picture’s taken from here*

(Gue: Hubby dan gue udah dapet fasilitas DPLK dari kantor. Disubsidi gitu lah. Tapi menurut Wina, itu mah nggak cukup karena emang sih, jumlahnya cuma seiprit. Kata Wina, DPLK dari kantor mending dianggap sebagai duit lebih or uang kaget aja, sama dengan Jamsostek. Lebih baik kita bikin dana pensiun sendiri. Nah yang ini, eikeh belom bikin neik. Masih nyari selahnya di antara beban pengeluaran yang sejibun)

5. Perlindungan Kesehatan.

Masalah kesehatan terkadang dapat menguras banyak uang di waktu yang tidak kita duga. Karena itu perlindungan terhadap segala penyakit harus dimiliki sesuai dengan kebutuhan. Asuransi adalah pilihan yang tepat namun tidak semua orang mau dan mampu untuk membayar premi rutin.

*picture’s taken from here*

(Gue: Hubby dan gue Alhamdulillah dapet asuransi kesehatan dari kantor. Meski nggak kelas 1 dan fully covered, tapi masih lumayan daripada nggak ada samsek. Nah, rencananya nanti kalo jumlah pengeluaran udah lebih kecil dari pemasukan, gue pengen juga punya asuransi kesehatan. Kata Wina sih ada dua jenis, yang jumlahnya duit cash (santunan) atau yang kayak asuransi biasa. Gue kayaknya prefer yang santunan harian buat nutupin asuransi kesehatan dari kantor deh. Etapi belum tau juga nih karena belum mendalami banget urusan askes ini).

*picture’s taken from here*

6. Liburan Keluarga.

Liburan ke luar kota atau luar negeri secara berkala adalah hal yang menyenangkan namun belum tentu terjangkau oleh semua orang.

*picture’s taken from here*

(Gue: Tahun ini udah sakseis ke Yogya. Rencananya, tahun depan mau ke Bali karena udah dapet tiket murmer pas promo Air Asia. So far, belum planning mau ke luar negeri dulu karena, eenngg.. Ora ono duite, hehehe.. Lagian, sebenernya gue sih prefer liburan lokal karena emang dari dulu pengeeennn banget menjelajahi Sabang sampe Merauke. Tapi kalo dihitung-hitung, mahal bener liburan lokal ke seluruh Nusantara ya bok. Mahal di ongkosnya tuh cyin. Dan maskapai murce macam AA nggak ada yang terbang ke Sabang, Toraja, Tembagapura, gitu-gitu deh, hikss..)

Oh ya si Mas KelMud juga menambahkan 1 point lagi yang menurut doi harus masuk ke benchmark Middle Class, yakni Dana Darurat.

*picture’s taken from here*

Untuk yang satu ini, dengan jujur saya mengakui, baru memulai karier. Lagi dalam tahap ngumpulin rupiah demi rupiah nih ceritanya. Mulai bulan ini, gue janji pada diri sendiri untuk langsung nyisihin beberapa perak untuk Dana Darurat setiap abis gajian. Niatnya malah, begitu dapet bonus or THR, pengennya dimasupin ke dalam rekening Dana Darurat aja. Trus pengen juga ngikutin kiatnya Wina, sebagian Dana Darurat di-‘parkir’ dalam bentuk emas gitu supaya nilainya nggak turun. Pan menurut sahibul hikayat, emas itu liquid money juga, cuy.

Soo.. kesimpulan dari tulisan ini adalah, dengan berlapang dada *padahal dada saya nggak lapang lho* saya menyatakan I DON’T BELONG TO THE SO-CALLED MIDDLE CLASS PEOPLE. Lha,  itu dari enam + 1 benchmarks Middle Class di atas, gue cuma benar-benar lulus 3 poin kayaknya. 3 poin lagi ragu-ragu dan 1 poin sangat tidak setuju (kayak pelajaran PSPB ajuah!).

Jadi, mulai dari sekarang, yuk ah kita belenji di Ramayana dan Pasar Tradisional aje. Gak usah sok-sokan ke Sogo, Metro apalagi Debenhams, Harvey Nichols or Food Hall. Blah!

32 thoughts on “Middle Class? I Don’t Think So

  1. gue juga gak termasuk raaa hihi.

    tapi in my sotoy opinion, mungkin beda kali ya definisi middle class negara maju dan negara berkembang. inflasidi amrik lbh rendah jadi kemampuan orang utk beli rumah lbh gede.

    begitu juga dengan asuransi, kalo ga salah mereka udah dijamin sama pemerintah. gue ga tau kl di amrik..tp kl di aussie utk permanent resident aja udah dapet jaminan kesehatan dari pemerintah.

    *cari alesan aja ya gue hihi* hayuk lah kita blanja di pasar mayestik aja :p

    • Haahh.. Lo gak masuk Middle Class?? Apa kabar gue Dhiittt???

      Hmm.. Tapi Dhit, meski inflasi di Amrik lbh rendah, living costs di sana kan juga lebih tinggi. Begitu jg di developed country lainnya. Jadi menurut gue sih, benchmark yang dikutip sama Mas KelMud dgn kondisi di Indonesia harusnya sama aja ya.

      Tapi emang, di developed countries, mungkin cuma ada golongan bawah – menengah – atas – atas sekali. Nah kalo di Indonesia kan, golongan bawaaahh banget – bawaaahh – bawah – menengah – atas – atas sekali. Macam di India, Mesir dan negara-negara berkembang kali ye. Penyebaran kesejahteraan ekonominya kurang rata.

      *maap sotoy dan panjang begini komennya*

      *lah ini kan blog gue, ngapa minta maap yak? hihihi..*

  2. nimbrung komen yaa..
    kalo di Amrik sih menurut gue sama aja kok. Cuma kalo disini bunga KPR bs flat 30thn (eh di Indo gt jg ga sih?), resikonya kalo harga rumah lagi jatoh kaya sekarang, ya gigit jari deh tuh bayar cicilannya.

    Asuransi juga ga ditanggung pemerintah kok, yg ditanggung pemerintah cm yang ga bekerja (hanya 6 bulan aja), yg cacat dan anak dr ortu yg ga bekerja. Disini kalo ga punya asuransi kesehatan sih bunuh diri. Suami gue aja masuk ER cm dikasih obat penurun demam 1 biji ama lab tes u/ flu aja kena $700, itupun setelah di diskon ama insurance company!

    • Di Indo boro-boro Mak. Bunga KPR cuma flat 1thn, max 3 thn lah. Soale kecenderungannya di Indonesia kan bunga bank naik terus. Bete deh ogut😦

      Walah-walaahhh… Mihil bener ya. Puyeng langsung mbayanginnya..

  3. Nggak usah sedih Ra nggak bisa belanja di Harvey Nichols..emang udah tutup kok tokonya..hahaha. Btw, kayanya ada bedanya dikit tuh di Amrik sama di sini untuk kepemilikan kendaraan bermotor, secara di sana gaji jadi waitress atau entry level sebulan aja udah bisa beli mobil yang decent…di sini mana mungkin?..huhu…

    • Hihihi.. Abis dulu kan sempet heboh tuh Han yang namanya Harvey Nichols. Gue sih ke situ cuma numpang ngadem + liat2. Gak kuat sama harganya😛

      Iya, temen gue juga di Amrik, cuma jadi loper koran, udah bisa beli mobil + bayar kuliahnya sendiri. Di sini mah, nyicil motor aja nggak dapet😦

  4. Halo mbak Ira, salam kenal🙂 (aku follow dirimu juga ditwitter loh…)

    Mo nanya lebih detail dong, syukur-syukur ditulis tersendiri mengenai Kredit Bangun Rumah, bagaimana proses pengajuan ke bank, dsb. Terima kasih🙂

    • Kira-kira gini ya:

      Kita ambil KBR di BNI, dengan menjadikan tanah sebagai jaminan. Yang penting kita juga punya rancangan anggaran bangunan (RAB). Untuk RAB ini, bisa minta ke kontraktor yang mau dipake untuk membangun rumah. Atau kalo punya teman kontraktor, bisa minta tolong bikinin RAB juga sama dia. Trus jangan lupa untuk mengurus IMB ya. Abis itu, RAB plus slip gaji, fotokopi surat nikah dan KTP, surat tanah, dll di-attach ke aplikasi kredit.

      Setelah dilihat kondisi tanahnya (di-assess ya cmiiw) dan di-approve, kita langsung ke notaris untuk tanda tangan perjanjian. Beberapa hari kemudian, uangnya ditransfer ke rekening BNI. Dan transfer itu dilakukan bertahap, sesuai tahapan pembangunan yang dibuat oleh kontraktor di RAB. Intinya, kalo semua oke dan gak ada hambatan, prosesnya cepet banget lho.

      Ntar kalo masih belum jelas, gue tanya-tanya ke hubby deh ya. Dia yang lebih paham soale hehehe.. Mending dirimu ke BNI dulu Mak, tanya-tanya sama CS-nya. Mereka udah punya skema kreditnya koq. Kalo pinjam sekian dalam tempo sekian tahun, perbulan bayarnya berapa. Gitu deh kira-kira. HTH ya🙂

      • makasih ya reply panjangnya…🙂
        kebetulan aku punya rekening di BNI ntar mampir ke CSnya buat nanya2 deh

  5. he…he…ngga usah dipikirin masuk kelas yang mana…Alhamdulilah dari tahun ke tahun naik kelas terus, biasanya yang langsung loncat kelas, jatuhnya sakit….he..he…aku apa adanya kalo ada duit yuk mari makan-makan ke resto ngga ada duit yuk kita bikin indomie sama telor ceplok, yang penting aku dan kamu selalu bersama…loh kok malah nyanyi lagu Anang.

  6. Aaah gw mah gak perlu test-test beginian buat tau gw ada di kasta mana, Ir. *kibas rambut*.
    hihihi…

    Ehm, emang emak Nico beli Ergo di sebelah manenya Sojong tuh? kasih tau kite doooong…nyehehe

  7. harusnya dibikinin skemanya dong, misalnya:
    1-2 cocok: bawah sekali
    2-3 cocok: bawah
    3-4 cocok: middle low
    5-6 cocok: middle class

    tuh kan berarti saya juga masih di kelas bawah. yudadahbabay plaza indonesia, pim, dst dsb. hidup Metmol!

  8. Pingback: Contoh Emak Lebay (Edisi Sekolah) « Our Diary

  9. hihi..kocak abisssss ternyata tantenya langit ini..ampe cekikikan (dalam hati) di kantor. Abis cekikikan… baru sadar klo diriku gak tergolong kasta middle class juga! Yess..brarti ga usah beli bukunya wina!😛 Jadi diriku ikutannn beunnner ke pojok busana…jangan soleh boo…di pojok busana diriku pernah menemukan top untuk anak cewe umur 2 tahunan dengan label H&M dan harga 10 ribu sajahh*dibahas* hihi jadiii mari kita belanja H&M di pojok busanaa.. kere yg penting usaha neik.😀 Salam kenal yaaa sesama geng FD..*cipika cipiki*

    • Hihihi… Toss ah sesama geng FD! *smooches*

      Eh gue dulu pernah napsir baju seharga X di etalase di Pojok Busana. Trus pas gue browsing rak-nya untuk cari model yang sama tapi lebih baru (belum dipegang2 orang), eh harganya beda-beda lho, padahal merk dan warna sama persis. Jadilah gue pilih yang paling murah. Satu keajaiban yang gak akan ditemui di Dept Store kondang ya bok😀

  10. Pingback: Pasar Jatinegara, I’m in Love! « Our Diary

  11. hmmffhh..mules bacanya mak..mengingatkan diriku msh jauh ternyata dr gol middle class..
    mimpi jd sosialita ternyata bener2 kejauhan ya boook
    ikutan deh kl gitu ke sojongnya donk mak😀

  12. Pingback: Idiocracy? « The Sun is Getting High, We're Moving On

  13. Pingback: Tujuan Lo Apa?

  14. Pingback: Apakah saya termasuk di golongan menengah? | thecupus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s